
Nama saya Reggie, atau Egi, panggilan akrab saya. Di masa SMA, saya dikenal sebagai anak yang pendiam dan tekun belajar; hobi saya adalah bermain game dan membaca. Kehidupan saya cukup sederhana, jauh dari pengalaman percintaan atau petualangan yang menegangkan. Pada usia 17 tahun, setelah lulus SMA, saya menghadapi tantangan baru: mendaftar ulang kuliah di sebuah universitas di kota besar. Karena keterbatasan pengalaman dan kesibukan orang tua, paman saya berbaik hati mengantar saya. Beliau sedang bertugas di kota tersebut untuk sebuah LSM.
Sesampainya di kota tujuan, hari telah gelap. Saya menghubungi paman untuk menjemput di terminal, berencana menginap di tempat kosnya sebelum mendaftar keesokan harinya. Saat bertemu di sebuah warung dekat terminal, saya mendapati paman saya sudah menunggu sejak sore. Ia ditemani seorang wanita muda yang menarik perhatian. Paman memperkenalkan wanita tersebut kepada saya.
Dengan ramah, ia mengulurkan tangannya. Saya memperkenalkan diri dengan agak canggung. Wanita itu, yang memiliki kulit putih dan rambut hitam lurus sebahu, tersenyum dan meminta saya memanggilnya "Teteh," alih-alih "Tante," mengingat usianya yang masih muda. Saya agak bingung, karena saya tidak mengerti hubungannya dengan paman saya. Pikiran saya melayang, namun saya memilih untuk tidak banyak bertanya dan menikmati hidangan soto yang ditawarkan. Setelah makan, paman saya berbisik sesuatu yang membuat saya tertegun sejenak, sebelum akhirnya mengingat sesuatu yang penting.
pa Egi..”
Aku mengeluarkan amplop dari tasku. Pamanku merebut begitu saja. Dibukanya isinya, ia menghitung. Lalu setengah diberikannya pada Esih.
“Yeuh.. eta jeung ongkosna sakalian nya?” (Nih.. itu sama ongkosnya ya sekalian?)
Teteh Esih tersenyum mengangguk.
“Nuhun.. (makasih)”, jawabnya.
Aku melihat setidaknya 500 ribu dipegang perempuan itu lalu masuk kedalam saku celana jeannya, sementara sisanya 500 ribu masuk ke kantung saku seragam LSM milik pamanku.
“Hayu Gi.. kita cao…”, sahut Pamanku bersemangat.
Didalam mobil sedan butut tahun jebot milik pamanku mereka mengobrol seru didepan. Aku menghabiskan waktu dengan melihat-lihat sekitar, mencoba mengingat-ingat jalan yang kami lalui. Biar hafal nanti kalau kesini sendirian.
“Oh.. jadi ini teh anak dokter Linda..’, teteh Esih menoleh padaku.
‘Iyaah..”, jawab pamanku.
Aku mengangguk ramah.
“Kunaon memangnaa..(kenapa emangnya)?”, tanya mang Cahya.
“Gapapa.. hihi kasep..(ganteng).. hahahaha..”, teh Esih tertawa sambil menutup mulutnya.
“Mirip Mamangnya ya?”
“Ih.. ini mah mirip Mamahnya atuh putih… si Akang mah mirip Papahnya.. item hahaha”
“Enya da lanceuk atuh.. (iya kan memang Kakak saya).
Mereka membicarakan Papahku yang kakaknya Mang Cahya. Papahku juga Dokter sama dengan Mamahku. Pada saat itu Papahku menjabat sebagai Kepala di RSUD di kota kami.
“Si Mamah teh orang Tionghoa bukan A Egi?”, tanya teh Esih.
“Iya setengah..”, jawabku, “Dari si Kakek yang Tionghoa mah, nenek asli urang sunda..”
“Ooooh sama atuh yah sama Teteh.. Teteh juga kan Papah Teteh orang Tionghoa..”
“Ngan (cuma) beda nasiib…” sela Pamanku.
Hahaha.. kami semua tertawa bersama.
“Ko Teteh bisa kenal sama Mamah sayah.. emang orang mana aslinya?”, tanyaku penasaran.
Teteh dan Pamanku tertawa.
“Iya sama.. orang kota S juga Egi.. tadi baru datang juga pake bis.. cuma dia mah sore, kalo kamu janjina sore, datang-datang udah Isya.. huuuh..” jawab Pamanku. Aku cengengesan, Teh Esih tertawa, kini tak lagi sambil menutup mulutnya. Ia membalik untuk melihat wajahku. Dimatanya terlihat pula senyumnya padaku.
Dia cantik, pake kaos u can see ketat, dimasukin kedalam celana jean yang menampilkan lekuk pantat, membentuk bodi ramping, ukuran dadanya pas. Rambutnya digerai sebahu lebih dikit. pakai poni untuk tirai wajahnya. ‘Haduuuh… lumayan buat bahan coli nih..’, kataku dalam hati.
‘Dimana Pamanku yang begajulan bisa menemukan perempuan seperti ini’, pikirku
Mobil memasuki pelataran sebuah cafe yang didekorasi dengan batang bambu.
“Mau kemana kita Mang?”, tanyaku.
“Sebentar Gi ketemu temen… cuma sebentar… kamu makan lagi atuh.. atau nyanyi-nyanyi karaoke tuh sambil nunggu, si Esih seneng tah nyanyi… kalo ke kosan dulu jauh Gi muter..”
Aku sedang tak tertarik untuk bernyanyi, padahal aku ini vokalis band kacangan, aku lelah sebenernya pengen tidur. Tapi malas untuk protes sama mang Cahya.
Aku memilih memisah menjauh dari meja mereka. Segera saja teman-teman pamanku berdatangan. Mereka memesan minuman beralkohol dan kacang-kacangan. Mereka mulai mengambil mic dan bernyanyi. Aku memesan kopi susu, dan mengambil hapeku mengabari orang tuaku bahwa aku sudah samapai dan bertemu mang Cahya, kubalasi pesan-pesan kawan-kawanku pada hapeku.
Malam semakin larut, pesta di meja pamanku sudah mulai berkurang. Kini tinggal teh Esih yang sedang bernyanyi. Pamanku yang sudah setengah teler tengah berbisik-bisik dengan rekannya. Ia kelihatannya sudah lupa kalau aku sekarang ini ikut bersamanya. Teh Esih melirik ke arahku, kelihatannya kasihan dengan keadaanku yang kelihatan bosan, ia mengangkat 1 botol bir yang masih penuh bermaksud menawarkan padaku.
Ternyata efek bir sebotol itu lumayan buatku. Aku terlelap di mejaku. Bukan tak sadarkan diri. Cuma hawa alkohol memang berhasil menambah kantukku. Pamanku membangunkanku ketika mereka semua bersiap untuk bubar. Di mobil aku lanjut tidur. Sesampai di kosanpun aku langsung menggoler tiduran lagi diatas karpet, aku memilih diatas karpet karena kulihat kasur cuma ada satu.
Aku terbangun sesaat di gelap malam, terganggu oleh suara yang konstan berulang, aku sayup mendengar suara kain bergesek berulang-ulang suara pria yang sedang ngos-ngosan, dan suara perempuan yang sedang merintih seperti menahan sakit. Mataku mencari-cari, masih buram karena belum terbiasa dengan gelapnya ruangan.
Setelah jelas barulah aku melihat tubuh pamanku yang telanjang tengah menindih tubuh teh Esih yang bersuara lirih. Tidak terlihat seluruh tubuh bawahnya, karena terhalang pantat paman yang aktif naik turun memompa. Mata Teh Esih terpejam, ia kelihatan berusaha menahan suaranya sepelan mungkin. Desahannya terdngar, ‘aang..
Seumur hidupku baru dua kali memergoki orang sedang bersetubuh, kedua orangtuaku sewaktu aku kecil, sekarang pamanku dan teh Esih yang entah siapanya. Kejadiannya hampir sama, terbangun seperti ini.
“Aw.. aw”, tiba-tiba teh Esih mengaduh. Aku buru-buru menutup mataku lagi.
“Aduh jangan neken kesitu atuh Kang, kena tulang ih.. sakit..”.
“Oh enya maap atuh..”
Pompaan itu kembali terdengar. Aku mengintip lagi. Kini kulihat teh Esih tak lagi memejamkan mata, tak lagi mendesah kenikmatan, wajahnya bolak balik menatap ke arah sana sini. Ia seperti sedang melayani pamanku saja, menunggu selesai.
Tiba-tiba pandangan matanya beradu dengan intipan mataku. Aku terkejut, sontak kututup buru-buru. Teh Esih kelihatannya masih memperhatikanku untuk memastikan
“Kang.. eh eh Kang.. itu s Egi bangun kali..?”
Pamanku berhenti sejenak, ia berpaling menatap ke arahku. Aku tegang, berusaha sebaiknya diluar kemampuanku berakting pura-pura tidur. ‘Mampus.. jangan sampe ketawan..’. Nafasku kuatur semirip orang yang tidur. Sampai kukeluarkan sedikit suara kerongkongan orang tidur.
Terdengar kembali suara kain bergesekan, walau perlahan. Lagi enak kayaknya si Paman, tanggung kalau mau lepas.
“Bukan ah.. tidur dia sih.. ngga.. ga apa-apa..”
Pamanku melanjut ijut lagi teh Esih, lebih semangat kedngrannya sekarang. Suara plak plak kulit beradu pun terdengar.
“Aaaach..”, teh Esih menjerit kecil. Akupun penasaran, kubuka lagi mataku.
Pamanku menahan badannya dengan tangannya, hentakan pada tubuh bawahnya jadi lebih kencang. Plak plak.. teh Esih memejamkan kembali matanya. Kedua tangnnya ada di dada mang Cahya.
“Sssshhh… aaah… Tong kaluar di jero.. (jangan keluar didalam)”, seru teh Esih.
“Enyaaa.. (iyaaa) aaaaaaarghh..”, Pamanku mencabut rudalnya pas ketika spermanya muncrat di perut teh Esih.
“aaaaaaargh.. ah hah hah hah..”
Teh Esih memperhatikan tiap crotnya yang keluar. Tak terlalu banyak seperti yang di film bokep. Cepat ia mengambil celana pendek pamanku dan mengelapnya seketika. Sempat ia melirik ke arahku. Pandangan kami beradu lagi sekilas. Terkejut lagi aku, otomatis pula kututup matak. u.
“Aaahh..”, pamanku terdengar menggelesoh ke sebelah teh Esih.
Deg!. Inilah kesempatanku melihat serambi lempitnya. Sebelum ditutup yang punya. Aku membuka mataku lagi.
‘Wew..! Kusaksikan teh Esih menutupi tubuhnya dan serambi lempitnya yang ditumbuhi bulu hitam itu perlahan dengan selimut. Aku terpana. Selimut itu terus ditariknya sampai dada yang masih memakai u can see tadi. Kutangkap matanya menatap kepadaku, bibirnya agak mengulum senyum. Aku langsung terkena sihir, terutama si tititku yang perjaka, si titit tegang luarbiasa.
Tapi ku tak berani apa-apa, setidaknya harus menunggu mandi pagi agar bisa kucolikan ketegangan ini.
Pamanku langsung mengorok. Teh Esih beranjak duduk sambil berselimut rapat. Aku membalikan badanku. Akupun berusaha tidur.
Sebelum tertidur kudengar teh Esih pergi kekamar mandi cukup lama.
Udara dingin menerpa wajahku. Aku masih bisa bertahan, tapi kemudian suara bising mobil sedan butut dan bau knalpot membangunkanku. Setelah sepenuhnya sadar, barulah aku tahu, pamanku sudah berada dalam mobil hendak memacunya pergi. Kulihat teh Esih berdiri dekat jendela mobil berbicara dengan pamanku.
Aku duduk kebingungan menatap teh Esih yang masuk kembali ke kamar sambil menutup pintu.
“Apa A, hehe udah bangun?”, tanyanya duduk diatas kasur sambil menyulut sebatang rokok.
“Itu si Mamang dipanggil ketua Kota B, disuruhnya mah kemarin setelah dari cafĂ© itu. Tapi malah ketiduran dianya..”
Ia duduk mencari-cari sesuatu. Mataku pun ikut mencari. Sama-sama kami tertumbuk pada sesuatu, celana dalam perempuan teh Esih. Ditariknya kain kecil berenda tersebut kedalam selimutnya. Ia tiduran sebentar sambil berusaha memakainya, masih didalam selimut rapat.
“Eh maap ya A, pakai ini dulu.. hihi males mau ke kamar mandi..”
Barulah disitu aku ingat kejadian semalam. Terbayang kembali keseruannya. rudalku bergerak sedikt demi sedikit.
‘Aduh.. aku coliin dulu aja apa ya?’, pikirku dalam hati.
“Mau ngopi A?”, tanya teh Esih.
Ia kini setengah menelungkup menghadapku, bertumpu pada siku sambil merokok.
“Teteh mau?”
“Eh, malah balik nanya, Teteh bikin satu gelas untuk berdua aja ya?”
Aku mengangguk. Ia berdiri mengikatkan selimut pada pinggangnya, diatasnya ia tetap memakai U can see, tapi tanpa beha kulihat.
Sambil memperhatikannya menyeduh kopi, aku bertanya.
“Teh? maaf ini.. Teteh tuh siapanya mang Cahya? Istri muda? atau masih pacarnya? atau… siapanya Teh? maaf ini mah..”
“Ah haha.. bukan siapa2nya A’.. cuma temen.. biasa..”
Kopipun tersuguhkan.
“Udah lama kenalnya?’
“Udaah.. dari kecil Teteh udah kenal sama kang Cahya..”
“Kenal dimana?”
“Dikampung..”
“Ooooh teman main?”
Si Teteh menyeruput kopi panasnya, lalu mengisap kembali rokoknya.
“Bukan atuh Kang Cahya mah beda jauh diatas Teteh..”
“Emang Teteh maaf umurnya berapa sekarang?”
“euuuh… 29 yah taun ini.. bntar lagi”
Aku membelalak. “Wow.. Teteh masih kayak baru lulus SMA.. awet muda ya?”
“Iiiiih bisa aja si Aa mah ngegombal..’
“Bener Teh..”
“Ah masa?, udah tua ginih..”, ia tersenyum senang.. ia mematikan rokoknya dan kemudian berbaring, menutupi seluruh tubuhnya lagi dengan selimut.
Aku tercenung, tidak enak mau bertanya pertanyaan krusial yang berhubungan dengan peristiwa menyetubuhinya mereka tadi malam.
“Teteh mau tidur lagi?”, tanyaku kecewa.
“Iyah.. masih ngantuk.. baru tidur sebentar, ,”
“Yaah..”, Akupun mau tak mau kembali berbaring diatas karpet keras itu. Tapi mataku tak lepas dari gerak gerik si Teteh. Ia bulak balik posisi dalam usaha untuk tidurnya. Sampai ia menatap padaku tersenyum.
“Aa ga dingin disitu A?”
“Iya dingin atuh.. mana keras lagi..”, jawabku setengah merengek.
Teh Esih berpikir sebentar.
“Iya sinih atuh A, sebelah Teteh..”. Ditawari itu, aku seperti meloncat cepat bergerak ke sisinya.
Teh Esih tertawa sedikit
“Selimutnya mah ga usah ya?”
“Walah Egi kedinginan atuh Teh, ,?”
“Atuh masa mau berdua..?”
“Kalo peluk boleh?”
Teh Esih tertawa lagi.
“Ya udah atuh nih sok selimut berdua..”
Hatiku melompat girang.
“Tapi dibatesin sama guling ya?”
Ia menaruh guling diantara kami berdua. rudalku sudah ngaceng sejak tadi. Aku sangat berharap, siapa tahu dapet seoles dua oles kalau diusahakan. Posisi dia membalik ke arah dindng sekarang. Aku mengintip kedalam selimut. Pantatnya yang ranum tertutup ketat CD putih berenda tadi. Pahanya putih mulus luarbiasa.
“Hehe ayoo ngapain..?” Dia menutup selimutnya sehingga pandanganku terbatas. Akupun keluar dari selimut. Agak malu sih, tapi cuek ah..
“Teh..”
“Iya..”
“Teteh ko mau ngewe sama si Mamang? kan Si Mamang bukan siapa-siapanya Teteh?”, akhirnya tercetus juga pertanyaan yang kutahan sejak tadi. Agak iri terdengarnya.
Teh Esih tersenyum. Kemudian ia menatapku, terlihat memikirkan jawaban.
“Iya gapapa sama Kang Cahya mah A.. Udah lama kenal, udah sering ngasih bantuan..”, Ia membalik sekarang menghadapku. “Tadi mah, Teteh lagi butuh, jadi weh nelp Kang Cahya.. dia mah suka ada aja ngasih A”.
“Cuma memang terakhirnya suka ada maunya dia mah.. hehihi”, lanjutnya sambl cekikikan.
Ia menatapku lama seakan mengagumi tiap detil wajahku.
“Enak ya si Mamang..”, kataku iri. Teteh tersenyum genit.
“Hahaha, iya memang enak A’ ngewe.. semua juga suka.. ahahaha”
Ia terdiam seperti menunggu sesuatu. Kemudian balik lagi menatapku.
“Emang kenapa gitu A?”, suaranya agak tinggi sedkit. Aku terkejut dengan perubahan nadanya, agak takut sih tapi si Otongku dibawah meminta kesempatan ini.
“Egi juga mau atuh Teh.. Ngewe sama Teteh..”.
Tanganku bergerak menuju paha mulusnya, mengelusnya sambil berharap.
“Nanti juga Egi kasih bantuan kayak s Mamang, cuma yaa semampunya Egi.. kan Egi masih kuliah belum kerja, nanti kalau udah kerja..”
Teh Esih tak menjawab, aku menatap wajahnya takut dia marah, tapi dia tersenyum.
“Iya sok (silakan) atuh kalo Aa mau mah..”
Ia membuka selimut memperlihatkan tubuhnya yang ramping putih menggiurkan hanya memakai u can see dan CD berenda saja. Mempersilakanku untuk menikmatinya. Jantungku bersorak berdetak kencang.
Tapi aku hanya terpana. Perlahan tanganku mulai berani meraba susunya.
“Uuuh sedap..” kataku dalam hati.
Melihat pergerakanku yang tidak impresif sama sekali, tangan teh Esih bergerak meremas-remas rudalku, masih dari luar celana. Ia tertawa kecil.
“Eh hehe, bilang dong dari tadi pengen ngewe gitu.. kirain teh anak orang kaya ganteng ga napsu sama Teteh..”
Mataku terpejam merasakan kenikmatan dari rabaan si Teteh.
Terus terang baru kali inilah aku dipegang-pegang cewe, ciuman saja aku belum pernah. Pacaran pernah baru dua minggu putus. Dia pindah ke kota lain. Ngocoks.com
Ternyata lain rasanya sama pegang-pegang sendiri, diginiian aja udah enak banget.
Bibir te Esih menciumi leherku terus naik ke kuping.
“Bener ya A? nanti ga lupa ngasih bantuan ke Teteh..”, bisiknya sexi di kupingku.
Aku mengangguk. Tangan te Esih naik ke perut terus ke dadaku. Menarik ke atas kaosku.
“Buka A..”, perintahnya halus.
Aku masih berusaha menangkap bibirnya dengan bibirku, tapi dia melengos.
“Jangan di bibir..” desahnya.
Aku duduk membuka kausku buru-buru, sekalian dengan celana panjangku, dan tak lupa CDku kulempar kesamping.
rudalku yang sudah berdiri menantang kini terbebas dari belenggunya.
Aku duduk menghadapi hidangan tubuh yang mempesona ini.
Tangan halus the Esih kembali hinggap mengelus dan mengocok rudalku.
“Aaaah enak…” erangku terpesona akan kenikmatan colian si teteh Esih.
Aku ingin sekali melihat kembali serambi lempit dengan jembut hitam miliknya itu. Maka aku berusaha membuka CD rendanya. The Esih tersnyum lagi
“Mau cepet aja?”, tanyanya. Aku bingung dengan pertanyaan itu.
“Mau cepet aja maksudnya langsung masukin aja mungkin begitu..?”, cetusku dalam hati.
“Iya sok atuh..”, katanya sambil menarik rudal ku supaya aku berada diatas tubuhnya. Aku bergerak mengikuti arahannya. Kini rudalku berada diatas serambi lempitnya.
Aku membuka kaus te Esih keatas, ingin liat susunya. Dan wooow, luar biasa indah menawan. Besarnya lebih besar dari kepalan tanganku, pentilnya imut coklat agak kemerahan. Kulumat dengan bibir dan tanganku.
“Aaaaah.. enak A’”, bibir te Esih mendesah lirih. Pandang matanya menyipit.
Puas dengan tete, aku memperhatikan serambi lempit the Esih. Ku elus elus dengan tanganku. Sudah ada cairan sedikit yang keluar. Pelumas kelihatannya.
Aku menatap te Esih meminta tuntunan cara memasukan rudalku. The Esih yang sudah setengah terpejam hanya mengangkangkan pahanya saja, memperlihatkan keindahan kemaluannya. Aku bingung, kucoba saja menusuk-nusukan rudalku kearah celah yang ada disitu.
“Angh… bukan disitu A’..”. Salah sasaran ternyata aku.
Tangan te Esih menggapai rudalku menuntunnya ke arah kenikmatan yang benar.
Aku dengan cepat menekan, ‘Ugh..’ masih meleset. Malah menjadi gesekan nikmat serambi lempit te Esih pada rudalku.
“Aduh digesek disini aja udah enak..”, kataku.
Kini rudalku sudah diarahkan lagi. aku menekan lagi. Hampir terkuak itu bibir kemaluannya oleh rudalku, tapi ko malah melenting ke atas lagi rudalku.
“Belum terlalu basah sih A.. bentar..”.
Te Esih mengambil ludah mliknya dan dioleskan pada serambi lempitnya, kemudian dia meludah ke tangannya lagi, kini agak banyak. Dia balurkan ke rudalku, sambil dia kocok-kocok cepat, agar tersebar rata mungkin pelumasnya.
Tapi..
Kocokan itu malah membuat rudalku berdenyut-denyut keenakan. Gilee.. enak bener.. dan terjadilah hal yang aku sesali.. si Otong tidak mampu bertahan, staminanya anjlok, dia muntah sperma..
Crot.. crot.. crot banyak banget ke atas perut dan tangan si Teteh.
“Aaaaaaaauuuuhh…”, lenguhku nikmat tapi juga aku sesali.
“Yaaaah Teh.. maaaaf..?”, kataku lemas.
Si Teteh malah tertawa, sekali lagi seperti tadi ia mengambil celana pendek s Mamang, mengelap dengan cekatan.
“Yaaaah si Aa kasiaaaaan… hahaha”. Katanya.
Aku berbaring di samping si Teteh. Masih memperhatikan serambi lempitnya yang kurindu. Tapi apa lacur, s Otong masih belum mau bangkit lagi.
Teh Esih berdiri berjalan ke kamar mandi sambil membetulkan kausnya.
“Eh kemana Teh..? belum.. The”, tegurku putus asa.
“Iya Aa tenang aja.. haha, ini mau bersih-bersih aja..”.
Bersambung… Tak berapa lama si cantik pemilik jembut hitam itu kembali, aku tak melepaskan pandangan darinya dan dari selangkangannya.
Teteh Esih tertawa,
“Iya A.. Teteh ga akan kabur.. emang mau kemana? Wkwkwk…”
Aku bergerak menciumi pipi leher dan ke arah bibirnya, tapi ia merengut.
“Ngga ke bibir..”.
Tangannya meraih lagi lambang kejantananku, yang tadi telah membuatku kecewa. Digosok-gosoknya, dibelai, dikocok sedikit hingga ia mulai menggeliat lagi.
Teh Esih tersenyum menatap aku yang melongo terbuka mulutnya karena terkesima akan nikmatnya dikocokin.
“Tuh udah bangun lagi, sok sekarang mah kuat geura (deh)..”, katanya menghibur.
“Mudah-mudahan..!’, jawabku mantap.
“Hahaha.. si Aa baru pertama sih ya?”, teh Esih menebak dengan jitu.
“Ngga..”, kataku berbohong malu.
“Aah haha.. ga apa-apa A, yang pengalaman aja kalau terlalu nafsu memang suka gitu, cepat keluar.. Apalagi ini yang masih perjaka..”.
Hatiku terhibur mendengarnya.
“Aa mah pasti cepet pinter nanti ngewenya.. cepet belajarnya..”.
“Belajar apa?”, tanyaku.
“Belajar muasin cewek.. hihi..”
Ia membaringkan dirinya mendekatkan mulutnya ke rudalku. Di jilat-jilatnya dulu tititku yang masih setengah layu itu. Dikemutnya kemudian. rudalku langsung berdiri gagah lagi. Setelah itu ia melakukan blowjob yang selama ini hanya kutonton di film blue. Baru kurasakan ada kenikmatan seindah ini.. wuuuuuuiiih luarbiasa, seperti terbang di awang-awang.
“Aaaaah.. aduuh ni’meh pisan (banget) Teeeh.. mantaaap..”.
“Awas A.. kalo mau keluar bilang yaa..?”, katanya disela rudalku.
Tidak semudah itu ku ke puncak sekarang, kutahan terus biar bisa kena kram otot juga kena aja deh.
Setelah yakin akan kekuatan rudalku, si Teteh menyudahi oralnya, ia mengocok-ngocok rudalku sambil berbaring menelantang membentangkan serambi lempitnya.
“Yuk A, coba masukin lagi.. biar langsung enak..”
Aku menurut, dan langsung mengambil posisi.
Kini ku gosok-gosokan dulu rudalku diatas serambi lempitnya. Enak banget. Si Teteh pun mendesah dibuatnya. Aku mengira-ngira dan membidik lubang yang tadi diarahkan teh Esih. Mendorongnya perlahan agar ketemu. Belum pas juga.
“Agak kebawah sedikit A..”
Tapi tangannya telah membantu mengarahkan. Dan.. akhirnya topi helm baja milik rudalku melesak masuk ke lubang kenikmatan teteh Esih. Ngocoks.com
“Auw..!”, jeritnya kecil memberi semangat.
Aku mendorong terus, hingga rudalku tinggal kelihatan sedikit. Kini kutarik lagi.
“Aaaaangh..”, desah si Teteh.
“Ooooouufh..”, Akupun tak sanggup menerangkan kenikmatan ini.
Kudorong lagi.
“Aaaaah..”, suara erangan s Teteh malah tak terdengar terhalang oleh suaraku.
Aku mengusap wajahku.
“Busyet deh, pantesan orang-orang pada suka menyetubuhi, rasanya tak terbantahkan nikmatnya, fiuuuuh” pikirku.
Aku mempercepat genjotanku. Sambil ku ukur kesensitifan kulit rudalku agar tak cepat-cepat keluar. Setelah yakin dengan itu, aku menindih tubuh padat perempuan ini. Ia membalas dengan memeluk erat tubuhku. Aku memompa dengan penuh ceria.
“Angh.. sssshh.. aangh.. ssshhh”
“Ah ah ah ah..”, begitu suara kami berdua.
Tiba-tiba setelah sekian lama, teteh Esih menekan pantatku dengan tangannya. Ia memaju mundurkan tubuhnya sendiri beradu rapat denganku. Kemudian tekanan tangannya pada pantatku begitu kuat hingga aku tak bisa apa-apa selain menekan keras serambi lempitnya. Tubuh teh Esih berkedut dua kali. Ia terus mendesakkan badannya padaku.
“Teh.. Teh jangan begini nanti Egi muncrat didalem”.
Tangan Teteh Esih sudah mengulai lemas. Tapi sudah kepalang. Tekanan dan dorongan itu telah menjebolkan aku. Secepat mungkin aku mencabut. Tapi di mulut serambi lempit teh Esih rudalku telah muncrat sekali, sisanya aku keluarkan di sprei.
Prot.. prot.. prot..
”Wagguuuh.. aaah”
“Ah si Aa mah keluar didalem ya,,?”
“Iya sedikit Teh.. abisnya diteken gitu..”
Teh Esih mencari celana pendek Pamanku yang selama ini telah menjadi lap sperma kami. Ia mencoba mengelap cairan kentalku yang berada dibibir serambi lempitnya. Kelihatannya sungguh sexi. Tidak lupa pula mengelap sperma yang ada diatas sprei, tapi sulit untuk menhilangkannya.
Ia segera bangkit menuju kamar mandi. Aku segera menyusulnya, pengen kencing.
Barulah kulihat kegelisahannya di kamar mandi, berulang-ulang ia menyiram kemaluannya dengan air, seperti ada beling atau apa gitu tertinggal didalamnya. Aku melihatnya dengan prihatin, walau bagaimanapun itu spermaku. Aku jadi merasa tidak enak.
Setelah kencing aku duduk diatas kasur. Menunggu teeh Esih untuk menanyakan serambi lempitnya.
“Apa A? sampe kayak orang kena setrum gitu pias (pucat)..?”, teeh Esih meledek ketika melihat wajahku. Ia menyulut rokoknya.
“Gapapa Teh itunya?”, tanyaku menunjuk serambi lempitnya. “Maksudnya takut hamil bukan Teteh?”.
“Ga kenapa-kenapa, cuma serambi lempitnya kaget tadi ada anak baru udah pinter.. hehihi..”. Ia duduk disebelahku melendot manja pada bahuku.
“Hebat ih si Aa, Teteh bakal ketagihan ini sih.. pinter di kuliah juga pinter menyetubuhi cewek hahaha..”, ia mencubit hidungku.
Akupun ikut tertawa. Aku menciumi pipinya, bahunya, rambutnya, semuanya yang bisa aku cium.
“Egi sih bukan ketagihan lagi sama Teteh, kayaknya Egi gak bakal lupa sama Teteh seumur hidup..”, kataku sungguh-sungguh.
“Iyah jelas lah gak bakal lupa.. soalnya perjakanya Teteh yang ngambil.. hahaha”.
Tak lama kamipun berbaring karena lelah. Kami berduapun tertidur nyenyak dengan bahagia.
Bersambung… Aku terbangun pukul setengah sepuluh pagi.. rasanya gerah sekali. Tambah perutku lapar keroncongan. Bau rokok sudah mengudara di kamar kosan. Aku bangkit menuju kamar mandi. Barulah ku sadar teh Esih juga rupanya sudah bangun, ia terduduk membelakangiku di pojok kamar, menunduk memandangi sesuatu. Tetap memakai selimut sebagai bawahannya.
“Teh? Lagi ngapain?”, tanyaku padanya.
Si Teteh membalik badan, memperlihatkan hapenya. “Lagi liat hape A”. Suaranya bindeng suara khas orang bangun tidur. “Ehm!.. ini hapenya lowbat terus jadi harus sering dichas..”
“Ooh.. ”, aku lanjut ke WC sambil melirik hapenya. Tapi yang kutangkap dalam lirikanku bukan cuma hapenya, tapi pemandangan paha mulus plus CD nya yang menggembung. Si Teteh boleh saja memakai selimut sebagai bawahan, tapi duduknya yang mengangkang memperlihatkan sesuatu yang selalu didambakan oleh para pria.
Aku memakai celana panjangku.
“Mau kemana A’?”
“Beli makanan ah.. lapar. Teteh mau apa? Yang jualan ada apa aja ya?”
“Ga tau..”, jawabnya sambil menggeleng. ”A? beliin ini ya?”, tambahnya sambil mengetuk bungkus rokok dihadapannya. Aku mengangguk sambil mengingat jenis rokoknya.
“Eh iya.. Egi lupa..”
Si Teteh berkerut memperhatikanku. Aku membuka dompet, menghitung-hitung, dan mengeluarkan dua lembar uang seratusan. Aku berjongkok mendekat kearah tubuh mulus itu.
“Teh.. maaf ya Teh.. ini Egi punyanya segini dulu.. maaf nanti kalo udah punya lagi, Egi tambahin..”. Si Teteh makin mengkerut keningnya, tapi dari pandangannya ke uang yang aku pegang, kelihatan dia senang. Basa-basi aja deh dia, pura-pura ga butuh, hehe.. khas orang Sunda.
“Makasih ya A’..”, diambilnya uang itu malu-malu. Wajahnya bergerak hendak menciumku, aku mendekat pula bereaksi hendak menyedot bibirnya, tapi lagi-lagi dia hanya memberikan pipinya. Aku ciumi pipi mulus itu terus menyusur ke kuping, hendak menuju ke leher.. sampai..
“A? hayu ih.. Teteh lapar ini.. ih”. Aku terkejut dibuatnya, malu, meminta maaf dan buru-buru berjalan keluar mencari makanan. Didalam kamar kudengar si Teteh meringis tertawa.
“Adanya nasi uduk Teh.. bubur ayam udah ga ada, udah kesiangan katanya..”. Kataku ketika sudah kembali ke kamar. Teh Esih sedang berjongkok membuka-buka tas milik pamanku, ia tak lagi memakai selimut. Hanya pakai CD saja yang sejak kemarin selalu kupandangi.
Ia mengambil satu kaos milik pamanku. Dilihatnya, lalu ia berdiri membuka u can see yang sedang dia pakai sekarang. Bergoyanglah sedikit dua payudara putih miliknya.
“Gerah A’.. pinjem dulu punya si Mamang ah..”, katanya polos. Aku terpana memandang tubuh menggiurkan itu.
“Aw..!”, jeritku tertahan ketika rudalku menegang cepat dan terjepit diantara ketatnya jeansku. Aku membetulkan sedikit letaknya. “hihihih..”, terdengar teh Esih menertawaiku.
Aku memandanginya. “Kegedean itu sih bajunya… carinya yang bagus atuh Teh..”.
Tak disangka, ia langsung membuka lagi baju itu, dan mulai mencari-cari lagi kedalam tas pamanku. Topless. Tak dipedulikannya pandangan nafsu merana dariku.
Ada perempuan dewasa, cantik, mulus, ramping, berjongkok dihadapanku hanya memakai celana dalam saja. Di pikir-pikir, memang masih bodoh aku pada waktu itu, kalau sekarang ini, sudah aku tarik paksa, kulumati, kumandikan dia dengan jilatanku dan kuhunjamkan keras rudalku pada serambi lempitnya.
Akhirnya ketemu kaus biru muda bagus yang agak kecil. Pas memang sama dia yang berbadan kecil. Dia bergerak membuka bungkusanku yang dari warung. Menata bungkusan nasi uduk dihadapanku dan dirinya. Mengangkat bungkusan rokok dan berkata “Makasih ya Aa ganteng.. Kemudian berdiri mengambil sendok dan botol kemasan minum untuk aku dan dia.
Dia bersila dihadapanku mengangkat suap pertamanya. Dari tadi aku hanya terdiam memandangi lekuk tubuh bawahnya yang hanya dibalut celana dalam.
“Hayu A’, makan..? mau disuapin..?”, candanya.
Aku pun mengangkat sendok yang sudah kuisi nasi, dan menyodorkan sendok itu ke selangkangannya.
“Nih Egi suapin..”.
“Ahahaha.. “, Ia menutupi CD nya yang bagian tembus pandang warna hitam itu. Aku menepiskan tangan yang menutupinya itu. “Jangan ditutup..”.
Aku membuka celana jeansku yang membuat sesak si Otongku ini.
“Iiiih mau ngapain..?”, si Teteh terkejut.
“Mau makan..”, kataku. “Emang mau ngapain..?’, tanyaku balik.
“Ooooooh kirain.. hehehe, abisnya itunya kejepit terus ya?, hahaha”. Si Teteh bergerak menunjuk, kemudian menekan tititku yang sudah keras itu dengan telunjuknya.
“Aah!”, kataku kaget dan keenakan.
“Hahahaha..”
Aku membalas dengan merabai paha mulusnya yang bagian dalam. Jempolku kugesekan pada bagian itilnya yang menggembung hitam.
“Eiyh..!’, teh Esih tersentak pantatnya, ia tertawa. Kemudian ia malah mundur menjauhiku sambil membawa piring nasinya. Ia makan dari jauh sambil senyum-senyum. Aku bingung.
“Naha..(kenapa)?”, tanyaku.
“Iih hihih bahaya tangannya udah pinter.. hehaha..”
Aku cemberut.
“Tega amat sih Teteh.. ngasih liat yang kayak gitu, terus akunya diacuhkan..?”
“Ah hahaha.. kan udah kemaren..”
“Yah kalo dikasih liat lagi ya jadi minta lagi dianya.. ehehe..”
Tanganku menunjuk tititku. Teh Esih pura-pura melotot.
“Makan sana..! huuuu.. ”. Ia meneruskan makannya sambil berhenti tertawa.
Aku melihat ke sekeliling.
“Kamana ieu si Mamang (kemana ini si paman)? Ko ga pulang-pulang? Katanya mau nganter..?”, tanyaku sendiri. Si Teteh memandangiku.
“Eh iya.. si Mamang gak bisa, dia pulangnya malem.. “, dia berpikir sejenak dan berkata pelan dan ragu, “Nanti Teteh aja yang nganter kamu katanya..”
“Oooh gitu?, Teteh tau jalannya kan?”
“Tau atuh.. pake angkot”
“Jam berapa mau berangkat Teh..?”
“Terserah.. tutupnya jam berapa?”
“Sore.. tutupnya mah jam 3..”
“Ooooh iya atuh santai..”, ia menatapku lagi. “Aa ga malu kan..?”
“Malu gimana..?”, tanyaku tak mengerti, celingukan mencari yang akan membuatku malu.
Ia duduk cemas sekarang masih sambil bersila. Punggungnya tegak. Wajahnya seperti gadis di sinetron yang sedang berantem dengan pacarnya.
“Malu.. Kalo Teteh yang nganter,,?”
Aku masih bingung, “Malu kenapa..?”
“Iyaa, sama Teteh gitu jalannya..”, Ia menatapku gundah, “Sama cewek janda dari kampung..?”, tanyanya bergetar.
