Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Membuka Pakaian Dosen Cantik yang Dingin di Balik Meja Kerjanya

Membuka Pakaian Dosen Cantik yang Dingin di Balik Meja Kerjanya

Tuti Khaerani Harahap, S.Sos., M.Si., seorang dosen berparas cantik, menarik perhatian banyak orang di kampus. Wanita asal Tapanuli Selatan ini memiliki postur tubuh yang menarik, meskipun selalu tertutup oleh busana yang sopan. Keanggunannya, yang terpancar meskipun terselubung, memiliki daya tarik tersendiri, dan sering kali mengundang decak kagum dari para kolega dan mahasiswa. Namun, sikapnya yang terkesan dingin dan tegas, jauh dari kesan ramah, seringkali membuat orang berpikir dua kali untuk mendekatinya. Meskipun sudah meraih gelar magister di usia yang relatif muda, Tuti terkesan sangat mandiri dan fokus pada kariernya.

Banyak yang mencoba mendekat, khususnya para dosen pria lajang, namun Tuti tampak memiliki standar yang tinggi dalam memilih pasangan hidup. Usianya yang telah memasuki kepala tiga belum membuatnya berpikir untuk menikah, dan ia tampak selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai dosen dan kegiatan akademik lainnya. Kesibukan ini, dibarengi sikapnya yang tidak mudah didekati, membuat beberapa orang merasa frustrasi.

Sikapnya yang tegas dan lugas, bahkan terkadang terkesan kurang empati, juga terlihat saat ia mengajar. Beberapa mahasiswa merasa terkadang perkataannya kurang menghargai, dan cenderung mengkritik dengan tajam. Meskipun terkadang perkataannya terdengar kurang menyenangkan, kemampuan akademiknya tidak dapat diragukan. Tuti adalah sosok yang kompleks: kecantikan fisiknya berpadu dengan kepribadian yang kuat dan sikap yang sulit diartikan. Ia adalah sosok yang penuh teka-teki, membuat orang penasaran dan sekaligus menghormati ketegasannya.

ajahnya mirip artis sinetron Prisa Nasution, yang sama sama berdarah tapanuli.

Ciri-ciri fisik do’i dapat digambarkan sebagai berikut: tubuh nya sekal padat dengan tinggi kira-kira 158 cm. Wajahnya bulat, tatapan matanya tajam, Do’i selalu mengenakan jilbab dengan ekspresi wajah angkuh yang akan selalu terpasang pada wajahnya setiap hari.

Bibirnya mungil dan merah merekah. Giginya rata dan kecil-kecil. Kulitnya putih bersih dan halus.(bisa dilihat dari wajah, tapak tangannya, bagian tubuhnya yang terbuka).

Walau wajahya tergolong sedang, namun kalo bicara masalah body, do’i bisa dibilang amat montok dan sexy, terutama pada bagian (wooww)… pinggulnya yang bulat serta sepasang pantat yang montok, kencang dan bisa dibilang bahenol..!! apalagi jika do’i memakai sepatu hak tinggi alias highel.

Pantatnya yang bulat padat itu menungging indah melengak lenggok saat do’i sedang berjalan. Walau selalu megenakan pakaian serba tetutup, namun tak dapat menyembunyikan lekukan tubuhnya yang padat dan montok. membuat setiap lelaki menahan ludah bila berdekatan dan berpapasan dengan do’i. Apalagi saat memperhatikan doi saat berjalan dari belakang..

Di kampus kami do’i terkenal sebagai dosen yang killer walau statusnya hanya sebagai asisten dosenSetiap orang yang tidak disukainya harus puas menerina nilai E alias tidak lulus.

Karena sikap do’i yang otoriter dan terkesan arogan itu membuat sebagian mahasiswa yang bandel, terutama pria, seperti aku jadi terancam untuk mengulang mata kuliah yang diajarnya karena aku dan teman-temanku yang sama sama mengambil mata kuliah buk tuti masuk kelas tidak beraturan.

Walau do’i selalu mengenakan pakaian tertutup dari kepala hingga ujung kaki, namun tetap tidak dapat menyembunyikan keindahan tubuh do’i yang padat menggoda itu. Hal ini dikarenakan doi selalu mengenakan pakaian yang ketat alias nge press hingga memperjelas setiap bentuk dan lekukan tubuhnya yang padat berisi.

Kisah ini dimulai saat aku terlambat masuk mata kuliah yang dipegang do’i. Sebelumnya aku dan teman-temanku yang terkenal sebagai biang onar di kampus kami sedang mabuk-mabukan di kantin belakang. Ya, aku dan geng ku terkenal sebagai macan kampus di universitasku.

Karena kami adalah para mahasiwa lama yang sering mengulang mata kuliah. Setelah puas ketawa-ketawa aku teringat bahwa hari ada perkuliahan.

“weitss… bro, gua lupa mau masuk mata kuliah ekologi.. shit… udah dua empat kali pertemuan gua gak pernah masuk..” ujarku menepuk jidat sendiri.

“jam brapa ini bro…? Udah pada masuk dari tadi tuh…” ujar temanku.

“gua masuk aja ah… Cuma bikin absen doang kok… sambil cuci mata.. liat dosen nya yang bohay itu kabar kabar nya… abis tu gua kesini lagi.. okey? “bujukku pada mereka.

“alasan lu.. bilang aja mau tongkoring Buk Tuti.. parah lo… terserah lo dah… kami nunggu disini ya.. jangan lama-lama brot… kalo gak kami habisin ni… gimana..? “ejek salah seorang temanku lagi.

“iya broo… tenang.. just ten minute…” ujarku berdiri dan berjalan menuju kelas yang tak jauh dari kantin. Dengan mata merah dan sisa mabuk aku menuju ke ruang kuliahku aku memasuki ruang kuliah dengan santai.

Saat itulah Buk Tuti Khairani, dosen mata kuliah Ekologi sedang berdiri di depan kelas dengan posisimembelakangiku. Sedikit iseng aku melirik pantat montok dosen itu… wowww… terlihat garis celana dalamnya dari balik celana dasarnya yang bewarna hijau tua. Warna yang sama dengan blazer kerjanya.

Aku menuju bangku yang kosong, yakni barisan paling belakang. terlihat Buk Tuti menatap ku tajam dengan raut wajah tidak senang. Namun karena mungkin sudah kesal dan geram, do’i tidak memperdulikan aku dan melanjutkan perkuliahan.

Dengan pengaruh ganja yang masih terasa, aku hanya melongo menatap do’i memberikan perkuliahan, fantasi jorok ku mulai bekerja, melihat wajah, body dan parasnya Otakku langsung ngeres.

Setan dalam otak ku langsung berbisik, bagaimana jika dosen itu dapat kuperdaya, disekap dan diperkosa, seperti dalam film2 semi blue yang sering kutonton.

Semakin aku menghayal, semakin bulat tekad ku ingin memperdaya dosen itu!… harus bisa… sepanjang perkuliahan aku menatapnya dalam dalam. otak ku berfikir dan berkhayal bagaimana caranya hariini aku dapat menjebaknya.

Do’i tidak sadar terus aku perhatikan. Sampai perkuliahan selesai. Saat itu aku sudah memikirkan rencana tersebut. Segera aku tinggalkan kelas dan menuju ke kantin tempat semula dan bersiap menjalankan rencana yang tersusun rapi dalam otak ku…

Parkiran kampus… aku berada di dalam mobil, mengawasi orang orang yang akan naik bus kampus. tekad ku sudah bulat, seperti yang aku rencanakan… yaitu menculik Tuti Khairani sepulang dia dari kampus.

Dibalik kaca film yang tak terlihat dari luar, kulihat Buk Tuti melangkah menuju halte bus yang berada tak jauh dari tempat parkiran mobil. Segera aku turun dari mobil dan berlari menghampiri do’i.

“Buk.. Buk Tuti.. tunggu..!!” ujarku menghampirinya. Tampak Buk Tuti berhenti dan menoleh padaku yang berlari kecil menyusul dibelakangnya

“ada apa?” ujarnya dengan nada ketus dan memadang penuh selidik

“ibuk mau pulang ya.. bareng saya aja ..” ujarku padanya

“gak usah, saya pulang sendiri… makasih…” ujar doi ketus dan segera berlalu dihadapanku.

Aku tak putus asa, kali ini dengan berani kuhadang saja langkahnya.

“kita kan satu tujuan Buk, Ibuk ke daerah gobah kan? kita barengan aja, naik mobil saya.. daripadaibuk nunggu bus kampus, lama kan.. kan harus nunggu terisi penuh dulu baru bus nya bisa berangkat “bujukku kembali, berusaha bersikap sesopan mungkin untuk meyakinkanya.

“tumben kamu baik dan ramah.. kamu Brian kan?, mahasiswa semeseter 6 yang sering terlambat masuk itu..?” ujarnya penuh selidik lagi

Aku menangguk, ternyata dosen ini mengingat diriku, namu aku langsung memutar akal,

“lagian gini buk… saya kan sering tertinggal mata kuliah ibuk… saya mau mengejar ketertinggalan saya… ibuk mau kan?” ujarku berusaha meyakinkannya.

“saya mau berubah buk… biar nggak ngulang-ngulang mata kuliah terus.. kan capek juga buk.. harus nunggu tahun besok lagi” tambahku.

“Tumben tumbenan.. yakin kamu?” Ujarnya penuh selidik menatapku tajam.

“Yakin lah buk.. Saya ini memang mau berubah buk..” Ujarku.

”.. hmmm… baiklah.. saya hargai tawaran kamu…” ujar Buk Tuti mangut mangut.

“iya buk… kalo nunggu bus pasti nunggu penumpang penuh baru berangkat…” ujarku meyakinkan nya.

“hm… Iya deh… Dimana mobil kamu?” ujarnya setuju dengan tawaranku. Agaknya dia memang malas naik bus kampus yang penuh dengan sesak mahasiswa itu.

“I’ve got her..” bathinku. Tak berlama-lama aku mengajaknya menuju mobilku yang terparkir tak jauh dari sana. Kubukakan pintu untuk do’i dan mempersilahkannya duduk dibangku depan.

“makasih… ‘ kata do”i memberiku senyuman manis dari mulut mungilnya… sesuatu yang langka…

Perlahan kujalankan mobil keluar dari pekarangan kampus.

Diperjalanan aku sengaja mencari rute jalan memotong, yaitu lewat pintu belakang kampus. tempat yang cukup sepi dilalui kendaraan, dengan alasan menghindari macet. Do’i percaya saja dan terlihat tidak mencurigaiku.

Sesampai di jalan yang di kelilingi banyak batang pohon akasia, dan tidak terlihat ada kendaraan melintas, aku mencoba menawarkan minuman kaleng, yang didalamnya telah kumasukan obat perangsang dengan cara memasukan cairan itu melalui jarum suntik dibagian tas kaleng.

“Ibu mau minum?” kataku sambil menyodorkan minuman kaleng yang terletak di dashboard mobil padanya.

“boleh, terimkasih ya Brian…” ujarnya menerima minuman kaleng yang aku sodorkan.

Dari sudut mata, kuperhatikan moment yang mendebarkan itu, Buk Tuti mulai membuka minuman kaleng itu, namun dia belum meminumnya.

“saya minum ya Brian..” ujarnya yang langsung kubalas dengan anggukan.

Terlihat Buk Tuti mulai menempelkan bibirnya ke ujung atas kaleng minuman itu, dan menegaknya. Cukup banyak kurasa, aku berusah bersikap setengang mungkin walau dadaku deg-degan.

Tak lama kemudian Buk Tuti terlihat selesai meminum minuman itu, sisanya dia letakan di bawah handle pintu. Mulanya ekspresi nya biasa saja. Aku mencoba mengajaknya bicara.

“biasanya pulang ke rumah dijemput siapa bu” tanyaku,

“naik bus..” ujarnya pendek.