Aku membelalak. “Hah..? aduh.. aku mah malah seneng dianter Teteh.. daripada sama si Mamang dianternya, ih sok bau awak manehna mah ih (ih suka bau badan dianya sih ih)..”, aku berkata sambil menutup hidungku.
Teh Esih tidak tertawa. Ia menunduk membereskan bekas makannya dan makanku. Kemudian membuangnya ke tempat sampah. Kembali ke tempat duduk kamipun masih menunduk, ia menyulut rokok dan membuka-buka hape.
Hatiku tersentuh.
“Teteh ko nanya gitu segala..? aku mah seneng dan bangga dianter sama Teteh.. dimana-mana cowo mah bakal bangga atuh Teh jalan sama cewe cantik..”, kataku jujur. Dalam hati aku bertanya-tanya, sejak kapan aku mulai menggunakan aku-aku sebgai kata-kata, kayak orang pacaran aja nih lama-lama.
Teteh Esih mengangkat kepalanya, memandangku tersenyum, kegalauan masih ada di wajahnya.
“Bener..?”, tanyanya. Aku mengangguk cepat. “Iyaa laaah…”.
Ia mendekat memelukku, mencium pipiku, aku berpaling hendak memagut bibirnya. Dia menjauh lagi.
“Yaah asal jangan begini aja dandanannya kalo mau pergi..” Aku menunjuk selangkangannya yang hanya pakai CD. ”Nanti kita disangka nu gelo (orang gila) hahhaha..”.
Kali ini diapun tertawa. Wajahnya terpancar rasa senang. Dia kembali memelukku, menciumi wajahku, hidungku, kupingku, ujung bibir terus ke leher. Tangannya menembus kedalam kaosku. Berhenti di putingku, menggosok-gosoknya.
Aku membalas menciumi pipinya, matanya semua yang bisa aku ciumi. Tanganku menjamah punggungnya, meremas pantatnya yang ranum, dadanya yang sekal sebesar buah mangga, kubuka keatas kaus yang menghalangi dadanya. Bibirku bergerak lagi hendak melumat bibirnya. Dia mencengkram wajahku.
“Diem ah..”, katanya, lalu kembali menciumi leherku, tangannya sudah menggosok-gosok rudalku dari luar celana pendekku.
Akupun diam menikmati, hanya tangan kiriku yang balas memeluknya. Dalam diam aku mendorong tangannya yang sedang mencekik rudalku dari luar celana.
“Hayu ah Teh.. kita mandi terus berangkat..”, kataku dingin.
Teteh Esih terkejut, ia berhenti melakukan semuanya. Wajahnya kaget, ia mengigit bibirnya yang basah. Dadanya yang bulat mancung masih terpampang bekas aku angkat keatas tadi.
“Hah? Kenapaa? Buru-buru bukan Aa..?”. Aku diam menatap bibir merahnya yang kelihatan lezat.
“Ya udah atuh..”, Ia menutup kembali dadanya. Tapi kemudian ia mencoba menjilat-jilat lagi sekitar rahangku.
“Nanti keburu sore kita pulang ke kota S”, kataku sambil mengelus pahanya.
Tangan si Teteh masih bermain di perutku
“Oh? Bener ga mau main lagi..? Sekali lagi? Masih banyak waktu da A’, baru jam setengah sebelas..”.
Suaranya agak merengek manja. Tangannya menggosok-gosok pahaku. Ia melirik rudalku yang keliahatan sudah berdiri keras dan menatapku agak bingung.
Aku membalas tatapannya. Dan kemudian secepat kilat aku menerjang tubuhnya.
“Waaaw..!”, si Teteh berteriak terkejut senang.
“Bohoooong.. hehehahaha.. Hayu main lagi aja sampai subuh lagi.. biarin lah besok juga masih bisa daftarnya.. hahaha..”.
Aku menindih tubuhnya, kulumati tiap jengkal wajahnya, semua kecuali bibirnya. Terus sampai ke kuping dan menjilati tiap milinya. “Ssssshh.. aaaaah..”, si Teteh mendesah. Aku menjilati dagunya, karena ia mengangkat wajahnya ketika aku hendak mencapai bibir.
Aku berhenti, menatap wajahnya dari dekat. “Kenapa sih gak mau cium bibir? Nafas aku bau yah?”. Tanyaku mendesak. Ia mengusap-usap rambutku. Ia mengikat badanku merapatkanku ke arahnya dengan kakinya. Aku membalasnya dengan menekan rudalku ke selangkangannya. “Sssshh ahhhh..”, desahnya.
Tapi tetap aku menatap wajahnya. “Kenapa..?”
Ia tersenyum, Mengetuk pipiku dengan jarinya. “Bibir mah hanya buat cinta A.. buat pacar Aa..”, katanya mendesah berusaha membuatku lupa dan bernafsu kembali memenyetubuhinya. Aku menggerak-gerakan rudalku di selangkangannya lagi.
“Mmmmh.. aah..”
“Egi juga cinta Teh, sama Teteh..”. Aku melempengkan badanku resmi menindih tanpa menahan. rudalku pas diatas gembungan serambi lempitnya.
“aaaa.. ah”, ia menatapku lama dimata.
“Aku cinta kamu.. Esih, mau ga kamu jadi pacar aku? Untuk selama-lamanya? Tetap bersama sampai maut memisahkan kita..”. Aku mengutip sedikit dari film-film komedi romantic.
Ia terpana, tapi kemudian mengikik, ”Gombal.. ih”.
Tapi aku tak tertawa, aku terus menatap wajahnya. Serius. Ia terkejut. Lama ia memandang wajahku. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tersentuh. Aku tahu.
Lalu ia mengangkat kepalanya, menyentuhkan bibirnya ke bibirku. Sekali, dua kali, kemudian barulah ia mengulum bibirku. Aku membalas dengan rakus. Terus kukulumi. Lidah teh Esih mulai bermain, lidahku pun juga. Lidah nya menerobos bibrku masuk kedalam mulut sejauh yang bisa dia jangkau. Aku mengulumnya.
“Teh..?”, di sela-sela ciuman.
“Hengh..?”
“Kita jadian ga?”, dia tak menjawab hanya menciumku lagi penuh nafsu. Aku menggigit sedikit ujung bibirnya.
“Auwh..”, jeritnya manja.
“Teh tau ga? Bibir aku ini juga perjaka.. Teteh yang ngambilnya..”
Ia memegang wajahku, menatapku penuh cinta, dan kemudian tertawa.. ahhahaha. Tawa paling manis yang pernah aku dengar.
Ia menarik keras kausku keatas. “Buka..!”, tuntutnya.
Sambil tetap berusaha menindihnya, aku membuka seluruh pakaianku. Ketika Teh Esih hendak membukanya juga, aku melarangnya. “Jangan.. sama aku aja nanti pelan-pelan..”
Teh Esih menurut. Aku menciumi dadanya dari luar kaos pamanku, buru-buru kebawah menciumi perutnya yang sudah terbuka. Pusarnya kujilati. Terus menuju dadanya sambil mengangkat kausnya. Kukulum putingnya, kusedot, sambil tanganku bermain di payudara sebelahnya, bergantian kulakukan. Aku mengangkat kaus pamanku itu.
“Teh..?”, kataku lagi di sela-sela ciuman panjang. “Hmmh?”, jawabnya mesra.
“Bisa-bisa Egi keluar lagi sekarang gara-gara ciuman bibir Teteh nih..”, kataku.
“Ah hahaha.. masa?”
Bibirku bergerak lagi ke arah perutnya. Kuciumi terus kujilati tiap inchi menyusur kebawah. Kubersihkan sela-sela jembutnya dengan lidahku, lama belum sampai serambi lempitnya. Kini ku menyusuri kedua paha dalamnya. Si Teteh dari tadi mendesah-desah saja. Barulah sampai di belahan oval bibir serambi lempitnya. Kusentuh dengan jari, ku buka-buka sedikit, aku melihat ada buliran daging kecil yang menempel di bagian atas.
“Aah..”, si Teteh mengerang enak, aku mainkan dengan telunjukku.
“Aaaaangg.. aaaach”, si Teteh makin keenakan.
“Ini apa sih Teh yang aku pegang..”, tanyaku pura-pura polos, tapi tak kulepas jariku padanya.
“Aaaannnggggg..”, ia melepaskan jariku dulu darinya.
“Itu namanya Itil A’..”.
“Ooooooh hehe..”. Jariku kemudian bermain lagi di daerah situ. Kemudian bibir dan lidahku menyusul mencecap-cecap itilnya.
“Aaaaahhh.. aduuuuh.. Aa ganteeeeng”
Tanganku bermain di seputaran bibir serambi lempitnya.
“Aaaaah pinter si Aa.. adduuuuuuh..”
Satu jariku menerobos lubangnya, “Sssssshhh aaah..”
Setelah itu dua jariku keluar masuk serambi lempitnya.. “Aaaaach.. Sssshhhh.. hhnnngggg.. aaaah”
Kemudian terasa dari dalam dan dari seluruh bagian selangkangan teh Esih berkedut sekali. Aku tetap, menyedot dan mencolok. Dan “Aaaaaahhh.. Uuuuuuuungh”, kedutan-kedutan itu datang dua kali lagi. “Uuuuuuuh ah..”
Si Teteh mendorong kepala dan tanganku. Ia berbaring beristirahat menyampingkan kedua pahanya menutupi selangkangannya. Seolah malu ia telah mengalami orgasme. Kedua tangannya diatas kepalanya. Matanya berbinar menatapku lama seolah tak percaya. Bibirnya ia basahi dengan menjilat-jilatnya terus. Aku berlutut dan tersenyum padanya.
“Hebat ih si Aa.. bohong kali perjaka..?”, katanya menuduh bercanda.
“Yeeeh ga percaya..”, aku meneruskan. “Ini berkat aku yang sekian lama rajin menonton bokep dan membaca kisah-kisah di Semprot. com”
“Ah hahaha..”
“Bapak.. Mamah..”. Aku berbicara seolah-olah kedua ortuku ada dihadapanku. “Inilah ternyata gunanya, Bapa dan Mamah selalu melarangku membuka situs-situs porno. Kini.. inilah buktinya, bekal dari situs porno itu mampu memuaskan gairah dan nafsu pacarku yang cantik..”
“Ah hahahaha..”, si Teteh tertawa terbahak-bahak. “Bisa wae (aja) si Aa mah.. hahaha”
Ia bangkit berlutut sejajar dihadapanku. Ia menciumiku langsung di teteku. rudalku yang tegang terus dari tadi ia elus, kocok, punter dikit, dan lain-lain yang membuat nikmat. Tak lupa pula tangan kirinya bermain di kantung pelerku.
“Haduh enak enyak enyak enyak.. geulis (cantik)”, selorohku meniru bintang film bodor jaman dulu.
Kini skill sepong rudalnya ia pamerkan, seolah bila kemampuan BJnya kurang jago ia tak bisa lagi masuk audisi. Tititku seperti diselimuti oleh daging basah yang mampu menyedot, mengelap, menekan dengan lembut bergantian di seluruh permukaan sensitifnya. Wedeeew.. enak bener. Aku goyang-goyangkan pantatku mengikuti irama sedotan mulutnya.
“Diem ah..”, katanya. “Nikmatin aja..”, lanjutnya takut aku ngambek.
Kekuatan rudalku pun kupertaruhkan, tak mau aku keluar sekarang, lalu nanti aku harus mengulang lagi semuanya dari nol.. malas deh.
Kini serangan kocokan tangannya yang pernah membuat aku K. O datang. rudalku yang sudah basah oleh sepongannya, telah menjadi pelumas bagi mesin kocokan nikmat teh Esih. Aku berdiri gagah diatas lututku. Kini serangan itu tak lagi menguatirkanku. Malah membuat tititku semakin greng, terlihat lebih tampan dari biasanya.
Wajah teh Esih sejajar dengan wajahku, tadinya aku hendak menciumnya lagi, tapi aku teringat bibirnya kan bekas hinggap di rudalku, aku jadi ragu-ragu. Tapi cuek aja deh.. di film bokep juga suka gitu, abis nyepong terus ciuman.
Baru hendak bergerak, teh Esih malah mendorong halus badanku., dua kali.
“Tiduran..” perintahnya. rudalku pun tak dilepasnya.
Ia menyepong lagi rudalku dengan ludah yang agak banyak. Kemudian ia mengangkangiku. rudalku masih tak lepas dari genggamannya. Ia arahkan ke serambi lempitnya.
‘Huhuy.. persis seperti bayanganku waktu coli.. Cuma biasanya aku membayangkan wanita-wanita setengah baya disekitaranku, seperti pembantuku yang sudah berhenti, tetangga rumah.. dll. Kini yang mengangkangiku jauh lebih cantik.. hihehe.
“Ah..! sakit..”, katanya ketika kepala rudalku ditekan menembus sedikit bibir serambi lempitnya.
“Kurang basah kali ya..?”, Ia menahan dulu proses persetubuhan ini.
“Ini aja..”, kataku mengambil ludah dengan jariku dan mengoleskannya pada lubang serambi lempitnya.
Ia menekankan selangkangannya lagi pada rudalku.
“Ouwh..!”, masuk.. masuk.. masuk dengan nikmat, sumbu kenikmatanku ada didalam tubuhnya.
Teh Esih memutarkan pantatnya, membuat rudalku terpuntir sedikit di serambi lempitnya. Terus ia maju mundurkan sambil meraba-raba tetenya. Ia keenakan sendiri. Beberapa saat ia lakukan itu. Lalu untuk menambah kenikmatan, ia melakukan gerakan selanjutnya.
Ia naik turun diatas tubuhku. “Ah.. ah.. ah.. ah.. ah.. ah..”
“Oooooooh..”, aku bersuara pula keenakan.
“Ah.. ah.. ah.. ah.. ah.. ah..”
Setelah agak kelelahan ia menyandarkan tangannya di kedua sisi badanku. Ia memompa lagi serambi lempitnya pada rudalku. Karena terlalu maju, akhirnya rudalku copot. “Uh..!”, serunya. Aku mengarahkan lagi rudalku menuju serambi lempitnya.
“Kependekan sih ya Teh?, rudal Egi kurang panjang?”
Teh Esih sibuk memaju mundurkan pantat dan selangkangannya diatas rudalku. Ia mulai lelah kelihatannya aktif terus dalam 20 menitan ini. Ngocoks.com
“Ngga sih A’, biasa aja.. Cuma rudal Aa mah keras banget..”
Aku masih menikmati goyangannya.
“Aku diatas Teh?”
“Ouh..! iyah boleh..”. Ia bergerak kesamping, diam menunggu dalam posisi nungging. Oh aku malah lupa ada posisi nungging dalam bercinta.. hihihi semua khayalanku dalam bercinta satu demi satu terlaksana.
Aku memposisikan diriku dibelakangnya, rudalku dan serambi lempitnya sudah banjir oleh pelumas dari serambi lempit si Teteh. “Lap dulu aja A’? ”, aku kebingungan mencari tisu atau sesuatu untuk mengelap. Teh Esih menyodorkan kain celana pendek pamanku lagi. Aku lap rudal dan serambi lempit si Teteh. Dia kemudian meraba-raba serambi lempitnya.
“Udah A’.. hayu ngewe lagi..”.
Kata-kata yang sungguh memprovokasi. Aku mencari lubang yang hendak kutuju, ku raba-raba mencari, pas ketemu ku keker Otongku menuju jariku yang menjadi penanda lubang kenikmatan si Teteh.
“Aaach..”, kami berbarengan bersuara keenakan ketika rudalku menembusnya.
Kugoyang dengan perlahan, waduh.. kerasa banget ini sih.. daging serambi lempitnya terasa lebih menjepit.. enyaaaaak.. aah
Kugoyang semakin cepat. Si Teteh dibawah pun terdengar keenakan.
“Uah… uah.. uah.. uah.. uah..”
Gile.. ini gimana mau bertahan lama, enak banget.. terasa diseluruh kulit rudalku rasanya gesekan kedua kemaluan kami yang bersatu. Aku berkonsentrasi pada hal-hal lain. Jangan memikirkan serambi lempit nikmat ini pokoknya. Kugoyang lebih cepat, kuhentak lebih dalam. Biar si Teteh duluan yang keluar maksudku..
Setelah 10 menitan si eteh menjerit. “Ouuuch.. Aa..”.
serambi lempitnya mengedut dua kali. Aku menarik nafas.. soalnya punyaku juga udah diujung banget. Aku mencabut.. dan..
“Aaaaaaahh… waaah huhuhuhuhhh…”
Crot crot crot crot… aah wush busyeeet.. nikmatnya.. wuhuh. Seluruh dunia seolah dalam genggaman. Waah. wah wah.. aku kehabisan nafas.
Aku langsung terduduk lemas. Si Teteh tertelungkup lelah. Kami bedua ngos-ngosan puas.
Aku mengeluh dan berbaring disamping teh Esih yang masih menelungkup telanjang. Spermaku masi terlihat berceceran dipunggungnya. Aku ambil elap celana pendek paman dan ku bersihkan kulitnya dengan itu.
Masih dengan lemas ia mencium pipiku, tapi kemudian berbaring menelungkup lagi, wajahnya menghadap dinding. Kuintip matanya terpejam. Aku juga ikut tiduran dulu aja deh sebentar.
Tak terasa waktu berjalan cepat. Sudah setengah satu lagi. Aku cepat-cepat mandi. Setelah mandi memang terasa segar lagi. Aku melihat si Teteh terbangun sewaktu aku mandi. Ia juga terkejut dengan waktu, buru-buru ia pun mandi menyegarkan diri. Aku mengajaknya makan dulu sebelum berangkat, tapi dia bilang enakan makan sekitar kampus nanti setelah selesai semuanya.
Sepanjang jalan si Teteh kelihatan senang, ia katanya dulu juga pengen kuliah, tapi tak punya biayanya, ibu tirinya lah yang melarang. Aku memegang tangannya, kelihatannya aku jatuh cinta pada gadia yang lebih tua ini. Aku akan melakukan apapun untuk menyenangkannya. Di angkotpun aku tak melepaskan tangannya.
Ternyata proses daftar ulangpun mudah dan cepat, aku berterimakasih pada Bapakku yang mmeriksakan dan mengingatkan dokumen-dokumen yang harus dibawa. Sehingga taka da yang tertinggal.
Kami makan didepan kampus, di bawah pohon-pohon besar yang sudah berusia ratusan tahun. Sungguh romantis sekali. Ingin rasanya aku berciuman panjang dan mesra disitu, di bawah pohon-pohon rindang.
Terus kupandangi wajahnya, tak ingin waktu terus berlalu. Tapi akhirnya waktu pula yang mengingatkan agar kami pulang ke kota S, kalo sudah malam tidak ada lagi Bis.
Kami bertukar no hape, aku berjanji akan main ke rumahnya.
Didalam Bis kami berciuman terus, aku memegang-megang lagi dadanya, ia bilang ia bisa mem BJ aku disitu tapi aku melarangnya, bisa kelihatan nanti sama penumpang lainnya. Malu.. hehe
Sekian Suhu, nanti Egi main ke rumah Esih, ketemu Mamahnya, Bibi, adik dll.
Bersambung… Aku terkejut dengan bunyi dering hapeku. Aku sedang mencari-cari sumber dan bahan di Google dan Youtube tentang cara-cara agar kuat dalam bercinta. Agak bingung sih jadinya. Ada obat ini obat itu, gerakan ini itu, dan lain-lain, banyak macamnya.
“Gi, pangjemputkeun si Bapak di Hotel Nista.. ayeuna” (jemput Bapa di Hotel sebut saja namanya begitu, sekarang). Ibuku berbicara di ujung telepon.
“Naha..(kenapa)? ai (kalau) mang Wira (supir Bapakku) kamana?”
“Eweuh (ga ada) justru, teu asup (ga masuk)..”
“Ooo dimana..?”
“Hotel Nista..”
“Iraha (kapan)? Jam baraha (berapa)?”
“Ayeuna (sekarang) iiih. Cepet nya?”
“Oh ai mang Wira teu damang (gak sehat)?”
“Eeeeh.. bulak balik wae ngobrol teh. Buru ah.. itu si Bapa geus (udah) nungguan. Mamah keur loba (banyak) pasieun ieu. Buru..!”
“Ai si Bapa keur naon (lagi ngapain) di Hotel Nista.?”
“Eeeeeh… loba tatanya pisan (banyak nanya banget)..”, lalu Toot… telepon ditutup.
Aku malas sebenarnya pergi. Tapi kupakai juga celanaku. Baru kumundurkan mobil keluar pagar. Bapakku sudah menelpon.
“Halo Pak..”
“Udah sampe mana Gi..?”
“Baru keluar rumah.?”
“Eh naha? Bapa geus tatadi iyeuh.. (sudah dari tadi ini)”
“Si Mamah oge (juga) baru barusan nelpnya..”
“Ooooh iya atuh.. Bapa di lobi nya? Mun bisa rada gancang (kalo bisa agak cepat).. nya?”.
“Iyah.. iyah”
10 menit kemudian, mobil yang kukendarai sudah masuk pelataran Hotel, kulihat di Lobby Bapak sudah menunggu bersama pak Mistin, anakbuah Bapak yang setia.
Bapakku melambai, maksudnya supaya aku tidak perlu parkir, langsung ke Lobby terus berangkat. Baru saja Bapak mau beranjak menghampiri. Dua orang dengan seragam PNS memanggilnya, mereka bersalaman, tertawa-tawa basa basi dan kemudian berbincang-bincang.
Aku manfaatkan untuk turun mencari WC, aku pingin kencing. Satpam yang bertugas, melarangku untuk parkir didepan Lobby, tapi kubilang sudah mau berangkat sambil menunjuk Bapakku. Satpam mengangguk-angguk sambil menunjukkan arah WC. Segera kutuju arah tersebut. Letaknya dekat lift katanya.
Aku melihat WC Pria dan Wanita letaknya bersebelahan. Aku melirik ke arah pintu WC Wanita yang terbuka karena ada yang keluar. Berharap ada pemandangan apa lah gitu. Didalam hanya ada seorang gadis putih yang sedang berkaca membetulkan make upnya.
Gadis itu cantik. Sekilas aku jadi teringat siapa ya? Mirip siapa ya?.
Oh..!
Jantungku berhenti bedegup, hatiku seperti kena sengatan petir. Itu Esih.
Iya itu si Teteh.. teh Esih yang telah mengambil hati dan keperjakaanku. Hatiku melonjak senang. Aku menunggu didepan pintu WC Pria. Tak mungkin aku mendorong pintu WC Wanita dan mengejutkannya didalamnya.
Pintu Toilet Pria yang terbuka. Aku menyingkir kesamping. Seorang pria setengah baya, seumuran Ayahku keluar dari kamar mandi Pria. Ia memakai kemeja norak berwarna kuning keemasan. Dia berhenti didepan pintu WC Wanita. Ia juga menunggu seseorang rupanya.
Pintu Toilet Wanita lalu terbuka. Ada suara perempuan tertawa sumringah.
“Kokoh udah selesai..?”
Ya ampun.. itu suara tawa yang membangkitkan gairahku kemarin. Suara tawa yang membuatku selalu terkenang dirinya, tergila-gila malah padanya. Hatiku mulai retak.
“Hehehe.. kamu udah.? Si Kokoh menyambut tangan lentik yang mengajaknya bergandengan. Barulah keluar orangnya, pemilik tangan lentik itu. Teteh Esih. Tersenyum manis pada Bapak itu. Bukan pada diriku. Wajahku panas. Terutama di bagian mata. Tanganku terkepal. Tak terasa kutinju pintu WC Pria hanya untuk membukanya.
Pasangan yang bergandengan itu berpaling untuk melihat bunyi yang kutimbulkan. Aku hanya memandang yang perempuannya saja. Ia terkejut menatapku. Terbelalak sampai urat lehernya pun tertarik.
Mata kami bertemu. Aku ingin teriak, tapi yang kulakukan hanyalah melongo nelangsa. Segera teteh Esih menguasai dirinya. Ia berpaling lagi.
“Yuk Koh.. pulang..”, teh Esih beranjak menggandeng pasangannya.
“Siapa itu Lan..? kamu kenal..?”.
“Ngga.. ga kenal, cuma kaget aja.. dia ninju pintunya bukah Koh..?”
“Iya hahaha.. macem2 emang anakmuda sekarang ya?”
“Ah hahaha..”
Sebelum menghilang di balik tikungan, teh Esih sekilas menoleh lagi, pandangannya sedih, seperti hendak memberi penjelasan. Tapi segera menghilang dibalik tembok.
Aku termenung menatap pintu. Kudorong perlahan. Dunia seperti didalam kabut. Aku tak tahu apa yang aku lakukan, kencing, mencuci muka dan tau apalah. Yang jelas aku seperti baru bangun dari tidur seminggu full. Gamang, kepalaku serasa menjadi besar rasanya.
“Gi..!”, ada suara yang memanggilku. “Egi.. hayu hey..! itu si Bapak nungguin”, ternyata pak Mistin yang mencari aku. “Meni lila.. keur naon maneh didinya? Ngaca wae.. (lama banget.. lagi ngapain kamu disitu ngaca mulu)”, katanya
Aku tak menjawab. Bapakku sudah disamping pintu setir. Ku berikan kunci mobil padanya. Aku duduk dibelakang agar tak terganggu oleh mereka. Mereka mengobrol seru. Aku menatap dunia seperti merekalah yang telah menyakitiku. Mereka kejam. Tak tahu apa yang kurasakan. Mereka.. pohon, batu, jalan beraspal, pagar besi, semuanya lah, beserta orang-orangnya ah..
Sesampai dikamar, aku bersembunyi dalam gelap.
Sampai jauh malam aku tak bergerak, masih melayang pikiranku dibawah bantal. Ku pikir-pikir, pantas saja dia selalu menunda kedatanganku kerumahnya. Rupanya memang sudah ada rencana. Sudah ada yang lain.. Tapi kok sudah berumur ya? Wanita simpanan kah dia?.
Aku beranjak bangun.. hmm jangan-jangan.. dia seperti itu. Aku mengambil hapeku, aku harus mencari-cari info, mencari tahu, siapakah Esih yang sebenarnya.
Gubrak..!
PIntu kamarku dibuka keras dari luar, ternyata lupa aku menguncinya. Ibuku menyeruak masuk dengan pandangan seperti Polisi di acara televisi. Wajahnya melotot menyelidik.
“Poek..! (Gelap)”, hardiknya.
“Waduh.. enya poek (iya gelap). Nya dihurungkeun weh atuh lampuna, Mah (Ya dinyalakan saja lampunya)..”. Jawabku polos dan datar. Aku sering kesal kalau Ibuku sudah seperti ini. Sebentar lagi pasti muncul kata-kata itu.
“Maneh mabok nya? Narkoba? (Kamu mabok ya?)”. Naaah ini dia.. kalimat itu muncul juga. “Awas siah… diteleumkeun na susukan sisi Klinik geura.. (Awas kamu, ditenggelamkan di sungai pinggir Klinik nanti).”, ancamnya lagi.
“Mamah pan Dokter, maenya teu apal ka anu mabok (Mamah kan dokter, masa ga tau orang mabuk gimana)?”.
Ibuku mendengus menahan tawa.
“Gering lain (sakit bukan)?”, Ia merabai keningku. Ia membawa senter kecil kliniknya. Menyoroti mataku dengannya. Lalu menyuruhku menjulurkan lidah.
“Ah teu nanaon… stress hungkul mereun? Kunaon? sieun Kuliah? (Ah gapapa, stress aja mungkin, kenapa? Takut kuliah?) ”, katanya lega. “Itu geura dahar..! (cepat makan)”
“Pangmawakan kadieu.. (bawain kesini)”, pintaku manja.
Ibuku langsung melengos sebal, “Memangna Ruum Serpiis..!”. Ia menutup pintu kamarku dengan kencang.
Benar juga, ngapain si Esih selalu dipikirin, aku masih punya kuliahan bulan depan. Pasti banyak mahasiswi dan dosen yang cantik-cantik, hihihi. Siapa tau ada yang cukup bodoh untuk menjadi kekasihku.
Aku pergi kebawah untuk makan. Setelahnya aku searching lagi google untuk mencari cara agar tititku lebih perkasa.
“Jon.. Jojon..! hudang.. Bangun disuruh si Bapa jeung si Mamah bangun..!”.
Aku membuka mataku. Sudah pagi. Dihadapanku ada si Selvi, Kakakku. Ia memang senang memanggilku Jojon, kata dia aku mirip pelawak senior legendaris itu.
“Aya naon kitu..(ada apa emang)?”
“Diajak ka kuburan.. hayu ..!”
“Ka kuburan..?, Ah maneh geus asup kategori gelo siah Selvi, gancang di ubar.. (kamu sudah masuk kategori gila Selvi, cepat berobat)”. Aku memeluk gulingku lagi. Tidur lagi.
Sampai Mamah dan Bapakku masuk kamar untuk membangunkanku.
Setengah jam kemudian aku sudah di mobil bersama mereka keluargaku. Ternyata rencananya memang ziarah ke kubur mendiang Kakek Nenekku dan almarhum Uwakku. Dipemakaman sudah hadir Uwak/Budhe Yeyen istri almarhumah Uwakku, Aa/mas Agus anaknya. Dan keluarga Mang Cahya.
Mang Cahya..?!. Jantungku berdegup kencang. Tau ga dia ya pacarnya sudah aku entot? Marah ga ya?”.
Tapi Mang Cahya bersikap biasa, seolah tak terjadi apa-apa. Maka akupun bersikap biasa.
Acara berlangsung khidmat. Bapakku yang memimpin do’a, bla bla bla.. berakhirlah dia acaranya.
Mamangku menarikku ke pinggir dan berbisik padaku, “Soal si Esih tong ribut, nyaho lah Mamang oge, engke ku Mamang, Egi ditelp lah.. nya? (Soal si Esih jangan heboh, tau lah Mamang juga, nanti Mamang telp Egi ya?”, aku mengangguk cepat. Tapi..
Tau apa nih? Bahwa dia simpanan orang? Atau kemarin dua kali dia kutiduri?. Deg degan aku jadinya.
“Tah Kang.. si Egi cenah daekkeun.. nganteur., (Nih Kang, si Egi katanya mau.. nganterin)”
Nganterin? Nganterin siapa?, tanyaku bingung dalam hati.
“Jadi Gi. Si A Agus teh mau berangkat ka Jkt, rek buru-buru kudu digawe cenah (buru-buru harus bekerja katanya), Egi nganter dulu A Agus ka Terminal, terus baru nganterin Wak Yeyen pulang ka rumahnya..”, sahut Bapakku menerangkan.
“Hah? Egi pulangnya gimana?”, aku terkejut dengan perubahan ini.
“Nanti kamu pulangnya bawa motor mas Agus..”, timpal Budhe Yen dengan logat Kediri nya.
“Ooooh..”, aku menggaruk kepalaku tak berani menolak, walau tak kusuka. Mamangku nyengir lebar luarbiasa.
“Mas Agus mesti kerja Mas..?”, tanyaku pada mas Agus, ketika kami semua rombongan saling bersalaman untuk kemudian masing-masing berpisah.
“Hiyaa..”, jawabnya dengan cepat. Itulah makanya aku jarang mau ngobrol dengannya. Karena dengan pertanyaan segitu itupun, cukup untuk membuatnya bercerita soal pekerjaanya selama berjam-jam. Akupun memotongnya
“Mas udah punya calon? Mas Agus terdiam. Tanda belum punya berarti. Aku menunjuk Selvi Kakakku yang sedang mencium tangan Budhe. “Ituh Selvy Mas, kasian.. sudah setua itu belum pernah punya pacar.. masih nungguin mas Agus terus katanya.. sama dia ajalah. Kasian dia Mas.. Mas Agus nyengir sambil menaksir-naksir.
“Weeeeew Si Jojon ngebodor.. melawak.. weeeew..”, serunya sambil menaiki mobil.
Benar saja, dalam perjalanan mas Agus tak berhenti bercerita soal pekerjaannya. Aku setengah mendengar setengah melamun sambil nyetir mobil Uwak Yeyen yang sudah ringkik ini. Parahnya, kalau sedang melamun, aku selalu teringat Esih. Walau perihnya sudah tidak terlalu besar, tapi tetap membuatku gundah gulana.
“Lah kalau yang lain mesti lama itu selesai Gi… kalau aku, cepet.. ketak ketik dikit, hitung sana sini.. beres.. Mas Agus tetap bersemangat bercerita. Aku terkejut dulu mendengar kalimat ‘yang lain lama dan aku cepet’ yang tersebut diatas, agak sensitive aku belakangan ini dengan kata-kata itu. Budhe Yen lah dibelakang yang menyambut cerita anaknya itu dengan bangga.
“Parkir dulu jangan Mas..?”, tanyaku meminggirkan mobil di sisi Terminal.
“Gak usahlah.. aku langsung naik kok… Mak..? Agus yo pamit yo Mak..?”
“Iyo Gus.. Le.. ati-ati neng Dalan (dijalan), semangat.. yo.. nyambut gae.. muah.. muah”, Budhe Yen mencium dulu anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Kami mengamati ketika mas Agus berlari mengejar Bis, menaikinya dan melambai ke kami dari pintunya.
“Yoh, ayo Gi… udah mau udan, wis mendung. Engko mampir neng temenku ya Gi, di Gang mepet di Cicopas.. yo?”.
“Iyaa Budhee..”.
Urusan di tempat temannya Bude Yen ternyata lama, ngobrol soal duit yang aku tidak mengerti. Mendung sudah mencekam, kelihatannya bakal hujan gede ini. Aku gelisah memikirkan parker mobil yang jauh didepan Gang sana. Alamat basah ini sih keujanan. Budhe akhirnya pamit, kami berjalan melewati gang sempit untuk kembali ke mobil.
“Kamu lari lah duluan ke mobil Gi, gak papa Budhe nanti nyussol..”.
Tanpa basa-basi, aku berlari. Tapi sesampai di mobil ternyata aku lupa, koncinya aku titipkan di tas Budhe. Aku ingin menangis dan menjerit deh rasanya. ‘Kepalang udah basah ini sih.. huaaa huhuhu..’.
Begitu distarter mobil tua inipun tak mau menyala. Aku panik dan memandang Budhe yang juga basah dan kebingungan. “Biasane akine ini Gi.. akine.. Kembali ku menerjang hujan deras dan membuka kap mobil. Untung cuma sambungan akinya yang longgar, aku kencangkan, kalau rusak selain itu aku menyerah, gak tau apa-apa aku soal mesin.
Begitu sampai di rumah Budhe, kami disambut heboh Mbah Ren, ibunya Budhe. Dia berteriak-teriak bahagia dalam bahasa Jawa menyambut kami yang basah kuyup. Aku sama sekali tidak mengerti. Aku sering juga menghindar darinya, dia sudah agak pikun.. sudah tua banget. Dan selalu menganggapku anak kecil yang masih belajar di tingkat Sekolah Dasar.
“Bueeeeeehhh.. telas kabeh ta Nduk? Beh beh beh.. Iku mesakne loh.. ki sopo? Adi’e Agus? Endang diaduse Loh Nduk.. masuk angin engko.. (bueeh, basah semua ya nak? Itu kasihan siapa? Adiknya Agus? Cepat dimandiin, nanti masuk angin)”.
Aku mencium tangannya.
“Egi Mak.. jenenge (namanya) Egi..! ”, jawab Budhe Yen sambil ke dapur untuk masak air sebaskom. Mbah Ren lalu bercerita bahwa dia dari tadi menunggu dirumah sudah kuatir kalau anaknya itu kehujanan. Budhe bercerita bahwa dia kerumah temannya dulu, bu Dessy tadi. Mbah Ren duduk di korsi kesayangannya di depan kamarnya.
“Diganti ayo bajunya.. diganti kelambi (baju) ne Agus yo?.. sini dikamar aja..”, colek Budhe di perutku.
Aku ikut Budhe masuk ke kamar. Ternyata kamar dia, bukan kamar mas Agus. Budhe menutup pintunya. “Ayo dibuka.. keburu masuk angin nanti..”
Aku membuka bajuku. Lalu diam menanti bajunya mas Agus. Tapi Budhe beringsut ke balik pintu. Lalu srrrt.. suara resleting dibuka, dengan begitu saja Budhe meloloskan bajunya yang basah dari dirinya. Ia tak memakai apa-apa lagi, hanya pakaian dalam saja. Terlihatlah olehku semuanya. Aku kaget-kaget senang.
Si Mbah diluar masih saja bercerita soal ini itu diluar kamar. Budhe menyahuti sedikit-sedikit. Bude Yen memakai beha merah dan celana dalam krem ketat. Ada bordiran bunga-bunga di CD nya. Aku menontonnya ketika Ia berbalik menghadap pintu untuk menggantung bajunya yang basah. Tapi bajunya itu terjatuh ke lantai.
Budhe mendecak mengeluh kemudian menungging untuk mengambilnya. rudalku langsung berteriak, menyeruak didalam CD dan celana basahku. Celana Dalam Budhe yang belakang juga basah hingga mencetak bulat bentuk pantatnya. Belahannya pun sedikit berbayang. Cetakan serambi lempitnya juga tercetak sekilas ketika ia menungging.
Budhe kesulitan menggantung bajunya. Cukup memakan waktu. Setelah tergantung ia mengambil handuk lusuh oranye dalam lemari disebelahku dan membelitkannya pada tubuhnya. Kepalaku sudah spaneng, nafsuku sudah naik sampai hidung. Tapi mana berani aku mengambil pendekatan.
Ia melihat padaku. “Ayo dibuka celananya juga.. Ia berjongkok di depan lemari memilih-milih baju. Perlahan aku memerosotkan celanaku. Aku malu. Malu lah bertelanjang didepan perempuan dewasa, malu pula bila kelihatan tititku tegang olehnya. Nanti apa kata dia, masa sama Budhe sendiri bisa ngaceng, keterlaluan, otak mesum bejat tak bersusila.
Maka aku pura-pura membalik dari hadapannya, biar gak keliatan. Tapi masih bisa melirik.