Aku mengontrol kecepatan mobil di 20 km, untunglah jalan itu kondisinya tidak terlalu bagus jadi Buk Tuti tidak curiga padaku yang membawa mobil dengan pelan.

Terlihat buk tuti mulai menguap beberapa kali.

“AC nya terlalu dingin ya buk… “pancing ku.

“iya nih, mata saya jadi cepat mengantuk dibuatnya” ujarnya sambil kembali menguap

“kecilkan aja AC nya Brian…” ujar Buk Tuti

“ini udah yang paling kecil buk, mungkin ibuk kecape’an mengajar di kelas, kalau Ibuk mau tidur, tidur aja..” pancingku

“ah, nggak lah Brian.. kalau saya tidur emang kamu tau rumah saya..” ujarnya, keliatannya dia masih sadar. Namun suaranya sudah mulai melemah dan matanya sudah mulai terlihat sayu.

aku yakin Buk Tuti sudah hampir tidak sadarkan diri, akibat reaksi obat perangsang itu. Aku pun mulai melajukan mobil dengan kecepatan normal., hingga sampai di ujung jalan dan bertemu aspal, aku mulai memacu mobil dengan kecepatan 40 km.

“pelan-pelan aja Brian.. hoammm.. kok kepala saya berat ya…” ujar Buk Tuti.

Mendengar itu aku menyalakan tape, kupilih lagu instrumen, yang akan membuat do’i makin terlelap. Ternyata benar, do’i mulai terhanyut mendengar alunan musik instrumentalia saxophone itu.

Aku mencoba mengetest sejauh mana tingkat kesadarannya,

“buk, bisa tolong pasang safety beltnya..? kita memasuki keramaian, takutnya nanti dilihat polisi” ujarku

Buk Tuti hanya diam, matanya belum tertutup, tapi setengah terpejam. Aku mengetest lagi dengan menyentuh bagian pahanya, kuusap beberapa kali lututnya yang terbalut celana panjang katun itu, terlihat dia tersentak sebentar.

“kenapa Brian…?” ujarnya dengan suara berat.

“maaf buk, tolong dipasang safety belt nya nanti kita bisa kena tilang” ujarku mengingatkan.

“oh.. pasang safety belt..” ujarnya. Dengan malas-malas do’i mencari tali safety belt yang terletak disebelahnya. Setelah bertemu, do’i terlihat kesulitan memasangnya.

Melihat itu aku mencoba mengambil kesempatan,

“susah masang nya ya buk… saya bantu boleh..” ujarku.

´iya nih, susah memasangnya Brian… bantu dong..”ujar Buk Tuti masih terlihat malas malasan

Kuraih tali safety belt dan saat membantu memasang pada tempatnya sengaja kuremas tangannya dan secepat kilat setelah terpasang kuelus lagi pahanya

“Heii… apa-apaan sih kamu Briann..??!!” ujarnya risih dan memelototiku. Suaranya terdengar sedikit parau dan lemah

Saat itu mobil yang kukendarai sudah hampir sampai ke rumahku yang kosong.

“kenapa buk..?” ujarku pura-pura bodoh

“Kenapa kamu tadi pegang pegang paha saya..?? jangan macam-macam ya sama saya..” ujarnya sedikit marah.

Ternyata alam sadar do’I masih bekerja. Walau matanya sudah sayu menahan beban kantuk

“Sorry, nggak sengaja buk…” ujarku sekenanya. Sementara Mobil sudah sampai didepan pagar rumahku.

“buk, tunggu sebentar di mobil ya.. ada yang mau saya ambil dirumah saya sebentar” ujarku.

“Loh, kok kita bisa kesini Brian…?? antar saya pulang ah..” ujarnya menolak

“Cuma sebentar buk, ini rumah saya… Ibuk tunggu aja dimobil, biar saya aja yang masuk.. sebentaar aja.. ya..” ujarku meyakinkannya

“Tapi jangan lama-lama kamu ya..” ujarnya ketus.

Aku pun keluar dari mobil, setelah memastikan buk tuti mengenakan safety belt, tanpa disadarinya dengan keadaanya yang setengah sadar itu, sulit baginya untuk membuka ikatan safety belt yang menahan tubuhnya.

Aku lalu membuka pagar, lebar-lebar. Berikut membuka garasi mobil. Rumah ini adalah pemberian orang tuaku. Untuk tempat tinggal aku yang kuliah jauh dari kedua orang tua.

Setelah beberapa saat aku kembali ke mobil, kudapati Buk Tuti tengah tertidur. Aku masuk kedalam mobil dan perlahan kumasukan mobil kedalam rumah hingga masuk ke garasi.

Setelah itu aku keluar dari mobil dan menutup pagar berikut pintu garasi, hingga keadaan di garasi menjadi gelap. Lalu aku bergegas membuka pintu samping rumah, yang terhubung dengan garasi.

Setelah pintu rumah terbuka, aku membuka pintu mobil depan, tempat Buk Tuti berada, tampak Buk

Tuti membuka matanya, wajahnya tampak ketakutan melihatku yang datang menghampirinya, mungkin do’i terbangun karena suara saat aku menutup pagar dan garasi, hingga do’i terbangun.

“Briann.. Apa apaan ini …? Katanya cuma sebentar..? kenapa kamu bawa aku kesini…??” Wajahnya terlihat cemas, masih dengan posisi terpasang safety belt.

Aku menyeringai, kutatap lekat lekat dosen montok itu, sekarang berada di cengkaramanku. Siap untuk melampiaskan nafsuku yang menggelegak ke ubun ubun sedari tadi.

Aku mendekat dan melepaskan safety beltnya, Buk Tuti kaget karena aku tiba-tiba aku mengampirinya dengan cepat.

“Hei.. Mau kamu apa sih..??” ujarnya mendelik ketakutan. Namun aku hanya berusaha membuka safety belt dan setelah terlepas aku menggendong tubuh Buk Tuti dengan paksa mengeluarkannya dari mobil.

“lepasin iihh.. Briannn !!!, lepaskannhh!!!, jangan kurang ajar kamuu… Briann.. iihh tolooongg…!!” Teriak Buk Tuti berusaha meronta lemah, tangannya berusaha memukulku.

Terjadi pergulatan sebentar, namun dengan tenagaku aku berhasil mengeluarkan nya dari mobil lalu memapah tubuh montoknya yang lemah itu kedalam rumah.

Karena kondisinya yang setengah sadar itu, buk tuti tidak bisa melakukan perlawanan yang berarti terhadap perlakuanku. Walau terus meronta dan mencoba melepaskan diri, Aku terus memapah Buk Tuti dengan sedikit paksaan hingga sampai keruang tengah, suara jeritan minta tolong Buk Tuti yang lema membuatnya makin tidak berdaya.

Diruangan tengah, didepan TV, aku menghempaskan Buk Tuti diatas permadani. Raut ketakuan dari wajahnya bukan membuat ku kasihan, tapi makin membuatku bernafsu untuk menjamahi setiap lekuk tubuh montoknya itu.

“toloong… apa yang kamu inginkan Brian… Saya mau pulang Briann… lepaskan saya…” ujarnya terisak, air mata ketakutan terpancar dari wajah nya yang menggairahkan.

“He he… Pulang? Nanti kuantar pulang… tapi sebelumnya mari kita bersenang-senang sejenak sayanggg..” ujarku memelototinya. Buk tuti makin ketakutan, kulihat dia coba menghindar ke sudut dinding. Wajahnya tampak panik.

Rumahku cukup besar, jadi suara rontaan buk tuti yang lemah, dalam kondisi seperti itu tidak akan terdengar oleh para tetangga.

Aku mulai membuka baju kaosku, berikut celana jeansku, hingga aku hanya mengenakan underwear saja. Buk Tuti makin ketakutan saat aku mulai mendekatinya.

“Gila kamu Brian… Mau apa kamau haa…???!!.. jangan macam-macam ya !!!.. jangaann… Kamu mau perkosa saya Briannn.??? tolongg… oohhh..!!” jeritnya. Aku tak peduli dan lalu menyeret kaki Buk Tuti mendekat kearahku. Tubuhnya pun terseret. Kondisi nya yang sudah terkena obat perangsang itu melemahkan tenaganya.

Sekarang posisi ku berada diatas nya, Kedua tangannya aku silangkan kan dan kutahan satu-satu dengan tanganku. Kemudian aku mulai menindih Buk Tuti yang masih berpakaian lengkap itu, aku memburu wajahnya dengan ciuman. Hingga buk tuti meronta-ronta

“hahahahha… nikmati aja cantiikk… pasrah aja kenapa..??” sahutku makin beringas menciumi pipi dan sekarang memburu bibirnya. Setelah dapat dengan cekatan kuciumi bibir mungilnya

“Ohh, mmphhh… mmhh… sssshh” bunyi bibirnya yang kuciumi. Aku terus mengulum bibir mungil itu, nafas Buk Tuti terdengar turun naik, saat kulumat bibirnya. Aku terus menggelitik rongga atas mulutnya dengan lidahku, hinggga Buk Tuti sulit bernafas. Kemana bibir nya lari terus kukejar, hingga lama kelamaan Buk Tuti membiarkan saja perlakuanku.

Melihat do’i sudah pasrah aku pun makin gila memburu bibirnya, hanya aroma hangat nafasnya yang tak beraturan kudengar.

“Mpphh.. mmhh.. Ssshhh… uhh.. “kurasa do’i sudah mulai terangsang akibat ciumanku. Setelah puas menciuminya, tanganku mulai ku arahkan di payudaranya yang masih ranum dan tertutup busana. Kuraba tonjolan itu dengan lembut dan Buk Tuti hanya bisa mendesah pasrah.

“Ooouuhhh… Hhmmm…”

Gelora nafsuku semakin membara, saat kurasa Buk Tuti sudah terjerat nafsunya dan kehilangan akal sehatnya akibat dahsyatnya pengaruh obat perangsang yang diminumnya.

“Uuhhhh… Nghhh… Ouwww… hh “desahnya saat payudaranya kuremas, Buk Tuti tampak sudah pasrah dan tak berdaya menuruti apa keinginanku begitu saja, Kemaluanku sudah terasa menegang dan langsung saja kulepaskan jilbab buk tuti, do’i pasrah dan tanpa perlawanan saat jilbab nya kutanggalkan dari kepalanya, tampak rambutnya masih terikat kebelakang, model sanggul.

Aku sekarang dapat melihat buk tuti tanpa jilbab, cantik dan sikap kepasrahan yang tampak sekarang ini makin membuatku bernafsu untuk bercinta dengan dosenku ini, walau dosen cantik ini berada diluar alam sadarnya. Aku kembali mendekatinya dan menciumi sekitar lehernya yang putih.

“uuhhhh…” desah Buk Tuti lirih saat kuciumi lehernya. Malahan sekarang Buk Tuti mengadahkan kepalanya keatas, seolah mempersilahkan ku untuk terus mencumbu nya. setelah puas mencumbui lehernya, ciumanku mulai turun ke dadanya

“Briiaann.. hhh… Ahhh… Ouuhhh…”

Desahan demi desahan begitu jelas terdengar keluar dari mulutnya. Semakin dia mendesah, semakin buas kususuri lekuk tubuhnya dan menciuminya. Setelah kulihat do’i menikmati setiap sentuhanku, mulai ku buka kancing bajunya satu-persatu hingga terlihat BH dan dadanya.

Lalu bajunya kulepaskan dari tubuhnya tanpa perlawanan, dari matanya nampak do’i sudah terbakar gairah, yang mengalahkan akal sehatnya, nafasnya terdengar memburu… lalu aku berbaring disampingnya dan tangan ku mulai kumainkan di dadanya.

“enak kan sayang..” godaku.

“AHHHH… SHHH..” desah Buk Tuti yang terlihat menggigiti bibir mungilnya.

Saat tanganku bermain di lingkaran buah dadanya. Pelan-pelan kunaikan cup BH nya keatas hingga kedua buah dadanya yang telah menegang itu terlihat. Aku mulai meremas-remas gundukan bukit indah itu sambil sesekali memainkan remasanku di puting susunya.

“montok banget susumu buk..” bathinku.

\Tubuh Buk Tuti mulai gelisah, menggeliat ke kiri dan kekanan, merasakan nikmat nya pijitan tanganku dibuah dadanya. Napasnya terasa memburu, tiba-tiba saja Buk memutar posisinya menyamping hingga berhadap hadapan dengan wajahku. Mulutnya memburu bibirku, secepat kilat kurasa Buk Tuti mengulum bibirku dengan buas.

“mpphhh.. mmhhh..” terengar desahan penuh nafsu di sela bibir buk tuti yang berpagutan dengan bibirku. Kami berdua saling cium, saling jilat dan aku memburu kemana bibir buk tuti bergerak.

Setelah puas tanganku memainkan tonjolan nan indah itu, kini tanganku merambat kebawah menelusuri bagian selangkangannya. Kurabah-rabah bagian sensitifnya denga lembut.

“Ouuhhhh… hhh… Ahhh… “desahan Buk Tuti semakin menjadi jadi, aku semakin gemas, terus kuelus-elus bagian kewanitaan yang merupakan g spot dari semua syaraf rangsangnya itu dengan gerakan kombinasi, lembut dan kecang.

Desahan Buk Tuti makin menjadi jadi,

“AHHH… OOHHH… SHHH…” desahnya erotis. Setelah puas mengerjai selangkangannya, lalu, kulepaskan pengait depan celana panjangnya dan kuturunkan resleting celananya. Tampak celana dalam Buk Tuti yang berwarna putih mencuat keluar. Lalu dengan tergesa Kuturunkan celana panjangnya hingga lepas dari kedua kakinya.

Sekarang do’i hanya mengenakan celana dalam saja. Masih ada BH nya, namun sudah kubuka kedua cupnya. Wajah pun tuti tampak memerah, antara menahan malu dan nafsu yang melanda nya.

Sungguh sexy dan menggairah melihat tubuh semok buk tuti terlentang dengan erotis di atas permadani dengan posisi menantang, berbeda dengan selama ini kulihat do’i selalu berpakaian tertutup. Wajar saja dia menutup tubuhnya. Karena tubuhnya begitu montok, padat berisi, kulitnya putih bersih, tanpa cacat.

Aku memegangi salah satu pahanya dan Kemudian aku merunduk, menciumi paha putihnya. Terus kuciumi keatas hingga sekarang berada di selangkangannya. Kuciumi bagian itu berulang kali, hingga terdengar do’i mendesah panjang

“OOOOOHHHH… BRIANNNHHH… UGGHHH…!!!” desahnya panjang saat daerah paling sensitifnya yang masih tertutup celana dalam itu kukecup berulang kali. Kedua tanganku mengangkangkan ke dua pahanya agar lebih leluasa mengecup daerah itu.

Buk Tuti menggeliat geliat menahan rangsangan yang melandanya.

Kuraba-raba bagian sensitifnya dan…

“Ahhh…” desahan Buk Tuti semakin menjadi2. Lalu kemudian aku mulai tak sabaran terus mengerjainya aku lalu turunkan celana dalamnya.

“Jangan Briannnhh… gak mauuuhhhh..” Ucapnya lirih berusaha menahan tanganku.

Saat itu aku berhenti melorotkan celananya sambil menatapnya.

“Memang kenapa Buk..?” Tanyaku.

“saya.. takut Brian.. nanti ada yang tau kalau saya beginian sama kamu…” ujarnya menatap ku terbata-bata dengan raut wajah ketakutan namun memerah seperti menahan gejolak nafsunya.

“Tenang aja lah sayang, gak ada yang tau kita berduaan” jawabku tak memperdulikannya.

Tanganku mulai melanjutkan aksi mencopot celana dalamnya. Aksi ku mendapat hambatan tangan Buk Tuti yang berusaha menahan tanganku untuk tidak lebih jauh menelanjanginya, namun itu sia-sia.

Celana dalam berwarna putih itu telah berhasil ku lorotkan ke bawah hingga serambi lempit Buk Tuti yang berbulu lebat itu mencuat.

Ck.. ck.. ck.. Sungguh rimbun bulu-bulu tumbuh di kemaluannya itu. dan kini ku buka celana dalamku dan tampak rudalku yang besar terlihat jelas.

Buk Tuti terkaget menatap rudalku yang begitu tampak mengerikan besarnya. Ku basahi rudalku dengan minyak liontin yang sudah kusiapkan dan kini mulai kukangkangkan kedua pahanya untuk memudahkan rudalku bercumbu dengan serambi lempitnya.

Walau buk tuti merengek-rengek berusaha mencegah ku, namun aku tahu akal sehatnya pasti akan kalah dengan nafsu menggelegak, sekarang pinggulku sudah berada sejajar dengan lobang kawinnya yang menganga indah siap untuk dimasuki.

Benda indah itu tampak telah basah, bulubulu yang keriting hitam cukup lebat, nampak ada cairan cinta diantara bulu-bulu keriting indah itu, pertanda nafsu do’i sudah di ubun-ubunnya.

Aku menahan kedua pahanya tetap pada posisi mengangkang dengan kedua pahaku pula. Sekarang aku bersiap-siap menusukan rudalku ke dalam bagian kewanitaannya.

“Jangan Briaaaaaan..!!! jangan dimasukiinnn.. AHHHHH..” Awwww… Sakiiiittt Briannnhh…” Jeritnya histeris saat aku menyodokan rudalku kedalam serambi lempit nya.

Berulang kali aku terus berusaha menembus kemaluannya namun sangat terasa susah. kali ini kubantu dengan ludahku dan kusuap ke mulut serambi lempit Buk Tuti.

“UGGHHHHH.. Briaaaan, Sakiiiiit…!!” keluhnya.

Ku tak pedulikan perkataannya, ku tekan perlahan lahan dan “plooozzz…”, rudalku terasa menerobos masuk keliang kewanitaannya.

“AHHHHHHH..!!!” desahan Buk Tuti semakin keras. Wajahnya panik, menahan sakit di selangkangannya.

Kurasakan denyut rongga-rongga serambi lempit Buk Tuti mencengkram erat kepala kombetku, Dan… Ohhh, ternyata serambi lempit Buk Tuti amat sempit. mengeluarkan darah di sela pinggir lobang kawinnya itu. dan tampak do’i meringis kesakitan.

Aku pun mulai mengerakkan rudalku maju dan mundur dengan perlahan-lahan guna mengoyak lapisan demi lapisan selaput dara do’i.

Desahan, erangan, keluhan, rintihan mulai terdengar dari mulut dosenku yang super hot itu.

“Awwwhh… Ouuhh.. Ohhh… Ngghhh..”

Aku terus menghujamkan rudalku ke bagian yang lebih dalam. Hingga sedikit demi sedikit kurasa 7 lapisan selaput daranya mulai terkoyak.

Sementara Buk Tuti meringis kesakitan, tangannya mencengkram kuat kedua lenganku. Mata nya terpejam menahan sakit bercampur nyeri.

Lama-kelamaan rudalku mulai amblas kedalam lobang kawinnya. Cairan nafsunya membantu rudalku menerobos kebagian lebih dalam dan secara bersamaan ku peluk dia dan kulumat bibirnya.

“Oohhh… Rapet banget vegy mu Buukk..” Bathinku.

Hanya 5 menitan ku nikmati isi serambi lempit dosenku itu, ku rasa diriku ingin mencapai klimaks. Jepitan dinding serambi lempitnya membuat rudalku seperti diremas-remas dari dalam.

Kepalaku mendongak keatas menikmati sempitnya lobang kawin Buk Tuti. Ku perbuas ciuman ku dan kuarahkan lidahku ke leher mulusnya. Buk Tuti terlihat masih terus menahan sakit dan nikmat yang menyatu di persenggamaan kami.

“AHHHHH…!! “Akupun mencapai klimaks, akhirnya kusemprotkan lahar ku dalam lobang kawinnya itu.

Kurasa pejuku begitu banyak muncrat dalam lobang serambi lempit Buk Tuti. Ia hanya bisa menatapku dengan kaget, dan menggigiti bibirnya saat merasakan setiap semburan lahar panasku yang kini mulai dirasakannya menembus masuk diperutnya.

Nafas kami berdua terengah-engah, aku memejamkan mata menikmati orgasme yang barusan kurasa. Enggan rasanya melepaskan rudalku dari dalam serambi lempitnya. Demikian juga dengan buk tuti, yang tengah memejamkan mata, menikmati hangatnya sprema ku bersemayam dalam rahimnya. Nafasnya turun naik.

Aku masih diatasnya dan memeluknya tanpa peduli kekawatirannya bila nantinya dia hamil. Aku menciuminya dan mulai kubelai dan berkata:

“Ibu masih perawan ya..?” tanyaku

Buk Tuti hanya terdiam dan melihatku. Do’i terlihat terisak sedih. Sekitar 2 menit kami saling menatap, lalu do’i berkata:

“Setelah ini berlalu, gimana kalau terjadi apa2 denganku..?” ucapnya dengan nada menyesal

“Aku akan bertanggung jawab kok sayang, percaya padaku, asal hanya aku yang melakukan ini ke ibu..” jawabku sembari menciumi keningnya yang basah oleh keringat.

Sepasang mata do’I menatapku penuh harap.

Kami pun saling berpelukan

“Kamu janji Brian… mau bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Asal kamu tahu Brian.. Kamulah pria pertama yang menodaiku..” isaknya. Ngocoks.com

“iya sayang… boleh kan aku panggil sayang..” rayuku.

Buk Tuti terlihat terharu dan mendekapku.

“Jangan tinggalkan aku ya Brian..” ujarnya terisak.

Setelah merasa rudalku mulai menyusut, aku mencabut rudalku dalam lobang kawin buk tuti dan aku tidur disamping Buk Tuti dan memeluk do’i dengan perasaan puas tak kentara. Akhirnya tujuanku untuk menikmati tubuh dan keperawanan dosen killer ini tercapai juga.

Kemudian kurasa do’i tertidur di pelukanku karena kecape’an. Melihat do’i tidur pulas aku beranjak dari samping tubuh Buk Tuti yang masih bugil. Aku lalu menggendong Buk Tuti yang masih tertidur itu kedalam kamarku dan kubiarkan do’i tertidur pulas.

Aku tinggalkan do’i dikamar menuju ruang tengah sambil merokok dan minum vitamin. Sungguh nikmat sekali bercinta dengan seorang wanita yang masih ting ting, yang belum pernah disentuh oleh pria manapun seperti Buk Tuti. Kadang ada juga rasa kasihan terbesit. Namun semua sudah terjadi, walau usianya lebih tua daripadaku dan walau dia tidak modis.

Tidak seperti gadis – gadis kampus yang sering ku kencani. Namun ada sensasi tersendiri bagiku dapat bercinta dan memerawani dosen ku ini. Rasa penasaranku terobati sudah.

Aura kecantikan, kemulusan dan kemontokan tubuhnya memang sungguh mempesona. aku memang tidak akan pernah mau bertanggung jawab, apalagi menikahinya aku hanya berniat menjadikan dia sebagai pelampiasan nafsuku saja.

Bersambung… Setelah selesai mandi aku kembali masuk kekamar dan mendapati Buk Tuti sudah terbangun, saat aku masuk do’i menatapku tajam, penuh kebencian. namun tatapannya akhirnya terlihat kosong dan terus menangisi apa yang diperbuatnya bersamaku beberapa saat yang lalu sambil tergolek diatas ranjang.

Tampaknya pengaruh obat perangsang itu telah habis. Namun fikiran isengku untuk kembali mencicipi lubang cinta yang masih legit itu kembali muncul. Diam-diam aku mengambil sisa obat perangsang tadi.