Ketika berjongkok, pahanya yang mulus, kencang dan besar terpampang. Budheku ini tidak tinggi. Setinggi daguku lah. Kulitnya tidak putih tapi gak hitam-hitam amat. Bersih kulitnya. Agak segitiga bentuk wajahnya. Manislah mungkin waktu mudanya. Sekarang juga masih sih. Apalagi kalau kayak gini. Setengah telanjang.
Mudah-mudahan aku bisa liat dia mandi nanti. Kuperhatikan dadanya besar seperti gunung, tumpah ditampung behanya. Perutnya sudah gak ramping lagi, tapi juga tidak buncit. Pas lah sama tubuhnya. Yang membuat Budhe istimewa adalah pantatnya, besar, bulat dan mancung ke belakang. Gemuk sedikit. Walau pada bagian perut dan pinggang sudah ada bagian-bagian dengan lemak berlebih, di pahanya juga.
“Ini Tole… bekase Mas mu, gak papa ya?”, ia menyodorkan baju bekas mas Agus. Ia melotot ketika melihat CD ku.
“Lhoooo, ini gak dibuka..?”, tanyanya. Ia menarik tanganku tak sabar. “Ayo cepet lho Leeek.. mandi dulu sana..”. Ia menarik CD ku kebawah, seperti memeloroti anak kecil. Aku terkejut, berusaha menahan CD ku, ketahuan dong nanti tititku tegang. Aku berusaha sebisa mungkin menutupnya dengan tanganku.
Budhe menaikkan alisnya begitu melihat posisi tanganku. Dan terlihatlah olehnya dari sela-sela tanganku keadaan si Otongku yang sedang berdiri kencang mencoba menyapa. Ia terkejut sejenak.
“Ooooooh.. hahhuhuhuhihi..”, Budhe menutup mulutnya tertawa. “Lah ngaceng kamu le?”.
“Eyalaah.. cah cilik wis gedi..(anak kecil udah gede)”, katanya sambil tersenyum ramah.
“Maaf Budhe..”
“Nyapo ta..?, liat ini..?”, tanyanya menggoyangkan bahunya yang telanjang. Aku mengangguk malu.
“Mossooook..? hahaha.. Budhe wis tuwe lho.. (udah tua)?”. Katanya lagi bahagia.
Ia berpura-pura membetulkan lilitan handuknya, padahal maksudnya mau memperlihatkan lagi kemolekan tubuhnya, aku tahu. Dibuka.. pura-pura cari posisi yang pas untuk mengikat, nah pada saat itu, ia pamer sedikit, kemudian diikatnya lagi handuknya.
Aku melihatnya dan merekamnya di otakku. Budhe menatapku tertarik.
Disingkirkannya tanganku dari Otongku. “Awas..”. Matanya menyelidik kebawah menarik tali kolorku. Matanya membesar, “Lumayan.. Ssssssh..”, ia mendesis sendiri, sambil menatap tititku membayangkan sesuatu. Aku melihat heran padanya. Ia balik menatap wajahku, kemudian tertawa malu.
“Huawakwkwkwk.. Maaf lho Le, maklum yo? Budhe udah lama gak gituan.. maklum janda.. hahaha.. Eish! Tapi jangan bilang siapa-siapa lho aku bilang gitu.. ya?”.
Aku mengangguk kencang, hingga Otongku pun ikut tergoyang mengangguk-angguk.
“Nduuuuk..!, kae loh.. banyu ne wis umup..! (Naak (untuk perempuan), itu airnya udah mendidih”. Si Embah berteriak diluar kamar.
Budhe melilitkan handuk lain di tubuhku, sengaja menyenggol tititku sambil menyeringai. “Aw..!”, katanya menggodaku. “Xixixih.. ayo mandi dulu..”.
Dia menuntunku menuju kamar mandi, menyuruhku masuk. Dia keluar lagi. Si Embah bertanya ini itu, anaknya menyahuti sambil lalu. Tak lama Budhe masuk ke kamar mandi membawa panci berisi air mendidih. Matanya mencari ember untuk tempat air panas itu. Menungging menaruh panci, membalik sebuah ember besar.
Aku menuangkan air dingin kedalam ember berisi air panas itu. Dari luar si Embah berteriak.
“Diaduse pisan lho Nduk.. mesakne Cah’e, wis runa rene karo awakmu kok..! (dimandiin sekalian lho Nak, kasihan lho, udah kesana kesini sama kamu)”.
Kudengar Budhe tertawa. “Hiyo Maak..”.
Budhe masih tertawa meringis ketika masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.
“Apa Budhe?”, ketika melihatnya tersenyam-senyum terus.
“Budhe disuruh mandiin kamu..”. Katanya sambil menarik handukku, menggantungnya di gantungan pintu. Tanganku sekali lagi melindungi tititku. Aku menganga tidak percaya.
“Masa? Kebeneran dong..?”, tanyaku senang.
“Hahaha kebeneran opone?, disangkanya kamu masih kecil.. padahal wis gedi lho si Egi ini, wis tau kenthu (udah ngerti ngewe), hahaxixixi.. ”, jawabnya sambil menutup mulutnya seolah salah bicara. Budhe mengocek air hangat di ember untuk mengecek kehangataannya. Kemudian menambahkan beberapa gayung air dingin.
Otomatis naluriah, aku maju mengarahkan tititku ke pantatnya. “Sini aku bantu Budhe..”, kataku berpura-pura hendak membantunya. Tanganku memegang tangannya yang memegang gayung. Cos! rudalku kena belahannya yang empuk. Budhe terkejut sedikit dengan sentuhan di pantatnya.
“Heh..?”, Ia melirik ke belakang untuk melihat apa yang menyentuh pantanya, terus tertawa membahana.
“Hahahah.. Dasaar cah gendeng (anak gila)”. Tawanya.
Kemudian ia menyiramkan gayung berisi air ke kepalaku.. Byuuur..! byuuur.. dua kali.
“Wah..!”, handuknya ikut terciprat. Ia melompat mundur.
“Budhe ga ikut mandi..? bareng atuh sama-sama..”. Tanyaku berharap.
Ia menyeringai senang, kemudian membuka handuknya, lalu behanya, dan menggantungnya, kemudian menghampiriku lagi. Aku memberengut protes.
“Itu cangcutnya nanti kebasahan juga..”, selaku sambil menunjuk.
“Hoahahaha..”, si Budhe terbahak lagi. Kemudian ia membalik tubuhnya, dan memelorotkan celana dalamnya pelan-pelan. Membelakangiku, kayak di film-film.
Aku mengeluh makin merana. Busyet deh.. kembali jadi muda lagi dia hehe. Karena tak tahan, aku melompat untuk memeluknya dan menggerayanginya. Namun dia bermain kucing-kucingan menghindariku sambil tertawa seperti gadis muda. “Ojo.. Lek.. Ojo (jangan)”.
Diluar, lagi-lagi si Embah berteriak. “Opo ta Nduk..? guya guyu.. guya guyu (Ketawa-tawa) banter nemen?”. Aku terkejut dan menghentikan kucing-kucingan ini. Aku lupa ada si Embah diluar.
Budhe membalas teriak.
“Orak.. Mak! iki bocahe nakal.. dolanan manuk..(mainan burung)”.
Si Mbah tertawa diluar. “Beeeeh.. enek-enek ae cah cilik.. (ada2 aja anak kecil), kata si Mbah.
“Sana.. dikit! nanti-nanti.. sabar-sabar..”, Budhe memerintah sambil tersenyum. Tangannya meraih sabun dan melumurinya ditangannya banyak-banyak. Ia mengocok-ngocok sabun itu. Otomatis aku meraih rudalku. Mengocoknya pula.
“Hush..! ra oleh..(ga boleh)! jijik.. jijik..”, tegurnya kayak ke anak kecil. Aku melotot padanya
“Abis Budhe gak mau..”.
Dia balas memelotot, “Orak oleeh..!”, serunya tegas. Aku langsung menurut.
Ia melumuri badanku pakai sabun dengan cepat. Kalo masih ada yang masih belum kena air dia siram dulu. Sungguh telaten dia.
“Jangan ngocok sendirian”. Senyumnya berbisik.
“Apa Budhe?”, tanyaku pura-pura gak mendengar.
“Nggak.. gak apa-apa, ini kan ya yang nakal..?”. Ia tersenyum ceria sambil menyentuh dan mengelus perlahan rudal dan pelirku. Aku mengernyitkan wajahku karena enak. Ditambahinya sabun kemudian dikocoknya rudalku. Aku mengerang nikmat.
“Ah..! Budheku kok cantik banget siiih?”. Pujiku keenakan. Budhe tersenyum genit dan mendekatkan wajahnya.
“Ssssssssshhhh.. enak yo Lek..? hmmmm.. enaknya masuk ke tempikku (serambi lempit) Lek.. mau yo? Sssssh aaahh”. Ia berbisik di kupingku. Aku membeliakkan mata setuju.
Setelah bisa menguasai diri, aku meraba-raba pantatnya yang selalu kudambakan. Empuk dan besar. Pasti puas memegang-megangnya aja. Tangan kiriku menyusuri melewati lubang pantat, dan menyentuh serambi lempitnya dari belakang. “Mmmm.. ahh”. Tangan kananku meremas-remas dua gunung miliknya yang menggairahkan itu, setelah puas baru aku meraih selangkangannya yang kelihatan manis dari depan, menggosok-gosoknya.
Kini jari tangan kananku memasuki celah serambi lempitnya. “Ssssssh aahh Lek..? ”, tangan kiri Budhe menjenggut rambutku. Jari tengahku mengobok-obok lubang kemaluannya. Budhe memejamkan matanya merasakan kenikmatannya. Otomatis kocokannya padaku terhenti. Otongku jadi nganggur. Kepalang tanggung telunjukku pun kuselipkan didalam lubang serambi lempitnya.
“Auuuuuuh, aaaaah.. Budhe mengangkangkan kaki kirinya agar tanganku lebih leluasa. “Iyaaaahhh.. euh.. ”, Budhe menghentakkan kepalanya ke belakang saking menikmatinya. Terus dia hentakkan lagi ke depan, terus ke belakang lagi, terus bulak-balik. Sambil berdesah-desah. Bibirnya ia buka dan gigit.
Tambah bikin nepsong aja, cetusku dalam hati. Walau sudah mulai pegal tapi terus ku maju mundurkan secepatnya
Kemudian dia menjepitkan kedua pahanya pada tanganku. Tubuhnya berdiri tegak. Kepalanya miring kekiri, wajahnya mengernyit, matanya terpejam. Tangan kanannya memelukku. Selangkangannya mengejut kencang. Tanganku kesakitan karena dijepit selangkangan itu kuat-kuat. Budhe orgasme. “Aaaaaaaaah…”.
Ia memejamkan matanya, dan menyenderkan badannya ke bahuku.
Sebentar kemudian ia tersadar kembali. Tapi, seolah menjadi orang lain, dia celingak celinguk menatap ke pintu kamar mandi dan berkata, “Duh makasih ya Le..? Dia tidak meneruskan kocokannya padaku. Dia malah mandi sambil membelakangiku. Aku masih menunggu. Dia mengelapkan handuk pada tubuh semoknya setelah dia selesai mandi.
Aku terbelalak. “Budhe? Aku gimana?”. Tititku mulai mengecil seiring kekecewaanku.
Ia masih seperti orang bingung menatapku, menatap pintu kamar mandi, menatap tubuhnya terus bergantian.
“Nanti nanti nanti nanti… Ayo pakai handuk dulu, ayo keluar dulu..!”. Ia pun keluar kamar mandi duluan.
Aku bingung dan mulai mendengarkan, iya sedari tadi suara si Mbah memang tidak ada, apa dia tahu dan mendengarkan kami berdua..?. Aku pun melangkah keluar dengan cepat. Langsung ku cari tahu kemana itu si Mbah pergi.
Ternyata dia tertidur di kursinya. Waduh..! aku udah kaget aja. Aku menyusul Budhe ke kamarnya mau meminta penjelasan. ‘Enak saja.. curang dia puas sendirian.. Baru aku mau membuka kamarnya, ternyata pintunya membuka sendiri, Budhe keluar kamar sudah pakai baju. Aku membelalak padanya menuntut penyelesaian.
“Ssst.. nanti sebentar yo Lek?, si Mbah suka bangun lagi..”.
“Kapan..?”, aku menaikkan alisku.
“Eyalah.. pokoke sabar, sana endang pakai baju dulu..!”.
Benar juga, ketika aku memakai bajuku, Mbah Ren bangun dan langsung memanggil-manggil anak perempuannya.
“Nduuuk.. wis jam piro.. iki? kok wis peteng? (udah jam berapa ini? Kok udah gelap?”
“Jam Rolas awan Mak. Udan kok, mangkane rodo peteng.. (jam 12 siang. Hujan kok makanya agak gelap)”
“Oooh iyo”.
“Mak’e mangan terus ngombe obat ya Mak? Wis wayahe.. (Mak makan terus minum obat ya Mak? Udah waktunya)”.
“Yo terserah awakmu (kamu) lah..”.
Aku keluar kamar untuk duduk didepan tipi. Gerimis diluar masih mengundang manusia untuk berbuat hal-hal yang tidak senonoh dengan Uwaknya. Begitulah dalam pikiranku yang penuh nafsu menggantung.
Budhe menyodorkan piring yang sudah diisi dengan nasi dan lauk pauknya kepadaku. Kemudian kembali menyuapi Ibunya. Aku menyalakan tipi dan menghabiskan nasiku. Kemudian aku kedapur untuk mengembalikan piringku. Budhe ada didapur sedang menyiapkan minum dan obat untuk Ibunya. Aku tadi tak memperhatikan, ternyata Budhe memakai daster yang pendek sekali, sejengkal diatas lutut, dan beberapa centi dari pantat.
“Waaah Budhe bagus amat bajunya..? Beli dimana? Bikin sendiri ya?”, godaku. Budhe tersenyum, dan mencoba untuk menarik-narik ujung roknya, pura-pura malu akan keseksiannya.
Aku berbisik di telinganya. “Ini seragam menyetubuhi, ya?”
“Seragam apa?”, ia tak mendengar kata terakhir. Aku menjawab dengan menyelipkan jempol diantara telunjuk dan jari tengah. Simbol masyarakat kita untuk ngewe Hu.. kalo belom jelas hehehe..
Budhe menepak tanganku cepat sambil meringis tertawa. “Sana.. tunggu ya nanti tak jepit kamu”.
Aku meremas cepat pantatnya, ternyata gak pakai celana dalam dia. Tititku jadi nyut-nyutan menagih. “Heeh.. disuruh tunggu..!”, Budhe mengusirku keluar.
“Nyapo Nduk? Guya guyu ae lho..”. Ketika Budhe membantu Mbah minum obat.
“Ora opo-opo Mak. Kae loh putumu nakale tenan.. (itu cucumu nakalnya bener2)”
Mereka berbicara lagi, aku menatap tipi lagi dengan pandangan nanar. Tak kulihat semua acaranya, bayanganku hanya ke tubuh Budheku lagi. Sudah tidak sabar aku. Budhe menyusulku ke ruang tipi sambil membawa piring. Ruang untuk menonton tipi ini tidak tersedia kursi. Hanya karpet, bantal-bantal dan kasur lipat tipis di ujung ruangan.
Maka ketika Budhe memutuskan untuk menemaniku menonton tipi sambil makan, maka jadilah aku menonton dia daripada menonton tipi. Ia duduk bersila dengan daster mininya, maka terpampanglah seluruh isi selangkangannya. Aku mengaguminya. Kulitnya mulus, pahanya agak big size. Begitu pula serambi lempitnya, menggembung benar seperti menantang.
Budhe makan seperti biasa, menonton tipi, berpura-pura mengacuhkanku yang memperhatikan dirinya. Tapi kelihatan bahwa ia senang dikagumi secara sexual seperti itu.
Mulanya aku hanya berani menyentuh paha luarnya dengan buku jariku. Terus menyusuri seluruh daerah pahanya.
Meningkat menjadi rabaan, sentuhan dan remasan. Budhe mulai ngos-ngosan nafasnya. Ia telah selesai makan. Bibirnya berminyak. Aku menciuminya. Rasa kentang goreng balado. Aku tak peduli. Budhe mendorong badanku.
“Sek (tunggu).. Budhe ambil minum dulu.. sekalian si Mbah biar tidur dikamar..”.
Aku langsung tiduran dengan frustasi dan tak sabar.
“Sabar ya tolle.. itu kasurnya rapihkan.. pake itu aja”, lanjutnya berbisik.
Aku langsung berbenah merapikan tempat ngewe kami nanti. Budhe membimbing Ibunya untuk beristirahat dikamar. Setelah itu ia mengunci pintu depan, menutup gorden dan kembali padaku dengan langkah cepat.
Ia tersenyum ketika melihat kasur lipat sudah dibentangkan rapi dengan bantal2nya. Ia duduk diatas kasur. Membuka dasternya dan langsung berbaring menelentang.
“Ayo Lek.. ”, wajahnya sendu. Sungguh pemandangan luarbiasa, tubuh montok setengah baya yang siap kunikmati dengan rela. Secepat kilat akupun membuka seluruh pakaianku. Aku langsung menindih dadanya dengan dadaku dan menciuminya. “Mmmm.. ”, gumam Budhe menikmati ciumanku. Tanganku meremasi susunya yang menggunung.
Karena nafsuku sudah tinggi, kugeser tubuhku untuk menindihnya. Aku raba dulu serambi lempitnya, dan ternyata sudah basah. Sip! Tinggal joss..!.
“Sudah siap ta Lek..?”, Budheku bertanya di telingaku. “Rak usah buru-buru. Aku rak kemana-mana hari ini Lek, siap tempur sama kamu sampai malam..”. Katanya. Tapi aku sudah tak sabar. rudalku kuarahkan pada haknya yaitu serambi lempit Budhe.
“Crep”, rudalku menemukan kenikmatannya yang sejak tadi didambakan. Masuk. Aku dorong terus sampe ke akarnya. Kutarik lagi dengan cepat. Kudorong lagi, kutarik lagi.
“Aauuh.. ”, Budhe mendesah nikmat. Akupun segera memacu tunggangan semokku ini. Pantatnya bergoyang. Menyambut tiap lolosan rudalku kedalam serambi lempitnya. Matanya merem melek menikmati tiap celupan. Nafasku menjadi sesak oleh nafsu. Aku membaringkan tubuhku diatas tubuh Budhe. Hanya pantatku dan pantat Budhe yang bergerak, untuk mengadu kelamin kami dengan nikmat.
Aku menekan, Budhe memutar dari bawah, ketika kutarik, Budhepun sudah menarik dalam bentuk lingkaran. Sungguh nikmat. Terus ku ulang dengan ritme yang sama, bila aku keluar dari ketukan pantatku, Budhe langsung menyesuaikan, lengkap dengan desah kerasnya. Salahnya aku, ketika sedang enak-enaknya gitu, aku mencoba merasa-rasakan, apa beda serambi lempit Budheku dengan serambi lempit Esih.
“Sssssssssh aaaaah…”, suara itu terus berulang-ulang didesiskan Budhe. Dia benar-benar menikmati tiap gesekannya. Seolah tak ada lagi didunia ini yang sanggup mengimbangi kenikmatannya. Ngocoks.com
Kami dari tadi mengewe sudah dalam gaya seperti ini saja. Missionary, gaya dari jaman dulu kala. Enak banget. Mantep memang perngewean ini. Budhe tidak lupa mengelus-elus punggung dan pantatku. Sedang aku menciumi telinga dan bibirnya
Karena aku merasa-rasakan dan membanding-bandingkan itulah, kini baru 10 menit berlalu, kurasakan dinding serambi lempit Budhe menjadi jauh lebih enak dari sebelumnya. Kulit rudalku menjadi lebih sensitive. Ujung rudalku berdenyut seperti mengingatkan akan waktu. Aku jadi teringat teko yang berbunyi ketika air sudah mendidih.
Aku mencabut dulu rudalku. Plap..! bunyinya. “Oooh..!”, Budheku terkejut. “Nyapo (kenapa) Lek?”. selangkangannya mengayun-ayun mencari kenikmatan yang tadi dia rasakan.
“Mau keluar Budhe.. aduuuh ampun..”.
Budhe mencubit pinggangku. “Ealah, wong lagi enak-enaknya juga..? malah mau keluar”.
“Iya bentar Budhe, maaf, Egi tenangin dulu dia sebentar..”, sahutku ngos-ngosan.
Aku bangkit dari tindihanku, untuk melihat kondisi si Otongku. Aku berusaha mengembalikan kekebalannya dengan mengocoknya. Memantul-mantulkannya pada serambi lempit Budhe kayak di film bokep. Budhe mendesah tak sabar, ”Aaauuh..”.
“Udahlah Lek, masukin aja lagi, ayo! Wong mau keluar, keluarin aja gak papa.. nanti main lagi.. gampang..”, Budheku membujuk. “Ayo..!”.
“Iyah Budhe, bener juga..”. Walau agak ragu, kulaksanakan juga. Ku teroboskan lagi dalam tempiknya.
“Sssssssshhh aauuhhh, kenthu…”, bisiknya. “Tunggu ya Lek, tenang.. sebentar..”.
Kemudian ia menggerakan dan menggoyang bawah tubuhnya itu dengan cepat. Berputar seperti baling-baling. “SSsssss ahhhhh… Ssssss ahhhh.. ssssss aaah..”, desisnya kencang pula. Aku menemukan kenikmatan yang dalam. Tititku seperti diremas-remas daging empuk yang mencengkram.
“Waaaaaaah.. jurus apa ini Budheeee…?”.
“Sssssssh.. helikopter.. Ssssssshhh aaaaahhh”.
“Malah makin pengen keluar sayah Budhe..”, aku merengek ditengah kenikmatan.
“Iya ora opo-opo, keluarin yang enak sayang.. keluarin didalem yang kenceng nyemprotnya, ya sayang.. Aaaahhh ssshhh”, sahutnya ditengah derasnya putaran serambi lempitnya.
Kata-kata sayang itulah yang membuatku memuncak akhirnya. Tititku terasa menyemut di ujungnya, aku melemaskan ototnya berharap masih bisa bertahan.. tapi, otot-otot itu terpaksa mengencang pada akhirnya.
“Aaugh..”, Cret.. cret.. cret.. banyak banget muncrat kusemprotkan kencang didalam tempik Budhe. Aku mengejan sekuat tenaga. Mataku sampai membeliak dibuatnya.
Budhe menekan serambi lempitnya sekeras mungkin ke badanku, seperti bertekad menampung semua crotan spermaku. “Aaaaaaaaa… h”, Ia pun ikut berteriak ketika menghimpitkan pantatku ke selangkangannya dengan tangannya. Dengan cara itu Iapun orgasme. “Aaaaaaah.. uuuuuuh”.
“Oouuuh..”, Budhe mengeluh nikmat mengelus-elus punggungku. Aku masih tergeletak pasrah diatas tubuhnya. “Enak Le?”, bisiknya di kupingku. Aku diam tak menjawab, masih ngos-ngosan lemas. Rasanya isi tubuhku sudah tersedot semua masuk kedalam serambi lempit Budhe. Sekarang tubuhku ini kosong tak ada isinya.
“Tempik Budhe masih enak Gi?”, Budhe berbisik lagi mesra dikupingku, “Nanti main lagi ya Lek..!, kamu minum jamu dulu..”. Aku diam. “Lek…?”, serunya sekarang. Ia mendorong ke pinggir tubuhku yang lemas.
“Halah.. anakmuda baru segitu aja udah lemes..“. Budhe berdiri lagi memakai dasternya. “Minum jamu ya Lek..?”.
Aku diam terpejam. Ia pergi ke dapur menyalakan kompor. Kemudian ke kamar mandi. Terdengar suara siram-menyiram.
Setelah itu terdengar suara plastik tipis kemasan dibawa ke dapur. Aku memejamkan mataku sebentar. Rasanya haus bener aku, tapi malas mau berdiri untuk minum. Kubiarkan rasa lemas ini membawaku entah kemana.
Nyambung ke babak kedua nanti. Capek juga seharian ngetik kenikmatan.
Bersambung… Sayup-sayup terdengar ringtone lagu campursari, ‘Kok kebangeten.. men.. sambet blas rak onok perhatiaaaaaann..’. Lalu, terdengar suara tergopoh-gopoh Budhe meraih hapenya.
“Halo… ooooh.. iya dek.. wahahaha.. Budhe tertawa basa-basi, “Nggak kok masih bersih-bersih di dapur… iyow.. deres tadi. Mosok? Lah ya ini keudanan.. iyo mampir neng Gg Sempit tadi sebentar.. wahahaha.. lah wes teles basah kuyop kabeh lho Dek.. iyo keudanan.. Diam sebentar, terus. “Ada.. ada tadi sudah mandi teros makan teros nonton tipii..
“Sek.. tak liat dulu..”.
Aku membuka mataku sedikit. Wajahnya muncul dari balik tembok.
“Wahh turuk Dek.. tidur. Mau tak bangunkan? Ya? Iyo sebentar..”.
Budhe menepak-nepak pahaku. “Hah..?!”, kataku kencang.
“Ibumu..!”. budhe memberikan handphonenya padaku. Lalu memberikan tanda telunjuk di bibir. Aku menatapnya tak mengerti.
“Halo Mah..?”. Suaraku masih kentara orang bangun tidur.
“Keur naon (Lagi ngapain)? Sare lain.. (tidur bukan)?”
“Iyaa ketiduran..”
“Handphone maneh pareum geningan..? (hapemu kok mati?)”.
Budhe masih sibuk memberikan tanda sssst di bibirnya, aku merapatkan alis tak mengerti. Budhe membelalak panik, terus menunjuk tititku, serambi lempitnya dan kembali telunjuknya ke bibir.
“Iya sengaja dimatiin dulu.. tadi kebasahan kan..”. Aku mengangkat tanganku faham, dan mengangguk-angguk ke arah Budhe.
“Buruan balik..”, perintah Mamahku.
“Enya.. hujan keneh (masih). Sakedap Mah.. (sebentar Mah)”.
“Enya atuh.. sok..”. Tot.. Hape dimatikan.
Budhe menatapku kuatir. “Jangan bilang-bilang lho Lek, kalo kita gituan.. Jangan bilang siapa-siapa..!”
“Ya iya atuh Budhe, masa saya bilang ke si Mamah abis menyetubuhi sama Budhe… bisa heboh tujuh turunan nanti..”. Budhe tertawa. Aku bangkit menuju kamar mandi.
“Diminum dulu jamune Lek..”. Aku iyakan saja. Keluar dari kamar mandi, Budhe sudah mencegat dengan gelas ditangannya. “Yoh..”, katanya. Gelas itu berisi cairan berwarna hitam yang masih hangat. Aku kuatir dengan baunya. Budhe mengangkatnya ke bibirku, aku menahan dengan tanganku.
“Ayooo..! biar greng lagi, sehat..!”.
Aku meminum sedikit, Wuek..! rasanya parah.
“Apa ini? Air aspal bukan Budhe?”.
“Hoahaha, diminum ae, langsung jangan sedikit-sedikit… ayo habiskan langsung, cepet”, katanya memaksa. Aku menenggaknya dengan buru-buru. Wueeeeks.. pahitnya luarbiasa. Lebih pahit dari mengenang Esih.
“Aku pulang ah Budhe..?”. tanyaku, kenanganku terkuak lagi, aku ingin sendirian melamun soal Esih. Budhe membesar matanya kecewa.
“Aaaah masak pulang ta?, lah abis minum jamu, lantas ngaceng sendiri gimana?”.
Aku tak menjawab. Selain ragu akan keampuhan jamunya, suasana hatiku juga sedang sendu. Aku duduk di kursi tamu sambil melamun dalam.
“Tunggu dulu lah 15 menit Lek… Budhe masih cuci piring, itu masih hujan kok”, Budhe menambah kalimat, tangannya menunjuk keluar. Aku mengangguk, lalu melanjutkan mengenang Esih.
Wajahnya yang selalu tersenyum. Betapa baik hatinya dia, suaranya yang empuk dan membuat suasana ceria. Betapa gembiranya dia ketika ku mengajaknya ke Kampus.. Ku ingat senyumnya yang kelihatan tertarik padaku di mobil mang Cahya. Juga wajahnya yang terkejut ketika ku memergokinya sedang diewe Pamanku.
Tapi bayangan tubuh Esih ketika membuka CDnya, mengajakku bercinta terungkap lagi. rudalku menegang cepat. Berdiri tegap dan langsung keras. ‘Yah enak sih ngewe lagi sama dia lagi’. Tapi setelah kupikir lagi, mana bisa aku bersaing dengan Kokohnya itu?, duitnya pasti banyak. Gak mungkin cuma ngasih 200rb untuk 3 kali crot, sepertiku kemarin.
Aku memperhatikan tititku ini. Biasanya kalo sudah tegang terus ga dielus-elus atau dikocokin, dia bakal cepet tidur lagi. Hilang keperkasaannya secepat bayangan porno dibenakku hilang. Tapi ini tidak. Dia masih ngacung menuntutku memenuhi kebutuhannya. Jangan-jangan gara-gara si jamu itu deh?.
Aku berdiri membalik mencari Budheku untuk melaporkannya. Budheku sedang sibuk mengelap meja makan. Kadang menunduk rendah untuk mengelap sisi meja makan yang jauh. Jelas pantatnya sedikit tersingkap. Warnanya agak gelap dan membusung merangsang. Duh ingin kujilati rasanya.
“Budhe..!”, panggilku dari pintu dapur. Aku membuka celana kolorku untuk memperlihatkan rudalku. Budhe berseru senang.
“Waah langsung ngaceng yo Lek? Cepet lho Lek..”. Budhe nyengir lebar sekali.
Aku menghampirinya, dan langsung menggerayanginya tak tahan.
Budhe tertawa senang. “Langsung Greng, anak muda memang beda.. wahahaha, sek, aku cuci tangan dulu”.
Walau Budhe masih mencuci tangan membelakangiku, aku berusaha menyempilkan rudalku ke belahan di selangkangannya.
“Aduh-aduh.. ayo dikamar ae, ben (biar) puas..”. Budhe membasahi bibirnya mengharap. Ia duluan berjalan kekamar sambil menarik bajuku. Aku memeluknya dan menempelkan tititku dipantatnya, dengan posisi begitu kami berjalan.
Sampai dikamarnya, Bude mematikan lampu, menutup gorden dan menggerayangiku sambil berdiri. Aku mencium bibirnya, Budhe membalas dengan nafsu. Tangan kirinya mengorek-ngorek serambi lempitnya sendiri. Aku melepas seluruh bajuku dan daster Budhe. Ia mulai mendesah kenikmatan. Wajahnya menampilkan kerinduan pada Sex.
Aku menuntun tangannya untuk bermain di rudalku. Ia mengelus-elusnya dan mengocoknya, aku meremas keras dada dan sesekali menjepit putingnya dengan jariku.
“Huuungnh..”, Budhe mengeluarkan suara seperti itu tiap ku memutar tanganku di payudaranya. Budhe menarik rudalku ke arah kasur.
“Ayo..! Sssshhh..”. Ia tak sabar.
Aku menahan. “Nanti dulu, dikolomoh (BJ) dulu Budhe..”
“Hah..?”. Aku menunjuk rudalku lalu mulutnya.
“Oooooh..”, katanya baru mengerti. Agak malas kelihatannya dia.
Budhe turun berjongkok. Dan mulai mengulum. Maju mundur, sampai ludahnya ada yang tercecer di lantai. Aku memajukan pantatku kedepan agar rudalku bisa masuk semua kedalam mulutnya. Tapi Budhe malah terdorong dan jatuh terduduk.
“Aduh.. malah susah kalau begini Lek.. ayo dikasur..!”, serunya setengah sebal.
Aku menurut dan naik ke kasur, dan berdiri pada lututku. “Hah..? ”, Budhe menatapku heran. Ia dengan ragu merangkak untuk mengulum rudalku. Baru beberapa kuluman, Ia sudah menghentikan pekerjaannya dan mengomel, “Ah.. susah ini Lek..! baring aja disitu yang enak kamu.. Aku berbaring mengikuti arahannya.
“Hah? Mau dimasukin? Budhe ga mau serambi lempitnya dijilatin dulu sama Egi?”, aku bertanya heran.
“Alah..! ora usah.. ”, cetusnya masih agak sebal kayaknya. Tapi begitu rudalku dimasukin ke serambi lempitnya terus sampai ke akarnya. Budhe mengerang keenakan dan lupa kalo lagi bĂŞte. “Ouuuuh.. Ia mulai maju mundur diatas tubuhku, selangkangannya menekan, dan menyapu tubuhku, setelah itu ia memacu, langsung dalam tempo cepat, tangannya meremas payudaranya sendiri.
Aku mengelus-elus pahanya, sampai bagian dalam dekat serambi lempitnyapun kuremasi dan raba.
“Sssssssssuuuuhhh aaaaaah… sssssssshhh aaaahhh”.
Aku menepuk kencang pantatnya sekali, ‘Plak !’. “Auwh..!”, Budhe melotot, kaget dan enak mungkin sekaligus ia rasakan. “Aaaaah…”, matanya memejam.
Tak berapa lama kemudian, Budhe mulai kelihatan agak lelah. Kemudian dia memelukku, kali ini selangkangannya memompa, memutar pantat, maju mundur, semua ia lakukan. Lalu tahu-tahu berhenti, ngos-ngosan. Ia rupanya istirahat dulu.
Dibawah aku tersenyum, aku tahu pertempuran ini akan aku menangkan, ‘Hahahahaha., hahahahaaha’, tawaku dalam hati.
5 menit kemudian, Budhe bangkit duduk kembali, goyang lagi, tapi tangannya lalu bersandar di dadaku, ia mau mengeluarkan lagi jurus helikopternya. Kelihatan dari tekad di wajahnya. Benar saja, ia memutarkan selangkangannnya cepat diatas tubuhku.
“Aaaaahh… ssssssh… aaaaahh sssshh. Aduh… aaaaaah..”.
Mataku melotot merasakan arus putaran serambi lempit Budhe pada rudalku. Aku pun mengerang nikmat, “Aaaaah haaaaah…”.
Budhe semakin cepat, tapi kini hanya maju mundur saja, dan akhirnya nafasnya semakin cepat pula. Selangkangannya mengejut keras dua kali. “Aaaaah…”.
Budhe mengeluh dan memelukku sambil menindihku. Ia sudah puas satu kali.
“Wualah.. Lek, anu mu malih penak (jadi enak), kerrraasss..”. Ia tak mau melepaskan pelukannya. Ada gerakan-gerakan kecil di dalam serambi lempitnya. “Enak Leeekk… sssaaah…”.
“Gantian Budek..”, aku mendorong tubuhnya. Budhe terkekeh senang. Ia lalu berbaring dengan kaki menelentang. Aku mencari-cari lap atau apa gitu untuk membersihkan sedikit cairan yang membasahi serambi lempit Budhe.
“Lap Budhe?”, aku mengambil daster Budhe.
“Heh.. jangan pake dasterku, itu ada tisu Masss ganteeng, Ndek meja..”. Aku menurut, dan membersihkan serambi lempit Budhe. “Hihi.. Geli Lek”.
Aku kemudian menjilati paha dan sekitar kemaluannya. Setelah ada suara Budhe “Sssshh.. duh Lek..”, aku berpindah ke Itilnya. Bibir bagian bawah Budhe habis kukenyoti dan jilati. Awalnya ada bau kurang sedap berseliwer dari situ, tapi sekarang sudah bau ludahku yang mendominasi.
“Aaaaaaah.. ssshhh, wuaaadduh Leeek.. aaaaahnnn”, Budhe mendesah-desah sedap. Kini aku focus mengenyot itilnya, lidahku pun bermain. Jari tengahku masuk menancap di lubang milik Budhe. Mengorek isinya. Kata temenku, titik sensitive serambi lempit ada di dinding atasnya. Maka jari tengahku pun mengorek-orek daerah itu.
Tanganku mulai agak pegal, telunjukku ikut masuk biar agak cepat Budhe menikmati servisku. “Aaaaahhhh huuuuuuuh… enak Lek huaaaaaahh… hhnnnnn..”.
Pantat Budhe ikut bergoyang menikmatinya, kupercepat kocokan jariku. Begitu aku lepas kenyotanku, pantat Budhe melancarkan gerakan helicopter beberapa kali dan mengejan lagi. Tangan Budhe memegang tanganku yang jarinya masih menancap di serambi lempitnya.
“Uaaaaah.. sshhh.. aaaaaah..”. Ia mencapai kepuasannya lagi. Budhe melempar tanganku lalu tidur menyamping. Wajahnya menatapku, segar sekali dia seperti orang yang baru mendapat pencerahan tentang misteri dunia.
Aku tersenyum. Setelah beberapa saat Budhe nyengir. “Hihi.. kamu belum ya Lek..?, ayo mau diapain sama Budhe..?”. Ia menelentang lagi. Aku mengintip dulu apa rudalku sudah tidur lagi apa belum?, ternyata masih mengacung tinggi.
“Biarin, Egi aja yang geraknya.. Budhe masih pengen kan..?”.
“Hahaha.. iyo aku sih terserah yang muda aja.. hihihi..”.
Aku mendekatkan rudalku ke serambi lempitnya. Paha Budhe aku angkat hingga memebentuk huruf W. Agak susah sih dia sedikit melawan.
“Gimana ini posisinya Lek..?”, tanyanya bingung.
“Tenang Budhe cantik, yang penting enak..”. Setelah pas posisinya, aku tancapkan rudalku. Hati-hati sekali agar gesekannya lebih terasa. Ada cenut cenut lagi dari dalam serambi lempitnya. Perlahan tapi pasti aku menggoyangnya. “Aaah ah ah..”. Budhe turut menikmati lagi.