“Buk Tuti sayang… jangan nangis terus lah…” ujarku mendekatinya.

Sontak dia dengan kasar menepis tanganku yang menyentuh bahunya.

“jangan sentuh aku Brian.. kamu jahat..!! huuhhuu..” terdengar isak tangisnya kembali.

“oke oke… aku minta maaf Buk…” ujarku coba membujuknya.

“Brengsek kamu..!!! kamuu telah menodai sayaa…” ujarnya terbata bata.

“udahlah… kalau Ibuk masih begini, saya tinggalin disini nih…” ancamku

“jangaann jangaan… mana pakaian saya Brian?” ujarnya ketakukan.

Aku mengambil bh dan celana dalam nya yang masih tergeletak di ruangan tengah, lalu melemparkannya ke do’i. Buk Tuti langsung memungutnya. Tubuhnya yang telanjang ditutupinya dengan alas kasur.

“Tuh pakai..” ujarku.

“kamuu keluar dulu Briaann…” ujarnya malu

“halaahh.. pake malu malu.. gua udah liat semuanya kok…” ejekku

Wajah Buk Tuti memerah malu. Akhirnya dipasangkan juga BH nya.

Sementara do’I sibuk memasang pakaian dalamnya diam diam aku memasukan pil obat perangsang ke dalam cerek berisi air putih di meja sebelah ranjang saat Buk Tuti sibuk memasangkan celana dalamnya didalam alas kasur.

“baju saya mana Brian?” ujarnya.

“baju nya udah robek.. aku cari dulu baju lain ya… nih minum dulu, apa gak capek abis bercinta? Ujarku sinis. Watak Buk Tuti ini memang keras. Udah dikasih enak masih juga ketus.

Buk tuti terdiam saja mendengar pelecehan itu. Lalu aku meninggalkannya dikamar. Setelah berada diluar kamar, kuintip kembali tampak Buk Tuti yang hanya berbikini sedang duduk diatas ranjang sedang menuangkan air di cerek ke gelas dan meminumnya… dalam hati aku bersorak karena dosen cantik itu masuk dalam jeratanku kembali.

Lalu aku kembali masuk ke kamar, kudapati Buk Tuti sedang duduk diatas ranjang, menyadari aku mengampirinya cepat-cepat do’i menutup tubuhnya dengan alas kasur. Tampak raut muka cantiknya mulai gelisah dan seperti orang kepanasan. Aku hanya diam dan menatapnya tajam. Melihat itu Buk Tuti tampak risih.

“apa yang kamu lihat..? mana pakaianku Brian? aku mau pulang!!!!!” ujarnya

“aku tahu kamu capek.. istirahat dulu disini, nanti kuantar pulang” ujarku.

“nggak mauuuu..!! saya mau pulang sekarang..!! mana sih pakaian saya?”bentaknya. Aku membiarkan saja dan menunggu reaksinya.

“iya tapi mandi dulu gih… habis mandi baru kuantar, gak mau bersihkan badan apa..?” ujarku tetap tenang.

“Hiihh… dimana kamar mandinya…?!” ujarnya geram.

Buk Tuti bangkit dari tempat tidur dengan alas kasur yang masih dililitkannya guna menutupi tubuhnya. aku membiarkan saja do’i berjalan tertatih tatih, dan aku membuka pintu kamar dan menunjukan jalan ke kamar mandi.

Sesampai di pintu kamar mandi, saat Buk Tuti hendak membukanya dengan cepat kupeluk tubuh do’i dari belakang, Buk Tuti terkejut dan berusaha meronta.

“Briannnhhh.. kenapa lagi siihhh kamu iniii.. lepassiinn sayaaa.. ihhh…” ujar nya, namun rontaanya lemah hingga tubuhnya kembali dalam dekapanku.

“heeh.. heii.. bukk… biar kumandiin kamu ya…”ujarku berusaha menarik alas kasur yang menutupi tubuhnya, dengan kasar kutarik, sempat terjadi pergulatan, namun tenaga buk tuti yang lemah itu tak mampu mempertahankan alas kasur itu hingga Buk Tuti kembali mengenakan BH dan celana dalam lagi.

“ohh… jangann Brian.. oh.. lepasinn.. !!” ujarnya saat tanganku sudah berada di selangkangannya dan kusap usap tanganku disana. Sementara tangan yang satu meremas salah satu buah dadanya yang terasa kembali mengeras.

“buuka.. yaaaa… Kita mandi bareng sayaangg..” ujarku tanpa kesulitan melepas tali BH nya.

“oohh… Briaaan. apa apaaan kammuuu…” ujarnya mendesah seperti bergairah kembali. Lalu setelah BH nya terlepas aku membalikan tubuhnya berhadapan denganku. Mata Buk Tuti dan wajahnya sudah penuh dengan nafsu, seiring irama nafasnya yang ngos ngos an menahan gairahnya yang muncul kembali akibat pengaruh obat perangsang yang diminumnya.

Aku merangkul tubuhnya dan kudekatkan bibirku menyentuh bibirnya, kukecup dan kuciumi beberapa kali, kali ini Buk Tuti yang kembali telah terpengaruh obat perangsang itu membalas melumat bibirku, kurasa nafasnya berpacu membalas ciuman ku di bibirnya, aku menyandarkan buk tuti kedinding lalu kulepaskan ciumanku sejenak.

“Bri aan.. hh.. Kamu apain aku.. hhh..??” Ujar Buk Tuti nampak terengah engah setelah bibirku dan bibirnya terlepas. Aku mulai berjongkok lalu melepaskan celana dalamnya. Kali ini tanpa perlawanan, celana dalam itu dengan mudah kuloroti dari kedua pahanya, kembali serambi lempit mungil Buk Tuti yang berbulu lebat itu terpampang dihadapanku.

Aku kembali berdiri dan membawanya masuk kedalam kamar mandi. Disana terdapat sebuah bak, kloset duduk dan shower. Do’i tampak patuh. Aku pun menyalakan air di shower dan air itu mulai menyirami tubuh kami berdua, kami lalu mandi berdua. Diguyur oleh siraman air

“Cuma mau ngajak mandi berdua kayak gini aja kok gak mau ..” Ujarku.

Buk Tuti tampak menggigil saat air menyirami tubuh bugilnya yang kupeluk dari belakang aku memeluknya dengan erat dari belakang sehingga tangannya tertutup lingaran lenganku.

Aku mengambil sabun cair dan menuangkannya ke tanganku. Ku oles sabun itu ketelapak tanganku hingga rata. Kemudian perlahan kubuka posisi kedua tangannya yang menutupi teteknya yang bugil itu, dibawah guyuran air aku mengoleskan sabun ke susu Buk Tuti, dengan penetrasi lembut. Kedua tanganku mengaduk kedua susunya yang terasa licin karena olesan busa sabun itu.

“Shh… oohh… Gellii Briannhhh… Aduuhh… sshhhh…!!! “rintih Buk Tuti. Do’i mencoba mencegahku.

“Nikmati aja sayanghh…” bisik ku ke telinganya sambil mengulum salah satu daun telinganya. Membuat tubuh Buk Tuti menggelinyang kegelian. Setelah beberapa do’i tampak pasrah dan hanya terdengar rintihan kenikmatan olehku. Aku mulai meremas-remas dan memijat payudara do’i dan memilin putting susunya.

“Ouuhhh… Geli Briannn… ohhhhh… hhhhhh… shhhhhhhhh” rintihan Buk Tuti terdengar terus, mendesah dan mendesis, kedua tangannya bertumpu pada dinding kamar mandi.

Mendengar rintihannya sungguh membuat gairahku makin bergelora. saat bersamaan aku mulai menciumi leher dan kuping Buk Tuti sedangkan jariku yang penuh dengan sabun cair mulai menuju lobang surgawi Buk Tuti.

“Oooooooohhhhh…” Buk Tuti melenguh panjang saat jariku bermain mengobel lubang kenikmatannya. Setelah puas meraba lubang kencingnya itu hingga licin dan berbusa, aku lalu mencolokan satu jari tengahku kedalam serambi lempit Buk Tuti.

“Sleeppp.. “Jari tengahku yang telah licin itu masuk tanpa hambatan kedalam serambi lempit Buk Tuti diiringi jeritan panjang Buk Tuti. Jari itu aku keluar masukkan ke dalam liang senggama buk tuti dengan gerakan cepat. Aku juga merasakan rudalku itu mulai mengeras sehingga membuatku semakin terangsang.

“Ohhhhhh… Briannn… Ihhhh… Geliiii akuu… shhhhhhh” desah Buk Tuti menggila.

“enak yaa sayang kuu.. uhhh… ayo sayang.. kangkangkan dong dikit pantatnya..” ujarku penuh nafsu. Tanpa persetujannya aku membantu meregangkan kedua pantat buk tuti.

Setelah pantat montok itu terkuak, maka kusejajarkan rudalku yang telah berdiri mengancung tegak sedari tadi kearah lobang kawin Buk Tuti dari belakang, aku juga ingin menuntaskan birahiku yang sudah sampai keubun-ubun.

Aku mencabut jariku dari liang senggama Buk Tuti dan ku angkat pantat buk tuti sedikit. Setelah itu aku mengoleskan sabun cair dan meratakannya di rudalku dan juga kuoleskan di sekitar daerah serambi lempit Buk Tuti. Tubuhnya menggelinyang. Setelah itu aku mulai menyejajarkan rudalku dan kuarahkan pada kemaluan do’i dari arah belakang..

BLESSSSSSSSS… rudalku masuk tanpa permisi dan kesulitan dalam lobang serambi lempit Buk Tuti. Busa sabun yang kuoleskan di rudalku dan di sekitar lobang serambi lempit Buk Tuti memudahkan rudal ku menerobos masuk kedalam nya

“OOOOOOOOOHHHH…” pekik Buk Tuti menyambut masuknya rudal ku ke dalam tubuhnya.

“Euhhhhh… euhhhhh… euhhhh… euhhhhhh… euhhhh” desah Buk Tuti membuat nafsuku semakin menggelegak Aku berinisiatif menggerak-gerakkan tubuhku naik turun menggenjot rudal didalam kemaluan Buk Tuti sambil berpegangan pada dinding kamar mandi.

Gerakan maju mundur ku makin lama semakin bergolak tak teratur seperti juga gairah kenikmatanku yang terus semakin bergelombang naik.

“Heeeehhhhhh… Heehhhhh… Heeehhhhh… Heeehhhhh…” aku mencoba menaikkan tempo gerakanku seperti gerakan slow motion di filem-filem.

Buk tuti lama kelamaan terasa mengimbangi gerakanku dengan menggoyangkan pinggulnya sedangkan tangannya bertumpu pada dinding kamar mandi. Aku juga semakin gencar meremas-remas payudara Buk Tuti dari arah belakang.

“Oooohhhh… ohhhh… ohhhhh… ohhhh… ohhhh… ohhhhh” desah Buk Tuti seolah berpacu dengan gerakanku yang semakin liar dengan rangsangan dari beliau

“SAYA MAUU Nembaaakk… OHHHH” Buk Tuti menjerit panik saat mendapat orgasme nya.

“cepat kali nembak nya sayangghh.. hh..??? “desahku makin memacu penetrasi pinggulku.

Buk Tuti berhenti menggerakkan tubuhnya, tampaknya do’i ingin menikmati gelombang orgasmenya, walau dengan nafas agak tersenggal-senggal.

Aku masih menggerak-gerakkan pinggulku sehingga rudalku tetap naik turun di dalam liang senggama do’i, tanganku ku silangkan di dadanya sambil meremas kedua payudaranya dengan lembut. Kuciumi tengkuk dan punggungnya berulang ulang melengkapi kenikmatan yang kurasakan.