Aku menancapkan dalam-dalam rudalku. “Uooooh aaah… mantep Lek, ayo terus begitu.. Aku goyang dari situ. Budhe merem melek menikmatinya, “Woh oh oh oh oh.. Aku mempercepat kocokanku. Lalu sekeras mungkin kuhantamkan rudalku ke serambi lempitnya, “Waaaaah aaaaah.. aaaah.. ”, Budhe menjerit sekarang. Aku berusaha secepat mungkin mengocoknya, sekuat pinggangku bisa.
“Aaaaah sssshhh…”, kami berdua mengerang-erang keenakan. rudalku menyemut diujungnya. Tapi Budhe lebih dulu menjepitkan pahanya pada tubuhku. Ia mengejan lagi. “Ooooooh ah ah ah.. ”, desah ah nya seiring selangkangannya mengejan tiga kali. Aku masih memompa keras, dan “Aaarg.. ”, rudalku menyemprot lubang milik Budhe.
“Aaaaaw.. enak kamu Leeeek… sssssssh…”, kata Budhe menyambut semprotanku dengan bergoyang. Aku membeliak mencoba mengejan terakhir kalinya. “Heeeeeng… aaahduuh”.
Aku berencana tiduran lagi diatas tubuh Budhe. Tapi.
“Dok dok dok !”, pintu diketuk. “Enduuuuk, Yeeeen..? Neng di cah’e..?”, si Mbah udah bangun. Budhe langsung mendorongku kesamping, dipaksanya aku masuk dibawah selimut yang dibentangkan diatas kami berdua. Aku disuruh diam. Pas waktunya ketika pintu dibuka dari luar. Lampu dinyalakan si Mbah.
“Nyapo ta Maaak..? Si Mbah hanya memperhatikan sekeliling. Seperti tak menemukan sesuatu ia kembali keluar. Tak berbicara apa-apa. Budhe segera turun menyusul, tak lupa dipakai dulu dasternya. Mereka terdengar berbicara diluar. Bunyi kompor gas di dapur. Lalu langkah-langkah menuju kamar si Mbah. Tak lama Budhe sudah kembali ke kamar, ia mematikan lagi lampunya.
“Si Mbah minta dibikinkan susu..”, tutur Budhe. Ia berbaring menelungkup disampingku. Membuka-buka hape miliknya. “Tadi nanyain saya ga Budhe? Si Mbah?”.
“Iya dia nyari kesini, tadi denger suara kamu teriak-teriak disini katanya, hihihi”.
“Masa saya tadi teriak-teriak?”, aku merasa takut terdengar semuanya oleh si Mbah.
“Hoahahaha.. masa kamu ga merasa toh Lek..? hahaha..”.
“Hah? Ah masa? Perasaan kencengan suara Budhe deh..?”
“Hahaha.. iya si Mbah bilang gitu, aku sama kamu bunyi ooh ooh kedenger dia..”.
“Hah? Ketahuan dong kita?”, aku ketakutan.
“Heheh ngga Lek… aku bilang kamu tidur dikamar Agus diatas..”.
“Lah si Mbah percaya?”.
Budhe mengangguk-angguk sambil membuka hapenya.
“Si Mbah memang umurnya berapa sih Budhe?”, tanyaku lagi.
“Mungkin sudah 78 yo Lek? Aku kurang tau persis.. Aku bangkit duduk, kusingkirkan selimut. Daster Budhe ikut terbawa tersingkap, sekali lagi pantatnya terlihat olehku. Masih saja pantat itu mengundang untuk menzinahinya. Bulat. Empuk ketika kuraba-raba kemudian. Ku elus-elus, kuremas, ku korek-korek serambi lempitnya.
Budhe mendiamkan saja apa yang kulakukan, aku meremas dengan kedua tanganku sekarang. rudalku dari tadi sudah berdiri lagi.
“Kalo Budhe umurnya berapa sekarang.?”
“Hiiis.. ngapain kamu tanya-tanya..?”, dia malah balik bertanya.
“Abis badannya masih bikin nafsu, serambi lempitnya masih enak”. Aku menepuk pantatnya. Dia menggoyangnya. “39”, jawabnya.
“Masa sih..?”, aku tak percaya. Aku mengangkat selangkanganku pada pantatnya.
“Hahahah, 42..”, katanya lagi. “Kalo tempikku enak yo dinikmatin, ga usah tanya umur lagi..”. Aku mengarahkan rudalku pada serambi lempit yang sudah basah lagi itu.
“Kamu mau ngapain ta Lek?”, tanyanya senang.
“42 umurnya?”, aku bertanya sambil lalu. rudalku menerobos lubang serambi lempitnya.
“Ah..!”. Budhe mendesah. “Ssssshh..”.
“Aaah..”, kataku juga. serambi lempitnya lebih menjepit dalam posisi begini. Enak. Aku memompanya untuk lebih mendapatkan kepuasan lagi.
“46 yang bener Leek.. aduuuuh.. ssssh enak..”.
“Heuh..? 46 yang bener?”. Nafasku sudah memburu. ‘Plop !’, rudalku tak sengaja tercabut.
“47 dua bulan lagi.. walah kenapa dicepot?”.
“Gak sengaja, terlalu pendek sih titit saya”. Aku memompa lagi dengan lebih hati-hati, geli dan enaknya terasa sampai urat di pelipis. Tapi, copot lagi copot lagi. Apalagi kalau sudah keenakan terus terlalu semangat menyetubuhinya. Aku berkesimpulan, posisi gini emang enak lebih menjepit, tapi kalo tititnya pas-pasan seperti punyaku jadi sering copot.
“Aduuuh aaah, jangan sering copot tooh..?”, Budhe mengeluh.
“Iya Budhe nungging aja deh..”. Budhe menurut dan bangkit. Aku mempas-paskan posisinya. Agak sulit untuk amatir seperti aku karena lawan mainnya juga lebih suka yang gaya konvensional. Padahal kalau di film bokep kayaknya gampang banget.
“Udah belum?”.
“Agak kebawah Budhe ngangkang sedikit.. naaaah”.
Aku mencari-cari lubangnya dengan tititku langsung, pas ketemu cepat kudorong. ‘Nyot’ rasanya seperti disedot, ‘nikmaaaaaaat’, kataku dalam hati. Ngocoks.com
“Sssssssh… duh enak yo Lek?”.
“Iya.. sampe malem aja kita begini terus.. hehe”.
“Hohihih, ayok Lek… nghhhnn.. jamune pas yo?”
“Iya saya jadi kuat begini ini.. euuuuh..!”.
“Gimana orangnya Lek, aaaah, ada juga yang ga kena.. auuh”.
Aku terdiam dan dalam hati tertawa. ‘Jangan-jangan pacarnya yang gitu, hahahaha..’.
“Budhe, kalo mau gedein rudal ada gak jamunya..?”. pompaanku terus menyodok.
“Sssssssh aaaah.. iyo enek (ada), tinggal pesen.. aduh Leek, enak’e nemen rudalmu..”.
“Kalo ditambah gedenya gimana Budhe?”
“Yooooooh… huuuuuh, makin enak… aaaaah, aku mau keluar”.
“Hah? Masak..?”, aku kini berkonsentrasi pada doronganku. Aku mau keluar juga ah. Kupercepat tempoku. Gilee… enaknya, cenat cenut cenat cenut akhirnya rudalku memberitahu otakku agar bersiap. Budhe mendesah lebih keras.
“Aaaaaaah..”. Ia mengejan terus setengah atas badannya ambruk lemas. Aku tinggal menunggu waktu. Tibalah saatnya, rudalku meraung dalam serambi lempit Budhe. “Ooh.. euuh..”.
Prot.. prot… Zesss aaaaah. Kenikmatan terasa diseluruh tubuhku. Aku belum mencopot tititku, kutunggu gerakan kecil dalam serambi lempit Budhe. ‘Aaah itu dia..’. Barulah kucabut senjataku. Budhe menggelosoh di atas kasur. Senyumnya lebar sekali.
“Aduuuuh nasib-nasib, kok iso aku dikenthu pona’an dewe..(dientot keponakan sendiri) hahuhuhu..”. Ia kemudian mengartikannya ketika melihat aku tak menegerti.
Aku tertawa, “Abis dipamerin terus sih bodinya.. enak lagi serambi lempitnya”.
“Hahaha, kehebatan jamuku Leeeek.. hihi..”.
Aku termenung dibuatnya. Jadi semua ini berkat minum jamu ya?. Hmmmmm… aku berpikir. Aku segera bangkit, pengen kencing dari tadi. Kutembus jalan ke kamar mandi secepat kilat. Aku masih berpikir, tapi yang lebih mendesak sebenarnya pertanyaanku ketika menyetubuhi tadi.
“Lek..?”, Budhe berbisik dari dapur ketika aku keluar dari kamar mandi. “Ini bawa.. sisa jamu tadi..”. Aku memeriksa isi kantong plastik tersebut.
“Kalo yang buat ngegedein titit? Kapan Budhe bisa datang..?”
Budhe berpikir, “5 hari paling lambat setelah dipesen.. dek online..”. Tapi.
“Ouh.. iyoh !”, ia membalik cepat menuju kamarnya. Aku mengikutinya. Ia membuka-buka laci lemarinya. “Naaaah, aku punya Lek. Ini temenku pesen, tapi wes ben ae (biar aja), udah gak pernah kesini orangnya.. huh..”, katanya sebal.
Aku melihat-lihat isi bungkusan itu. “Itu ada cara pakainya..”.
“Ini aman Budhe..?”.
“Amaaan.. Uwakmu dulu ya pake itu, dulu malah asli dia bawa, waktu habis pulang dari Papua..”.
“Oooooh ini udah kemasan..?”.
“Iya dijual orang sekarang..”. Aku mengangguk, memasukannya ke dalam kantong plastik. Ingin segera aku coba, hehe.
“Aku pulang ya Budhe..?”.
“Hiyoo.. wes sore.. salam ya karo Bapak Ibumu..”. Ia memegang tanganku.
“Jangan bilang siapa-siapa lho ya? Ke temen-temenmu juga jangan..”. Sorot matanya agak mengancam.
“Iyaaaaaa..”. Kataku sambil melepaskan tangannya. Aku memakai pakaian mas Agus lagi.
“Besok kesini lagi ga..?”, tanyanya berharap.
Aku mengangguk kencang.
“Iya kembaliin motor, kan?”.
Budhe balas mengangguk senang. Setelah itu aku pergi pulang. Walau hujan masih meneteskan air rintik-rintiknya.
Bersambung… Keesokan harinya aku mengukur kembali Otongku. Tadi malam sudah kupakai obatnya. Panas banget efeknya, untung cepat-cepat aku angkat. Sebelum memakai obat, aku sudah pula mengukurnya, dan mencatatnya. Tapi sepertinya kok tidak ada perubahan?. Apa mesti sewaktu berdiri diukur perbedaannya?. Biar sajalah, aku mesti buru-buru berangkat, ke konter hape, dari kemarin mati belum berani kunyalakan karena takut rusak.
Di konter ternyata hapeku tidak perlu ada perbaikan, begitu dikeringkan dengan hair dryer dan dinyalakan, berdatanganlah pesan-pesan yang menumpuk dari kemarin, banyaknya dari teman-teman main game, yang menanyakan aku tak pernah lagi online bermain bersama mereka. Dari Mamahku kemarin, miscall dan pesan yang menyuruh pulang.
Dari Budhe tadi pagi, yang menanyakan jam berapa datang. Dan yang membuat jantungku berhenti sejenak adalah pesan-pesan dari si Teteh Esih.. pujaan hatiku, yang telah menghancurkan hatiku. Aku buka ternyata berisi ketikan huruf P atau hanya menulis ‘A’? saja, atau ‘Aa kemana aza..? ’, dan ‘A’, katanya mau main kerumah?
Ada sekitar 14 pesan dari dia, juga 4 miscall. Aku jadi bingung, aku telah berjanji untuk melupakan dia, tapi hati ini tetap saja ingin bertemu. Aku tak bisa main hati lagi ke dia. Aku beranjak pergi setelah membayar di konter. Aku kerumah Budhe saja ah, Budhe Yeyen adalah resep pelipur lara hatiku yang sedang galau, resah, gundah gulana.
Sesampai didepan rumah Budhe, aku terheran karena ada mobil dinas RSUD tempat Bapakku bekerja. Mobil itu menghalangi garasi. Aku jadi tidak bisa memasukkan motorku. Kuparkirkan saja motor Mas Agus itu dekat taman, agak jauh memang tapi daripada parkir didepan rumah orang.
Aku memperhatikan mobil itu ketika kumelewatinya masuk ke rumah Budhe. Aku berpikir-pikir siapa yang sedang berkunjung kesini. Jangan-jangan Bapakku?. Aku membuka pintu depan rumahnya tanpa mengetuk, memang sudah terbiasa seperti ini. Setelah didalam baru ku menyapa “Assalamualaikum..”.
“Wa alaikum sallam.. sopo ta? Tamu..? monggo pinara.. ora ketok, sopo? (siapa? Tamu? Silakan masuk.. ga kelihatan, siapa?)”.
Ternyata si Mbah yang menjawab, ia duduk di kursi kesayangannya dekat kamar mandi.
“Ya Mbah?”, balasku bertanya karena tak mengerti. Setelah mencium tangannya, aku baru memperhatikan sekeliling, tak ada orang lain disitu, di ruang tamu, ruang tipi dan di mana-mana. Sepi. Tapi ada bekas-bekas gelas dan orang habis bertamu kelihatannya.
“Nduuuk..!, iki lho enek tamu..!, adi’e Agus yo?.. sopo jenenge? (Naak, ini ada tamu, adiknya Agus ya? Siapa namanya?)”.
Baru lah terdengar suara grabak grubuk dari kamar Budhe. Seperti ada orang yang terburu-buru didalamnya, entah sedang apa. Aku tercenung dan mendekat ke arah pintu kamar, terdengar suara orang berbicara panik dengan berbisik-bisik. Aku kaget, wah jangan-jangan..?. Aku terkejut dengan pikiranku sendiri, jangan-jangan Bapakku yang sedang didalam kamar.
Tapi terlambat, pintu kamar terbuka. Aku melonjak kaget menghindar berpura-pura sedang tidak mendengarkan. Didalam kamar gelap, gordengnya ditutup dan lampunya dimatikan. Persis seperti kemarin ketika aku begituan dengan Budheku didalam situ. Tak terlihat orang, kelihatannya ngumpet.
“Lek..? ”, Budhe menyapaku sambil senyum cengengesan. Ia seperti agak malu. Aku lupa untuk balas tersenyum, mencium tangannyapun tidak. Aku akan lebih malu lagi kalau yang keluar dari kamar selanjutnya adalah Bapakku, itu yang kukuatirkan. Aku menunggu orang itu keluar. Tapi ternyata tidak setelah beberapa lama.
“Nunggu apa ta?, ayo duduk dulu di teras sana, mau minum apa..?”. Budhe masih cengengesan, ia mendorongku untuk pergi keluar ke teras sana. Aku menggeleng cepat, masih kutunggu orang berikutnya yang keluar dari kamar.
“Siapa..?”, tanyaku.
“Mana? Ga ada siapa-siapa..! ayo.. tunggu dulu disana.. diteras ae..! ”, Budhe mendorongku sekali lagi dengan nada bicara yang agak ditekan. Aku menurut saja. Begitu sampai di ruang tamu, Budhe berbalik lagi ke dapur untuk membuatkanku minum. Aku menunggu sesaat, setelah itu kembali ke hadapan si Mbah lagi, dekat pintu kamar Budhe.
Aku duduk di kursi meja makan berusaha tak mengeluarkan suara. Mbah Ren menatapku tanpa berkata, aku mungkin kelihatan kabur dimatanya yang sudah tua itu. Dan dia sedang sibuk mengira-ngira aku ini siapa.
Didapur, Budhe menatapku dengan gelisah. Ia mau mengatakan sesuatu tapi tak jadi, Kemudian ia berpura-pura sibuk saja di dapur, pasrah.
Clek..! pintu kamar yang tertutup terbuka. Seorang laki-laki keluar. Tadinya ia celingukan kesana kemari, tapi begitu melihat wajahku yang sedang duduk di depan situ, ia terlonjak kaget. Kemudian setelah menenangkan dirinya, baru ia tersenyum padaku.
“Eeeeh, aya Reggi geningan.. (ternyata ada Reggi)”, tegurnya dengan senyum dikulum, mungkin saking terkejutnya ia jadi menyebut nama lengkapku. Aku juga tersenyum lebar. Bernafas lega. Ternyata bukan Bapakku.
“Eeeeh.. Pak Mistin… aduuuh kamana wae..? (Kemana aja) hehe”, senyumku makin lebar menuju seringai sebetulnya.
“Aah ada aja.. Egi yang kemana aja ga pernah keliatan.. hehehe..”, jawabnya rikuh malu-malu.
Aku terbahak mendengarnya, baru kemarin rasanya kita bertemu, di hotel Nasty, dan kini 2 hari kemudian kami berbasa-basi satu sama lainnya.
”Makin ganteng aja pak Mistin hahehehe..”, lanjutku.
“Aaah biasa… ganteng kumaha? (gimana) Ngaledek wae (melulu) si Egi mah..”, candanya sambil merapi-rapikan seragam RSUD yang dipakainya, putih hitam, ada nametag nya di dada kiri, A. Mistin.
Budhe kemudian keluar membawa segelas teh manis panas untukku, ia juga tersenyum garing. Wajahnya masih malu-malu. Aku perhatikan dia memakai seragam menyetubuhinya, daster pendek itu, hanya memakai celana training lagi didalamnya. Sudah jelas bagiku sekarang, siapa pacar Budhe ternyata. Tapi yang ini sama sekali tidak membuatku cemburu.
“Tumben.. Gi?, main kesini..? perasaan jarang ya Egi main kesini?”, tanya pak Mistin mencari bahan pembicaraan. Ia ikut duduk akhirnya. Budheku menatapnya, protes dengan pertanyaan itu.
“Iya Pak, jarang… kalo pa Mistin sih sering ya?, hahahehehe..”, jawabku menggodanya. Budhe tertawa sambil mengibaskan tangannya ke pak Mistin.
“Hoahahah.. ngga. Dia juga jarang.. hahaha”. Budhe yang menjawab pertanyaanku. Pak Mistin jadi tertunduk, menyesal dia salah dalam memilih kata. Jadi terkesan mereka sudah lama berpasangan memang soalnya.
“Ini ngembaliin motor.. Pak, kemarin kesini bawa mobil Budhe, pulangnya bawa motor mas Agus… sekarang dikembalikan”. kataku menawarkan suasana. “Eh, saya pulang duluan ah.. ga enak udah ganggu… eh, ini ditungguin sama Mamah sayah..”.
Aku menaruh kunci motor diatas meja.
“Eeh mau kemana?, ngaganggu naon maneh mah (ngeganggu apa kamu?).. hahaha. Pake apa pulangnya?”. Pak Mistin menengok keluar lewat pintu. Wajahnya sudah datar sekarang, tidak terkesan kuatir dan malu-malu lagi. Lega mungkin aku tidak menyinggung-nyinggung soal kamar Budhe.
“Bareng aja Gi.. saya juga mesti ke RS lagi ini.. kerja lagi”. Kata Pak Mistin sambil bangkit. Aku juga berdiri.
“Oalah.. ini minumnya dihabiskan dulu.. Lek..?”, Budhe memprotes. Akupun buru-buru menghabiskannya walau masih agak panas.
“Pak Misting ga minum Pak..?”, tanyaku.
“Udah tadi.. minum Ja…”, Budheku berhenti tak meneruskan.
“Jamu..?!”, seruku meneruskan. Semuanya tertawa.
Pak Mistin berjalan duluan, ia berpamitan pada Mbah Ren dan Budhe.
“Iyo.. hati-hati Mas..”. Budheku menjawab lembut.
Aku hendak beranjak mengikuti mas Mistin, tapi Budhe Yen telah mencengkram dulu kaus di bagian perutku. Tangan satunya mengibas didepan wajahku.
“Awas.. jangan bilang-bilang Bapakmu atau Ibumu lho ya? Awas.. nanti aku bilang kamu ngintip aku mandi teros genit pegang-pegang pantatku kalo kamu bilang-bilang.. Pokoknya jangan bilang siapa-siapa.. awas.. lho!”. Budhe berkata dalam nada yang mengancam. Serius. Aku kaget dan ketakutan jadinya.
“Iya Budhee… masa aku bilang-bilang..?”.
Budhe melepaskan cengkramannya. Senyumnya telah kembali lagi.
“Gimana obat anunya? Manjur?”.
Aku menggeleng cepat, “Belum Budhe.. kan masih belum 24 jam..?”.
“Oooh.. iya nanti Budhe liat ya?”. Kini nada suaranya berubah menjadi manja dan memikat lagi. Aku malah mundur terkejut dengan perubahan ini, dan mengangguk-angguk cepat mengiyakan. Tangan Budhe meraih kebawah ke selangkanganku tanpa sempat kucegah.
“Waw..!”, seruku kaget lagi, ketika ia menjepit Otongku dengan jarinya. Kemudian setengah berlari aku keluar, menuju pak Mistin yang sudah menunggu di mobil. Aku naik disebelahnya.
“Hayu.. ka imah lain..? (ke rumah bukan?)”, tanya pak Mistin ramah. Aku mengiyakan.
“Oh iya Lek..!”. Budhe berlari menuju jendela mobil pada sisiku. “Si Sri..! iya si Sri..! mau balik kesini lagi… kamu inget dia ga..? itu dulu dia luaama kerja di Klinik Ibumu..”. Aku mengingat-ingat.
“Si Sri.. anu rada hideung gening (yang agak item gitu).. jangkung..”. Pak Mistin membantu mengingatkan.
“Oh iya.. saya tau..!”. Aku ingat dia.. Sri.. jangkung, manis, semok dan berdada besar. Dia adalah salah satu bahan untuk coliku di masa SMP dulu.
“Iyooo sesok atau lusa palingan datang… dulu kan dia tidur dirumahmu?, sekarang gak tau.. wes yo terserah Ibukmu lah… yang penting kamu bantu omongi Ibukmu, biar dia bisa kerja lagi.. yo?”.
“Okeee Budhe.. siaap..”.
“Iyo.. hehehe, mas Mistin jangan kapok lho ya main sini.. hihih”, Budhe tersenyum menggoda dengan manis. Pak Mistin memerah wajahnya mengangguk-angguk. Aku tertawa melihatnya.
“Weleh.. motornya kok disimpen disana leek..? jauh halah.. malas aku.. beh.. cah gendeng ngerjain wong tuek..”. Tapi mobil sudah bergerak meninggalkan Budhe yang sedang ngomel-ngomel.
Di perjalanan, pak Mistin berceramah panjang lebar mengenai pentingnya menjaga kerahasiaan padaku, juga mengenai arti anak istrinya dirumah bagi dirinya. Bagaimana bahaya terancamnya retak rumah tangganya bila aku bocor dan tak pandai menjaga mulut. Aku benar-benar merasa lega ketika mobil sudah sampai didepan rumahku.
“Dadaaaah.. Mas Mistin.. terimakasiiih…”. Lambaiku. Pak Mistin tertawa nyengir.
Di kamar, aku termenung memandang hapeku. Bagaimana pesan-pesan dari teh Esih telah menggembirakanku sekaligus membuatku banyak berpikir. Kalau aku berhubungan lagi dengan teh Esih, apa nanti aku akan patah hati lagi?. Tapi di sisi lain, aku memang suka padanya, tidak hanya suka pada orangnya tapi suka juga berhubungan badan dengan dia.
Ooooh aku tau bedanya. Ya jelas aku tidak akan cemburu sama pak Mistin, karena Budhe kuanggap hanya sebagai alas kelaminku saja, bukan tambatan cinta. Bodo amat dia mau bercintaan dengan siapapun, toh yang penting dia masih bisa jadi pelampiasan nafsu bodoh tapi enak si Otongku ini. Kalau Esih? Aku terlalu berharap tinggi, justru sebenarnya aku lah yang rugi kalau kami sampai memadu cinta, bukan memadu kelamin.
Aku menepak tanganku. ‘Iya itu dia.. ’, Mau tak mau kini, suka atau tidak suka, aku tak boleh mengharapkan dia bertumpu pada aku saja. Aku hanya bisa berharap, aku adalah salah satu rudal yang disukainya. Dengan begitu, aku masih bisa memenyetubuhi dirinya, tanpa ikatan apapun. Dan mudah-mudahan masih bisa disuap dengan uang seperti kemarin.
Aku mulai mengetik membalas pesannya kemarin.
“Hi.. iya Teh, maaf kemarin hape Egi basah kehujanan, sekarang udah bener, Teteh dimana? Ketemuan yuk..?”. Aku pencet send, lalu menunggu. 4 menit kemudian, pesan itu berbalas.
“Oooh pantesan kmrn ga aktip. Hayu atuh, katanya mau main ke rumah?”
Aku memutuskan untuk menelponnya, telp diangkat, terdengar suara bising di belakang, ia berada di keramaian kelihatannya.
“Halo A? yeee… hahaha.. kemana ajaa..? hahaha, di tunggu-tunggu dari kemaren..”.
“Hehe iya ada Teh, hapenya ruksak, Teteh lagi dimana?”.
“Lagi diluar sekarang mah.. A’”
“Ketemuan di luar aja yuk Teh?”.
“Di rumah aja atuh A’, ini si Mamah pgn ketemu.. hahaha”. Walah.. jadi deg-degan aku.
“Mamah pengen ketemu? Waduuh.. ada apa emangnya?”.
“Ngak ada apa-apa, pengen kenal aja, da kenaleun cenah ka keluarga kamu, Bapa kamu sama Mamah, pada kenal cenah (katanya)..”.
“Ooooh..”, aku jadi ragu-ragu. “Iya atuh”, tapi kataku. “Jam berapa? Kan kamunya, teh Esih masih diluar..?”.
“Sore aja… tau gak rumah Esih? Di Cicendet A’..”. Wah.. Cicendet? Daerah cadas itu, serem, banyak premannya. Ia kemudian menyebutkan alamat lengkapnya serta ciri-ciri rumahnya, ‘pagar hijau..’, katanya. Aku semakin ragu-ragu.
“Teh..? ketemuannya diluar aja atuh?, kan dirumah kamu mah ga bisa pacaran mereun (mungkin)?”.
“Hahahaha.. bisa A’, tenang aja… hahaha..”.
“Ya udah atuh, nanti Egi kesana..”.
Telp ditutup, aku melamun, daerah situ daerah yang dicoret hitam menurut teman-temanku, banyak preman kota kami dilahirkan dari situ. Aku ragu-ragu akan keamananku. Maka kemudian aku mengirim pesan pada pamanku.
“Mang?, ini Egi mau main ka Cicendet, aman moal (ga ya) nya?”.
Pamanku langsung menelpon sebagai balasannya.
“Wahahahaha.. rek naon siah ka Cicendet? Ulin ka si Esih nya? Hahaha, gelo siah Egi? Ulin ka imah janda? Dicarekan ku si Mamah geura? Hahaha.. (Mau ngapain kamu ke Cicendet? Main ke si Esih ya? Gila kamu Egi? Main ke rumah janda? Dimarahin sama si Mamah nanti?).
“Lain.. aya babaturan Mang.. didinya.. (bukan, ada teman Mang, disitu)”.
“Ah siah.. ngaku weh lah.. (ah kamu, ngaku aja), aman Gi.. tong (jangan) kuatir, sebutkeun weh ngaran (nama) Mamang didinya.. (disana)”.
“Hahaha.. anu bener (yang bener)?”.
“Enya.. eeeuh teu percaya, saha anu macem-macem didinya, diacak-acak ku aing imahna.. (iya, eeh ga percaya, siapa yang macem-macem disitu, gua acak-acak nanti rumahnya), eta imahna si mang Gio didinya Gi… dijerona (Itu rumahnya si mang Gio disana Gi, didalemnya), aman disana mah jangan kuatir.. temen Mamang banyak disana..
“Oooh iya sebutin aja Mamang ya?”.
“Enya, geus tenang.. hehe etana atuh Gi? (iya udah tenang.. itunya dong Gi?)”.
“Apanya?”.
“Uang rokok lah buat tutup mulut nih, Mamang keur garing pisan ieu, keur ngaroko ge eweuh.. (Mamang lagi kering banget ini, buat ngerokok aja ga ada)”.
“Hahaha.. maenya (masa) ah bohong si Mamang mah..?”.
“Bener.. engke digantian (nanti digantiin) lah Gi… daripada Mamang kelepasan ngomong nih sama s Bapak sama si Mamah.. hahahaha”.
“Gelo..”, kataku dalam hati. “Iya iya iya Mang, bentar dikirim..”.
“Hahaha nah kitu atuh.. (gitu dong) hahaha, buruan nya Gi? Ditungguan langsung ka ATM Mamang”
“Iyah.. ”, jawabku. Tut telp ditutup. Aku memencet M-banking pada hapeku, untuk mengirim sejumlah uang pada Pamanku. Memang sudah semenjak aku SMA kami begitu, saling meminjam uang. Tapi bila Pamanku punya uang lebih, dia sering membelikanku barang-barang yang bagus, hapeku ini misalnya. Kemungkinan sekarang ini usahanya sedang seret, proyek-proyek Pemerintah tempat biasa dia bermain belum pada cair mungkin.
Aku kini bersiap hendak meluncur ke rumah teh Esih, walau nanti sore janjiannya. Masih 3 jam an lagi, tapi aku mempersiapkan segala sesuatunya. Termasuk minum jamu Budhe dulu. Siapa tau bisa pacaran di rumahnya nanti.
Mobilku memasuki jalan masuk ke alamat yang disebutkan oleh Esih tadi, jalannya cukup untuk dua mobil. Aku tinggal mencari ciri-ciri rumahnya sekarang, pagar hijau katanya. Nah itu dia.. pas ketika aku memarkir didepan rumah dengan pagar hijau, telpku berbunyi, paman Cahya lagi.
“Gi naha? Ngan 150 geuningan? (Gi kenapa? Ko cuma 150?)”.
“Oooh pan cenah kangge rokok hungkul? Hahaha.. cukup atuh? (Katanya cuma buat rokok doang?)”.
“Hahaha, sia mah dasar.. jadi ka imah si Esih teh? (dasar kamu.. jadi kerumah si Esih?)”.
“Jadi.. ini udah parkir didepan rumahnya..”.
“Pake mobil? Walah.. kade (hati-hati) Gi, sok (suka) iseng urang dinya (orang situ) mah, bilangin aja ponakan mang Cahya gitu.. bener Gi”.
“Iyah Mang..”.
Di teras depan rumah teh Esih ada seorang pemuda yang bertelanjang dada yang sedang duduk disitu. Ada tato di lengan kanan dan kirinya. Ia sedang duduk merokok disitu, aku jadi ragu-ragu, agak takut untuk masuk ke rumahnya. Tapi kuberanikan diriku masuk dan bertanya padanya.
“Punten A’? dupi ieu leres bumina teteh Esih? (Permisi, bener ini rumahnya teteh Esih?)”. Aku bertanya dengan sopan, pakai bahasa sunda halus pula.
Pemuda itu sedang bersandar dengan kaki naik diatas sofa single bututnya, ia tidak segera menjawab pertanyaanku, ia kelihatannya malah kesal diganggu olehku. Dia malah menyipitkan matanya dan balas menjawab dengan ketus.
“Teuing atuh… anu milarian saha..? (ga tau, ini yang nyari siapa?)”.
“Abdi Egi. Rerencanganna teh Esih.. (saya Egi, temennya teh Esih)”, jawabku tetap sopan tak mempedulikan ketusnya jawaban pemuda itu. Dia semakin keberatan dengan keberadaanku disana kelihatannya. Dia duduk tegak melotot tegang, seolah jawabanku tadi telah menghina nama baik ibu kandungnya. Aku memang jadi pengen cepat-cepat pergi jadinya.
“Darimana..?”, tangannya menunjuk wajahku.
Sementara dari dalam terdengar suara perempuan menanyakan ada siapa diluar. Pemuda itu menjawab temannya kamu Esih, dia menatapku malas, kemudian menyulut lagi sebatang rokok, meneruskan lamunannya.
Di pintu, si teteh Esih berteriak riang menyambutku, aku bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa perempuan pujaanku itu telah menyelamatkanku. Aku tersenyum dengan tulus kepadanya.
“Aaaaah.. si Aa datang juga ternyata.. hahah, udah lama? Ayo masuk-masuk, udah ditungguin dari tadi, kirain ga jadi datang..”. Akupun tertawa menyambut keriangannya, tak lupa dengan sopan melewati si pemuda ketus itu. Dia tak mengindahkanku, si pemuda kampret itu.
“Ayo duduk, biarin dia mah.. A Maman namanya, masih sodara, adeknya si Mamah yang paling kecil.. baik sebenernya orangnya kalo udah kenal mah.. aku tak peduli padanya sebenarnya, tapi aku tetap senyum ramah mengiyakan mengangguk. Esih dengan ramah menyambutku, menggandeng tanganku untuk duduk disebelahnya.
“Maah.. ini si Aa udah datang.. sok duduk, mau minum apa A’? kopi? Ya? Bentar..”.
Teh Esih masuk sebentar dan kembali membawa rokok. Ia duduk di sebelahku. Ia menyulutnya dan memegang lenganku. Ia tersenyum sambil memandangku. Si Otongku langsung naik jadinya. Akupun masih terpesona olehnya, dia semakin cantik menurutku. Berdandan seolah mau pergi. Pakaiannya pun masih seperti dulu, kaus ketat tapi kali ini tidak U Can See, dan celana jeans ketat.
Lagi enak-enak seperti itu, tiba-tiba si pemuda kampret, mang Maman, muncul wajahnya dari balik tembok teras.
“Sih..? hampura.. eta aya keneh rokok? (Maaf, itu rokoknya masih ada?)”, tanyanya pada teh Esih.
Esih melihat pada bungkus rokoknya. “Eeeuh tinggal sabatang A’, sok ambil kalau mau mah..”.
“Ah tinggal sabatang mah, keun wae lah.. kedeung engke ka warung.. (biarin aja deh, sebentar nanti ke warung)”.
“A Maman.. Ini ga kenal? Ini ponakannya si kang Cahya?”. Kata teh Esih menunjuk padaku.
Jidat A Maman berkerung mengingat. “Kang Cahya mana? Kang Cahya urang (kita)..?”.
“Enya (iya) ih..”, teh Esih geregetan memandangku.
Wajah A Maman langsung berubah, tadinya kerung langsung berubah ramah. Dari gelap terbitlah terang. Kini ia menyambutku seolah aku adalah sanak saudaranya sendiri.
“Wuaduuuh.. kenapa ga bilang.. waduh maaf saya ga tau.. kirain siapa, berarti ini anaknya kang Budi? Maaf Dokter Budi atuh ya? Aduh maaaf, Mamang ga tau.. hahaha.. ”, ia lalu berdiri kemudian mengajak bersalaman padaku. Aku mencium tangannya, karena dia membahasakan dirinya sebagai Mamang, paman Esih ya Pamanku juga jadinya.
“Waaaah.. mirip bu Dokter Linda ini mah ya? Siga (mirip) orang Tionghoa.. hahaha maaf ya? Aduh ini mah siga keluarga sendiri atuh, Mamang sampe ga ngenalin..”. Aku mengangguk sopan. Dengan kikuk ia mengambil bungkus rokok teh Esih.
“Eeeh enya, tinggal sabatang (iya, tinggal sebatang).. hahaha poho, grogi mereun Mamang yeuh.. (haha lupa, grogi mungkin Mamang nih) hahaha”.
Semuanya tertawa, aku berdiri kemudian.
“Kedap atuh.. (sebentar ya) Egi ka warung heula.. (dulu)”.
“Eeeh ulah (jangan) Gi, ulah.. ku Mamang weh.. biarin..”, dia semakin malu-malu.
“Gapapa Mang.. Mamang rokokna naon (apa)? Mang maman menyebutkan dengan tidak enak. Teh Esih tersenyum lembut memandangku. “Biarin sama Esih aja ke warungnya, sini mana uangnya? ”, tanyanya berbasa-basi. Tapi aku sudah menggerakkan badanku. Warung terlihat ada di sebelah kiri tadi. Masuk lagi kedalam dari arah jalan besar.
Kios Warung itu dihiasi dengan gambar dan warna cat LSM seperti LSM pamanku. Ada foto-foto mereka para anggota sedang berfoto berjajar, ada lambangnya dan lain-lain. Si pemilik warung berambut botak karena rontok di kepalanya. Jaket LSM nya ia sampirkan di paku didinding belakang tempat ia berdiri. Ia menatapku seolah melihat seseorang yang pernah dikenalnya.
Aku menyebutkan rokok A dan rokok B, juga serangkai kopi kegemaranku. “Berapa?”, tanyaku. Ia tersenyum seolah telah menemukan jawaban.
“43 ribu”, jawabnya, “Buat siapa..?”, tanyanya kemudian. Aku heran kenapa dia mau tahu.
“Buat Mang Maman sama teh Esih..”. jawabku walaupun agak risih menjawabnya, bukan urusan dia sebenarnya.
“Ooooh iyah, kirain kang Regi sekarang udah merokok ..”, ujarnya sambil tersenyum
Aku terbelalak, “Ngga.. belum..”, aku menatapnya heran kok bisa dia mengenalku. Ia terkekeh.
“Lupa ya ..? Kang Regi? Udah lama sih ya ga ketemu..”, ia kemudian memakai topinya. Barulah seberkas sinar menerpa wajahku. Aku ingat siapa dia..
“Kang Edi..?!, wah wah wah.. kok ada disini waduuh maap Egi ga liat tadi, atuh jadi gendut sekarang mah.. hahaha”. Aku mengajaknya bersalaman. Tapi ia keluar dari kiosnya, memelukku erat seperti aku ini sahabat lamanya.
“Bisa ya kita ketemu disini?, saya mah memang disini da.. itu rumah masuk ke Gang situ, Udah ga markirin lagi sekarang di Klinik, udah lama..”.