Aku meminta Buk Tuti memutarkan badan supaya posisi kami menjadi saling berhadapan dengan rudalku masih ada dalam kemaluannya. Kami berciuman sambil aku memeluknya, sedangkan tangan beliau melingkar dipinggangku. Melihat itu kuangkat sedikit pantatnya hingga kubuat posisi menggendong Buk Tuti.

“Ohhhhhhhh… Saya takut jatuh Briann …” Bisik Buk Tuti Sambil melenguh nikmat

“Belitkan kedua kaki Ibu ke pinggang saya sebagai pengait supaya tidak mudah jatuh” Perintahku.

Buk Tuti segera mengaitkan kakinya melingkari pinggangku dan tangannya memeluk leherku, sedangkan kepalanya dia sandarkan di bahuku. Setelah yakin do’i menempel dengan benar pada tubuhku, aku menyandarkan do’i kedinding kamar mandi sebagai tumpuan.

Sementara kedua kaki do’i mengapit pinggangku, Pelan-pelan pula aku menggerakkan pinggulku sendiri maju dan mundur.

“Blessss… “rudalku kembali menemukan lubang cinta nya Buk Tuti.

“Ohhhhh… ohhhhh… ohhhhh… ohhhh… Briaannnn.. aaahhhh… ohhhh… ohhhh… ohhh… enaaak” Desah Buk Tuti menjerit kenikmatan merasakan sodokan rudalku yang keluar masuk lobang senggamanya. Apa yang dirasakannya pasti sama dengan apa yang kurasakan saat ini. serambi lempitnya terasa licin.

Namun jepitan-jepitan oleh rongga senggamanya dari dalam masih terasa meremas rudalku dari dalam. Aku terus menyetubuhinya yang digendong dalam pangkuanku. Ngocoks.com

“Ahhhh… Mmmmmppphhhhhhh… oohhhhhhh… mmppppphhhh…” Kami meneruskan bersetubuh sambil terus berciuman.

Setelah seluruh batangku amblas, Aku memeluk Buk Tuti dengan kedua telapak tangan pada buah pantat do’i. Kemudian dengan perlahan-lahan aku meluruskan kaki sehingga secara otomatis do’i terangkat ke atas oleh dorongan rudalku pada kemaluannya seperti sate dengan tusuknya. Tubuh Buk Tuti tampak terguncang guncang akibat sodokan pinggulku menghajar lubang cintanya.

Makin lama ciuman kami makin panas, bibir kami saling melumat dan permainan lidah yang semakin liar. rudalku dengan gerakan perlahan tapi pasti terus menyodok-nyodok ke dalam liang senggama do’i. Sambil kedua tanganku bertumpu pada kedua pantatnya yang bahenol.

“Ohhhhhh… ohhhhh… ohhhhhh… aaaahhh… ohhhhh… Briaannnn… Enakkk.. Briannnnn… aduuuh hhhh…” Buk Tuti mengerang nikmat tanpa berbuat apa-apa karena aku mengambil alih kendali.

“Buuukk… Saya mau keluarrrrrr.. Oouugghhh…” aku mulai mengerang.

SROOOOOOTTT… SROOOTTT… SROOOTTTT… semprotan demi semprotan air mani ku membanjiri rahimnya

“A.. a.. aahhhh.. a.. a.. aahhhh…” Buk Tuti mengerang tertahan, Aku rasakan tubuh Buk Tuti bergetar keras, semakin memeluk ku dengan erat. Sedangkan serambi lempit nya terasa berdenyut-denyut meremas remas batang pelerku.

“Ohh.. nikmatnyaaaa…” jeritku melepaskan semua kenikmatan yang kurasakan.

Aku lalu menciumi dan membelai-belai wajah dosenku itu yang terlihat cukup kelelahan setelah bersetubuh denganku itu. Otot-otot liang senggama Buk Tuti terasa memijat-mijat rudal ku yang juga sedang kelelahan.

Setelah rudalku terasa lunglai, aku menurunkan Buk Tuti dari gendonganku dan mulai mengatur nafas menikmati orgasme yang nikmat itu. Sementara Buk Tuti tak sanggup memandang wajahku. Matanya terpejam, mungkin mmenikmati semprotan spermaku dalam lubang cintanya. Kami berdua berusaha mengatur nafas masing – masing.

“mandi yuk sayang” ujarku mesra. Buk Tuti hanya menganggukan kepalanya dengan lemah.

Setelah itu aku melumuri tubuh ku dan Buk Tuti dengan sabun, kami pun mandi membersihkan badan. Buk Tuti diam saja saat kusabuni sekujur tubuhnya, Buk Tuti tampak sedang membersihkan serambi lempit nya dengan sabun. dan setelah itu aku membilasnya kembali. Setelah selesai mandi aku menggiring Buk Tuti kembali ke kamar.

Buk Tuti yang sudah pasrah itu hanya bisa patuh menuruti tiap perintahku, matanya telah sembab, menahan penderitaan. Aku memberinya handuk untuk mengeringkan tubuhnya.

“sekarang saya mau pulang Brian “pintanya memelas.

“ya nanti saya antar, sekarang istirahat saja dulu” ujarku malas-malasan

Buk Tuti terdiam, mau tak mau do’i pasti merasa kelelahan, apagagi percintaan kami hanya selang beberapa jam itu terjadi 2 kali.

“selangkangku sakit brian.. “isak nya menatapku dengan penuh menghiba.

“itu pertama aja sakitnya. Gak apa apa itu… bawa rilex aja” ujarku sekenanya.

“kamu jahat…” ujarnya sedih. Do’i hanya mengenakan handuk saja sat itu.

Aku mencoba mendekatinya, lalu merangkul nya. Buk Tuti tidak lagi meronta namun hanya membiarkan aku mendekapnya.

“antar saya pulang Brian… “rengeknya di pelukanku.

Aku pun mendegus, tapi tidak apa-apa lah diantar dia karena kulihat jam sudah menunjukan jam delapan malam. Aku keluar kamar dan mengambil pakaian do’i yang kusembunyikan di luar.

“Ini pakaiannya..” ujarku datar sambil memberikan baju, celana dan jilbab do’i.

Buk Tuti segera mengambilnya dari tanganku lalu dengan segera pula do’i memasangkan kembali BH dan celana dalamnya. Semua nya do’i lakukan didepanku, tanpa malu-malu dan risih lagi. Mungkin do’i sudah tidak malu lagi karena sudah dua do’i kubuat orgasme hari ini.

Setelah itu Buk Tuti mengenakan celana, blazer dan jilbabnya, sungguh cantik dosen ini. Mirip artis lawas yang juga jadi incaranku, Marissa Haque. He He He…

Akhirnya aku dapat melihat bahkan menikmati tubuh padat nan mulus itu, yang selama ini selalu aku khayalkan saja karena do’i selalu mengenakan pakaian yang menutup auratnya.

Terlihat Buk Tuti merapikan jilbabnya di cermin, wajahnya masih terlihat lelah, mata nya sembab menahan air matanya yang mungkin sudah mengering.

“sudah ..? ayo kita berangkat, mau makan dulu..?”

“gak usah..” ujarnya ketus. Aku nyengir saja mendengarnya. Wanita ini memang menggemaskan. Galak tapi memikat.

Kami pun keluar dari rumah, menuju garasi mobil dan aku meluncurkan mobil meninggalkan rumahku.

Hari sudah gelap. Sepanjang perjalanan Buk Tuti hanya diam termenung meratapi nasibnya yang kuperdaya dan kuperkosa hari itu. Do’i hanya duduk diam seribu bahasa dalam perjalalanan, do’i hanya bicara saat aku menyanyakan arah menuju rumahnya

“disini saja Brian.. saya nge kost, mobil gak bisa masuk di gang itu.” Ujar Buk Tuti saat kami berbelok di sebuah simpang. Aku pun menghentikan mobil. Memang simpang yang dimaksud adalah sebuah gang kecil yang hanya pas untuk satu atau dua motor saja.

“aku antar ke rumah mu ya” ujarku membuka central lock pintu mobil

“ngg, nggak usah.. saya bisa sendiri” ujar Buk Tuti menolak tawaranku. Tapi aku tak tinggal diam. Karena aku ingin tau dimana tempat tinggal do’i.

“saya antar saja lah..” kebetulan di dekat simpang itu ada orang berjualan nasi goreng.

“Saya mau beli nasi goreng itu, ibu mau?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Nggak.. Saya udah kenyang.. Sudahlah Brian biarkan saya pulang..” Ujarnya menatapku kesal.

“Sudahlah.. Pokoknya kita makan nasi goreng dulu” tegasku padannya

Aku keluar dari mobil dan menghampiri tukang nasi goreng dan memesan 2 bungkus nasi goreng untuk ku dan Buk Tuti, karena aku pun merasa lapar sehabis bercinta dengan do’i dua ronde tadi. Buk Tuti pun mengikutiku keluar dari mobil dan kami pun berdiri di gerobak abang penjual nasi goreng itu.

“Nasi goreng nya 2 dibungkus ya bang” ujarku pada abang penjual nasi goreng

“Baik dek.. Ditunggu ya..” Kata nya.

“tunggu sampai selesai ya.. saya tahu Ibu pasti lapar” bisik ku sambil menggenggam tangan Buk Tuti. Do’I kaget dan buru-buru melepaskannya

“Brian..! gak enak diliat orang ‘ tepisnya setengah berbisik, Aku hanya nyengir. Yang penting dia patuh menunggu sampai abang nasi goreng itu selesai membungkus nasi.

“pacarnya ya Neng Tuti..?” goda tukang nasi goreng itu pada buk tuti.

Buk Tuti agak kikuk mendengarnya dan bingung harus menjawab apa.

“i iya bang..” ujar Buk Tuti akhirnya menjawab malu-malu.

“cocok ya.. neng Tuti nya cantik, mas nya ganteng ‘ ujar tukang nasi goreng itu menggoda kami.

“ah abang bisa aja..” ujar Buk Tuti salah tingkah. Karena mungkin saat aku menggenggam tangan Buk Tuti abang nasi goreng itu memperhatikan kami.

“akhirnya neng Tuti punya pacat juga ya… selama ini abang liat gak ada yang ngeapelin ‘’ ujar tukang nasi goreng itu lagi.

“masak iya sih bang..?” tanyaku

“iya dek.. neng Tuti ini sibuk kerja terus kayaknya” sambungnya.

“ah.. abang ini kepo deh …” tukas Buk Tuti cemberut.

“tapi saya senang kalau neng Tuti ini punya pacar, sayang aja cantik cantik, pintar lagi… jangan belajar terus neng.. nanti cepat tua..” kelakarnya selesai membungkus nasi goreng itu. Aku pun tertawa mendengar guyonannya.

“denger tuh sayang..” tukasku. Sengaja aku katakan kata “sayang” agar menegaskan bahwa do’i memang pacarku. Buk Tuti melotot padaku. Aku dan si abang nasi goreng tertawa geli melihat ekspresinya.

Setelah membayar nasi goreng kami pun berjalan ke gang itu menuju kost an buk tuti, di sela perjalanan abang nasi goreng masih sempat juga menggoda.

“mantap dek… lanjutkan” teriaknya dari kejauhan.

“kamu bikin saya salah tingkah saja Brian” ujar Buk Tuti bersungut sungut kesal.

“ah.. nyantai aja.. gak dengar abang nasi goreng aja bilang kita cocok ha ha ha” ujarku.

“kamu gak tinggal disini, nanti saya yang digunjingkan oleh mereka pacaran sama anak yang lebih muda” tukas Buk Tuti. Sambil terus melewati gang itu kami terus berdebat.

“ngapain dipikirin…” potongku menjawil pantatnya, yang disambut pukulan ringan Buk Tuti ke bahuku.

“jangan macam-macam disini Brian… ini jalan umum tau..?!! “ujanya marah bersungut sungut. Sebenarnya aku senang melihat do’i marah dan melotot, makin cantik wajahnya.