“Saya juga udah lama ga ke Klinik, semenjak si Mamah udah bisa nyetir, udah ga dijemput lagi.. hehe”. Aku ingat kang Edi ini adalah tukang parkir di Klinik Mamahku, kalau aku ikut Bapakku menjemput Mamahku, kami sering bertiga mengopi di parkiran. Kadang kalau Klinik lagi sibuk, kami suka sampai jam 10 malam.
“Wah udah sukses sekarang kang Edi, udah ga markir lagi, Alhamdulillah..”.
“Ah engga.. ga markirin lagi teh soalnya itu.. pengelolanya kurang enak sayah kang Egi, enak dulu sama Mamah kang Egi.. pengertian..”.
“Oooh si Richard mah memang begitu, sok tau manehna mah, suka sok taat peraturan.. ”, aku menyebut adik sepupuku yang mengelola Klinik itu sekarang, dia keponakan Mamahku. Bagus memang, cuma kadang tidak punya perasaan. Banyak pegawai lama yang tidak cocok dengannya. “Nya kumaha atuh Kang, ceuk si Mamah ge da dulur keneh sih si eta mah..
“Wahahaha.. abong-abong (mentang-mentang) anak kesayangan bu Dokter Linda ieu mah haha.. ah udah ah biarin, gentian sama anggota lain.. hehe”.
Dia meninju perutku pelan.
“Atuh mau kemana?, hayu atuh mampir dulu dirumah..?”, tanyanya sungguh-sungguh bukan berbasa-basi. Aku mengucapkan terimakasih dan hendak buru-buru ke rumah teh Esih lagi.
“Oh lagi kesitu ya?, hati-hati ah kang Egi, baik sebenernya keluarganya mah, cuma itu Bapanya, si Dedi tah, banyak yang ga suka.. pikasebeleun (nyebelin) orangnya, suka nyari-nyari kesempatan, si Abah juga gak suka sama dia, Mang Umbed.. Om Umbed mereun (mungkin) kang Egi nyebutnya mah..”.
Aku menggeleng, “Ga kenal da Kang..”.
Kang Edi tertawa, “Hahaha.. masa ga kenal.. hahaha sering ke rumah juga, sering tidur dirumah kang Egi, haha masa ga kenal?”.
Aku menggeleng, dan cepat-cepat pamit, kang Edi melambai sampai aku masuk ke rumah teh Esih lagi. Mang Maman berdiri menyambut di teras rumah, “Darimana kang Egi? Dari rumah si Abah dulu bukan? Om Umbed? Aku termenung lagi mendengar nama itu, kok semuanya nyebutin nama itu sih?, siapa dia ya?, aku tidak tahu, katanya sering kerumah, berarti aku belum pernah bertemu.
“Ga kenal saya Mang.. Om Umbed..”, kataku menggeleng sambil menyerahkan rokoknya. Mang Maman tertawa dulu terus berterimakasih, lalu ikut masuk kedalam rumah.
Ternyata Mamahnya teh Esih sudah ikut menunggu di ruang tamu, kopi untukku sudah dibuatkan. Mereka berdua segera berdiri menyambutku.
“Ini A’, mamah Teteh.. kenalin..”. Aku tersenyum mengangguk hormat, dan mencium tangannya. Mamah teh Esih menyebutkan namanya, “Elis..”, katanya segera setelah aku melepaskan tangannya.
“Eh, meni kasep nya? Ganteng.. mirip Mamahnya yah? Bersiih..”, mata mamah Elis menjelajahi wajahku dengan kagum. Esih tertawa bangga.
“Oh ini Mamah teh Elis atau kakaknya sih?, mirip ya? Cantik-cantik..”. Aku membalas pujian mamah Elis dengan rayuanku.
“Hohahaha..”, semuanya tertawa dengan gurauanku. Tapi kuperhatikan mamah Elis agak ge-er. Mang Maman ikut tertawa sambil berdiri dekat pintu.
“Bisa’an..”, kata dia. “Sih..? majarkeun teh cenah teu wawuh ka mang Umbed cenah.. (kata dia ga kenal sama mang Umbed katanya) hahaha”, kata mang Maman lagi menunjuk diriku, seolah itu lelucon lucu. Teh Esih dan Mamah Elis segera memandangku.
“Haah, masa ga kenal..?”, teh Esih tersenyum lucu, ingin aku mencium bibirnya. Lalu mang Maman berbicara pada Esih hal yang aku dan mamah Elis tak mengerti. Esih mengangguk-angguk pada mang Maman yang bercerita menjelaskan sesuatu.
Aku memperhatikan mamah Elis, dia berbadan kurus sebagai perempuan setengah baya. Kulitnya putih, walau tak secerah teh Esih, tubuhnya lebih tinggi sedikit. Rambutnya dipotong sedada, dibiarkan tergerai. Dadanya kecil, mungkin hanya sekepal, tertutup dasternya yang longgar berwarna merah muda bercorak batik.
“A Egi mau kuliah ya? Mulai kapan?”, tanya mamah Elis. Rupanya Esih sudah menceritakan sebagian tentang diriku. Apa sudah diceritakan pula bahwa anaknya itu mengambil perjakaku? Hahaha.
Aku mengangguk, “Iya mulai bulan depan, ada pengenalan dulu satu minggu..”, jawabku.
“Oooh”, ia segera menunduk lagi begitu bertatapan denganku. Ge-er kayaknya dia masih.
“Mamah umurnya berapa? 30 an ya? ”, godaku. Mamah Elis tertawa senang. Aku tidak tahu dia sadar atau tidak, tapi sambil tertawa dia menaikan dasternya sampai lutut, aku jadi bisa melihat kemulusan betisnya sampai lututnya. Apa dia lakukan itu agar di goda lagi? Atau hadiah atas pujianku?, aku tidak tahu.
“Masa Mamah 30? Mamah udah 45 sekarang, ih bisa aja A Egi.. ”, katanya centil. Kemudian menunduk lagi. Memainkan jarinya di ujung dasternya di atas lututnya. Aku berharap dia mengangkat ujung dasternya itu, biar agak kelihatan dalemnya. Harapanku terkabul, waktu berdiri hendak masuk kedalam, dia mengangkat sedikit dasternya, ada paha putih sekilas terlihat olehku.
“Kedalem dulu ah Mamah ya?, Esih?”.
“Iyah Mah..”, teh Esih terbagi perhatiannya. Tapi kemudian mang Maman juga pamit dengan sopan pada kami berdua.
Maka tinggalah kami disitu, aku tersenyum pada Esih. Dia mengangkat tangannya seperti senang telah mendapat undian.
“Yeeey ada si Aa kesini..”, dia menarik tanganku agar duduk berduaan dengannya di sofa yang panjang. “Duduknya disini.. katanya tadi mau apa? Pacaran..? hahaha..?’.
Aku menggenggam tangan kirinya, mencium pipinya. Tapi kemudian aku teringat sesuatu.
“Eh, nanti si Kokohnya Teteh marah ga?”, aku agak cemberut disitu. Esih langsung berlagak tidak enak.
“Iyah Teteh tuh mau cerita sama Aa sebenarnya, tapi keburu udah kepergok, heuheu..”. Ia membuang abu rokoknya ke asbak dulu. “Tapi Aa jangan marah ya? Eh, tapi wajar aja sih marah juga..”.
“Esih tuh sebenernya udah dijodohin A’, sama papahnya Esih yang di Jakarta. Ini teh temennya juga, koh Teddy namanya, orang Bogor, usahanya udah jalan.. di Bogor usahanya..”. Ia meneruskan.
Aku tercekat sedikit. “Dia duda?”, tanyaku. Esih menggeleng. “Bukan..”.
“Kok udah agak tua ya?”, tanyaku lagi. Esih mengangguk lalu tertawa, “Iya hahaha..”.
“Usahanya apa?”.
“Furnitur… itu tea A’ bikin sofa-sofa.. ukiran-ukiran, bagus-bagus teh..”, cerita Esih bangga. Aku jadi agak cemburu.
“Wah.. lagi berat itu, usaha itu, furniture..”
“Iya A.. memang, tapi dia mah udah ada langganan katanya, ekspor..”.
“Timur Tengah..?”, tanyaku. “Bukan.. ke Hongkong, Korea, Jepang..”.
“Ooooh hebat atuh..”, aku memandang kewajahnya. “Terus kita gimana..?”.
Teh Esih tertawa. ”Ga tau itu mah terserah Aa..”, aku bingung dengan jawabannya.
“Kamu selingkuh atuh? Kok masih jalan sama aku..?”, aku memegang tangannya lagi untuk memastikan dia masih ada perasaan denganku. Dia mengangkat bahu.
“Yaa kan Esih suka sama Aa, lucu.. baik, polos.. hahaha”, ia mencubit pipiku.
“Terus si mang Cahya gimana? Masa Teteh tidur sama aku terus juga tidur sama Pamannya..?”, aku mencoba melucu, tapi teh Esih langsung menarik tangannya dariku, ia kelihatannya tersinggung dengan kata-kataku tadi.
“Emang kita jadian..?”, tanyanya dingin. Aku menggaruk rambutku yang tidak gatal.
“Ga tau, kirain kita udah jadian waktu di kota B?”, tangkisku.
“Teteh kan waktu itu ga jawab iya, kamu aja yang nyatain.. bener ga itu..?”. Waduh, keluhku dalam hati, jadinya marah dia.
“Kalau kita ga jadian.. terserah aku dong mau gimana-gimana sama siapa-siapa juga..?”, sambarnya lagi, suaranya bergetar mau menangis, ia kini bersandar di sofa menghadap ke depan.
“Oh iya iya atuh, maafin Egi, maafin tadi Egi ngomong sembarangan, Egi cemburu soalnya..”. Aku berusaha memeluknya, ia membiarkanku. Kupeluk dia, dan kuciumi rambutnya. Ia mematikan rokoknya dan kemudian balas memelukku. Ngocoks.com
“Tau ga A?, semenjak sama Aa itu, Esih belum gituan sama siapa-siapa lagi, yang ngajakin jalan juga banyak”. Suaranya masih bergetar, matanya berkaca-kaca.
“Si Kokoh Teddy?”, tanyaku bodoh dan penasaran. Ia tersenyum menggeleng.
“Dia mah paling ngajak makan A’..”. Tangan Esih kemudian mengusap wajahku.
“Kok? Bego ya dia si Teddy? Ada perempuan cantik begini gak di apa-apain? ”, kataku. Teh Esih tertawa. Kemudian dia mencium bibirku perlahan, aku diamkan, tapi begitu bibirnya menempel lagi, aku menciumnya kembali dengan penuh rasa. ‘Ah, sungguh lembut bibirnya.. Perasaanku melambung tinggi, tak kupungkiri.
Ketika asyik berciuman, masuklah seorang anak laki-laki yang seumuran denganku. Begitu melihatku, ia menaikan lengan bajunya ke bahu. Memamerkan tato di lengannya padaku. Aku mengangguk ramah. Ia diam saja.
“Anton.. !, ini kenalin..”, panggil teh Esih. Tapi si Anton ini cuma mengangkat wajahnya dan ngeloyor masuk kedalam.
“Biarin.. ade Teteh A’, yang lak-laki..”, kata teh Esih. Aku nyengir.
“Kok ga mirip ya? Aku heran karena adiknya itu kulitnya item. Tapi bibir teh Esih lagi-lagi hinggap di bibirku, menyuruhku melupakan semua yang ada di dunia ini. Tanganku mulai meraba-raba dadanya yang sekal. Dari tadi sepasang gunung itu hanya bisa kuperhatikan saja, sekarang akhirnya bisa ku remas-remas.
“Nanti..”, katanya.
“Kita keluar aja yuk..!, cari kamar dimana gitu..?”, kataku sudah penuh dengan nafsu.
“Iyah.. nanti-nanti.. ”, teh Esih berbisik di telingaku. Matanya menunjuk ke pintu kamar kedua yang terbuka di ujung ruang tamu. Aku mengerutkan kening tak setuju. Tapi teh Esih kembali mengulum bibirku, tangannya mengelus-elus rudalku dari luar celana. Aku menikmatinya, tapi tak berani mengerang, hanya nafasku yang jadi keras suaranya.
Sedang berada di pembukaaan kenikmatan itu, ada suara motor besar masuk kedalam garasi, aku melihat dua anak dengan seragam SMU menaikinya, yang didepan anak laki-laki dengan jaket kain berwarna coklat, di belakang anak perempuan agak gemuk bermuka masam. Setelah motornya mati, terdengar suara anak perempuan itu berkata pada temannya dengan nada agak tinggi.
“Eeeh kenapa ini..?”, teh Esih bertanya padanya. Gadis itu tak menjawab, tapi setelah melihat di dalam ia mencium tangan teh Esih.
“Ini kenalin Neng.. temen Teteh..”, teh Esh memperkenalkanku, gadis itu tersenyum sedikit di tengah cemberutnya dan mencium tanganku, lalu langsung ngeloyor masuk ke kamar no dua yang tadi ditunjuk Esih.
“Itu Titi.. adik Teteh yang bungsu, masih sekolah, ini tahun terakhir.. ”, teh Esih menjelaskan, aku mengangguk. Titi kulitnya mirip dengan mamah Elis, putih dan bersih, cuma wajahnya lain, mungkin mirip Bapaknya, oval. Badan Titi gemuk dan agak pendek. Dada dan pantatnya besar. Semok lah. Rambutnya lurus sebahu diikat dibelakang.
Kemudian masuklah pasangannya, langsung mencium tangan kami berdua.
“Asep..”, katanya sambil tersenyum dengan sopan padaku. Aku balas menganguk tersenyum ramah padanya. ”Egi..”, kataku. Asep duduk di kursi single didekat pintu masuk, sambil tetap tersenyum sopan.
“Kunaon sih..? pasea wae asaan teh.. (Kenapa sih? Berantem mulu perasaan..)”, teh Esih menegurnya sambil tertawa. Asep mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jaketnya, menyulut sebatang dan menggaruk kepalanya.
“Ah biasa Teh.. hehe..”, ia menaruh rokok itu di atas meja, “Rokok A’..?”, tanyanya padaku. Aku menganguk lagi. Teh Esih tertawa dan menjelaskan kalau aku tidak merokok. Asep tersenyum maklum, kemudian kami mengobrol tentang motor Asep yang ber CC besar itu, yang harganya 20 jutaan katanya.
Tak lama Titi keluar kamar dan ikut bergabung, ia sudah berganti dengan kaus dan celana pendek santai. Ia masih agak cemberut.
Teh Esih memegang tanganku, dan mengajakku berdiri, ia menuntunku ke arah kamar.
Bersambung… Di pintu kamar ia berteriak pada Mamahnya yang sedang duduk menonton tivi di karpet ruang tivi dibelakang ruang tamu. Hanya lemari rak besar sebenarnya yang menjadi pembatas ruang tamu dan ruang tivi. “Maah.. Esih dikamar yaa.?”. Dari pintu kamar kulihat wajah Mamah Elis yang ragu-ragu.
“Kan ada Titi sama Asep di ruang tamu..”, rayu teh Esih lagi pada Mamahnya. Akhirna Mamah mengangguk.
“Dibuka aja pintu kamarnya..”. Mamah memandang wajahku sambil berkata begitu, sorot matanya seolah mengisyaratkan bahwa dirinya ingin juga berada di kamar ini berdua denganku. Aku jadi ge-er. Tititku cenut cenut.
Tapi teh Esih menutup pintu kamarnya, mengoncinya, ia tidak menyalakan lampu. Aku nyengir padanya.
“Biarin.. A’”, katanya cekikikan. Ia membereskan sedikit sprei ranjang berukuran dobel itu. Aku melihat sekeliling. Gelap semua gordennya sudah tertutup, mungkin bekas Titi tadi mengganti baju.
“Ini kamar kamu Teh?”, tanyaku padanya. Esih tak dulu menjawab, ia menuntunku untuk duduk diatas kasur berduaan, kami duduk diujungnya.
“Iya kamar Esih berdua sama Titi.. Lalu dia menciumku di bibir, kami berpagutan mesra. Tanganku tak sabar langsung masuk kedalam kausnya. Mengangkat behanya, dan meremas kedua payudaranya. Teh Esih bereaksi dengan membuka kaus lalu behanya pula. Iapun tak sabar untuk membuka bajuku, diloloskannya dengan mudah.
Tanganku berusaha melepaskan kancing celana jeansnya, yang lalu terbuka dibantu olehnya, sekaligus celana dalamnya. Tubuh mulus telanjang itu kunikmati dengan merabainya tanpa melepaskan kenyotanku di dadanya. Jariku berhenti di serambi lempitnya, sudah basah, kumainkan dengan lembut. Teh Esih mendesah sambil mengelus badanku.
“Aaaaahh.. Aa kemana aja? Esih kangeeeenn.. sssh.. ”, aku tak menjawab, aku ingin menjilati serambi lempitnya lagi. Kulakukan dengan menerobos-neroboskan lidahku masuk ke lubangnya. Esih makin mendesah, ia menggoyang-goyangkan selangkangannya agar makin tertekan oleh jilatanku. Ia sungguh menikmati percintaan ini.
Kubuka celana jeansku, ingin kuteroboskan saja rudalku ke serambi lempitnya, udah ga tahan aku. Begitu kuposisikan diriku, teh Esih malah bangkit duduk, ia mencium bibirku. rudalku diraihnya sambil dikocoknya. Ia lalu merunduk untuk mengulumnya. Aku mendesah, servis Esih untuk yang ini sungguh nikmat, lain sama yang satu kemarin, yang udah agak tua.
Ia menatapku puas karena kepuasanku, rudalku masih didalam mulutnya, terlihat di pipinya tonjolannya. Didalam mulutnya, berputarlah lidah Esih menjilati rudalku. Aku bersandar ke belakang dengan kedua tanganku, merem melek karena kenikmatannya.
Esih berhenti mengulum, ia mengocok-ngocok rudalku. Wajahnya merenung seperti meneliti kondisi rudalku.
“Kunaon..? (kenapa?) ”, tanyaku.
“Kok kayak lain ya perasaan?”, tanyanya. Keningnya mengerut.
“Emang kamu hafal..? bisa inget gitu sama bentuknya..?”, aku terkekeh. Esih agak tersinggung kayaknya.
“Inget atuh ..!”, nada suaranya agak ketus, ia duduk kini menghadapku, ia mau berseru lagi dengan kata-katanya, tapi aku langsung memeluknya, mengelus punggungnya dan menghiburnya.
“Oooh iya ya.. inget ya?, ini atuh sekarang rasain sama serambi lempit kamu biar lebih kerasa, bener ga udah lain sekarang bentuknya..?”.
Aku membujuknya dan mengangkat pantatnya agar mendudukiku. Esih mengangkat tubuhnya agar duduk di pangkuanku sambl memelukku. Aku mengarahkan rudalku, Esih lah yang mengepaskan lobang kenikmatannya agar pas bisa masuk. rudalku pun mulai memasuki celah itu. Enak sekali terasa, dihimpit dinding empuk hangat dan agak becek itu ketika masuk.
“Aaaah.. eeuuh.. asssh.. tuh kan lain A’? agak didalem sekarang mah ujungnya.. ”, desis Esih di telingaku, wajahnya mengernyit merasakannya. Aku termenung, jangan-jangan obat itu ada efeknya? Mudah-mudahan kataku, nanti akan kuukur agar lebih pasti. Tapi, Oh iyah, aku berseru dalam hati, kan tititku belum boleh kena air?
“Agak panjang kali sekarang..? kerasa?”, tanyaku pada Esih, ia diam ragu-ragu memandang wajahku dari dekat.
“Goyangin atuh? ”, pintaku. Esih mengangguk, dan mulai menggocek pantatnya. Waaah.. luarbiasa nikmatnya, serambi lempit becek Esih sampai bersuara, cek cek cek saat menggoyangku. Ia pun merasakannya. Terlihat dari desahannya dan wajahnya seperti sedang merasakan sesuatu yang paling enak yang pernah dirasakan dalam hidupnya.
“Eeeeeuuh, sssssh, aaaaaah… uuuuh.. heeeeeenggg.. sssssh..”, suara itu berulang-ulang di dikeluarkan dari wajah cantik itu. Aku senang dia mengalami kepuasan dan kenikmatan. Jadi bukan cuma aku yang menikmati persetubuhan ini.
Pantat Esih bergoyang keatas kebawah, kadang memutar, kadang maju mundur, sering juga menekan keras selangkanganku. Begitu menekan ke bawah sering pula kukejutkan dengan hentakan keatas agar terasa nikmat.
“Auuuh..”, katanya keenakan. Ia memutar kemaluannya sambil memelukku kencang. Kukunya mencengkram kulit punggungku.
“Assshh.. aaaaah..”.
“Mau gentian.. ”, tanyaku lembut di kupingnya. Ia tak menjawab, hanya mendesah nikmat yang dia lakukan. Aku bertanya lagi, karena kasihan dengannya takut kecapekan. Tapi lagi-lagi ia tak menjawab, hanya wajahnya berpindah dari kupingku yang satu ke kupingku yang lain, desahannya makin keras, goyangannya makin kencang.
Ia mendorongku ke belakang, “Diem ah’, sok tiduran aja A’..”. Aku bersorak dalam hati, dia pasti sudah dekat ke puncak, dan hendak melakukan gerakan-gerakan yang enak untuk kita berdua untuk meraihnya.
Benar saja, Esih memejamkan matanya dan mulai melaksanakan gerakan-gerakan liar diatasku, desahannya tak lagi ditahan, hampir seperti jeritan lirih. Aku mengerang dibawah menikmatinya, ‘mmmm… waaargh..’.
Esih tiba-tiba mengejut kencang, sambil mengejan “Hnnnnnngggg… auuuh.”. Ia jatuh lemas diatas tubuhku. Menciumiku di seluruh wajahku. Kepuasan memenuhi wajahnya.
Kemudian ia bergulir ke samping, membelakangiku. Aku belum puas, tapi tadi sedikit lagi hampir aku duluan yang bucat, pecah ketahanan spermaku, lagi tanggung banget. Maka aku memosisikan selangkanganku pada pantat Esih yang masih tiduran mebelakangiku. Aku pun masih tiduran. Begitu rudalku menyentuh bibir serambi lempitnya, Esih pun membantuku agar rudalku bisa memasukinya.
“Ah.. eh.. ah.. eh..”.
Sedang dalam posisi begitu, Esih seperti tersadar sesuatu, ia menoleh padaku.
“A? itu ada apa itu diluar? Meni rame orang..? sambil masih memacu, aku ikut mendengar-dengarkan, iya terdengar suara-suara seperti bapak-bapak dan ibu-ibu berdebat. Aku tak peduli, hampir diujung nih rudalku. Aku makin keras mengocok serambi lempit Esih, ia berkata sesuatu lagi, tapi aku tak mendengarkan, kupegang pinggang Esih agar lebih mudah kupacu.
“DUAK.! DOR.. DOR..!..”, Esih terlunjak karena kaget, aku juga. Karena itulah lalu rudalku tak mampu menahan, aku muncrat di lokasi terdalam serambi lempit Esih.
“Cret… Cret.. Creeeet…!”, “Aaaaah…”, nikmatnya. Aku mengejan lama, mataku membeliak karena kenikmatannya.
“Waaaaaah…”, Esih menjerit kaget. Ia buru-buru melepaskan jepitan serambi lempitnya di rudalku. Ia berdiri turun dari kasur sambil memandangku, wajahnya pucat pasi.
“Ini ada apa A’?”, tanyanya menunjuk pintu.
“ESIIIIH… Buka pintuna siaah..!”, terdengar suara marah seorang laki-laki diluar pintu, sambil tetap menggedor. Akupun loncat dari kasur, buru-buru memakai pakaianku.
“Bruk..! Bruk..!”. pintu bergoyang seolah sedang didobrak, tapi mungkin yang diluar tak sanggup mematahkan ketahanan pintunya.
“Bukaaaaa…!”, terdengar suara marah laki-laki lainnya. Esih membelalak padaku, ia hampir selesai memakai pakaian lengkapnya, tinggal celana panjangnya. Aku sih sudah beres.
“Iyaaa bentaaar..”, sahut Esih ketakutan, ia telah selesai berpakaian, tapi ditengah kepanikannya itu ia masih sempat berujar kecewa kepadaku
“Iiiiih Aa.. tadi dikeluarin di dalem ya? Heeeeeuuuh… A’a maaah… ”, Esih merengek melompat-lompat seperti anak kecil. Aku terkejut dan merasa tidak enak.
“Hiya maaf tadi.. abis kaget atuda.. (abisnya)”, aku balas merengek. Aku cepat memutar anak kunci pintu kamar. Begitu mau kubuka, pintu itu langsung membuka kencang, dan hampir mengenai Esih.
“Awas..! ”, teriakku padanya. Baru aku mau melihat siapa yang melakukannya, satu kepalan tangan melayang mengenai hidungku, pandanganku langsung buyar, warna merah dan hitam menggantikannya. Aku terjerambab jatuh ke belakang. Begitu pandanganku normal lagi hampir satu tendangan bersarang di badanku.
Tapi Esih mendorong pelakunya sambil menjerit, lalu ia balas memukul orang itu di wajahnya. Orang itu ternyata Anton adiknya, ia marah lalu memukul wajah Esih sehingga gadis kesayanganku itu jatuh pula terduduk. Esih langsung menangis kesakitan. Aku langsung memeluknya untuk melindunginya dari pukulan-pukulan selanjutnya.
Tapi ada orang dibelakang Anton yang menarik anak keparat itu, suara banyak perempuan dibelakang mereka menjerit-jerit, bapak-bapak pun berteriak mencegah kejadian selanjutnya.
Aku berusaha mencerna dulu kejadian ini, kenapa pula ini?, ada apa?. Kulihat ada beberapa Bapak-bapak disitu, dan yang memegang Anton adalah Asep, pacarnya Titi tadi. Ia berseru-seru menenangkan. Dan bapak-bapak dibelakangnya, yang belum pernah aku lihat sebelumnya, mencoba menenangkan dan membimbing kami berdua untuk keluar dari kamar.
Setelah masuk dan didudukan berdua di ruang tamu. Aku mulai mengerti persoalannya. Kami dikelilingi, dan didudukan sebagai terdakwa berdua. Aku mulai marah, terutama dipicu oleh menangisnya gadis cantik yang kupeluk disebelahku ini, dan perihnya hidungku.
Kami ini, aku dan Esih, istilahnya yang dipakai oleh masyarakat kita, telah digerebek oleh warga. Penyebabnya biasanya karena Zina, dan seperti umumnya pula terjadi di masyarakat kita, kami ini akan dipaksa dikawinkan. Aku mulai mengerti, darahku mulai mendidih.
Warga sekitar banyak berkumpul diluar, yang didalam yang duduk dihadapan kami ada empat orang Bapak-bapak yang duduk berhimpitan di sofa panjang untuk bertiga. Aku belum pernah melihat mereka. Di sebelah kiri, di sofa butut yang juga panjang, ada Mamah Elis yang terus memarahi Bapak yang diujung sofa yang paling dekat dirinya.
Disebelah mamah Elis ada Titi yang masih pucat kebingungan, dan di sebelah kanannya Anton yang tengah merasa puas akan dirinya. Dan Asep berjongkok di sebelahnya untuk mencegah terjadinya kembali perkelahian. Di kursi single kanan ada Mas-mas yang memakai pakaian seperti Ustadz. Ia tak henti-henti melihat kanan kiri mengucapkan lafal agama dan menenangkan.
Esih masih sesenggukan, aku pun membisikinya dengan kata-kata yang menenangkan. Tapi Esih melotot pada bapak yang dihadapannya, yang masih sesekali dimarahi mamah Elis.
“Rek naon maneh..?, teu nyaho adat siah..!! (Mau apa kamu? gak tau etika lu..!!)”, Esih memaki kasar pada Bapak itu. Mas Ustadz menenangkan Esih dan meminta untuk segera dimulai.
“Ehm… !, baik terimakasih.. segera dimulai saja acaranya..?”. Orang itu berkata resmi sambil memandang berkeliling. Aku hampir meledeknya dengan sinis, acara apa ini? Rapat 17-an kah?, hahaha.
“Baik.. Ehm..! Yaah perkenalkan dulu nama saya Ardi, saya RT setempat disini, kebetulan masyarakat disini mempercayakan pemilihan RT kemarin kepada saya, walau saya warga terhitung baru yah? Rekan-rekan? Tapi.. oleh karena saya memandangnya sebagai amanah.. maka saya…”.
“Kaduhung eta oge..!! (Menyesal itu juga !!)”, Esih menyela marah. Mamahnya ikut bersuara setuju, ia turut berteriak menyesali juga. Anton melotot pada Esih, ia berdiri. Aku pun berdiri marah, selangkah ia maju lagi, akan kupukul dia, tak peduli bagaimana nantinya.
Asep langsung ikut berdiri menengahi, ia memegangi Anton pada dua bahunya. Anton sejenak kaget mungkin akan keberanianku melawan, ia pun terduduk didorong Asep sambil tetap melotot terpana padaku. Titi memegangi Anton, mamah Elis mengeplak kepala Anton sambil memarahinya. Anton mengenyahkan tangan Mamahnya itu.
“Enya tenang A’, ngelehan heula weh ayeuna mah.. sabar-sabar heula engke weh.. (iya tenang A’, sekarang sih ngalah dulu aja, sabar2 nanti aja..)”, aku mengangguk menghargai akan kebaikannya, dan kembali duduk.
Warga diluar ada yang riuh berteriak mendukung Anton.
“Yah sabar dulu lah semuah..”, kata pak RT, tapi disela pak Ustadz.
“Langsung aja lah ke pokok permasalahannya atuh Te.. riweuh yeuh.. (ribet niih..)”.
“Ya baik, tadi sampe mana? Perkenalan? Ini yang di sebelah kanan saya pak Dedi, udah kenal? Belum? Iya ini Bapaknya Esih..”. Aku mengangguk cepat.
“Ini yang di sebelah kiri saya ini Endang, sekertaris RT dan ini Husni keamanan RT”, si bapak sekertaris mengangguk ramah. Aku hanya menjawab, “Ooooh..”. Aku melirik Esih, dia sekarang sibuk mengetik pesan di hapenya. Pantesan dari tadi diam.
“Adek ini siapa namanya?”. Ia menunjuk padaku. Aku juga menunjuk diriku pula.
“Nama lengkap saya?”, tanyaku, “Reginal Muhammad..!!”, jawabku setengah berteriak.
“Hah..?”, pak RT melengos pada pria di sebelah kanannya, “Naha..? (Lho kok?)”, tanyanya setengah berbisik. Yang ditanya bingung, menggeleng.
“KTP mana KTP..?”, tanya pak RT lagi padaku.
“Belum punya..!, belum jadi..!”, jawabku kencang.
“Iya jangan sambil marah gitu atuh lah..”, keluh pak RT, “Baik.. kita langsung saja ke inti permasalahannya.. langsung saja deh pak Ustadz..?”.
Pak Ustadz mengangguk, dan mulai berceramah soal rukun dan persyaratan pernikahan. Tapi iapun segera berhenti, pak Endang sekertaris RT berbisik-bisik padanya.
Esih tak sabar, ia berdiri dan berpindah duduk di sebelah Mamah Elis.
“Sayah mah ga mau nikah beginih..!, enak ajah.. ga sah atuh menurut hukum agama juga..!”. Bapak Dedi melengos sebal ke arahnya, dan membentak beberapa kata. Mamah Elis balik membentaknya dan kemudian mereka berdebat panjang pendek bertiga.
“Inih yang penting mah..! “, bapak Dedi setengah berteriak pada semuanya, “Adik ini harus nikah sama Esih malam ini juga..!”.
“Eh, jangan mau A’, enak aja.. ih, kasian atuh si Aa, belum juga masuk kuliahnya..”, Esih menyela Bapaknya itu dengan sengit. Aku mengangguk, bapa Dedi mendiamkan hadirin untuk mendengarkan jawabanku.
“Saya mau saja nikah dengan teh Esih.. da memang saya cinta sama teh Esih..”, bapa Dedi terperangah senang sedikit mendengarkan jawabanku “Tapi.. “. Aku meneruskan.
“Saya juga ga mau nikah dengan cara seperti ini, Orang tua saya dimana? Bisa mati saya nanti diam-diam menikah tanpa mereka.. Tegasku lagi. Sementara para wanita senang dan tersenyum dengan jawabanku, terutama teh Esih yang memerah wajahnya dan memandangku penuh sukacita. Warga diluar langsung ramai dan tak sabar padaku.
Bapak Endang mengangkat tangannya. Warga terdiam.
“Sebentar… ini tadi saya tulis namanya Reginal Muhammad bukan? Panggilannya siapa?”.
“Egi, panggilannya Egi, ya A’?”, jawab mamah Elis.
“Oh bukan Teddy..?”, tanya pak sekertaris lagi menegaskan.
“Bukan… Egi saya mah..”, Aku menggeleng dan bingung.
Pak Dedi melengak, ia langsung mundur menyender ke belakang. Anton juga, ia menatapku tak percaya.
“Eeeeeeeh.. kumaha sih ieu (ini) pengurus RT teh..? Bapak..? ieu mah lain (bukan) koh Teddy, kabogoh (pacar) si Esih.. ieu mah kang Egi, alona (keponakannya) kang Cahya..”. Mamah Elis mengibaskan tangannya ke wajah Dedi suaminya.
Pak Endang melongo, “Cahya mana? Cahya kita? Cahya LSM?”.
“Iya iiiiiiih…”, kali ini Titi menunjuk hidung pak Endang. Asep pacarnya tertawa.
Warga diluar langsung ramai, ada yang tertawa pula, ada yang tak peduli dengan nama Pamanku itu, mumpung orangnya gak ada, sesahutan kudengar seperti itu. Aku melihat keluar, ingin tahu siapa-siapa saja yang ada diluar. Tapi tak ada wajah yang kukenal. Tunggu dulu, satu wajah menyembul, ia baru datang kelihatannya, karena celingak celinguk bertanya pada orang di sebelahnya ada apa.
Pak Endang, pak RT, pak Husni dan pak Ustadz semua memandang ke pak Dedi, meminta jawaban. Pak Dedi memandang ke kanan kiri dengan agak kesal.
“Memangnya kalau keponakan si Cahya terus boleh melakukan itu disini dengan anak saya?, bapak-bapak biarkan itu dia berzina dirumah saya? Saya kan kepala keluarga disini, saya juga ikut menanggung dosanya..”. kata pak Dedi sambil menepak-nepak meja.
Mamah Elis dan teh Esih bersuara memprotes, pak Endang menggeleng-geleng. Pak Ustadz mengangkat tangannya pada pak Dedi dan bertanya.
“Atuh keponakan si kang Cahya teh berarti juga keponakan si Abah atuh pak Dedi… ciing atuh, tong sok nyiar-nyiar pibahayeun.. ah..! lain soal zinah heunteuna ieu mah, anu bener heula ieu teh..? (toloong deh, jangan suka nyari-nyari bahaya sendiri ah, bukan soal zinah atau ngganya ini sih, yang bener dulu ini)”.
“Si Abah mah teu aya.. nuju kaluar kota.. tos sabulan mah aya.. (si Abah lagi ga ada, lagi keluar kota udah sebulanan) ”. Kata seorang warga yang menempel di pintu. Ia kelihatan mendukung hiburan perkawinan paksa ini. Pak Endang tak mengindahkannya, ia bertanya padaku.
“Bener Akang ponakan kang Cahya Kang?”.
“Iya, itu adik Bapak saya..”, kataku menjelaskan.
“Berarti atuh ponakannya si Abah juga? Abah Umbed?”.
Dia lagi, nama itu lagi kataku dalam hati. Aku menggeleng. “Gak kenal Abah Umbed mah..”. Pak Dedi, Anton, pak RT dan pendukungnya menarik nafas lega.
“Waaaah bukan kan tuh kaaan..”.
Tapi pak Endang tetap bertanya padaku, “Akang anak dari siapa kakaknya kang Cahya? Alamrhum Mayor Kusnadi?”.
“Bukan itu mah Uwak, saya anak pak Budi..”
“Ooooh anakna kang dokter Budi..”, ia mengangguk-angguk, membereskan peralatannya dan bersiap hendak pergi. “Tipayun (duluan) ah..”, katanya berdiri.
“Mau kemana..? sebentar-sebentar”, pak Dedi mencegah. Pak RT berbisik padanya yang aku juga mendengarnya. Aku mengeluarkan hapeku untuk menelpon mang Cahya, aku memaki diriku kenapa ga dari tadi aku lakukan ya?. Tapi ditelp dua kali tidak mengangkat. Esih memandangku, dan berkata tanpa suara, ga diangkat, iya aku mengangguk.
“Jadi sekarang mah dinikahkan saja dulu gitu.. kalau nanti pamannya marah, ya dikembalikan lagi aja gitu? Iyah? Gitu aja?”. Begitu bisik-bisik pak RT pada pak Dedi yang mengangguk-angguk setuju.
“Eeeeh nekad siah pak RT mah, masih tetap dikawinkan? Ah sayah mah ga ikut-ikutan.. ini anaknya dokter Budi, ga mungkin nanti si Abah Umbed ga marah membiarkan sajah… hayu ah”. Pak Endang pun pergi keluar menggidig begitu saja, sebagian kecil warga ikut dengannya.
Pak Ustadz pun bersiap-siap hendak mangkat. Tapi pak RT memegang tangannya mencegah. Pak Ustadz terkekeh, dan balik memegang tangan pak RT.
“Pak RT, memang kita sebagai manusia sebaiknya hanya takut kepada Allah SWT, tapi adakalanya bila kita tak sanggup, menolak dengan hatipun, sudah termasuk iman yang paling lemah, itu jika kita tidak mampu, ini saya rasakan saya tidak mampu untuk berhadapan dengan si Abah mah.. haduh…”.