Akhirnya kami sampai di kostan Buk Tuti.. Sebuah rumah petak kecil yang berdempetan dengan tiga rumah lainnya. Saat itu suasana sedang sunyi. Mungkin tetangga Buk Tuti lagi berada didalam rumah, atau lagi ngamar dengan pacar nya.. maklum anak kost..

Kami memasuki kostan Buk Tuti,

“siapa yang sering bertamu disini bu..?” tanyaku.

“Nggak ada, paling teman – teman kamu lah.. dan beberapa mahasiswa.. kamu sih, bilang-bilang kita pacaran. Kalau ditanya tetangga nanti bilang kamu mahasiswa saya lagi bimbingan proposal ya..” tuturnya.

“ya deh… pencitraan kali..” sungutku.

Aku duduk diruang tamu buk tuti, disitu terdapat sebuah sofa sederhana dan meja tamu. Ada dua kamar dan satu lorong menuju dapur di sini. Buk Tuti tampak bingung harus berbuat apa.

“nah, kamu sudah tau kan tempat tinggal saya.. “ “sekarang pulanglah.. nanti menimbulkan fitnah lagi” ujarnya mencoba mengusirku

“nanti dululah sayang.. aku capek.. mau duduk dulu.. bikinin dong kopi atau apa kek..” ujarku menyandarkan kepala di sofa.

“atau ambil kek piring biar kita makan tu nasi goreng.. kan sengaja kubeli 2 .. buat kamu dan aku..” ujarku

“kamu ya.. memang punya seribu satu alasan Brian.. Please… saya capek.. mau istirahat ..” sahutnya berkeras menyuruhku pulang.

Setelah kami berdebat sebentar, Akhirnya Buk Tuti mengalah juga segera dia beranjak menuju kebelakang. Aku mengintip dari sudut mata, do’i menuju ke arah belakang. Ke ruang yang dibatasi dengan kain pintu. Diam- diam aku mengunci pintu depan kost an Buk Tuti dan diam-diam aku mengendap menuju kebelakang.

Aku masuk sampai kedapur, menyibak pelan-pelan tirai pembatas pintu, dan kudapati posisi Buk Tuti membelakangiku, seperti sedang membuat atau mengaduk minuman. Ternyata do’i sedang menyiapkan gelas dan mengisinya dengan bubuk kopi dan gula.

Fikiran kotor ku muncul. Akhirnya aku memutuskan mendekatinya, tampaknya buk tuti tidak menyadari kehadiranku hingga aku sudah ada dibelakangnya dan memeluknya dari belakang.

“Kamu terus bikin kopi ini. Anggap saja tak ada siapapun di belakangmu,” bisiku

“Brian.. Sudahlah… cukup.. aku capek… kamu gak puas-puas ihh..” ujarnya masih berusaha melepaskan diri. namun aku tetap tidak melepaskannya. Malah sekarang kedua tangan ku meremas-remas lembut kedua payudaranya yang masih tertutup pakaian kerja itu.

Belum sempat Buk Tuti bereaksi Salah satu tanganku dengan cekatan membuka resluiting buk tuti, hingga celana panjang berbahan katung lunak itu melorot kebawah.

“Uhh… Shhhh… sudahlah briannhh… mphh…” desah Buk Tuti berusaha mengatupkan pinggulnya saat selangkangan nya kuelus. Tanganku terjepit oleh kedua pangkal pahanya. Aku makin mengganas, kutekan jari tengahku sambil mencolek colek selangkangan nya dengan buas. Akhirnya Buk Tuti tak dapat menolak lagi.

“Udahhh Briannn… Janganhhh lakukannhh… Lepaskan akuuuu… Mmmmm mm” terdengar rintihan Buk Tuti. Aku itu tidak mempedulikannya dan terus mengelus elus selangkangan dosen motok itu itu tanpa dapat dicegahnya.

Secepat kilat kemudian aku berlutut di belakang Buk Tuti. Aku menjulurkan tanganku merogoh lewat bagian bawah. Buk Tuti menggigil ketika tanganku menarik turun celana dalamnya. Mungkin Buk Tuti merasakan angin meniup pantatnya yang telanjang kini.

“Kakimu direnggangkan… Aku ingin lihat serambi lempit mu…” perintahku pada nya, menahan nafas melihat kemaluannya yang indah itu sambil jongkok.

Buk Tuti kelihatannya sudah menyerah, ia merenggangkan kakinya. Dari bawah, aku menyaksikan pemandangan menakjubkan. Di pangkal paha dosen montok itu tumbuh rambut yang rimbun kemaluannya.

Tanganku menguakkan bongkahan pantat Buk Tuti yang bulat dan lidahnya hingga menyentuh anusnya. Buk Tuti menggeliat, air di termos tumpah sedikit keluar gelas. Lagi-lagi tumpah ketika ia merasakan lidahku sekarang itu menyusuri celah di pangkal pahanya.

Aku menguakkan bibir serambi lempitnya, menampakkan lorong sempit berwarna merah jambu dan lembab. Buk Tuti berhenti mengaduk kopi saat lidah ku menyeruak ke liang serambi lempitnya. Tubuhnya bergetar ketika lidah itu menyapu klitorisnya. Do’i tak kuasa menahan erangannya ketika bibir ku mengatup dan menyedot-nyedot klitorisnya.

“Uhhhhh… Briiyyaannhhh…” pinta nya memohon.

“diam.. pelan-pelan suaramu!!!” bisiku sambil berdiri. Namun, tangan kiriku tetap terus mengucek-ngucek kelamin Buk Tuti.

“Ayo, terus aduk kopinya. Aku mau ngaduk punyamu juga…” lanjutku, merasakan sensasi gila ini.

“Aihhhh… eungghhhh… mmhh…” Buk Tuti mengerang, saat jari jari ku itu menusuk jauh ke pusat kewanitaannya.

“enak ya sayangghh.. nikmatin aja yahhh… “deru nafasku memacu menahan gemas, sambil menggerakkan jariku dengan cepat menggesek belahan serambi lempit Buk Tuti yang terasa mulai basah dengan napas terengah-engah.

“Mmmfff… nnghhh…” terdengar desahan lirih dari mulut do’i membuatku makin bersemangat mengaduk serambi lempitnya dengan tanganku.

Kelihatan nya do’i telah pasrah… menyerah.. sementara lenguhan dan erangan lirih keluar dari bibirnya yang mungil “eemmhh… ouummhh..”persis erangan anak kucing.

Tangan kiri ku membekap pangkal paha Buk Tuti, lalu sekarang giliran jari tengahku yang beraksi menekan klitoris dosen sexy itu. Gerakan memutar di atas bagian paling sensitif itu membuat Buk Tuti berteriak teratahan. Nampak sekali do’i tak kuasa menahan sensasi yang menekan dari dasar kesadarannya.

Buk Tuti terus mendesah, apalagi sekarang aku kembali berdiri di belakangnya dan menyibak kain jilbab putihnya dan melepaskan jilbab itu, lalu melepaskan pengikat rambutnya sehingga rambut tuti menjadi tergerai. Lalu tangan kiriku menyusup ke balik pakaian Buk Tuti, lalu ke balik cup BH-nya dan memilin-milin puting susu BukTuti, yang telah tegang itu…

“Ayo sayanghh… ahhhh… jangan bohongi dirimu sendiri… nikmati… ahh… nikmati…” bisiku ke telinganya,

“Ennghhhh.. Ohhhhh…!!!”

Buk tuti memohon agar aku menghentikan perlakukanku itu namun kemudian berganti menjadi rintihan keenakan saat dia kukerjai seperti itu.

Aku terus memaju mundurkan jari ku yang terjepit serambi lempit Buk Tuti. Do’i menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba melawan terpaan kenikmatan di tengah tekanan rasa sakit dan ngilu. Tapi ia tak mampu. Akhirnya do’i mendesah dan akhirnya menjerit kecil saat ia meraih puncak kenikmatan. Tubuhnya langsung lunglai, tapi aku terus beraktifitas di belakangnya.

Mataku terpejam menikmati indahnya sensasi ini. Gigiku gemelatuk menahan indahnya fantasi itu. Aku menggeram panjang, tanpa sadar aku menekan jariku dalam dalam ke serambi lempit Buk Tuti. hingga do’i terpekik lirih karena merasakan nyeri bercampur kenikmatan. tangan kananku makin mencengkeram payudara Buk Tuti yang terasa padat dan makin megeras.

Kulihat Buk Tuti masih dibuai gelombang kenikmatan, dan aku makin kencang mengobok serambi lempit nya yang terasa basah hingga memudahkan jariku keluar masuk didalamnya.

Tak lama kemudian terdengar Buk tuti menjerit tertahan.

Aku sendiri merasakan sensasi aneh dan aku baru merasakan saat bagian dalam serambi lempit dosen cantik itu serasa menyemburkan cairan.

Buk Tuti merintih, mirip suara anak kucing, Otot serambi lempitnya megejang, serasa bagai lahar yang akan menyemburkan magma yang panas. Diiringi rintihan panjang sambil mengigit bibirnya Buk Tuti merasakan orgasme yang hebat. Melihat do’i sudah orgasme, aku tersenyum puas, perlahan kutarik keluar tanganku yang basah oleh air kewanitaan milik Buk Tuti yang mengucur dari sela kewanitaan nya.

Aku menarik jariku dari dalam serambi lempit Buk Tuti dan menyodorkanya ke hidung do’i

“wanginya pejumu sayang…” ujarku. Buk tuti terlihat mengatur nafasnya

Aku kemudian menjilat jariku yang penuh dengan lendir peju buk tuti yang terasa asin namun gurih itu.

Begitu gelombang kenikmatan berlalu, aku mengatur nafasku begitu pula Buk Tuti, kesadaran kembali memenuhi ruang pikirannya. Do’i terisak dengan tangan bertumpu pada meja dapur.

“Sudah, nggak usah nangis! Kamu harusnya berterima kasih karena kuberitahu nikmatnya seks. Sudah, cepat selesaikan kopi itu dan bawa ke kamarmu. “perintahku.

“Dan… Kamu harus pakai pakaian dalam saja, biar tambah sexy” ujarku dengan tekanan keras. Usai berkata itu, aku tersebut melepaskan blazer dan baju, pakaian yang terisa di badan Buk Tuti. Jadilah kini dosen berparas cantik, berbody montok itu hanya mengenakan bh dan celana dalam berwarna putih yang sudah kupasangkan kembali menutupi pantat montok nya.

Buk Tuti diam saja saat kupreteli pakaiannya. Mungkin nafsunya sudah tersulut dan ingin merasakan sensasi yang lebih jauh lagi bersamaku malam itu.

Buk Tuti melanjutkan mengaduk kopi, dengan seggugukan tangisan. Tapi apa daya ia hanya seorang wanita yang terperangkap antara kerakutan dan sensasi sex yang dialaminya sekarang bersamaku. Buk Tuti membiarkan aku mencumbui tubuhnya dari belakang.

“tunggu lah di kamar Brian.. nanti saya susul .. ‘ ujarnya pelan.

Aku pun bergegas ke salah satu kamar Buk Tuti. Disana terdapat sebuah kasur berikut dipan nya. Aku menunggu do’i datang dan membayangkan akan bercumbu. Memadu cinta dan nafsu lagi dengan Tuti Khairani, dosenku yang cantik, montok dan menggairahkan itu kembali… Ohhhh…

Bersambung… Seminggu setelah kejadian aku berhasil memperdaya dan memperkosa Tuti Khairani, dosenku yang montok itu, Ada rasa kangen dalam diriku untuk dapat mencicipi tubuh montoknya.

Hasrat itu tak terbendung, bayangan tubuh telanjang nya yang montok, rintihan dan desahannya saat orgasme membuatku nekat ingin merasakan indahnya tubuh dosen itu.