“Memang untuk disini, kita semua melihat.. ”, pak Ustadz meneruskan sambil berpaling pada warga di pintu,” si Abah teh udah kelihatan bageur (baik) disini mah, baiiiik teh sama warga, tapi da.. kemarin bulan lalu saya sama beliau di kantor Dinas Kabupaten, haduuh Pak.. sampai-sampai terbalik itu meja ruang rapat..
Pak Dedi, pak RT dan pak Husni berpandangan berubah pucat wajahnya.
“Tapi da ga kenal si akang ini mah sama Abah Umbed..”, bisik pak Dedi pada pak RT. Mereka berdua saling menguatkan hati. Ia kemudian berpaling padaku. Ngocoks.com
“Mana kunci mobil?”, tanya pak Dedi, tangannya menjulur padaku menagih. Aku bingung.
“Kunci mobil punya siapa?”, tanyaku keheranan.
“Ya punya kamu.. saya pegang dulu, sebagai jaminan kalo kamu tidak akan berzina lagi dirumah saya.. ”, pak Dedi mengayun-ngayunkan tangannya menagih. Warga ada yang berteriak jangan-jangan pak Dedi… Esih dan mamah Elis serentak berdiri marah dan menunjuk-nunjuk Bapak dan Suaminya itu. Mereka berteriak padaku untuk jangan memberikannya.
“Ini mah mobil Mamah sayah pak Dedi..”, kataku. Tapi ada suara merdu dari sebelah kiri, dari arah sebelah rak menuju ruang tivi. Aku berpaling padanya, ada Teteh-teteh cantik yang berdiri berkata padaku.
“Biarin.. kasihin aja A’, biar nanti yang ngambil Mamangnya Aa, kang Cahya atau Abah Umbed.. keun weeh (biar ajaa), biar tau rasa..”, ia menatapku dengan pasti, tapi lalu mengalihkan tatapannya pada arah lain karena malu dilihat dengan penuh kekaguman olehku.
Aku berpikir benar juga dia. Maka kuacungkan kunci mobil Mamahku itu pada bapak Dedi. Ia langsung meraihnya tanpa ragu-ragu.
“Da teu wawuheun ieu mah ka si Abah.. (Kan dia sih ga kenal ini sama si Abah) ”, katanya seolah pada dirinya sendiri untuk menenangkan dirinya.
“Eh.. ”, si Teteh cantik itu menjulurkan lidah melecehkan, “Bolo’on kang Dedi mah, anakna dokter Budi mah piraku si Abah teu wawuh.. (Blo’on kang Dedi, anaknya dokter Budi masa sampe si Abahnya ga kenal)”. Tim perempuan langsung berseru membenarkan mendukung pertanyaan Teteh itu. Akupun tersenyum padanya, bukan karena pernyataannya, tapi karena senang dengan paras wajah dan postur tubuhnya.
Pak Dedi masih percaya diri dengan tingkahnya. “Hape, hape..”. Tangannya lagi-lagi menjulur, “Sebagai jaminan juga..”. Aku berpaling lagi pada teteh itu. Pandangan kami sebentar berbenturan, ia malu.
Si Cantik itu menunduk tapi dagunya mengangguk. Aku memberikan hapeku pada pak Dedi lagi. Pak Dedi memberikannya pada Anton, anaknya yang laki-laki. Anton menggeleng, dari tadi semenjak tahu aku keponakannya mang Cahya, ia memang sudah hilang kepercayaan dirinya, ia duduk menyender di sofa dengan wajah pucat.
“Pegang Ton, teu nanaon (gapapa)..”, Anton dengan ragu mengambilnya. “Sakuan.. (sakuin)”, kata pak Dedi sambil tersenyum. Anton mengangguk lemas. Pak Ustadz memandangnya kasihan.
“Jangan Ton.. ”, katanya mencegah, ”Tapi ah, biar deh.. saya gak ikut-ikutan, ya udah saya pamit dulu ya? Sudah mau Isya.. saya mesti siap-siap dulu”.
“Jadi gak ada perkawinan ini teh..? ”, tanya pak RT, rata-rata semua tertawa, kecuali aku dan tim pendukungku. Kami merasa kalah saat ini, karena walau tidak jadi dikawinkan, tapi mobil dan hapeku tertahan. Memang menurutku, tujuan akhir memang itu, untuk memerasku. Apalagi kalau koh Teddy yang disini, dijadikan ATM mungkin oleh si Dedi kampret itu.
Pak Ustadz berpamitan, tapi baru dia berdiri mau melangkah dia terhenti. Ada yang datang. Kerumunan warga yang diluar terkuak dengan sendirinya. Apalagi setelah melihat jelas siapa-siapa yang datang mereka membuka jalan sendiri untuk rombongan yang baru datang itu. Pak Ustadz mengeluh.
“Aduh cilaka..! (aduh celaka)”.
Bersambung… “Aduh cilaka..! (aduh celaka)”.
Muncullah wajah itu, wajah yang kukenal, yang sedari kecil sering ada dirumahku, dulu badannya penuh dengan tato, tapi kini telah dihapusnya walau bekas-bekasnya masih ada. Matanya yang mencorong ditutupi kacamata hitam, rambut yang dulu tak terawat kini dipapas rapi a la taun 80-an, sudah ada uban yang menghiasinya.
“Oom Gio..!”, teriakku setengah rindu. Yang kupanggil langsung tertawa membahana. Melupakan wajah seramnya begitu melihatku. Aku mengambil tangannya untuk menciumnya, tapi ia memelukku kencang.
“Hahaha.. Geus sabaraha lila ieu teu panggih? Dua bulan mah aya nya? (udah berapa lama kita ga ketemu? Dua bulan sih ada ya)?”. Aku mengangguk.
Dibelakangnya ada suara-suara tertawa juga, begitu aku memanggil mang Gio, aku melihatnya, wajah-wajah yang kukenal semenjak kecil.
“Gi..?”, salah satunya memanggilku. “Udah lupa kali kalo sama saya mah ya? Sama Mamang yang ini mah udah lebih kali setahun kan gak ketemu?”, ia tertawa juga cengengesan. Akupun balas tertawa.
“Mang Jaya, mang Karta, mang Dani, mang Banon, kang Edi parkir hahaha.. sareng (sama) mang Maman… hehe.. ”, aku menyebutkan mereka satu persatu. Mereka semua tertawa begitu aku mengingat mereka. Aku menyalami mereka dengan mencium tangannya, tapi rata-rata dari mereka menolak kucium tangannya dan memilih memelukku kencang, dan ada pula yang mencium ubun-ubunku.
Mang Gio ini dulu orangnya hitam dekil, tapi kini sudah agak bersih kulitnya apalagi wajahnya, tubuhnya dulu agak pendek tapi seseg, keras dan padat, dan kini agak gemuk. Ia memakai kemeja putih yang dimasukan ke celana jeansnya. Ia lalu memilih duduk di kursi yang ditinggalkan pa Ustadz yang sudah berdiri.
“Rek kamana? (Mau kemana?)”, tanyanya pada pa Ustadz yang masih berdiri sambil lalu.
“Bade ka masigit deui.. (mau ke masjid lagi)”, jawab pa Ustadz sopan, lalu ia menjelaskan bahwa tadi sebenarnya ia sudah mau pergi dengan pak Endang begitu tahu aku anak dr. Budi, tapi di halang-halangi terus.
Om Gio mengangguk, “Enya alus atuh lah.. (Ya bagus kalo begitu lah)”, katanya. Pak Ustadz tergopoh-gopoh melenggang pergi.
“Kopi.. lah..!”, teriak om Gio kencang. Mamah Elis menyenggol Titi, dan yang disenggol langsung melesat ke dapur dengan cepat.
Selama itu diantara hadirin tidak ada yang bersuara. Apalagi pak Dedi, pak RT dan pak Husni, mereka menunduk kaku dengan wajah pucat. Anton sudah menghilang dari tadi. Mang Jaya mendekat ke arah pak Husni yang tersenyum ketakutan padanya. Tapi mang Jaya tidak balas tersenyum hanya memelototinya dan menegur.
“Naon siah sura seuri..?(apa kamu ketawa-tawa?)”. Senyum pak Husni langsung hilang, diganti dengan tangannya yang menutupi wajahnya dengan bergetar. Mang Jaya memang seram, banyak codet bekas luka ditampangnya itu.
Mang Karta mendekatiku, berbisik padaku, “Yang mana Gi yang gangguin lu..? ”, ia menunjukkan tonjolan di bajunya padaku. Aku tahu itu golok, dari dulu ia selalu membawa-bawa itu. Mang Karta ini asli Sunda, cuma besar di Jakarta, baru 5 tahun lalu ia kembali ke kota kami, maka bila ia berbicara bahasa Sunda sering ditertawakan karena logatnya yang lucu, ia lalu memilih berbicara bahasa Jakarta.
Kalau berbicara preman, memang paling cocok kalau melihat sosok mang Karta ini, kulitnya cerah penuh tato, tubuhnya tinggi kurus tapi tegap, rambutnya gondrong dan wajahnya tampan. Sorot matanya seperti bisa menembus perasaan. Dan kata mang Cahya, dia ini nekad orangnya. Dan aku pribadi pernah melihatnya beraksi, nanti kuceritakan di masa nanti.
Mang Banon supirnya Om Gio sekarang, mang Maman pamannya Esih, dan mang Edi warung lebih memilih berdiri dekat pintu. Mang Dani keluar lagi, jaga diluar mungkin.
Om Gio mengisap rokoknya dalam-dalam, diperhatikannya orang-orang yang duduk bertiga di sofa itu, sampai pada pak Husni keamanan yang sedang menutupi wajahnya dengan bergetar. Om Gio menepak tangan yang bergetar itu.
“Kaluar sia lah..! (keluar aja kamu lah!)“, katanya perlahan. Yang ditepak terlonjak dengan kaget, “Kunaon Abah..?”, tanyanya dengan ketakutan, suara Om Gio mungkin tak terdengar olehnya. Mang Jaya langsung menarik kerah bajunya, menarik keras sampai pak Husni tertarik jatuh.
“Kaluaaaar siah indit (pergi) kaluaaar..!”, teriak mang Jaya kesal padanya. Tubuh pak Husni terus ia seret sampai dekat ke kerumunan warga dan ia membanting pak Husni seperti membuangnya keluar pintu. Pak Husni jatuh keluar sambil mengaduh, lalu kemudian ia menghilang. Aku kasihan padanya.
Om Gio terkekeh padaku, ia tahu aku takkan tega dengan hal-hal seperti itu.
“Mamang oge (juga) baru sampe dirumah da Gi, pas banget, barusan banget inih bareng sama anak-anak. Si Maman ajah tadi ngalapor, awalnya sih ga percaya, eh tunggu-tunggu.. Mamang pikir-pikir ini masa si Eginya si kang Budi ada disini? Hehe, Eeeh.. taunya bener ada disini, hahaha”, katanya kemudian berbasa basi padaku.
“Udah kenal sama yang enak-enak barangkali Kang? hehe.”, mang Jaya yang sekarang berjongkok di sebelah om Gio menimpali.
“Iya.. hahaha..”. Om Gio tertawa. Akhirnya banyak yang ikut tertawa. Aku mengusap wajahku, mau tak mau aku nyengir juga walau agak malu. Aku melihat Esihpun tertawa menunduk.
Tim perempuan pendukungku kulihat semuanya tersenyum lebar, baik oleh lelucon om Gio maupun juga karena sudah mencium aroma kemenangan yang semakin dekat. Aku melirik si Teteh cantik yang berdiri tadi, dia tersenyum senang sambil memberikan tanda jempol padaku. Perasaanku melambung jadinya.
Om Gio memulai lagi.
“Esiiiih.. sudah atuuh Esiiih.. kasian para laki-laki, digoda terus sama janda Esiih… Esih yang bohai ranum badannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.. kang Egi udah ga kuat..”, Om Gio bernyanyi ala dangdut dengan lirik ciptaannya sendiri.
Semua orang tertawa, ramai suaranya, wajahku terasa panas walaupun ikut tertawa. Esih merajuk mengomel-ngomel pada om Gio karena malu tapi masih dengan tetap senyum diwajahnya.
“Esih? Kamu bukannya kemaren sama si Cahya kamu? Hah? Bingung sayah.. kemaren sampe nyusul ke kota B ngejar-ngejar si Cahya, eeh sekarang dipeluk di sayang-sayang sama si Egi? Ah Hahaha… gimana ini teh ceritanya?”. Si Abah tetap mencecar teh Esih.
Teh Esih terperangah merah wajahnya, ia melirik kesana kesini salah tingkah, akhirnya menunduk gerah dan malu. Ia tak mampu menjawab.
Aku mengacungkan jariku, “Teh Esih sudah diwariskan ke keponakannya, Om.. hehe.. ke saya..”.
Hampir semua orang menoleh kepadaku, dan “Huhahahahahahahaha…”, Abah Umbed tergelak tertawa-tawa di korsinya, mang Jaya tertawa sampai jatuh terduduk, mang Karta meremas dan menepak-nepak pundakku, mang Maman menunjuk-nunjuk diriku dan kang Edi mengacungkan jempol. Akhirnya tawa itu mereda.
“Memangnya keris kali diwariskan..?”, mang Jaya nyengir.
“Keris buntung.. hahaha”, mang Gio menimpali dan tertawa lagi, tapi kali ini sendirian tertawanya, kurang lucu mungkin leluconnya.
“Haduuuuh.. Gusti..”. katanya menyudahi tawanya.
Tepat pada saat itu ringtone hapeku berbunyi, aku hafal, karena lagunya aku yang menyetel dan jarang orang yang tahu, lagu lama, ‘Testify’ dari RATM. Dering hape itu berasal dari ruang tivi, tak lama mendekat dan masuk ke ruang tamu, Anton yang membawa sambil merunduk berjalannya, hampir kelihatan seperti merangkak.
“A? ada telepon ini dari sini ..”, katanya padaku. Dari tadi dia berlaku kurang sopan padaku lalu meninju hidungku, kini ia berlagak sopan dan memanggilku Aa.
Aku mengambil hapenya, dan melihat mang Cahya yang menelepon.
“Halo..”, kataku.
“Gi? Ada siapa aja disana..?”. Aku melihat berkeliling. “Banyak atuh Mang..”.
“Si Dedinya masih ada?”. Aku melirik pa Dedi, “Iya ada..”, orang yang dimaksud segera memalingkan kepalanya menghindar.
“Sini.. Mamang mau ngomong sama dia..”, kata Mamangku. Aku menjulurkan hapeku pada pak Dedi. Tapi dia pura-pura tidak tahu, celingak celinguk sana sini. Aku tetap tak menurunkan tanganku.
Akhirnya dia menatapku, dan aku berbisik keras padanya, “Mang Cahya..”, sambil menaikkan alisku. Pak Dedi menaikkan tangannya hendak mengambil hapeku, tapi diturunkannya lagi ragu-ragu, wajah pucatnya merenyeng seperti mau menangis, ia mengangkat bahu, “Eh.. siapa eh.. ga tau ah..”, rengeknya.
Esih menepak bahunya, “Eeeeh.. angkat eta (itu) kang Cahya..”.
“Si Cahya bukan? Sini sini sini sini..”, Om Gio akhirnya meminta hapeku, ”Ga kan bener dia mah..”, gumamnya.
“Halow.. iya Dedi disinih.. ”, kata Om Gio berpura-pura, mang Jaya nyengir, lalu.. “Hahahaha.. iya inih Dedi disinih.. aaah sia mah teu percaya (kamu mah gak percaya).. enya gelo siah alo maneh (iya gila tuh ponakan lu).. Hahahahaa”. Ia tergelak tapi lalu mendadak jadi serius, “Iyah.. enya he-euh, enya ieu keur (ini lagi) dibereskeun..
Tapi lagi-lagi tepat pada saat itu, Titi masuk membawa baki besar berisi gelas-gelas kopi. Jumlahnya pas serangkaian tepat seperti yang aku beli tadi di warung kang Edi.
“Banyak amat sih kopinya?”, mang Karta berkomentar. Titi menaruhnya dimeja sambil tersenyum manis pada mang Karta, yang disenyumin kelihatannya tak peduli. Ia berjongkok di depan meja membagi-bagi gelas ke orang-orang.
Tepat pada saat itu pak RT mau mengambil gelas jatahnya, ia mengulurkan tangannya sendiri, mungkin malu kalo sampai disuguhi oleh mang Karta, tapi mang Karta melotot marah, ia bereaksi dengan menampar keras tangan pak RT sampai tangan itu terbanting.
‘Plaak !!”. Semua orang terkejut, apalagi pak RT yang meringis.
“Enak aja lu maen ambil-ambil.. !!, lu mau ngopi? hah? nih gua siramin langsung ke muka lu nih ..!!”, ancam mang Karta keras. Ia benar-benar memegang salah satu gelas kopi panas disitu, dengan posisi siap disiramkan.
Om Gio terkekeh, “Hehe.. enya sabar sabar sabar, kalem kalem kalem.. hehe”.
“Bukan gitu Bang, maap nih Bang.. nih ane cuma mao nanya, atu aja pertanyaan yang bikin nyelek nih.. dari tadi ni udah ane tahan-tahan nih Bang”.
Mang Gio mengangguk-angguk menyilakan, mang Karta menghadap pada kedua terdakwa.
“Nih si Egi nih..”, telunjuknya ditunjukkan pada wajahku, “Idungnya kenapa bisa ampe berdarah..?”, tanyanya dingin. Bergantian menatap pada kedua terdakwa.
Semua mata menoleh padaku, aku pun baru tahu kalau hidungku berdarah. Oooh iya, udah agak mengering sekarang, aku mengusap bagian yang perih didalam cupingku.. kulihat di jariku memang ada darah yang sudah agak mengering. “Aaah gapapa mang Karta.. ”, kataku mencoba meredakan suasana. Kulihat Om gio yang tersenyum bersimpati padaku.
“JAWAAAB..!”, mang Karta berteriak. Bukan cuma kedua terdakwa yang terkejut melompat, tapi sampai mang Umbedpun terlonjak karena kaget. Tapi lalu dia terkekeh lagi.
“Hehe.. iya tenang sabar..!, jawab atuh sama siapa ituh.. hehehe..”.
Pak Dedi sudah melindungi wajahnya dengan kedua tangannya karena takut, ia menjawab sembarangan.
“Ga sengaja itu mah Bang.. tadi..”.
“Iye, ame siapee …?”, tangan mang Karta menjulur hendak meraih tangan pak Dedi. Tapi tiba-tiba terdengar raungan tangis dari dekat kakiku.
“Ampuuun Bang.. sama saya Bang.. ampuun, ga sengaja tadi.. ga tau saya A’, Huaaaaa… huhuhu”, Anton menjerit histeris ketakutan, ia kemudian memeluk lutut dan kakiku, “Hampuraaa abi Aaaaaaa.. (maafkan saya A..), hampuraaaaa…”.
Terdengar langkah kang Maman mendekati kami, ia tersenyum pada Abah, mang Karta dan aku, kemudian baru mendekati Anton.
“Ah udah udah udah jangan nangis atuh.. malu-maluin ah..”, ia membujuk Anton dan menarik lengannya agar menjauhi kami.
“Ponakannya..”, kata Om Umbed memberitahu kang Karta sambil menunjuk Anton, kang Karta melengak, lalu mengeluh pada Maman.
“Yaaaah lu lagi Man, kerjaan lu itu sih Man.. lu kasi tau daaah..”, ia mundur.
“Iya maaf Bang, biar urusan saya ini mah ..”, Ia mengangguk tersenyum pada mang Karta untuk berterimakasih, kemudian ia menyapaku dengan sopan, “A’ maafin ya A’?, hampura, masih belum bisa apa-apa dia mah, biar nanti Mamang yang ngajarin.. sakit ga A?”
“Ah ga apa-apa Mang, udah biarin.. laki-laki namanya juga, salah paham tadi mah, biasa..”.
“Ambilin elap atau apa gitu teh Indri, biar dibersihin ini lukanya..”, kata A Maman pada Teteh cantik yang berdiri di dekat rak, dan teh Indri pun pergi menghilang ke belakang. Oooooh namanya teh Indri, dalam hatiku sambil memandang bayangannya yang telah hilang.
Mang Maman masih memperhatikan hidungku yang luka dengan prihatin, aku jadi merasa terganggu olehnya, aku lebih kuatir akan mobilku kan belum kembali nih koncinya. Hidungku akan lebih dari ini kalo Mamahku tau aku pulang tanpa mobil.
“Udah gapapa Mang, bener saya mah udah biasa. Itu yang kasian mah teh Esih Mang.. kasian kan perempuan..”, padahal kata-kataku itu basa basi saja agar dia tak lagi memelototi hidungku, tapi justru itu yang memicu letikan di emosi kang Maman.
“Esih? Kenapa gitu dia A’?”, A Maman menoleh pada Esih, semua pun sama. Esih jadi terkejut diawasi oleh semua.
“Ah biasa A..”, tangannya menunjuk sedikit ke Anton, “Tapi gapapa juga kan udah ga sakit..”, ia tersenyum sambil memamerkan lokasi di wajah tempat ia dipukul, di pelipis dekat alis sebelah kiri.
“Ehhh siah biru itu Esiih..”, mamah Elis terkejut melihatnya. Esih pun sama, ia juga rupanya tidak tahu bahwa bekas pukulan itu menjadi lebam biru.
“Hah..?! Goblog SIAH…!! Gak tau diri! dulu lu bisa sekolah sama siapa..?!”, mang Maman berteriak marah. Tendangannya melayang pada dada Anton.
“Buk !”, “Heugh..”, Anton terguling menahan nyeri, dan Buk..!! tendangan lain mengenai dada di dekat leher. Anton memegang kedua letak sakit pada badannya itu sambil menyeringai, ia mulai menangis. “Hiuuuu aaaaaa…”. Erangnya seperti anak kecil.
Mamah Elis dan tim perempuan langsung menjerit-jerit, aku dan Asep melompat untuk menarik tubuh A Maman menjauhi Anton. Keras perlawanan dari kang Maman, dia tetap ngotot menghujani tubuh Anton dengan tendangan.
“Tolol siah..!! Wani ka awewe.. (berani ama perempuan)!! Jeung aing kadieu.. (sama gua sini)!!”, begitu teriak kang Maman. Aku dan Asep mulai kewalahan menahan badannya. Sampai hampir kalah oleh tarikan badannya.
“Nggeus (sudah) Man..!! Cukup..!!”, mang Gio berteriak.
Kang Maman berhenti melakukan perlawanan, tapi wajah dan tubuhnya masih terhiasi emosi tingkat tinggi. Ia melangkah ke pintu lagi sambil tetap dipenuhi kemarahan.
“Atuh udah dibilangin tadi kamu mah, jangan.. jangan, eh kekeuh wae (ngotot mulu), nurut geura (deh) sekali-sekali ke Mamah..”, Mamah Elis menghibur Anton yang masih terguling di lantai dan menarik tangannya mengajaknya pergi kedalam. Anton mengikuti mamahnya sambil mengerang manja.
“Naaaah begitulah kisah kasih percintaan Esih dan Egi.. hehehe”. Om Gio mencoba menenangkan lagi suasana, tapi wajahnya serius kini, tak ada lagi cengangas cengenges. Ia menatap Esih dan bertanya.
“Percintaan kamu teh udah sampei dimana Esih? Sama Egi? Kamu cinta sama Egi?”. Esih gelagapan ditanya seperti itu, akupun tak menyangka bisa begitu pertanyaannya.
“Yaaah baru suka aja Abah, belum sampai cinta..”, Esih menjawab lirih sambil melirik diriku.
“Tapi kok sudah minta dikawinkan? Bener gitu Esih?”. Abah mencorong matanya sekarang. Esih mendadak pucat. “Ngga Abaah, Esih mah ga minta dikawinkan.. bukan Esih..”.
“Bukan Om, bukan gitu..”, kataku mau membela Esih
“Diem dulu Gi…”, potong Abah, ”Ini harus jelas dulu… jadi bukan Esih ini yang minta ke bapak Dedi untuk dikawinkan dengan Egi..?”.
“Ngga Abaah.. ”, Esih mulai bergetar suaranya mau menangis, ia menjadi tertuduh sekarang. “Esih mah gak akan tega atuh Abah, kasian si A Egi mah anak baik-baik, dari keluarga baik-baik, masa kawin sama Esih? Udah ada umur, janda, dan belum tentu Esih diterima sama keluarganya, Esih mah tau diri Abah, Esih juga udah ada calon..
cuma ini mah memang salah Esih, Esihnya seneng gitu, suka sama si A Egi teh, bageur (baik) gitu, baik anak orang kaya teh ga sombong gitu, mau gaul sama cewe kayak Esih.. huuuu.. Akhinya teh Esih mengucurkan airmatanya. Teteh Indri yang sudah datang kembali, duduk memeluk Esih, menghiburnya. Aku trenyuh mendengar kata-kata Esih, matakupun berkaca-kaca.
“Ooooh enya enya atuh, sudah ceup ceup, sudah jangan nangis… iya saya juga udah tau sebenernya, si Cahya tadi di telp bilang Esih yang ngelapor sama dia, gitu? kalo Esih yang mau kawin mah, mungkin nyuruhnya si Aa nya yang ngelapor langsung ke orangtuanya. Gitu? ya?. Cocok atuh. Ini mah cuma meyakinkan saja, ini mah nanya aja..
Mamah Elis masuk dan ikut memeluk Esih dari sebelah kiri, mereka bergeser.
“Betul sumuhun Abah.. ”, sahut A Maman, “Kalau Esih yang mau ngejebak mah, pasti ke saya dan ke Mamahnya.. ga akan ke si Dedi, kalaupun bilang ke saya, siapapun itu. Si Aa atau yang lain, pasti saya lapor dulu ke Abah atau ke kang Cahya atau ke siapa gitu lah yang penting sampai dulu ke Abah kabarnya, biar beres gitu Bah urusannya, ga kayak gini seenaknya aja..
“Enya..”, mamah Elis dan Abah berbarengan berkata iya.
Kini semua mata menoleh kepada pak Dedi, yang menunduk lebih dalam sekarang, lututnya bergoyang-goyang cepat tak jelas. Ia sepertinya berpikir keras, bagaimana agar bisa lolos dari situasi seperti ini. Suara isak tangis Esih sudah mereda.
“Eh si Bapak.. jangan diem aja atuh, kenapa ini teh bisa beginih? Ah.. si Bapak mah ngaku ajah atuh, naksir sama teh Esih bukan? Kenapa atuh digangguin terus? Titi memarahi Ayahnya, mungkin kecewa akan kelakuannya, ia kemudian melengos pergi, sebal dan tak tega mungkin melihat bapaknya hanya terus menunduk diam tanpa berkata sesuatu yang masuk logika.
“Eeh jangan begitu.. atuh”, mamah Elis menyela. Tapi Titi sudah menghilang ke pintu belakang, Asep ikut berdiri mengangguk sopan pada semua lalu menyusul pacarnya itu.
Aku pun kasihan sebenarnya pada pak Dedi dan pak RT, terbayang jika aku berada pada posisi mereka, atau malah di posisi Titi, yang malu dan kasihan melihat bapaknya duduk ketakutan seperti maling yang telah tertangkap. Tapi bagaimana mau membelanya? darimana mulainya?. Dan bila dimaafkan, ada kemungkinan juga dia mengakaliku dengan cara lain?
“Jadi maneh (lu) teh kunyuk Dedi siah can (belum) kapok? ”, Om Gio bertanya dengan suara dalam. “Kemarin kan udah kena bogem sama si Cahya gara-gara si Esih juga? Pak Dedi melirik sedikit ke samping ke arah Abah lalu kembali menunduk. Mamah Elis berkerut keningnya, ia tak tahu mungkin kejadiannya. Ia berbisik-bisik bertanya pada Esih.
“Bener gitu? Gara-gara apa Ded digebugin si Cahya?”. Om Gio mencecar. Pak Dedi masih diam.” Jawab atuh..”, Om Gio menghisap rokoknya lagi dengan santai.
“Ngegodain Esih Bah..”, pak Dedi perlahan sekali suaranya.
“Apa?”, tanyaku. Mulai mual aku mendengarnya, bagaimana sih masa bapak godain anak? Kalo aku sama Budhe kan ga ada hubungan darah, cuma perkawinan yang menghubungkan kami, jadi masih ga terlalu serem lah.. hehe, kataku beralasan.
“Esih tuh anak tiri si Dedi Gi, dulu juga pernah waktu Esih masih sekolah si tolol nya ini merkosa Esih, belum tau Gi..? goblog sia mah kunyuk Dedi..”.
Darahku langsung mendidih ke ubun-ubun, kini aku yang ingin memukuli si Dedi sekarang.
“Abisnya sering soalnya Mah ngegodain Esih, lagi tidur juga suka diraba-raba, tuh tanya ke Titi, dia juga pernah tau kejadiannya“, Esih terdengar membela dirinya ke Mamahnya. “Waktu rumah kosong pernah dikonciin rumah teh terus langsung Esih teh dipeluk-peluk, diajak gituan. kan gila dia ih.. sinting..
Mamah Elis melolong marah, ‘Plak’, tamparannya mengenai kepala Dedi keras, disusul segera tamparan-tamparan lainnya. ‘Plak plak plak plak’.
“Tolol.. siah, anying, ga bisa dikasianin, goblog sia, licik, curang..”. Terus makian itu berdatangan, tak ada yang memisahkan.
Pak Dedi melindungi kepalanya, tapi karena tamparan itu terus datang akhirnya ia melawan, ia mendorong mamah Elis sampai jatuh terduduk.
“Aduuh.. udah Mah.. ”, elaknya. Tapi dorongan itu malah membuat marah dua orang perempuan lainnya di sisi Elis, akhirnya ketiganya berlomba menyakiti pak Dedi, ada yang menjenggut, memukul, bahkan teh Indri menyerang dengan lutut. Makian-makian terus terucap. Pak Dedi tak tahan ia mau kabur ke pintu belakang.
“Mau kabur luh..?”. Mang Karta bergerak cepat dengan memukul wajah pak Dedi dengan telak, yang langsung jatuh tersungkur kebawah. Kang Karta menarik kerahnya dan menggusurnya ke hadapan si Abah.
“Sudah sudah sudah… nanti dulu”, kata om Gio pada Ibu-ibu. Ia lalu menginjakkan kakinya di belakang leher pak Dedi kuat-kuat, yang tersungkur di lantai mengaduh kesakitan.
“Jadi belum kapok bukan Ded?”, tanya Abah sekali lagi, masih sambil merokok. Aku tak tahan melihatnya. Aku memalingkan wajah, tapi tak urung suara nafas kesakitan pak Dedi terdengar juga.
“Hoaahh.. hadduuh.. hampun Abah.. ”, dengan nafasnya yang berat pak Dedi meminta ampun. Aku sering melihat orang mengerang kesakitan karena kecelakaan kalau ikut sesekali orangtuaku bekerja, hobiku juga main game dan nonton film yang penuh dengan seks dan kekerasan. Tapi kalau melihat langsung begini orang disiksa, walau baru pembukaan, aku sadar tak tahan juga.
“Om? Udah Om? Kasian Om?”, tanyaku pada om Gio. Yang ditanya terbengong menatapku. Mang Karta menepak bahuku, “Yaah… ngapain lu Gi?”. Aku tak memedulikannya.
“Om pan (kan) mau Umroh minggu payun (minggu depan)?”, kataku menatap om Gio yang masih bengong. Ia terkejut mendengar kata-kataku, langsung menarik kakinya dari leher pak Dedi, duduk bersandar seolah menyadari sesuatu.
“Astagfirullah.. enya bener nya euy? Aing arek ka Mekkah (Gua mau ke Mekah?)?”. ia bertanya sekeliling menatapi anakbuahnya. “Aduh.. poho aing (lupa gua)”.
“Yah nggeus-nggeus atuh (sudah-sudah), bangun-bangun, diuk-diuk (duduk-duduk)”, om Gio memerintah pada pak Dedi. Mang Karta menyuruh Dedi bangun dengan kakinya, yang diperintah segera bangun dengan wajah kusut semrawut.
“Didinya tah (Disitu tuh) ..”, perintah Om Gio menyuruh pak Dedi duduk di sofa panjang dekat dengan dirinya. Mang Karta memandang benci padanya dan berbisik padaku, “Kalo ada Om lu, abis itu Gi..”
“Enya.. keun weh, sina beak ku si Cahya, aing mah arek ka Mekah Karta, sieun kukumaha aing diditu. (Iya biar aja abis sama si Cahya, gua mau ke Mekah Karta, takut kenapa-kenapa gua disana)”, kata om Gio pada mang Karta, diapun mengangguk.
Pak Dedi duduk menunduk. Nafasnya masih terburu-buru.
“Balik lagi aja ke cerita sebelumnya.. Ded? Si Egi kenapa lu tangkep?”. Om Gio bertanya pada pak Dedi yang mengangguk-angguk, ia mengumpulkan nafasnya menjawab.
“Iya salah saya Abah.. salah orang.. kirain si Teddy pacar si Esih..”.
“Salah orang??”.
“Bohong dia mah Abah, awalnya mah bener salah orang.. tapi sama Esih sama Mamah juga udah dikasi tau ini teh keponakannya kang Cahya, tapi tetep weh si goblog anjing teh ga mau denger..”, teh Esih menyela dengan panas.
“Abisnya da bilangnya ga kenal sama Abah katanya, ini si Aa nya ngakunya ga kenal sama Abah Umbed..?”, pak Dedi membela diri. Om Gio mendengus tertawa.
“Kalo dia bilang kenal ma Abah sih, kita gak akan terusin Bah..”, tambah pak RT.
“Gak jadi Abah, dikawininnya juga, ngerti atuh kita mah Abah teh gimana sama keluarga kang Egi, ga tau sih awalnya, ga bilang sih..”, pak Dedi beralasan sambil menunjukku.
Keduanya kini memandangku seolah semua adalah kesalahanku hingga semua ini terjadi. Aku diam saja, hanya balik melotot.
“Ya memang ga akan kenal atuh..”, Abah menyela, ”Gi? ini siapa?”, tanyanya lagi padaku menunjuk dirinya.
“Om Gio.. Om Giovanni..”, jawabku cepat. Om Gio dan anakbuahnya berpandangan dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Aku dan sisa yang lainnya terbengong-bengong tak mengerti.
“Tau ga Gi ceritanya..? nama asli Mamang mah Umbed, memang Umbed memang bener.. cuma itu si teh Linda, mamah kamu, yang ngarang nama Gio teh, hahah, waktu baru nikah sama Bapa kamu, nama kamu jelek amat sih Umbed? Kata si Mamah teh.. ganti aja ah jadi Gio, Giovanni.. huhahaha”. Om Umbed memandang berkeliling bercerita.
Mang Jaya menambahkan, “Giovanni, penyanyi cilik tea Gi..”
“Hahaha, si Mamah mah memang tukang bercanda orangnya Gi, tiap ada orang yang nyebut nama Umbed dirumah.. ya dirumah kamu, dimarahin itu orangnya, namanya Gio katanya bukan Umbed… hehe, tukang bercanda Gi Mamah kamu mah”.
Aku terbelalak, ooooh ternyata gitu ceritanya.
“Makanya semua anak-anak si kang Budi mah, semuah lah sama pembantu sama pegawai klinik nyebut ka aing (ke gua) teh Gio..”, kata om Umbed mengakhiri ceritanya. Masih tersisa kekeh darinya. Tapi tiba-tiba tubuhnya maju kedepan. Ia teringat sesuatu. Celingukan menatap anakbuahnya.
“Eeeeh iya lupa. Ya sudah atuh lah.. ai (kalau) udah selesai mah, beres kan ini? Egi ga ada dendam kan? Ga jadi kawinnya kan Gi..?”, om Gio membereskan rokok dan kacamata hitamnya ke saku. Menghabiskan sisa kopi di gelasnya. Anakbuahnya melakukan hal yang sama.
“Hampura (maafin) Gi, Mamang buru-buru inih, ga ngondang dulu main ke rumah.. mau berangkat lagih.. dipanggil sama pak Bupati, hayuh atuh ah.. Lis nuhun yeuh tos ngarepotkeun.. (makasih nih udah ngerepotin)”. Mamah Elis mengucapkan terimakasih juga dan menawarkan makan dirumahnya. Om Gio tertawa dan mereka berbasa-basi.
Pak Dedi dan pak RT senyam senyum, wajah mereka sudah tidak pucat lagi, sudah bernafas dengan lega.
Aku mengangguk mengiyakan, tapi ada yang masih mengganjalku.
“Itu Mang.. tunggu, pak Dedi itu, maaf.. konci mobil Mamah sayah..”, kataku meminta.
“Oh.. iya”, pak Dedi merogoh saku belakangnya dan mengambil konci mobilku. “Ini A..”, katanya mengulurkannya padaku.
Tapi di tengah uluran itu kami berhenti, om Gio menyela terlebih dahulu.
“Konci mobil..?”, tanyanya setengah tak percaya, “Engke heula siah (Bentar dulu lu)..”. Ia mengambil konci mobil itu dari tangan pak Dedi, duduk kembali, sambil berusaha mengatur nafas. Ia menatap pak Dedi lekat-lekat.
“Konci mobil? Yang punya Mamah kamu kan ini mobil, Egi? Bener?”, om Gio mulai emosi. “Iya Om..”, jawabku tak mengerti.
“Kenapa bisa ada di lu anying..?”, om Gio sekarang mencengkram kerah pak Dedi. Mengguncang-guncang tubuh pak Dedi yang merengek ketakutan. “Wani amat sia? (berani amat lu) ”.
“Rek (mau) dijual? Hah? Digadai.. !?”, tangan Abah satunya lalu menampar wajah pak Dedi dengan konci masih ditangannya. ‘Prek..!’, suara gemerincing konci beradu dengan kulit wajah pak Dedi.
“Haduuh sakit Abah..”.
“Itu teh Abah, konci diambil pas udah tau A Egi keponakan kang Cahya..”, kata teh Indri penuh kebencian. “Buat jaminan biar ga zinah lagi katanya, Eh jelema calutak (orang yang ga tau diri)”, teh Indri berpura-pura meludah kesamping.
“Sama handphonenya..”, teh Esih memperuncing suasana.
“Hahh..??!, GOBLOG SIAA..!!”. Abah berteriak marah sambil berdiri, ia mengangkat tubuh pak Dedi dengan tangan kirinya, tangan kanannya mengepal siap meninju sekuat tenaga.
“Abah.. Mekaah.. !”, teriakku mencegah. Tinju kanan om Gio berhenti di udara. Tapi tak urung nafsu amarahnya ia salurkan dengan membanting pak Dedi ke atas meja.
“Belentraaaang..! ”, suara gelas-gelas amburadul berpecahan, pak Dedi terbanting dari atas meja terguling jatuh ke kaki pak RT yang mengangkat kakinya ketakutan. Kaum perempuan menjerit-jerit berdiri. Warga diluar tak ada yang berani bernafas. Abah tidak berhenti, ia menjenggut rambut dan baju pak Dedi, menariknya untuk duduk kembali.
“Geus wani nyokot mobil indungna si Egi siah.. (Udah berani lu ngambil mobil mamahnya si Egi)?!”, tanyanya kejam.”Aing oge teu wani .. (Gua aja ga berani)”.
“Bah.. sabar Bah..”, kataku mencoba menengahi.
Mang Karta menepak bahuku lagi. “Udah Gi diem aja deh lu ah..”, katanya seolah menyesali kata-kataku.
Om Gio mundur, tapi tangannya masih mencengkram baju pak Dedi.
“Ngga Gi, tenang aja.. ngga akan di apa-apain .. ”, sahutnya padaku disela kemarahannya. Ia dekatkan sekali lagi wajahnya ke muka pak Dedi, kali ini ia tekankan dagu miliknya ke wajah pak Dedi, berkali-kali. Mungkin saking kesalnya Om Gio mencoba menyakiti pak Dedi dengan dagunya. Aku baru melihat seumur hidupku ada orang yang kemarahannya dilampiaskan dengan begitu.
“Ayeuna salamet siah aya alo aing lalajo, (sekarang lu selamet ada ponakan gua lagi nyaksiin).. ”, kepalan tangannya ia tekan ke alis pak Dedi. “Era aing majarkeun aing nyontohan kekerasan (malu gua, takutnya gua disangka ngajarin kekerasan).. Dan ia menyudahi dengan menampar wajah pak Dedi memakai kepalan tangannya keras.
Om Gio mengucap istigfar sambil melirikku. Ia mengeluarkan rokoknya dan membakarnya. Terbayang di wajahnya masih menyimpan kemarahan. Ia menyender melamun sambil menikmati rokoknya.
“Gi..”, panggilnya padaku, ia menunjuk bekas-bekas tato di kedua tangannya. “Ini bekas tato.. Egi inget ini dulu ini penuh?”, aku mengangguk. Ia mengangkat lengan bajunya memperlihatkan luka-luka bekas terbakar penghapusan tatonya yang telah sembuh.
“Mamang hapus semua.. menurut Egi coba, siapa yang nyuruh Mamang ngehapus tato?”.
Aku menebak-nebak, “Bibi Lia..?”, kataku menyebutkan nama istrinya.
Om Gio menggeleng sambil menyeringai terkekeh, “Dia mah mana mau Mamang dengerin.. bukan Gi, si Erika yang nyuruh.. anak Mamang”.
“Oooh..”, aku mengangguk, Erika anak sulungnya yang perempuan, sedang pesantren bareng dengan adikku, Tika, mereka satu angkatan. Oh iya aku belum cerita ya aku punya adik perempuan, nanti deh.
“Mamang Gio orangnya keras gini, tapi kalau sama anak mah kalah.. Ia membenarkan dulu lengan bajunya yang tadi ia lipat. “Pulang dari pesantren taun kemaren dia nyuruh Mamang.. ”, lanjutnya lagi, ia menatapku sekarang, ”Ya langsung dihapus sama Mamang, takut ngecewain Mamang mah Gi.. takutnya si Erika malu diledek sama temen-temennya di Pesantren, Bapanya preman.
“Nah kalau sama orang yang gini mah jangan takut..”, mang Gio melayangkan lagi tangannya ke wajah pak Dedi. Dua kali. “Lawan aja Gi, lain kali mah langsung gebug..”.
Mang Karta bergumam di sebelahku membenarkan.
“Ai sia nyaho teu ieu saha.. (Lu tau ga ini siapa)?!”, tanya om gio lagi pada pak Dedi menunjuk diriku. Sebelum dijawab, Abah sudah meneruskan lagi.
“Aing ti leleutik diurus ku Aki Ninina.. Disakolakeun.. Aing loba hutang budi, mun eweuh maranehna, geus paeh mereun aing dibunuh ku batur.. (Gua tuh dari kecil diurus sama Kakek Neneknya.. disekolahin.. banyak utang budi gua.. kalo ga ada keluarga dia, gua udah mati kali sekarang, dibunuh orang..)”.
Kali ini tumit Abah yang dihunjamkan ke paha pak Dedi. Kemudian ia menyender di sofanya sambil melirik sedikit padaku.
“Ampuuun Abaah.. saya ngak tauuuu..”, pak Dedi meraung-raung. Menangis dia sekarang.
“Ded..? kunyuk?”, panggil Abah, “Mun si Egi sare deui jeung si Esih didieu, bakal dikumaha? (Kalo si Egi tidur lagi sama si Esih disini, mau diapain?), Jawab siah tolol..!!”.
“Moal Abah.. moal dinanaonkeun.. (Ngga Abah, ga bakal diapa-apain)”.
“Mun sare jeung pamajikan sia, kumaha? (kalo tidur sama istri lu, gimana?)”.
Pak Dedi terdiam. “Astagfirullah Abah..”, mamah Elis bersuara memprotes.
“Ini mah ibaratnya.. contoh hungkul (doang) Eliis”, sahut Abah kesal. Terdengar suara Esih dan Indri yang terkekeh.
“Sia datang ka aing.. lain ditewak lain diurus ku sia, diurusna ieu budak ku aing.. (lu datang ke gua, bukan ditangkep bukan diurus sama lu, anak ini urusan gua)”. Abah menepak dadanya. Mang Jaya nyengir ke arah Ibu-ibu.
“Kadenge teu ku sia?? Hah?? Ngarti teu..?? (kedengeran ga sama lu? Hah? Ngerti ga?)”, Om meraup muka pak Dedi dan mencubitnya keras. Lalu bersandar lagi memandang berkeliling. “Keheul atuda aing.. duh mun eweuh si Egi.. (Kesel abisnya gua, duh coba kalau ga ada si Egi)”, kata om Gio melirik ke arah mang Jaya, lalu memandang pak Dedi.
“Atuh ku sayah weh Kang..? (Atuh sama saya aja Kang?)”, mang Jaya mengacung berharap. Kang Karta juga maju. Mang Umbed memandang pada keduanya. Ngocoks.com
“Atuh sarua wae mun ku maraneh mah atuh, goblog.. (Atuh sama aja kalo sama lu lu juga sih bego) aing-aing oge anu disalahkeun (Gua-gua juga yang disalahin)”, Om Gio akhirnya tertawa.
“Oh pak RT, orang baru ya? Udah berapa lama disini? Belum setahun kan? Belum ya? Belum kenal saya berarti.. sini-sini saya bisikin sebentar..”. Om Gio berbasa-basi pada pak RT. Yang dituju bingung dan takut, ia ragu-ragu untuk mendekat.
“Sinih.. ayo cepet.. mau saya bisikin.. Bentak Om Gio. Pak RT akhirnya mendekatkan wajahnya ke Om Gio. Dan akhirnya, Om Gio melayangkan tinju cepat dan mantapnya ke pelipis pak RT, sehingga bapak itu otomatis roboh ke samping di tempat sofa yang kosong. Jatuhnya mirip seperti pin bowling, lalu kemudian mengeluarkan suara, ‘Krrrrrrr..
“Aaaaauw..!”, cewek-cewek menjerit dan melompat jauh dari situ.
Om Gio nyengir, “hadiah hiburan itu mah.. hahah salam perkenalan..”. Ia langsung berdiri, “Udah ah yuk, pa Bupati geus nungguan yeuh.. hayu.. !”. Anakbuahnya ada yang tertawa. Tapi segera rombongan itu bersiap untuk bubar.
“Gi.. jangan bilang-bilang ke si Bapak ke si Mamah..”, kata om Gio sambil menaruh kunci mobil di pangkuanku. “Hayu ah..”. Rombongan lainnya berpamitan dengan cepat padaku dan tuan rumah. Suara-suara mereka akhirnya berlalu. Rombongan warga yang tinggal sedikit juga membubarkan diri.
Meninggalkanku yang masih bengong menatap nasib pak RT. Menatap kosong ke arah pak Dedi, yang sedang memandang ke arah mamah Elis sambil memegang wajahnya.
“Indit siah..! (pergi lu!), indit siah ti imah aing (dari rumah gua).. !”, mamah Elis berteriak mengusir suaminya pergi dari rumah. “Nyingkaaaaaaah…! (pergiiiiiiii..!).
Mamah Elis marah seperti kerasukan. Pak Dedi melompat ke arah pintu, tapi kembali ke arah kamar, ia berhadapan kembali dengan mamah Elis yang bersiap dengan sekuat tenaganya untuk memaki.
“Ambil barang aja Mah..?”, pak Dedi memohon.
“Dasar lalaki anying teu boga tulang tonggong.. panyakit.. parasit.. teu bisa ningali awewe.. dosa aing ka budak .. (Dasar lelaki anjing ga punya tulang punggung, penyakit, parasit, ga bisa liat perempuan, dosa aku sama anakku..)”, lalu mamah Esih menangis meraung-raung meraih memeluk Esih. “Hampuraa..
Aku menyepak betis pak Dedi yang malah terbengong melihat mereka bertiga.
“Indit siah..! (pergi lu!)”, kataku sambil berdiri.
“Barang saya A’?”.
“Barang naon? (apa?)”, aku mengangkat kepalan tanganku. Siap memukul untuk mengusirnya. Kepalang deh, kataku dalam hati.
Pak Dedi merundukkan wajahnya dengan takut, lalu meloncat pergi keluar keluar.
Aku membangunkan pak RT, dan mendudukannya di kursi. Meminumkan sedikit kopi yang masih tersisa disitu. Ia meminum sedikit, bersendawa dan memandang berkeliling seperti orang yang baru bangun dari tidur yang lama.
Kaum perempuan masih menangis bertiga berpelukan. Aku duduk kembali menunggu mereka sambil memperhatikan.
Malam semakin larut, entah jam berapa aku bisa pamit pulang. Orangtuaku pasti kehilanganku pada saat jam makan malam. Aku hanya mengeluh mendesah, memandang ke kegelapan malam diluar dengan hati yang gelisah tak tentu.
Bersambung… Dua hari telah berlalu semenjak kejadian penggerebekan diriku dan teh Esih. Walau pada akhirnya aku dan mobil Mamahku selamat, bahwa aku dalam posisi menang, tapi perasaanku jatuh tidak enak. Pikiranku sering galau kalau mengingatnya. Aku ingin melupakannya. Perasaanku stres.. apa ini karena aku lemah atau karena memang belum biasa?.
Tapi aku tak ingin terbiasa dengan hal-hal seperti itu, kekerasan, lebih baik menontonnya di Film saja atau di Game. Kita tau kan mereka hanya berpura-pura. Bohong-bohongan. Hal-hal seperti kemarin jauh dari bayanganku tentang kehidupan yang ideal, seperti yang diajarkan di sekolah Agama, di buku-buku para kisah ataupun di sekolah umum.
Maka ketika keluargaku mengajak untuk bersama-sama menjemput Tika adikku di Pesantrennya, aku pura-pura saja mau membeli buku dan peralatan lainnya untuk kuliah nanti. Karena sesungguhnya perasaanku masih gelisah, aku tak mau terlihat melamun dalam di hadapan kedua orangtuaku, mereka akan tau kalau aku sedang ada masalah.
Tentu saja ketiganya tadi, Bapak Mamah dan teh Selvi tak menerima ketika aku menolak untuk ikut. Rencananya setelah menjemput, kami akan menginap di Hotel di pemandian air panas di pinggir kota B. Akan tetapi akhirnya mereka mengalah dengan kegigihanku untuk tetap dirumah. Dan aku sendirian sejak dari pagi tadi.
Berbagai Film baru berjajar untuk disaksikan, Game online kesayanganku sudah aku Log In, tapi sungguh aku malas, pikiranku masih berjalan di Cicendet, bekas peristiwa kemarin. Akhirnya browsing porno di internet lah yang agak menenangkan kegelisahanku.
Setelah puas coli didepan layar komputerku, barulah pikiranku menjadi agak cerah. Aku merencanakan untuk pergi ke toko buku saja, membeli peralatan kuliah, dan ke tukang foto kopi untuk persiapan pemenuhan dokumen-dokumen yang diperlukan.
Tumben hari ini teh Esih belum WA?, kataku dalam hati. Kami memang selalu aktif berhubungan lewat social media. Teh Esih bercerita kalau kemarin pak RT dan istrinya yang sakit hati, membawa seorang polisi berpangkat perwira menengah datang kerumahnya. Masih kerabat istrinya katanya. Mereka mengancam akan menuntut Esih dan keluarganya.
Yang disebut belakangan bereaksi cepat, sekitar 20 orang anggota LSM mang Cahya datang dan berkumpul dirumah teh Esih, kecuali Om Gio yang tidak hadir. Tidak ada ribut-ribut, mereka rapat dengan damai. Walaupun belum bisa diambil kata sepakat.
Nama aku tadinya disebut-sebut oleh pak RT katanya. Tapi Om Cahya berkeras bahwa ia adalah wakilku disana, bila urusan ingin dibereskan. Akhirnya aku dipilih untuk tidak dilibatkan. Begitu kata teh Esih kemarin. Sekarang kemana dia ya?. Oh kemarin dia juga cerita, bahwa pak Dedi belum pulang-pulang sampai sekarang.
Anggota Om Gio, terutama mang Cahya & the Gang masih mencari-carinya. Beberapa mencari dengan pisau terhunus, syukurnya si hidung belang tua itu belum diketemukan. Akupun bersyukur pada Tuhan soal yang itu, tak tega aku kalau sampai dia kenapa-kenapa gara-gara aku. Yaah minimal gara-gara Esih juga lah, tetap aku tak kan tega dan akan menyesalinya
Ketika di toko buku, akhirnya teh Esih menelpku lewat media social.
“Halaw A’?”, katanya begitu aku angkat.
“Iya Neng.. cantik..”, jawabku.
“Hahahah.. bisa wae, lagi dimana?”.
“Di toko buku..”.
“Oooh sibuk yah..? Mau kerumah ga?”. Aku berpikir dalam hatiku, wah tawaran menggiurkan ini.. tapi..
“Liat nanti deh ya? Ini masih agak banyak yang mesti dikumpulin buat kuliah… ada apa emang?”
“Ah gapapa, ini pada mau ngeliwet katanya. Takutnya si Aa mau ikut? Si Mamah sama yang lain yang nyuruh juga.. nyuruh ngajak.. ”.
“Ooooh asyik dong ya? pengen siih.. tapi ini takutnya saya ada yang ketinggalan bekal buku sama peralatan..”
“Ooh iya atuh.. penting itu mah, iya atuh ya A?, Esih juga mau keluar aja kalo gitu, sama si Koh Teddy mau janjian.. iya atuh A ya? Esih bilangin sama Mamah Aa ga bisa gitu ya?”.
“Iya cantik.. jangan lama-lama yah?”.
“Apanya?”.
“Ketemuan sama koh Teddy nya..”
“Ooooh hahahaha.. iya.. kumaha Aa weh.. (terserah Aa aja) hahaha.. iya atuh udah dulu ya A?”.
“Iya cintaku., .”
“Ih.. Hihihi…”.
“Eh Neng? Teh? Esih?”.
“Iya A’?”
“Kamu lagi butuh bantuan ga?”. Aku sungguh kuatir padanya.
“Bantuan apa A’?”
“Lagi butuh uang..?”.
“Nnngggg… ngga sih, masih punya ini tinggal sedikit.. hahahaha”.
“Oooh takutnya lagi butuh… mau ditransferin?”.
“Ouh.. ga usah, nanti dulu deh A’, nanti kalo udah ga punya, minta sama Aa ya? Boleh?”.
“Oke oke.. iya boleh dong.. hehe, iya ga bisa ngasih banyak saya juga kan.. hahaha”.
“Iya Makasih Aa.. hatur nuhun udah mau juga.. udah atuh ya? Hujan gening (ternyata) ini.. Mau ngangkat jemuran..”
“Oooh iya iya iya.. enya Teh.. ”. Tut, telp ditutup. Aku menyeringai senang. Kenapa ya tiap-tiap ngomong sama dia hati ini terasa senang?. Apa karena sikap cerianya itu? Membawa senang pada tiap orang?. Hehe bisa jadi juga karena yang lainnya.
Hujan turun dengan derasnya. Iya padahal sudah di penghujung musim hujan, masih saja turun dengan derasnya. Aku mengendarai mobil Mamahku memasuki komplek tempat tinggalku. Aku pulang saja untuk beristirahat dan melamun lagi, masih cukup padat pikiranku. Tadi aku juga berbohong pada Esih soal pemebelian peralatan, hehe biar saja, mentalku belum cukup kuat kalau harus main kembali ke rumah Esih.
Begitu memasuki pos Satpam didepan komplek rumahku, salah satu satpamnya menyetop mobilku. Aku mengenalnya dan memberhentikan mobilku disebelahnya. Kaca mobil aku buka. Salah satunya menghampiri.
“Kang..? maap nih, ini ada yang nyariin Ibunya kang Egi, katanya masih keluarganya, jauh tapi..”, kata salah satu dari mereka.
“Oooh iya lagi pada ga ada.. kesana ke kota B, ngejemput ke Pesantren.. siapa Kang..?”
“Inih ada didalem, dari tadi da, pas hujan turun tadi.. kasian keujanan. Kenal sama keluarga kang Egi semua katanya.. dulu pernah kerja..”, lalu ia melongok kedalam pos dan memanggil.
Dari dalam keluar seorang Ibu-ibu yang membawa tas besar ditangannya. Ia memakai jilbab biru muda, bajunya kaos tebal mirip sweater tangan panjang warna putih dan celana jeans biru pucat. Aku menatapnya, rasanya belum pernah kenal aku sebelumnya.
“Mas..?”, serunya memanggilku. Ia menaruh tas beratnya dulu lalu menghampiri ke dekat jendela mobil.
“Mas..? Hiyaah.. udah gede mas Egi… udah lama gak ketemu, wah udah lupa ya?”.
Aku menatapnya mengingat-ingat. Dimana perasaan aku pernah melihatnya ya?. Iya aku kenal wajah ini, cuma lupa.
“Waaah.. si Mas udah lupa, tega ya si Mas sampe lupa..? ini aku Sri..! Sri yang dulu kerja di klinik, udah lama Mas, waktu Mas masih SMP kalo gak salah..”. Aku tetap terbengong, Sri yang itu kan dekil dan agak gemuk menurut ingatanku.
“Waaah Mas..?!, aku masih pona’annya Budhe Yen.. Budhemu..!”.
“Ooooooh waaaaaah.. iya iya saya inget Mba, walah ko jadi lain sih..?, jadi cantik..?”.
“Huhahaha, bisa ae si Mas.. hahaha aku mau ketemu Ibunya, Mas? Gak ada ya?”
Aku menggeleng, “Iya lagi pada gak ada..”. Aku memperhatikan pakaiannya yang kebasahan. Kasihan juga. “Kerumah dulu aja Mbak, nanti sore juga pulang..”.
“Ah.. ini di WA bilangnya besok kok pulangnya..”
“Wah hahaha..”, si Akang satpam tertawa. Disangkanya aku mau ngebuaya ngajak kerumah terus ketahuan mungkin. Teman satunya lagi yang sedang ikut tugas berjaga juga keluar turut menghampiri kami. Dari jauhpun dia sudah ikut nyengir.
“Bagian yang cantik cantik mah, langsung weh inget, langsung diondang kerumah.. hahaha”.
Aku tertawa. “Bukan Kang.. hahaha, iya ini kasian kebasahan… takutnya mau yang anget-anget..”, kataku membela diri. Tapi kedua satpam malah makin tertawa.
“Yang anget-anget yang kayak gimana Kang? Hahaha waduh bahaya nih, kang Egi permainannya dewasa.. hahaha”.
“Kampret..”, kataku dalam hati.
Si mbak malah mesem-mesem ikut tertawa tapinya.
“Ngga Mbak. Bukan bukan bukan kayak gitu.. maksudnya ya istirahat dulu lah gitu hehe dirumah saya.. sambil nunggu, tadi sih bilangnya hari ini pulangnya..”.
Aku menekankan maksudku bukanlah seperti para satpam itu yang dimaksudkan.
Si Mbak tersenyum senang, lalu mengangguk, ia membalik mau mengambil tas besar dan beratnya. Tapi salah satu dari satpam tersenyum dan berlagak mau mengangkatkan dan membawanya masuk ke mobil. Si Mbak lalu berlari masuk duduk di sampingku.
“Naah gitu dong bawain tasnya, bagus.. sopan.. jangan pikirannya yang ngga-ngga melulu..”, kataku pada mereka.
“Yaaah hahai, meunang lauk gede yeuh si Akang.. (dapet ikan gede nih si Akang).. hehe”. Kata mereka lagi. Aku tertawa.
Aku pun menggas mobilku meninggalkan mereka berdua. Aku sadar mbak Sri ini sudah lama di kota kami, mudah-mudahan sudah mengerti maksud tadi cuma becandaan.
“Maaf Mbak, becanda itu mah.. ga serius..”.
“Hahaha iya saya tau mas Egi.. hahaha biarin aja..”.
“Wah Mbak kemana aja? Ko baru keliatan? Udah berapa lama ya?”.
“Mmmm lumayan.. udah lima taunan lah ya? Gak kerasa..”.
“Emang dulu Mbak kemana..?”
“Mmmm nikah kan dulu..?”
“Oh iyah heheh.. si Mbak sekarang udah nikah ya? Hehehe..”.
Mbak Sri melirikku.
“Udah nggak lagi sekarang.. udah gak nikah..”.
“Ooooh kemana Mbak suami Mbak?”
“Mmmm.. meninggal kan.. udah lama udah setahun mungkin..”.
“Oooooh maaf ya Mbak, saya gak tau..”
“Iya gak apa-apa Mas..”.
Kami terdiam dulu sebentar.
“Trus Mbak? Katanya mau kerja lagi?”.
“Kata siapa? Mamah ya? Iya.. bu Linda bilang boleh masuk lagi aja. Tapi bukan ditempat yang dulu, ditempat yang baru.. aku malah belum tahu..”.
“Oooh gitu ya? Iya enak ada si Mbak lagi.. kerjanya pinter cekatan..”, kataku memuji.
“Ah.. masa? Bisa aja si Mas..”.
“Iya kata si Mamah.. terus ko Mbak jadi lain sih? Jadi cantik.. manis gitu penampilannya, kurus lagi..?, pake apa Mbak?”.
“Hahahaha masa? Emang aku dulu gimana?”.
“Iya dulu juga cantik sih.. dulu cuma item, terus agak gemuk, banyak putih-putih gitu di pipinya.. sekarang malah bersih.. agak putihan kulitnya.. bersih, cantik manis gitulah..”
“Hahaha.. dulu aku gitu ya?”.
“Iya hahahaha..”.
Mobilku memasuki pekarangan rumahku. Aku turun dan membawa perlengkapanku, tak lupa menyampirkan tas mbak Sri di pundakku. Waduh, beratnyaaa.. kataku dalam hati.
“Ayo masuk Mbak..”.
Aku langsung menaruh tas si Mbak di dekat kamar mandi di dapur. Siapa tau dia mau langsung mandi. Si Mbak celingukan, menatap kesana kemari.
“Wah udah lain ya ruangannya.. jadi enak gitu.. dapurnya luas..”, kata si Mbak.
“Iya kamar mandinya pindah ke kamar masing-masing, di bawah cuma ada satu di dapur.. ga ada air panas kalo disitu Mbak, mesti masak air dulu.. kalau di kamar saya ada, diatas.. langsung cuur air panasnya udah ada.. “, kataku mempromosikan kamarku diatas, hihi siapa tau dia terlena dan setuju.
“Aaah disini aja maas.. haha”, katanya sambil malu. Lalu ia membuka-buka isi tasnya. Benar saja ia mau langsung mandi. Tapi tiba-tiba ia mengeluarkan suara seperti orang mau muntah dari mulutnya, ia lari ke arah kamar mandi. Dan suara-suara orang muntah sedikit terdengar dari sana.
Aku mengambil panci yang agak besar dan menjerang air. Lalu menjentikkan kompor.
“Mbak masuk angin tuh.. keujanan barangkali, mandi terus makan terus minum obat Mbak, nanti saya bikinin mie rebus ya? Yang pedas..?”. tanyaku padanya setelah ia keluar dari WC.
Si Mbak mengangguk-angguk saja, mukanya seperti tak tahan dengan apa yang terjadi di perutnya. Tangan satunya masih dimulutnya. Aku kasihan padanya.
Akhirnya air panas tersedia, si Mbak mandi gejebur gejebur. Aku mencari celah untuk mengintip, tapi tak kutemukan caranya. Tak ada lubang atau bolongan atau apalah yang bisa kugunakan. Maka aku memasak mie saja sebagai gantinya.
Tapi setelah selesai mandi si Mbak keluar hanya dengan handuk saja. Tali behanya terlihat, rambutnya digerai basah, dan handuknya agak kurang besar. Lilitan handuk itupun mencetak tubuh perempuan dewasanya. Dadanya montok, terlihat lipatannya ditengah, pahanya setengah tak tertutupi handuk merah muda kusam itu.
Mbak Sri tak melirikku sedikitpun, ia langsung menuju tasnya untuk mengambil barangnya. Ia berjongkok sopan ala wanita disitu tidak mengangkang atau menungging, aku sungguh menyesalinya. Maka aku mendekatinya agar lebih jelas melihat belahan dadanya.
“Cari apa Mbak..?”, tanyaku basa basi.
“Ini baju.. aku lupa.. ”, ia melirikku sedikit. Cepat-cepat ditutupnya belahan dadanya dengan tangannya, mungkin ia tahu pandanganku selalu ke arah situ. Cepat-cepat pula ia berdiri untuk melepaskan tatapanku pada pahanya. Dan berlari kecil ke kamar mandi dengan membawa baju. Terdengar ia bersendawa keras di kamar mandi.
Aku sudah bersiap di meja makan dengan dua mangkuk mie rebus panas. Mbak Sri yang sudah berpakaian kaus lengan panjang dan rok panjang sampai mata kaki menghampiriku dan berterimakasih padaku. Rambutnya basah tergerai tidak lagi memakai jilbab.
Selama makan ia tak menatap wajahku. Ia menunduk terus sambil bertanya-tanya tentang sekolahku. Aku senang kami mengobrol. Selesai makan baru ia menatapku, dan berkata.
“Mas? Matanya itu lho? kok ngeliat perempuan kayak liat apa aja..? udah gede sekarang ya mas Egi..”, ia tersenyum teramat manis. “Udah punya pacar belum Mas..?”.
Lalu ia berdiri dan membereskan bekas makan kami.
“Aku bikinkan teh ya? Mas mau?”
Aku mengangguk dan menjawab agak malu, “Belum punya Mbak..”. Mbak Sri tertawa.
“Ah bohong.. ahhahaha… masa sih belum punya?”, tanyanya lagi melihat wajahku yang serius tidak berbohong.
Tapi tiba-tiba serangan mual mbak Sri kelihatannya menyerang lagi, ia langsung berlari lagi ke kamar mandi. Tapi suara-suara muntahnya sudah tak terlalu kencang seperti sebelumnya.
Ia keluar lagi dengan wajah kusut. Ia memegangi perutnya. Aku prihatin melihatnya.
“Udah minum obat Mbak..?”, aku berdiri dan memboyongnya lagi ke kursi meja makan.
“Belum..”, jawabnya lemas. “Obatnya punya?”, tanyaku. Ia mengangguk dan menunjuk tasnya. Aku mengambilkannya untuknya. Ia meminumnya dengan teh manis.
Setelah itu ia seolah setengah tertidur, wajahnya menelungkup di meja dengan kondisi masih duduk. Setelah seperapat jam berlalu, aku mulai kuatir, aku mencoba membangunkannya, ku goyang-goyang tangannya.
Ia menoleh dengan tersenyum, “Apa Mas..?”.
“Oh si Mbak kirain tidur.. mau istirahat Mbak? Ditidurin aja.. dikamar mau?”.
Mbak Sri bangun, menghabiskan sisa teh manisnya.
“Ga enak ah Mas..”, tapi ia menengok ke arah belakang dapur, dulu disitu memang ada kamar-kamar, dia tidur disitu dulu. Aku nyengir.
“Udah ga ada kamar disitu, si Entot.. eh, si Enot kamarnya di sebelah sana.. ga tidur disini, tapi dia dikasi kamar disana.. aku menyebut pembantu tua keluarga kami, bi Enot namanya, sudah lama dia bekerja, semenjak Mamaku kecil dia bekerja pada Nenekku, sekarang dia ikut Mamaku. Aku sering sebal padanya, suka cerewet, ngomel-ngomel dan suka mengadu apa-apa pada Ibuku, terutama kelakuanku, yang parah tuh suka ngarang juga dia.
Mbak Sri tertawa mendengarnya, dia juga pernah tahu sifat pembantu tua itu. Lihat saja sekarang, mestinya dia menyiapkan makan siang dan makan malamku, tapi kemana dia malah pulang.
“Saya cariin balsem ya..?”, aku lalu bangkit dan mencarinya dikamar Ibuku di tempat obat. Aku kembali ke dapur, tapi mbak Sri sudah tak ada, aku mencarinya ke teras belakang tempat kamar dia dulu. Tak ada juga. Ternyata dia berada di depan kamar bi Enot. Sedang berusaha membuka pintunya.
“Dikonci..!’, keluhnya kecewa. Aku turut mencoba membuka pintunya. Ternyata benar dikunci.
“Dasar si Entot.. kamar ga dipakai aja di konci-konci segala.. nyimpen apa sih dia..? bujangan barangkali..?”, kataku mengomel-omel. Mbak Sri tertawa.
“Mas kali suka entot dia.. hahaha”. Ledeknya.
“Idih.. amit-amit.. berdarah nanti titit saya sama dia sih.. haha”.
“Hoahahaha..”, mbak Sri tertawa terbahak-bahak, ia memukul-mukul bahuku perlahan sambil tertawa. Aku memegang tangannya. Dia berhenti tertawa dan menarik tangannya ragu-ragu.
“Mbak udah sembuh..?”, tanyaku. Dia diam menatapku.
“Masuk angin sih dikerok Mbak, itu obat yang ampuh.. abis itu tidur.. diistirahatin.. yuk?”.
“Sama siapa dikeroknya..?”
“Saya laah.. saya kan anak dokter..”, rayuku sambil mengacungkan balsam. Padahal sih apa hubungannya ngerok sama anak dokter.
“Dimana..?”, ia celingak celinguk kemudian menyisir rambutnya dengan tangannya.
“Kamar saya aja.. yuk..!”, aku menggandeng tangannya menyusuri jalan. Ia menurut, dan sesekali bersendawa kecil. Begitu kami sampai didalam kamar aku menutup pintunya, konci jangan ya?, pikirku. Ah, tak usahlah, ga ada siapa-siapa ini.
Mbak Sri masih berdiri kaku ditengah kamar, ia memandang berkeliling memperhatikan isi kamar. Aku memegang tangannya dan mengajaknya duduk dikasur.
Ia memandangku dengan lembut, aku memandang dan mengagumi wajah ayu nan mempesona ini. Aku mendekatkan wajah. Ia menundukkan muka memandang lututku.
“Katanya mau kerokan..?”, senyumnya tersimpul malu.
“Iya boleh.. “, aku menyentuh rambutnya. “Yang mana dulu.. ini?”, jariku menelusuri pipinya.
Mbak Sri tertawa dan mengambil tanganku, “Masak pipiku mau dikerok.. haha.. “, katanya menunduk kembali.
“Iya kan ga pake koin ngeroknya..”, kataku lembut.
“Pake apa..?”, tanyanya menatapku ingin tahu.
“Pake bibir.. “, aku menarik jemarinya dan menciumi punggung tangannya. Ia tersenyum manis dan menatap wajahku. Aku menyusuri tangannya yang masih terlindung kaosnya dengan bibirku. Tapi ia seperti teringat sesuatu.
“Mas..! jangan bilang-bilang Ibu Bapak lho ya kita begini..”. Aku mengangguk cepat tak sabar. Tapi ia memegang bahuku, “Bener lho..? aku takut kena marah..”, katanya lagi, wajahnya agak kuatir seolah meminta perlindungan dariku.
“Ga bakalan Mbak, bilang aja ini bagian dari pengobatan Mbak yang sedang masuk angin..”, kataku. Aku mencium keningnya. Terus menurun ke mata, pipi, dan ku sergap bibir atasnya.
Mbak Sri menahan cekikikan tapi begitu ku menciumnya, ia langsung membalas sergapan bibirku ke bibirnya. Ia meraup bibirku dengan penuh kemesraan, matanya terpejam merasakannya.
Aku melepasnya, “Bener kan Mbak? Sekarang udah sehat kan? Obatnya cinta.. tau saya ”, rayuku. Mbak Sri membelalak gemas menatap diriku, lalu langsung menerjangku. Ia menciumku seolah aku adalah Pangerannya yang telah lama ia rindukan.
Aku berbaring perlahan, mengajak pula mbak Sri yang masih memagutku dengan penuh cinta. Begitu punggungku telah berbaring dikasur, aku memeluknya kencang. Tangan mbak Sri naik mengacak-acak rambutku. Ia mengangkat kakinya agar bisa duduk diatasku. Tanganku naik meremas dari paha terus kepantat. Merabainya dari luar roknya.
Mbak Sri mendesah, ia membuka kausku, menciumi putingku, sesekali menggigitnya. Aku sekarang yang mendesah.
Tanganku menyibak langsung keatas rok panjangnya. Terlihatlah pahanya yang mulus. Gairahku langsung bangkit. Kuelus-elus panjang dari betis terus sampai ke paha. Tanganku pun mencari kaitan resleting rok mbak Sri, agar lebih leluasa. Terbuka sudah walau belum terlepas roknya.
Tapi mbak Sri mendorong naik kausku menuntut untuk dibuka, maka aku dengan cepat meloloskannya dengan bantuan tarikan mbak Sri. Setelah itu ia menjilati lagi dadaku, menurun sampai dekat dengan celana yang ia buka dengan cepat resletingnya. Tititku menonjol didalam CDku, kepala rudalku menyembul diatas karetnya.
Mbak Sri berdiri untuk membuka rok dan kaus tangan panjangnya. Tinggal memakai celana dalam dan BH saja dia. Ia kembali merunduk mengejar rudalku. Diemutnya dengan cepat, dijilatinya dengan nikmat. Aku mendesah memejamkan mata menikmatinya. Perasaanku terbawa ke awang-awang, ‘yeaaaaah nikmat sekaleeeeeehhh…’.
Setelah beberapa lama ia menyepong rudalku, dia memandangku. Tajam dan mempesona. Ia melanjutkan sebentar jilatannya ke pelir dan rudalku. Aku mengerang kecil.
“Waaaaah.. hebat banget sih Mbak..”.
“Enak ga Mas..?”, tanyanya mesra, tangannya masih mengocok-ngocok.
“Wuuuuuuuh..”, itu saja jawabanku. Mbak Sri terkekeh, ia membasahi rudalku dengan ludahnya. Dan kemudian menaikiku.
Aku melihat dia menyibakkan sedikit celana dalamnya, didalamnya jembut serambi lempitnya bertebaran hitam lebat. Aku makin tak tahan. Lalu perlahan, kepala rudalku digesek-gesekkannya pada bibir serambi lempitnya. Ia mendesah panjang.
“Aaaaaaaaah… sssssuuuuhhh…”. Dan ‘Bleb’, kepala rudalku menyeruak sedikit dinding serambi lempitnya. Ia tambah mengerang,”‘Aaaaaah..”.
Aku mengelus-elus pahanya menanti yang enak-enak selanjutnya. Sabar ku menantikan mbak Sri yang sedang menikmati tubuhku. Ia menarik nafas dan perlahan menurunkan pantatnya. Seiring dengan itu ia mendesah, “Auuuuuuhh.. penaaaaak tenaan (enak banget) rudalmu Mas.. aaaaaah”. ‘Clep’, kini rudalku telah masuk seluruhnya kedalam tempiknya.
“Aaah.. aaah.. aaah.. aaah.. aaah”, desahnya sambil tetap menutupkan mata. Ia kelihatan enak menikmati sendiri kayuhannya. Tak lama vokalnya berubah menjadi, “Uuuh.. uuh.. uuh.. uuh.. Suara kocekan serambi lempit terdengar diantara itu semua. Aku pun bukan tidak menikmatinya, mana bisa pura-pura tidak merasakannya.
Sungguh tak terperikan enaknya, kalau diibaratkan beras, ini beras Cianjur yang ditanam dengan pupuk organic. Pulen dan mengenyangkan penikmatnya. Begitu pula serambi lempit mbak Sri, terasa memenuhi semua kebutuhan rudal akan kenikmatan. Tiba-tiba nafas mbak Sri mulai terburu-buru. Ia memelototiku sebentar dan memaju mundurkan selangkangannya dengan kencang.
Aku mengangkat beha yang menampung payudaranya, begitu terangkat behanya, susu indah itu segera terjatuh indah dan ikut bergoyang. Aku meremas keras dada besar itu. Sripun menjerit seiring remasanku. “Aaauuw Maaas.. sakiiiiiiitt eeeuh.. !”.