Maka pada hari itu, pagi – pagi aku sudah datang ke kantor akademis kampus, dengan harapan bisa bertemu dengan Buk Tuti yang biasa datang pagi-pagi sekali ke kampus. Dan… Aku mencarinya ke ruang jurusan, tepat dugaanku, do’I sudah berada di sana!. aku mendapati do’I tengah membetulkan jilbabnya di depan cermin.

Buk Tuti sedang tertunduk saat mataku mengintip saat ia tengah mengancingkan bajunya. Perempuan sintal bertinggi 160 cm ini amat montok. Bagiku Buk Tuti terlihat makin menggairahkan, walau dengan pakaian tertutup seperti ini sekalipun. Pantatnya yang bulat dan sekal itu amat menonjol, apalagi saat do’i memakai sepatu hak tinggi.

Wajahnya yang galak membuatku makin bergairah dan bernafsu terhadapnya. Keinginanku mencicipi kemaluannya pada pagi itu jadi semakin menggebu.

Tampak Buk Tuti menyadari kehadiranku dengan sudut matanya. Buk Tuti langsung pucat ketakutan melihatku sudah berada disana dan hanya berdua tanpa ada orang lain… Tubuh nya langsung berbalik kea arahku.

“Brian! ngapain kamu pagi-pagi kemari??? Ada urusan apa??” bisiknya panik.

“Aku kangen kamu sayang” ujarku

“Gila kamu.. Kamu tahu kan ini kampus!! Jangan sampai orang lain tahu hubungan kita!” bisiknya lagi.

Aku mendekatinya, Buk Tuti pun mundur beberapa langkah.

“Gak usah ketakutan gitu sayang… suasana masih sepi… Gak bakal ada yang melihat kita” ujarku.

Wajah do’I makin ketakutan saat aku terus mendesaknya.

“Ta.. Tapi jangan disini Brian..” tolaknya.

“jadi dimana? “desak ku

“Ayo ikut saya… mari kita bicara di ruangan sidang saja.. di lantai 3” ujarnya

“Tapi kamu nyusul saya aja dibelakang, jangan sampai ada yang tahu kamu mengikuti saya ya..!! “tambah nya sambil memelototkan matanya yang indah

“Lebay deh kamu, ya sudah.. mari kita ke ruanganmu” ujarku.

Buk Tuti pun bergegas keluar dari kantor jurusan dan menaiki tangga, aku pun mengikutinya dengan jarak beberapa meter dibelakang.

Saat do’i naik tangga jelas kali betapa sexy dan bohay nya body do’i saat pinggul indahnya melenggok dari belakang. aku menikmati dan membayangkan akan mencicipi body montok itu. Sungguh sempurna bodynya.. gumamku, ‘ gak sia-sia aku aku jadi orang yang pertama mencicipi wanita ini”

Tiba tiba Buk Tuti berhenti beberapa tangga di atasku, hingga aku bisa mengintip dari bawah rok panjangnya. tampak betisnya yang putih. Saat itu doi’i memakai rok panjang namun ada belahan dibagian belakang. Cukup panjang juga belahannya. Hingga aku dapat melihat celana dalamnya berwarna putih itu dari bawah.

“Ck.. ck ck.. “gumamku dengan jantung berdebar, hal ini makin merangsangku. Buk Tuti tak sadar selangkangannya kuintip. Kurasa pagi itu Buk Tuti makin merangsangku.

Tiba-tiba entah mengapa do’i kembali berhenti dan melihatku ke bawah. Tanpa disadarinya dia telah melebarkan kakinya hingga 2 batang paha super mulus teronggok menantang.

Buk Tuti menatapku beberapa saat. rudalku mengeras. Kutarik risletingku, lalu kukeluarkan rudalku, hampir mengintip dari celah celanaku. Saat itulah Buk Tuti membalik memalingkan muka, bergegas menuju ruangannya dengan sedikit mengomel kesal.

Jalannya yang tergesa membuat kainnya terangkat, betisnya yg mulus tersingkap, hingga pahanya yang mulus tampak jelas bagiku yg berada di bawahnya.

Buk Tuti membawaku masuk ke ruangan yang biasa dipakai untuk sidang skripsi. Letaknya di lantai 3 kantor akademis. Ruangan ini jarang dipakai karena dipakai hanya pada saat ujian skripsi atau seminar.

Sesampai didalam ruangan, Aku memburunya masuk kedalam. kudapati Buk Tuti berdiri menatapku dengan sorot mata memendam birahi. Namun do’I berbalik memunggungiku, berjalan menuju jendela. Langsung kuburu dia dan Kupegang tangannya dan sekali sentak seluruh tubuhnya jatuh dalam rengkuhanku. Buk Tuti menggeliat.

“Brian.. Kenapa kamu pagi pagi sudah minta…” Ujarnya memelas takut.

“Udahlah… Sebentar aja.. Aku lagi kepengen nih..” Ujarku.

“Kamu tu gak sabaran ya… Kenapa, pagi pagi begini… please.. jangan dimasukin yahhh” pintanya coba berontak, namun dengan kuat kupegangi tubuhnya agar tidak lepas.

Perempuan berjilbab ini memang wangi tubuhnya. Dalam dekapanku do’i meronta kuat hingga kusudutkan do’i ke tembok. Kubuka resleting celanaku berikut kukeluarkan rudalku dan kutekan rudalku tepat pada selangkangnya hingga membuatnya jengah akibat peting yang kulakukan.

“Briaan.. Kamuu.. Uhh…”

Kupaksa Buk Tuti menatapku tapi ia memalingkan muka dengan mata terpejam & bibir terkatup. Tak ada suara keluar dari mulut tipisnya. Hanya tarikan nafas tertahan menahan malu karena birahi dengan lelaki yang sudah mendidurinya. Tiap kutekan rudalku tepat pada selangkangnya, kupastikan rudalku terasa olehnya.

Buk Tuti menunduk, melihat itu perlahan kuangkat roknya keatas dan tanganku menjalar di pahanya. hingga berlabuh tepat di liang kewanitaannya. kuelus selangkangannya dengan lembut.

“Oohhh…” Rintihnya sambil memicingkan mata. rontaannya mulai melemah, ia terlihat mempersilahkan tanganku menjamah selangkangannya. kurasa semakin lama selangkangnya makin melebar. Ia membiarkan jari ku masuk melalui karet celana dalamnya, terdengar desahan lirih pertanda dia menikmatinya dari mulut Buk Tuti..

“Ouuuuhh.. Briaann.. hhhhh…” Desahnya mesra.

Tubuhnya makin terangkat tinggi, kaki kirinya mengangkang hingga sepatu hak tingginya hampir lepas, menampakkan tumitnya yg montok dengan jari kaki bulat lentik dan kuku terawat. Membuat rudalku mengejang makin keras cepat pada selangkangnya.

Seperti bersetubuh tapi masih berbaju. Saat mata Buk Tuti mulai merem melek merasakan permainan jariku mengobok selangkangnya, mendadak kutarik rok bawah nya ke atas sampai pinggulnya.

Buk Tuti tiba-tiba menamparku saat kucoba memasukkan rudalku pada kelaminnya yang mulus. kuraba kelaminnya yang terasa ditutupi bulu jembut yang lebat itu.

“Jangan dimasukin Briaaaan!, Gila kamu !!” kata Buk Tuti dengan ketus.

“Hei, kamu harus mau melayaniku pagi ini sayang!, bentaaar ajaa…” kataku seenaknya tapi penuh gairah terhadap dosen hot ini.

“Jangannn Ihhh…” bisiknya dengan nafas terengah engah.

Buk Tuti mengatupkan paha kuat-kuat. Kuremasi belakang pantat montoknya, hingga merabai pahanya. Buk Tuti menarik nafas, selangkangnya terbuka langsung kuhunjam rudalku dalam serambi lempitnya.

“Ouuuuhhhh…” Desahnya tak berdaya membendung rudalku masuk ke dalam serambi lempitnya, Buk Tuti terlihat telah pasrah kuentot pagi itu. Kudorong rudalku ke serambi lempitnya, agak susah dan terasa sesak sebab serambi lempit do’i masih seret dan sudah seminggu tidak dikasih jatah. Selama ini Buk Tuti memang belum pernah pacaran dengan siapa pun.

Makin lama sodokanku makin cepat. Buk Tuti masih menahan malu meluapkan birahinya. Kupegang kain jilbabnya, kutarik kuat kepalanya ke belakang. Kubenamkan rudalku dalam-dalam di liang kemaluan Buk Tuti, lalu maniku muncrat deras.

“Iiiihhhh…!!!” Buk Tuti merintih. Kusemburkan maniku beberapa kali, lalu pelan kucabut rudalku sambil menggerakkan rudalku keluar masuk dalam kemaluan dosenku ini, memberi Buk Tuti sensasi nikmat sexual.

Saat kutarik lepas rudalku, Buk Tuti jatuh terduduk lemas. Dia jongkok, berusaha mengeluarkan tumpahan maniku mengaliri serambi lempitnya. Tuti menatapku tajam dg pandangan marah. Dilemparnya celana dalamnya yg ternyata telah robek.

‘ Gilaaaaaa kamuuuu!!” jeritnya tertahan dengan tatapan penuh kebencian. Aku cuek memungut celana dalamnya yang dilempar ke aku lalu melipatnya dan kumasukan kesaku celana.

“Ntar kubeliin lagi deh celana dalammu.. kalau perlu yang lingering!! yang mahal.. biar kamu makin sexy” ujarku terkekeh

Buk Tuti tak menjawab, dia terlihat terisak sambil mengatur nafas. Aku tersenyum penuh kemenangan.

“Nanti kita pulang bareng ya sayang… kita ke Mal, beliin pakaian dalam dan baju kamu… atau sekarang… bolos aja kita” bujukku lagi.

Buk Tuti masih tidak menjawab,

“peduli amat”, yang penting aku sudah merasakan orgasme pagi ini, bathinku.

Aku segera berkemas. Sebab, sudah terdengar suara ramai orang yang datang. Sebelum pergi tak lupa kukecup bibir tipis dosenku ini. Sambil membantunya berdiri dan merapikan kembali pakaiannya.

“Nanti malam kita ulangi lagi ya sayang..”kataku. Buk Tuti tidak menjawab dia hanya terisak sebelum kutinggalkan.

“Kutunggu telfonmu ya.. kalau nanti bolos kabari aja ..” ujarku mengedipkan mata pada do’i.

Aku melangkah meninggalkan ruangan itu, baru aku sampai dilantai bawah, tiba-tiba nada masuk sms hanphone ku berbunyi. Kubuka pesan tersebut ternyata dari Buk Tuti

“kamu bawa mobil? Tunggu saya di mobil kamu “bunyi pesan itu

Aku terseyum girang dan membalas sms itu

“oke sayang. Kutunggu di parkiran mobil “ Kemudian aku bergegas menuju parkiran mobil. Suasana di kampusku saat itu masih sepi, masih sedikit mahasiswa dan dosen yang datang.

Saat berada didalam mobil, tak lama kemudian buk tuti datang menuju ke mobilku dengan tergesa gesa Akupun membuka kunci otomastis dan Buk Tuti masuk ke mobilku dan duduk dibangku depan.

“Gila kamu ya Brian… kalau sampai ada yang tahu tadi bisa kena kita berdua..!!!, saya kenak pecat kamu di DO” ujarnya melotot.

“santai sayang.. buktinya kita gak ketahuan kan” ujarku sekenanya.

Buk Tuti yang kesal itu segera mencubitku. Namun dengan cepat kutangkap tangannya dan mengarahkan tangannya ke selangkanganku.

“Nih, cubit …” ujarku menahan tangannya di selangkanganku sambil tersenyum geli

“Ihh.. kamu ini.. Sempat sempatnya.. Dasar genit..!! lepasin ah…!!” ujarnya mencoba menjauhkan tangannya yang berada di selangkanganku sambil mengomel kesal.