Dan tangannya mencengkram dan menahan pada perutku, ia melakukan gerakan-gerakan seakan gemas dan sebal akan selangkanganku. Menghentak-hentak sambil merintih, “Aaaaa ssshhhhh. Dan terakhir, ‘jep jep’, selangkangannya mengejut-ngejut. Ia orgasme seketika.
“Aaaaaaaaaah..”, katanya. Matanya terbuka, dunia kelihatan lebih cerah dimatanya. Ia puas dan lemas berbaring pasrah ditubuhku. Aku mengangkat wajahnya dan melumat bibirnya dengan kuat. Ia membalas lumatanku mesra penuh kepuasan.
Aku membaringkannya pelan ke samping, kini aku yang menaikinya. Wajah Sri yang puas kini memandangku dengan penuh akan kekaguman, aku sekarang telah menjadi Pangerannya yang tampan yang akan memenuhi semua keinginannya, mungkin, dalam bayangannya.
Aku menindihnya, aku ingin tetap bisa mengewenya tapi sambil berciuman mesra. Tapi sulit ternyata, bibirku posisinya berada di keningnya. Aku masukan saja dulu rudalku sebelum mencari posisi bibir yang pas. Sri membantu dengan tangannya agar rudalku bisa menelusuri dinding dalam serambi lempitnya. “Aah.. ”, katanya ketika telah masuk.
Aku memompa dengan cepat tapi stabil. Sekitar 1 detik dua pompaan. Pas ini dengan kenikmatan yang ingin kurasakan. Sri mulai gelisah kembali dengan kayuhanku, pantatnya ikut bergoyang secara naluriah menerima kenikmatannya. Aku menindih dengan menambah jepitan badanku pada tubuhnya agar ia tak bisa bergerak kemana-mana dan hanya akan menerima entotanku pada dirinya.
Benar saja ia mulai menjerit-jerit kecil merasakan apa yang terjadi pada kemaluannya. Hanya ada kenikmatan peraduan kemaluan kami disitu. Ia memejamkan mata lagi, berusaha berontak karena tak tahan akan segera mencapai kepuasan lagi. Dan.
“Oooooooooouuu..”, ia mengejan lagi, nafasnya ngos-ngosan. Ia membeliak menatapku kagum lama seolah berterimakasih.
“Saya mau keluar juga sebentar lagi Mbak..”, kataku mengingatkan.
Ia mengangguk, dan bibirnya menengadah mencari bibirku. Tangannya ia bebaskan untuk menjenggut-jenggut rambutku.
Aku mempercepat pompaanku menjadi dua kali kecepatan sebelumnya. Mbak Sri mendesah lagi. Wajahnya yang manis mulai terlihat keringetan, ia membolak-balik ke kanan kiri, menikmati pompaanku. Kulit rudalkupun menjadi kemeng merasakan kenikmatannya. Denyut nadi di rudalku mulai berdetak kencang tak beraturan.
“Aaaaaaargh.. aaah.. aaah..”. ‘Creeeeet.. creeet.. creeet, aku memuntahkan seluruh isi pejuhku kedalam rahimnya. Diapun menjerit kecil. “Aaaaah.. “. Ia pun mengejan beberapa kali.
“Aaah..”, aku tergolek sebentar diatas badannya sebelum menggelosoh ke sebelahnya.
“Waaauw..”, mata mbak Sri membesar memandangku, kemudian menciumiku.
“Mas Egi ganteng banget yah sekarang.. udah gede..”.
Aku tersenyum, “Mbak puas juga kan? saya puas banget.. enak ”.
Mbak Sri terkikik, “Coba pinternya Mas dari dulu, aku gak usah pulang ke kampong.. kawen..! hahahaha..”.
“Saya pinter dari dulu, cuma ga berani deketin Mbak..”.
“Masak..?, ia mencolek pipiku.
“Iya maksudnya dari dulu naksir sama Mbak.. pengen gituan sama Mbak..”
“Hahahaha.. aku dulu belum ngerti, boro-boro tau rasanya gituan.. kerja aja yang aku pikirin..”
“Haha.. kalo saya dari dulu pengen tau rasanya gituan, yang saya pikirin ya gimana caranya supaya Mbak mau gituan ma saya.. hahaha “.
“Hahaha.. iso ae si Mas.. ”, ia mau mencium bibirku lagi. Tapi mukanya berubah masam, ia bersendawa dengan suara berat. Lalu langsung bangkit melompat menuju kamar mandi. Disana terdengar lagi sendawa-sendawa berikutnya. Dan suara toilet disiram. Ia keluar lagi dengan wajah menderita.
Aku berdiri untuk mengambilkannya handuk. Ia menerimanya. Dan mengelap muka juga kemaluannya.
“Handuk siapa..? maaf ya..?”, tanyanya.
“Handuk saya.. iya gapapa”, nanti biar dicuci sama si Enot, pikirku.
Aku menyalakan computer dan menyalakan music romantis dari sana. Volumenya agak kubesarkan.
“Masih sakit ya Mbak..? kumat lagi? Wah salah tadi harusnya kerokan dulu.. ya? Saya pijit dulu aja deh.. yuk.. Aku mengambil balsam yang tadi kutaruh di meja. Mbak Sri tak menjawab, ia duduk dikasur sambil memegangi kepalanya, tubuhnya dililit handuk milikku. Aku menghampirinya, dan mendorong lembut tubuhnya agar berbaring.
“Iya Mbak, tiduran aja.. “.
Si Mbak tiduran menelungkup, wajahnya masih kelihatan sengsara, matanya menutup. Aku membuka handuknya yang menghalangi. Ku lempar ke samping kanan ke bawah ranjang. Tubuh mulus itu lagi terpampang dibawahku, aku mendudukkan diri diatas paha, sedikit di bawah pantatnya. rudalku sudah bereaksi lagi.
Aku membalurkan balsemku ke punggungnya, dan mulai memijit perlahan. Mbak Sri mulai bersendawa, terasa enak mungkin pijitanku. Walaupun tak pandai memijit, aku tahu tempat-tempat yang pas untuk masuk angin, diantaranya ku memijitnya di pinggangnya. Kalau memijat ke bagian samping dadanya, ya itu untuk hiburan bagiku.
Wajah mbak Sri mulai membaik, ia tak menyeringai lagi. Ia berdehem.
“Ehm.. Enakan badanku Mas, makasih lho.. dari tadi aku ngerepotin terus..”, katanya lembut.
“Hehehehe.. sama-sama Mbak, saya kan tadi juga udah dapet bonus.. “, jawabku.
“Bonus apa, Mas..?”
“Ini.. !”, aku mencolek belahan pantatnya yang dekat serambi lempit.
“Ah..! hahaha, bonusnya sama-sama itu sih Mas, sama-sama suka huhuhaha.. “.
Kami terdiam. rudalku yang sudah mulai ngaceng lagi ku tekan-tekan ke belahan pantatnya, lembut dan empuk terasa.
“Uuuh.. “, desahku. Mbak Sri tertawa,”Kepengen lagi ta Mas..?”.
Aku terdiam, karena di antara riuhnya hujan kudengar seperti ada suara menutup pintu mobil.
“Siapa ya?, ah mungkin tetangga pulang..”, pikirku.
“Yaah dikasih badan mulus begini dihadapan.. yah saya pasti pengen terus.. hehehaha”. Akhirnya ku menjawab.
“Hahaha.. Bener ta Mas? Aku masih mulus? Aku udah tua sekarang.. udah 35..”. lalu ia diam seolah menyesali umurnya.
“35? Masa? Ko kaya masih 25..?”, hiburku.
“Hahaha gombal, aku juga kawin telat dulu Mas.. umur 30 baru kawin, itu juga dipaksa Ibuku, makanya aku sekarang udah tua, anakku masih 4 tahun..”.
“Sekarang dimana anaknya Mbak..?”
“Dikampong.. sama Mbahnya..”.
“Lho ko ga diajak sini..?”
“Nanti, kalo udah enak kerjanya Mas.. sekarang cari duit aja dulu, buat sekolahnya..”.
Aku diam menanti kalimat selanjutnya, jariku kini menyentuh-nyentuh serambi lempitnya, sudah mulai basah.
“Aaaeuuh.. sssshh… dulu suamiku juga duda Mas, beda 14 taun umurnya sama aku… cuma orangnya rajin.. usahanya lancar.. makanya Ibuku suka..”.
Aku menyentuh-nyentuhkan rudalku ke bibir luar serambi lempitnya, ah rasanya memang luarbiasa, apalagi sudah didalam serambi lempitnya, lebih yahud lagi rasanya. Maka kemudian aku menindih tubuh telungkupnya, ku arahkan tititku memasuki celah ketat nikmat tersebut.
Tapi selagi aku sedang berusaha memasuki serambi lempit mbak Sri, tiba-tiba pintu kamarku terbuka dengan kencang
“Clek.. Wuss.. brak.. !”.
Lalu.. suara riang adikku memenuhi ruangan kamarku.
“A’a… nih Tika bawain inih.. ”, ia berdiri di pintu dengan ceria sambil menunjukkan sebuah Compact Disc yang gambarnya mainan untuk di computer. Aku melongo terpana tak bisa berkata apa-apa. Tapi beberapa detik kemudian, setelah adikku itu dapat mencerna apa yang dilihatnya, apa yang sedang aku lakukan dengan mbak Sri.
“Aaaaauw… Mamaaaaaah… Bapaaaaa.. si A’a keur naooon..?! Ejeung awewe…!! (si A’a lagi ngapaiin.. sama perempuan). Ia berlari kebawah dengan ketakutan dan berteriak-teriak., seolah yang dia lihat aku ini sedang memuja setan atau apa lah.
Aku dan mbak Sri langsung melompat berbarengan. Kepanikan dan ketakutan membuat kami serabutan segera memakai baju kami. Wajah mbak Sri pucat pasi, aku lebih lagi mungkin. Sementara memakai baju, aku melirik ke arah pintu, satu lagi wajah berjilbab yang terbelalak menatap kami. Itu Erika, anaknya Om Gio..
Dibawah, Tika masih berteriak-teriak “si Aa bubuligiraaan jeung awewe (si Aa telanjang-telanjangan sama perempuaan) .. Mamaaah Bapaaa Teteeeeh…”.
Lalu terdengar langkah-langkah menderap menuju atas, menuju ke kamar kami. Mbak Sri memukul pelan perutku.
“Ih Mas?!, kenapa ga dikunci sih tadi pintunya..?!”. Aku hanya menatapnya nanar, tanganku berada dikepalaku. ‘Iya tadi aku pikir ga ada siapa-siapa..’, keluhku dalam hati… Kami sudah selesai berpakaian. Kami berdua berdiri menanti pasrah apa yang akan terjadi.
Yang pertama muncul adalah wajah Ibuku, pandangannya berganti-ganti dari aku, mbak Sri, aku, mbak Sri lagi, lalu kasur dan handuk yang acak-acakan. Ia mulai menyimpulkan, apa yang diteriakan oleh Tika benar, ia mengangguk-angguk dengan marah sambil menghampiriku dan ‘plak.. plak.. plak..’.
Puncak kepalaku ia keplak beberapa kali.
“Ih..! ih..! nu edan siah..! Ih.. !”, begitu katanya tiap keplakan di kepalaku.
Selvy muncul kemudian menatap kami kebingungan, dan akhirnya menyimpulkan juga. Ia menatap jijik kami berdua, dan tak ada komen menyakitkan yang biasa ia curahkan, terlalu kaget dan keterlaluan mungkin kejadiannya menurutnya.
Mamahku mengambil raket listrik penepak nyamukku. Cilaka..! Entah apa yang akan dilakukannya padaku dengan itu, sementara ia bersiap dengan garang memandangiku. Diacungkannya raket itu, hendak dikeplakannya lagi ke kepalaku.
Bapakku masuk dan menepis raket nyamuk tersebut. “Eeh.. sudah.. sudah atuh Maah.. naon siga lain ka budak wae.. (apaan, kayak bukan ke anak aja..)”.
“Kesel abisnya..! (Keheul atuda.. !)”.
“Iya sudah sudah sudah turun turun kebawah.. dibawah saja.. kita obrolkan.. iyah dibawah sajah.. ”. Bapakku mendorong kami berdua bergantian, mbak Sri dan aku, ia menepuk di lengan kami masing-masing. Tapi Mamahku mencekal tangan mbak Sri kencang, dan menariknya.
“Eeeh.. apa itu (naon eta) si Mamah.. anak orang lain juga.. (anak batur oge..). Kata Bapakku melihat kemarahan Ibuku. Mamahku seperti terkaget, ia melepaskan tangan mbak Sri. Kemudian duluan pergi ke bawah sambil marah-marah. Ngocoks.com
Aku dan mbak Sri digiring Bapakku menuju kebawah, mulai terdengar tangisan mbak Sri. Aku menunduk, merasa begitu bodohnya kami berdua, melakukan hal-hal yang seperti ini, kalau ketahuan ya seperti sekarang ini, mempertaruhkan karir mbak Sri. Kalau ga ketahuan sih tidak akan segawat ini.
Ketika dibawah aku melihat Mamahku berdiri diruang tamu menghadap pada Tika yang sedang duduk dipeluk oleh Erika. Kelihatannya Tika menangis, ia menutup wajahnya. Mamahku kembali berwajah garang ketika melihatku.
“Dimana..?”, tanyanya pada Bapakku.
“Di dapur we lah..”, katanya menunjuk pintu dapur dan duluan memasuki ruangannya. Aku memperhatikan Erika, dia tak menunjukkan perasaan apa-apa. Tidak sedih, marah, jijik atau apa-apa, tenang saja seperti tak ada apa-apa, apa ia setangguh Ayahnya mungkin dalam menghadapi situasi apapun?.
Di dapur ternyata sudah ada Selvy, ia menatap kami dengan mulut terbuka lebar.
Mamahku kemudian masuk, ia mengambil sebotol air kemasan. Ia duduk di ujung meja makan, dekat dengan kami. Aku tahu air kemasan itu nantinya akan habis disiramkan ke wajahku, bukan dia minum.
Aku duduk di kursi meja makan bersebelahan dengan Sri. Bapakku duduk di seberang kami, menatapku dengan lelah. Mamahku di sisi sebelah kiri, dekat dengan aku. Selvy masih berdiri menyeduh sesuatu, sambil sesekali melihat pada kami.
Aku memandang berkeliling, rasa-rasanya seperti baru kemarin ini. Ditangkap basyah sedang berzina. Iyap betul kata orang pintar yang ada di buku. Sejarah Selalu Berulang. ‘Haddduuuuuuuh.. Lagi-lagi terjadi ’, aku mengeluh dalam hati sambil menutup wajahku.
Mbak Sri mulai menangis dengan kencang.
“Maafh Bapha Ibhu.. maafin sayhaa.. maafh sayha khilaaaafh.. huhuhu… bugand magsud sayha ng.. nghodha anak Baphaaa sama Ibhuuuuu… hua huhuhuhuhu.. suaranya sudah bindeng tercampur ingus di hidungnya karena menangis. Ibuku meliriknya sebal, tapi kemudian menatap Sri lama, ia mengerutkan keningnya.
“Eh.. Ini.. ”, ia bulak balik memandang Bapakku dan Sri, “Ini teh.. Sri bukan..? ”, tanya Ibuku tak percaya. Sri mengangguk dan kemudian menangis lagi. Selvy menatap terbelalak pada Sri, tak menyangka juga mungkin itu adalah mbak Sri. Ia lebih terkejut dari Mamahku. Aku tahu keterjutannya ini adalah karena si mbak Sri kelihatan telah berhasil menurunkan berat badannya, sementara ia tak juga ada hasil.
“Astagfirullah.. Sri? Kenapa atuh kamu sampai beginian..? sama anak saya lagi..?”, Mamahku menggeleng-geleng sebal dan menahan marah. Mbak Sri bangkit kemudian menubruk kaki Ibuku dan menangis di pangkuannya.
“Maafh ya Bhu.. huhuhu aha.. Sri bukannya orang yang ga tau diri.. maaaaf ya Bhu… Sri khilaaaaf..”. Ia terus menangis histeris di pangkuan Mamahku. Ibuku berpaling berpandangan dengan Bapakku dengan kuatir. Bapakku melepas kacamatanya, ia mengambil handphone di sakunya dan menelpon seseorang.
“Halo? Ca? lagi ngapain? Lagi dimana? (keur naon? Keur dimana?)”. Bapakku mendengarkan suara orang diseberangnya.
“Hah? Oh mau kesini? (rek kadieu?) Udah deket dong disitu mah? (Atuh geus dekeut?) Ooh iyah atuh, gapapa.. Tadinya mah mau minta tolong sekalian gitu pangjemputkeun si Mbak.. Mbak Yeyen.. iya atuh, iya udah kesini dulu ajah.. iyah”, lalu ia menutup telponnya.
“Waaah si Cahya mah udah deket disini, udah didepan, tanggung atuh kalau disuruh balik lagi ngajemput si Mbak Yeyen mah.. siapa atuh ya? Si Wira aja gitu? Lagi dimana dia ya?”, kata Bapakku, entah pada siapa.
Bersambung… Susu kental coklat terhidang diatas meja, Selvy ternyata berbaik hati membuatnya untuk kami, asapnya mengepul mengundang untuk dirasa. Mamahku membangunkan Sri, menyuruh Sri mengambil gelas susunya dan duduk kembali di sebelahku.
Aku menyeruput susu coklatku dan mengusulkan perlahan, “Si pak Mistin weh atuh Pak..”. Bapakku bingung menatapku.
“Apa,,?”
“Pa Mistin yang ngejemput aja.. suka main ke daerah situ da.. dia”.
“Kok? Kamu tau darimana?”. Nah.. aku bingung menjawabnya, aku diam saja akhirnya.
Ayahku menelepon pak Mistin dan berbicara panjang, mengobrol masalah pekerjaan juga soalnya. Mamahku menunduk melibat-libatkan jarinya. Dan menunggu, keningnya berkerut lebih dalam dari sebelumnya.
“Iya ditungguan buru.. cepet nya? Iya ku saya si Mbakna ditelp heula.. enya.. ada penting gituh.. enya, iya sip..”. Bapakku menutup telpnya. “Iya katanya si pa Mistin yang ngejemput”, katanya ke Mamahku. Lalu ia menyeruput susu nya.
“Telp atuh si Mbakna heula (dulu)..?”.
“Sama Mamah ajah atuh.. kagok Bapak mah, ga enak..”.
Mamahku mengangguk, mengambil telpnya, lalu menyiapkan suara dan wajahnya untuk berbasa-basi dengan Budhe Yen. Ia memilih keluar dari dapur dan menelepon dari teras belakang. Bapakku menatapku.
“Jadi Gi.. yang sudah dilakukan oleh Egi ini fatal, jelas-jelas memalukan keluarga, melanggar hukum agama, adat dan hukum Pemerintah kalau tidak salah.. ”, Bapakku menyeruput lagi susunya. “Jelas tidak mungkin lah Bapak sama Mamah akan membiarkan ini saja.. yang jelas Bapak sama Mamah kemungkinan harus lebih memperhatikan Tika dulu adik kamu, kalau-kalau dia ada trauma atau yang semacamnya.
Akhirnya Bapakku meledak juga, ia melotot memandangku sampai wajahnya mirip dengan orang yang tidak waras. Aku diam menunduk tak menjawab, Bapakku ini jarang marah.. tapi kalau marah alamat gawat pemirsa.. lebih baik diam dulu.
Agak lama kami terdiam, lalu suara-suara sendawa muntah Sri mulai muncul lagi. Ia celingukan kanan kiri sambil menutup mulutnya dengan tangannya, akhirnya karena tak tahan ia berdiri.
“Maaf.. Pak”, Ia lari ke kamar mandi dapur dan muntah-muntah disana. Tidak ada yang di dapur yang tidak mendengar suara-suaranya. Bapakku terkejut dan menatapku dengan pandangan siap melemparku dengan kursinya.
Mamahku masuk lagi ke dapur, ia menulis sesuatu dihapenya dan berkata pada Bapakku.
“Iyah katanya Pa.. udah mau berangkat kesini, udah ada pa Mistinnya, cepet nya si pa Mistin..? Tapi lalu ia terdiam. Ia pun mendengar suara mbak Sri yang sedang muntah-muntah. Langsung tak terbayang olehku perasaan apa yang ada di wajah Mamahku, warna mukanya berganti-ganti, pucat, merah, abu-abu lalu hitam..
Aku gelagapan, memandang ke kanan kiri, “Masuk angin itu mah…”, belaku panas dingin. Iya aku baru berpikir sekarang, jangan-jangan dia sedang hamil? Aku tak terpikirkan tadi, kan dia bilang suaminya udah meninggal setahun yang lalu tadi?.
Mbak Sripun keluar dari kamar mandi dengan wajah merana. Ia terkejut bahwa semua orang memandangnya dengan rasa ingin tahu. Sri cepat-cepat menunduk dan duduk kembali.
“Sri kamu kenapa? Masuk angin bener? Atau… Hamil..?”, Ibuku menanyainya dengan tegas. Sri terkejut. Ia menggeleng.
“Belum tau Bu..”, katanya. Mamahku melotot.
“Vy, ambil itu testpack di kamar Mamah..”, Mamahku menunjuk kamar memerintah kepada Selvy. Selvy memberengut dan menggeleng-geleng. “Iih ga tau ah.. dimana..?”
“Eeeeeeeh.. ambil (cokot) Selvy..!”, Bapakku hampir berteriak. Selvypun melesat keluar dapur.
Diluar ada suara mobil menggerung sekali dan suara pintu-pintu mobil dibuka dan ditutup.
Aku tak memperhatikannya, aku ikut bergetar karena ketegangan ini, walau aku tahu dan bertanya-tanya, masa baru tadi dicrot sekarang udah hamil sih? Aneh aja nih si Sri… kataku dalam hati. Aku mengacungkan tanganku.
“Masuk angin itu mah Pa.. Mah, kahujanan.. basah tadi sampe rumah.. muntah-muntah sakit.. makanya sama Egi dikerok, terus hampir terjadi kejadiannya, eeehh.. keburu kepergok si Tika..”, kataku berbohong. “Lagi kerokan tadi teh..”.
“Ah..! ngabohong wae siah..”, Mamahku memotong, “Kamu udah kejadian begituan sama Egi, Sri?”.
Sri mengangguk. Melihat itu, aku menutup mata pasrah. ‘Hadeuh ga kompak nih sista satu nih..’, kataku dalam hati.
“Udah berapa kali? Jujur..”, tanya Mamahku lagi. Sri bersendawa lagi. Ia mengacungkan telunjuknya, “Baru satu kali..”.
“Oooh.. kapan? Baru tadi? ”, Mamahku bernafas lega dan memandang wajah Bapakku yang mengusap wajahnya juga lega.
Lalu kemudian, terdengar suara salam perempuan dari arah depan. Selvy yang menjawab salam dan mempersilakan masuk.
“Dimarana..?”
“Ini disini Neng Nur.. Didapur…”, bapakku berteriak menjawab.
Masuklah bi Nur, istri mang Cahya, dan anak-anaknya yang lucu-lucu. Melissa 7 tahun, dan Nancy 4 tahun. Kami sekeluarga senang dengan mereka. Mereka cantik, baik, pintar dan hafalan Al Qur’an nya sudah maju.
“Eeeeei.. aduh aduh aduh si anak-anak cantik dan sholehah.. kemana aja atuh ini.. “, Mamahku menggembira-gembirakan suaranya dalam menyambut mereka. Mamahku menciumi mereka satu persatu.
Selvy mengambilkan mereka susu cair dalam kemasan kecil. Dan berbasa basilah mereka, bi Nur, Selvy dan mamahku. Hanya Bapakku yang terdiam, dia kelihatan tua dan lelah.
Dan.. masuklah orang yang akan aku hindari bila sedang dalam permasalahan seperti ini, Mang Cahya. Ia masuk dengan klamar klemer seperti biasa, senyum dipinggir bibir sedikit seolah menanti sesuatu yang lucu yang akan terjadi.
Ia repot membawa-bawa tas berisi perlengkapan anak-anaknya. Seperti biasa ia lalu ramai ikut berbasa-basi, mencium tangan kedua orangtuaku dan menatapku heran karena tidak segera menghampirinya untuk bersalaman atau berbasa-basi.
“Gi? Naon Gi?”, tanyanya. Kemudian tertumbuk dimatanya ada mbak Sri yang sedang duduk dsebelahku. Ia bertanya berkeliling heran, “Itu siapa? (ai eta saha?)”. Tapi tak ada yang menjawab.
“Mmmh.. bau alcohol ah kamu ah..”, tegur Mamahku mengernyitkan hidung dan menyingkir kembali ke tempat duduknya di dekatku.
“Mana? Ah masa? Oh haha ini.. hehehe iya tadi disuguhin minum sama anak-anak tadi sedikit.. ga enak ga diminum mah..”.
“Sedikit..?”, bi Nur mencemooh.
“Ah hahhaha iya sedikit, nih se umprit.. hahaha”.
Tapi segera ia berhenti lagi tertawa. Ia mulai mencium yang tak biasa, mengenali ketegangan kami. Apalagi wajah lelah kakaknya yang menyiratkan ada sesuatu. Ia berpandangan bertanya-tanya berkeliling, kemudian mengambil kursi dan duduk di sebelah Bapakku.
“Ada apa sih? (aya naon sih?)”, tanyanya berbisik keras pada kakaknya.
Tiba-tiba pintu terbuka lebar, di ambangnya Tika dan Erika berdiri disitu. Tika masih cemberut, tapi langsung berubah begitu melihat Melissa dan Nancy, ia berteriak ceria, berhalo-halo dan mengajak kedua anak lucu itu ke kamarnya. Tak lupa memandang marah kepadaku dan menunjuk berseru.
“Iih.. orang itu kudu di Rukiyah..!”, sehabis itu ia menghilang lagi di balik pintu beserta anak-anak lainnya. Mang Cahya dan bi Nur makin kebingungan dan merasa geli, mereka menatap pada Bapakku menuntut untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Bapakku mengusap lagi wajahnya, malas kelihatannya ia bercerita, tapi ia bercerita juga dengan suara perlahan, cukup jelas suaranya untuk mereka berdua.
“Yaa begini ini, sudah mulai nakal ternyata si Egi ini, keterlaluan dan kenakalannya sudah terlampau fatal, jadi ceritanya si Egi teh lagi berduaan di rumah.. sama Sri ini..”, Bapakku menunjuk Sri, mang Cahya mengangkat alisnya.
“Sri ini.. datang kesini dari Jawa mau masuk kerja lagi diklinik. Ini si Sri tea dulu yang pernah kerja lama disinih, masa kamu ga inget.?”.
Mang Cahya mengerutkan kening dan memiringkan wajah. “Ooooh hahaha iya bener.. iyah dulu di Klinik, iya hahahaha. Udah lama. Tapi kok…? Jadi beda yah bener, dulu mah perasaan jelek (guladig) wajahnya, ko jadi manis begini..? masih inget ga sama saya?
Mang Cahya berdiri dan mengajak bersalaman dengannya, Sri mengangguk dan mencium tangan mang Cahya yang terus tak henti berbicara.
“Bener ini mah sudah laen, pake apa Sri..? itu dandannya? hehe.. soalnya Sri mah makin cantik, kalo istri saya mah ini makin item.. hahaha makin dekil, apa terlalu sering ketemu ini saya? Hahaha”. Bi Nur menekuk wajahnya, ia mengomel sambil memukul bahu mang Cahya. Semua ikut tertawa tak terkecuali Bapakku.
“Ngga becanda.. Mah..”, lalu berpaling pada Bapakku lagi, “Terus kumaha lagi Kang..?”.
“Makanya kalo orang cerita teh jangan suka di potong-potong deeh, huu.. jadi aja ga ngerti..”, kata bi Nur memukul lagi lengan mang Cahya.
“Hehehe.. iya, tadi teh sampe mana? Ah, si Egi sama Sri duaan iyaah..”, Bapakku meneruskan cerita. “Nah berhubung si Sri ini kehujanan.. maka terus si Egi kasihan, masuk angin katanya mah. Ini menurut versi mereka nih Ca? Belum ketemu versi aslinya. Dikerok lah si Sri ini..”.
“Ouuuuh.. oleh si Egi?”, Pamanku mengangguk-angguk dengan berlebihan karena mulai mengerti jalur ceritanya, “Dimana?”, tanyanya.
“Di kamar si Egi..”, Selvy yang menjawab. Mbak Sri bersendawa lagi.
Bapakku meneruskan lagi. “Nah itu, memang karena kalau kita berdua-duaan, bukan muhrim, pasti ada yang menemani, yang pasti adalah setan.. maka terjadilah..”.
“Hal-hal yang menyenangkan si Egi?”, Mamangku memotong.
“Dosa besar itu..”, Bapakku meneruskan tanpa memedulikan mang Cahya.
“Hahaahaha..”, mang Cahya terbahak. Ia berhenti sebentar menatapku tak percaya, kemudian terbahak lagi, “Hoahahahaha…”, sambil menutup wajahnya yang memerah.
“Ketahuannya lagi gimana..?”, tanyanya disela tawanya.
Mamahku cemberut menatapnya.
“Ya lagi telanjang-telanjangan weh lah pokona mah..”.
“Hiahahaha.. aduh aduh Gusti.. maaf maaf, gelo atuda (abisnya) si Egi euy.. edas.. udah ga ketemu berapa taun Sri? Langsung disambut itu sama si Egi..? biar betah lagi kerja disini mungkin Sri..? wah hahaha.. ”.
“Gelo siah si Akang.. “, kata Bi Nur pada suaminya.
Bapakku menatap sebal ke arahku.
“Coba Gi..? untung ketahuannya disini.. dirumah sendiri, masih oleh keluarga sendiri. Coba kalau di luaran.. dikampung orang? Sudah disidang pasti.. digerebek.. !, di kawinkan langsung ditempat..! mau kamu emang..??”. Bapakku berbicara menakut-nakutiku. Mang Cahya langsung berdiri menunjukku.
“Nah itu.. itu dia Kang.. untung weh ga di sidang sama pak RT dan pak Dedi, hoahhaha.. hiaaahaaha.. “, mang Cahya terbahak sambil duduk menyandar di kursinya, badannya miring ke kiri dan ke kanan dan, ‘Gubrak.. ’, ia jatuh beserta kursinya.
Walau begitu tawanya masih terdengar dari bawah kursi. “Waduuuuh…”, katanya akhirnya sambil muncul dari bawah.
“Eh iya inih..”, kata Selvy sambil menyerahkan testpack bermerek ‘Brahi’ pada Sri. “Lupa tadi.. yang ini kan Mah..?”. Ibuku mengangguk. Mbak Sri menerimanya sambil berjalan ke kamar mandi.
“Wah.. Memang sudah berapa kali? Hebat bisa langsung tokcer begitu.. Tak ada yang mengindahkan kata-kata Mamangku. “Mamang aja mesti nunggu 1 sampai 2 bulan lebih baru bisa tau jadi apa nggaknya, tapi ini waduuuh… nah, kita tunggu hasilnya, kalo jadi hasilnya positif, luarbiasa itu Gi. Bisa jadi duit..
Mamahku memandang sebal ke arah pamanku, ia membuka botol air kemasannya dan ‘pret’, ia malah menyiramkan airnya ke wajahku.
“Memang anak ini tuh.. kurang kesadaran agama.. padahal sekolah agama udah cukup dari kecil..”, katanya sebal. “Tontonan sama internetnya siih, ga bisa dikontrol, mesti ditutup lagi ajah kalo begitu mah..”.
“Pergaulannya mungkin Teh.. suka kebawa-bawa..”, Bi Nur menimpali.
“Ah dia mah.. “, ‘cepret..’, air dari kemasan botol itu kembali menyiprat wajahku, “Gak pernah kemana-mana dia mah… kayak ga punya temen di luar malahan, di depan computer aja kerjanya, kalo ga, main hape weh seharian.. ”.
Aku sudah siap menutup wajahku, tapi Mamahku malah meminum air di botol kemasannya itu. Mbak Sri keluar dari kamar mandi, ia sudah mengetahui hasilnya, terlihat dari mukanya yang bingung serta pasrah, dan bolak balik ia menatap hasil testnya. Seperti tak percaya.
“Positif..?”, Mamahku menanyainya dengan penuh simpati. Sri mengangguk, dan tangisnya hampir kembali pecah.
“Kok bisa gini ya Bu?, aduh mesti gimana ini ya Bu..? Sri bingoooung.. ”. Sri duduk di bawah menutup wajahnya dekat kaki Ibuku.
Mang Cahya langsung berdiri dengan cepat. Ia mengulurkan tangannya pada Bapakku.
“Selamat ya Kang.. aduh ga kerasa ini si Akang udah mau punya cucu lagi..”.
Bapakku menepis tangan mang Cahya, dan memandang Sri dengan serius. Mang Cahya berpaling mengulurkan tangan pada Mamahku sungguh-sungguh, “Selamat ya Teh.. syukur Al..”.
Mamangku menghentikan kalimatnya, siraman dari air kemasan Mamahku memotong kata-katanya.
“Gila lu..! (gelo siah..!)”, kata Mamahku.
“Waduh.. hahaha”, ia mundur beberapa langkah. “Maaf nih.. tapi pabrik baru mah memang suka begitu produksinya, ngejar target, si Egi juga sama.. joss jadi joss jadi.. huhahaha.. Ibuku mengambil tutup botol air kemasannya, berpura-pura hendak melempar mang Cahya. Tapi mang Cahya lari keluar dari dapur ke arah ruang tamu.
“Si kampret”, kataku dalam hati. Bi Nur malah terkesiap tidak enak.
“Maaf ya.. suami saya kelakuannya, Sri.. maaf..”.
Sri mengangguk-angguk dalam tangkupan tangan diwajahnya.
“Sri? kamu itu ngelakuinnya sama siapa..? kamu udah punya suami lagi? pacar..? punya?”. Mamahku memegang tangan Sri bertanya.
“Ada Bu… pacar.. baru dua bulan saya sama dia..”. Sri membuka tangannya dan menunduk. “Dia juga udah nanya waktu saya mau berangkat kesini, kamu jangan-jangan hamil? Tapi saya kira cuma masuk angin..”.
Mamangku masuk lagi, tampangnya polos saja seolah yang dia lakukan tadi kami tak mendengar, dia lalu duduk memperhatikan dengan serius.
“Oooh, dia mesti tanggung jawab..? mau ga..?”, tanya Mamahku lagi.
“Belum tahu Bu..”, Sri mengambil hapenya.
Pada saat itulah terdengar lagi suara mobil didepan. Kami semua terdiam menunggu.
Lalu masuk lah Budhe Yeyen dengan wajah ramah dan gembira seperti biasa. Mereka berbasa-basi sementara pak Mistin langsung pamit lagi untuk pergi pulang katanya.
Setelah dirasakan cukup bermanis-manis, akhirnya para orangtua duduk untuk segera ‘get down to the business’. Budhe diceritakan dulu awal muasal penyebab pertemuan ini. Iya gara-gara aku dan Sri, apalagi?. Tapi Budhe tidak bereaksi banyak, sebab permasalahan yang sesungguhnya adalah kehamilan Sri ini.
“Sudah dihubungi belom Sri? Pacarmu itu?”, Budhe bertanya pada Sri.
“Sudah.. katanya dia mau siap tanggongjawab.. “.
“Ooh ya Alkamdulillah, tinggal nikahnya berarti? Dia kerja dimana..?”
“Lah ya itu Budhe, dia lagi ga kerja sekarang… aslinya tukang, tapi lagi belum dapet kerjaan..”
“Ooooh..”, Budhe terdiam celingak celinguk.
“Di kantor weh atuh Kang..? RSUD tah..?”, mang Cahya menyeletuk pada Bapakku.
“Iya agak susah euy justru sekarang mah.. pendidikannya apa?”.
“SMA Pak..”, jawab Sri.
“Tuh.. iya justru, SMA mah suka rada susah euy.. di Klinik kumaha Mah?”, tanya Bapakku pada Ibuku.
“Eh? Mesti liat dulu atuh orangnya..? Baik ngga?”, mamahku menagngkat bahu dan membalik pertanyaan pada Sri.
“Yaah bener harus dilihat dulu orangnya Sri… suruh aja dulu kesini atuh Sri? nanti diongkosin..”. Kata Bapakku.
“Aduh Sri? Tuh beyekmu mestine apik rizkine.. langsung digolekno kerjo..? Beeeh kurang opo neh ta Sri? Wes syukor Alkamdulilah.. ”. Mata Budhe dan Sri mulai berkaca-kaca.
“Eh Mbak, belum tentu juga.. mau ga dia kerja disini jadi tukang bersih-bersih.. di Klinik?”, tanya Mamahku.
“Laaah yo mestine mau.. lah wes mau kerjo opo ta? La wong mau punya bayi kok?”. Sri mengangguk, dan mengelap airmatanya, ia mengetik lagi di hapenya.
Cerita Sex Suami Pinjaman
“Iyah mudah-mudahan aja lancar semuanya yah?. Orang Jawa mah suka rajin da Mah kerjanya.. Mamah Insya Alloh seneng sama kerjanya.. Aamiin YRA”, kata Bapakku, Mamahku mengangguk-angguk.
Aku ikut mendengar semuanya sampai situ. Dan akhirnya terlelap nyenyak tertidur di kursi. Adzan Magrib berkumandang. Satu-satu Sri menciumi tangan mereka dan berkali-kali mengucapkan terimakasih. Budhe memeluk Sri dan menciuminya. Iapun sama ikut berterimakasih.
Aku tersenyum karena semua telah beres dan juga bersyukur mang Cahya tidak membahas soal peristiwa di Cicendet. Di dalam mimpiku aku menjadi pengantin dan teh Indrilah yang menjadi pasanganku.