Namun aku malah membuka resleting celana dan mengeluarkan rudalku dan memaksa tangan Buk Tuti itu menggengam rudalku

“Heii, Brian…! Jangan gila kamu ya…! nanti nampak sama orang nggak mau ahhh..” ujar Buk Tuti panik sambil berusaha melepaskan tangannya yang kupegang

“tenang sayang.. pegang aja kataku. Gak bakalan nampak dari luar” ujarku. Karena memang mobil ku ini sengaja kupasangi kaca film yang hitam hingga orang tidak dapat melihat orang yang berada di dalam mobil.

Aku mengarahkan tangan Buk Tuti untuk mengocoknya pelan-pelan.

Buk Tuti terlihat menyerah dan mulai terbiasa mengocok rudalku

“Dasar..! Kamu ini… Stress…!!” Ujarnya kesal, namun tangannya terasa mengocok rudalku dengan ritme cepat.

“Eehh.. pelan pelan aja say.. nanti aku muncrat lho..” godaku melihat Buk Tuti sudah patuh dan mulai menikmatinya.

“jangan mucratin dulu… Awas ya kamu.. kalau mau muncrat tu bilang-bilang” ujarnya ketus sambil terus mengocok rudalku. Aku tertawa mendengarnya. Buk tuti bersungut melihat aku menertawainya.

“punya kamu gede banget ya brian… kok bisa segede ini?” ujar Buk Tuti penasaran sambil terus mengocok rudalku dengan penetrasi lambat.

Aku hanya tertawa mendegarnya

‘ tapi kamu suka kan.. hayoo jangan bilang nggak..” godaku dibalas senyuman yang dipaksa Buk Tuti

“Nah sekarang kita jalan ya.. pegangi aja itu terus.. biar saya nyaman nyetir nya” ujarku

“Stress kamu.. hati-hati tuh kamu nyetir nya…” ujar buk Buk Tuti

Tampaknya do’i sudah mulai menikmati setiap sensasi bercinta yang kuajarkan padanya.

Aku mulai memundurkan mobil dan meninggalkan parkiran kampus, sementara Buk Tuti terus menggenggam rudalku.

Matanya clingak clinguk dan was was memandang ke luar kaca. Do’I tidak melihat tapi tangannya terus mengocok, membuatku makin terbakar gairah.

“sayang.. kita hotel dulu yuk.. ‘ ajak ku.

“ke hotel mana..? nanti kelihatan sama orang lain, jangan ah.. kerumah kamu saja..” tolak nya.

“ke hotel ajalah.. biar sambil istirahat.. sambil berduaan” ujarku sambil terus mengemudi

“terserah kamu lah..” ujarnya datar.

“tapi nanti dulu.. kamu janji mau beliin celana dalamku, aku risih gak pake celana dalam Brian…” ujarnya protes. Membuatku tertawa terpingkal.

“kamu sih, kasar… sampai celana dalamku robek” sungutnya kesal.

“ha.. ha.. ha.. ya deh sayang. Aku beliin. Tapi Mal kan belum buka, tapi aku tahu kok toko tempat jual bikini yang bagus” ujarku terkekeh

“terserah kamu, pokoknya saya mau celana dalam ..!!” ujarnya tegas.

Aku pun melajukan mobil mencari toko pakaian dalam. Sepanjang perjalanan kadang aku menciuminya. Saat terkena lampu merah, kami bercipokan menunggu datang giliran lampu hijau. Sebuah sensasi yang membuat Buk Tuti terlena dan menikmatinya.

Begitu lampu hijau kami menyudahinya, kulihat Buk Tuti tersipu malu, tapi hal inilah yang makin membuatku penasaran dan gemas pada wanita yang baru kuperawani beberapa hari yang lalu ini.

Sikapnya yang pada awalnya menolak namun lama-lama mau ini membuatku gemas pada dosen yang resmi jadi pacar atau pelampiasan nafsuku itu.

Akhirnya aku memarkirkan mobil di toko pakaian dalam yang cukup terkenal, kami menyudahi aktivitas sex in drive. Aku kembali memasang celanaku dan Buk Tuti merapikan pakaiannya.

Di sana aku membelikan Buk Tuti 3 pasang pakaian dalam, yang sengaja kupilihkan, BH dan celana dalam. Satu berwarna putih, warna kesukaan dan permintaan do’i, dipilihnya yang berenda. Lalu kupilihkan warna hitam, karena menurutku warna itu sexy, bentuknya transparan dan berenda. Sungguh sexy. Terakhir kupilih warna motif macan tutul, yang model g string kecil.

“Bagus kan pilihan ku.. dipake ya Bu.. jangan sampe nggk.. model terbaru tuh.? ujar ku pada nya

“iya.. iya…” sahutnya.

“sayang.. kamu pernah gak nonton film blue?” tanyaku saat perjalanan ke hotel

“pernah lah… tapi gak sering cuma beberapa kali aja..” ujar Buk Tuti malu.

“kenapa emang nya..?” ujarnya.

“walah.. kukira kamu selama ini benar-benar alim sayang” ujarku sambil merangkulnya. Kepala Buk Tuti disandarkannya ke bahuku sambil aku terus menyetir mobil.

“sebenarnya aku penasaran setelah nonton itu “cerita Buk Tuti, mengakuinya dan sambil tertawa kecil

“kayak apa sih rasanya.. ternyata awalnya sakit juga ya Brian?” ujarnya melanjutkan

“setelah itu… ‘ pancingku sambil tanganku meremas satu susunya

“aw. ww… gatal ..! ‘ujarnya kaget. Aku tertawa melihat ekspresi dosen montok itu.

Muka do’i merah dan tiba-tiba balas meremas selangkangku.

“eitsss.. siapa yang gatal sekarang..? “balasku.

Kami berdua sama-sama tertawa menikmati moment itu.

“kamu pernah nonton film blue yang ceweknya ngisap punya cowoknya” tanyaku lagi.

“pernah.. tapi gimana ya rasanya” ujar Buk Tuti polos.

“Kamu mau coba sama punyaku say..?” pancingku lagi

“ih… jorok…” ujar Buk Tuti melengos

“jorok..? tapi coba ibu perhatiin, cewek di film itu gimana? Menikmatinya kan?” ujarku.

“iya..” ujarnya polos. Tangannya masih tetap di selangkanganku dan mulai meremas-remasnya.

“nanti kuajari ya sayang..” ujarku lagi

“kita kemana brian?” tanya Buk Tuti mengalihkan pembicaraan

“ni udah mau sampai ke hotel nya” ujarku mantap.

Mobilku memasuki sebuah hotel bintang lima. Setelah sampai diparkiran aku mengajaknya turun,

“ayo turun.. “ajaku

“ngg.. saya takut Brian.. saya gak pernah begini beginian” ujar Buk Tuti terlihat risih saat kuajak keluar dari mobil.

“nanti kalau teman-teman saya sesama dosen melihat kita berdua disini gimana ..? jangan disini deh ..” rajuknya.

“gak bakal sayangku” bujuk ku mendekat ke wajahnya dan menciumi pipinya.

“ini hotel besar. Atau gini aja, kalau Ibu risih, kita berpisah aja dulu. Saya check ini, Ibu jalan aja duluan dan pura-pura duduk di lobby. Kita masuk hotelnya gak usah barengan. Nanti kalau saya udah check ini kamar dan udah tahu di kamar nomor berapa baru ibu susul.. gimana?” ujarku menjelaskan.

“iya lah brian” ujar buk tuti mengangguk pasrah.

“tapi jangan kabur ya..” ujar memperingatkan.

“gak.. lagian mau kabur kemana saya.. kan saya kesini sama kamu.. “sungut nya.

“gitu dong cantik..” ujarku senang karena Buk Tuti ini menjadi patuh padaku. Kembali kudaratkan ciuman di pipi dan bibirnya. Ngocoks.com

Kami keluar dari mobilku. Sesuai yang kurencanakan tadi. Begitu aku sudah check in Buk Tuti mengikuti ku masuk ke lift, sesampai di lantai 8 aku dan Buk Tuti keluar dari lift dan menuju kamar yang di booking tadi.

Kamar ini sengaja kupesan type VIP dengan single bed.

Sekarang aku dan Buk Tuti berduaan saja di dalam kamar. Setelah mengunci pintu, kami langsung berpelukan. Kurasa Buk Tuti memeluk ku erat.

“tenang sayang..” bisik ku.

“aku takut Brian.. tapi aku percaya kamu..” sahutnya.

Setelah beberapa saat aku melepaskan pelukannya,

“buka jilbabnya dong sayang..” perintahku.

“kamu mau langsung main sayang..” ujarnya tersipu malu. Aku hanya tersenyum kecil, Namun Buk Tuti patuh membuka jilbabnya hingga sekarang do’i tidak mengenakan jilbab lagi. Rambut nya dicepol kebelakang

“ibu sadar gak sih… ibu itu cantik banget “pujiku mengagumi kecantikan dosen ku itu.

“ah.. kamu.. bisa aja.. banyak sih yang bilang he he.. tapi aku cuma kamu yang punya Brian sayang” jawabnya tanpa kusangka sangka.

“gitu dong, Ibu panggil aku sayang juga..” ujarku. Kembali Buk Tuti menghempaskan tubuhnya di pelukan ku. Aku mendekap nya erat, kami tenggelam dalam perasaan sayang dan nafsu.

“mari kita tidur-tiduran sayang.. capek juga ya, tadi pagi” ajaku membawanya ke ranjang.

“mari sayang..” ujar Buk Tuti manja.

“ee.. tunggu.. “tambahku, aku merasa ada yang kurang, setelah kufikir aku baru mengerti.

“ibu pake dong pakaian dalam tadi.” ujarku

“nanti lah Brian.. kita istirahat dulu” ujar do’i malas-malasan

“gini, maksudku kita tidur-tiduran, tapi ibu pakai pakaian dalam aja, pakaian kerja nya dilepas aja” ujarku lagi

“ih.. kamu genit.. maunya..” ujarnya gemas

“mana ..” ujar nya. Aku memberikan bungkusan berisi pakaian dalam yang kami beli tadi padanya.

“kamu mau aku pake yang mana sayang” ujarnya sambil membuka bungkusan itu dan memperlihatkan 3 bungkusan plastik pakaian dalam padaku.

“yang hitam ya..” kataku sambil mengedipkan mata.

“oke deh sayang.. tapi cium dulu..” ujarnya nakal, memberikan pipi nya untuk kucium. Kurasa dosenku ini sudah benar-benar tergila gila padaku.

Aku pun menciuminya. Setelah aku mencium nya secepat kilat Buk Tuti mengarahkan kepalaku berhadapan dengan nya. Dan langsung mengajak ku bercipokan.

Kembali bibir dan mulut kami saling hisap, saling jilat dan saling mengejar satu sama lain shh, ooh… mphhh.. mhhhh…” desah Buk Tuti, mulutya memburu kemana mulutku pergi. Sepertinya doi makin kecanduan permainan seksual.

“sayanggghh… udahh… nanti gak jadi ganti bajunya” ujarku mengingatkan.

“ohh iya… kamu sih…” ujarnya terengah mengatur nafas.

Buk tuti melepaskan kulumannya di mulutku dan menuju kamar mandi.

Melihat itu aku pun menghela nafas, ternyata Buk Tuti telah kecanduan bercinta denganku. Akupun tak memungkiri begitu liarnya dan penuh gairah bercinta dengan Buk Tuti yang selama ini membuatku penasaran dengan pakaian nya yang tertutup dan sikapnya yang galak.

Bersambung… Aku rasa setelah beberapa kali bercinta nya sikap galak do’i menular saat bergumul di atas ranjang. He he he.. bodynya yang padat, putih bersih, mulus dan montok berisi itu seolah menjerat nafsuku untuk terus bercinta dengannya. Membuatku nyaman dalam dekapan tubuh montoknya. Aku amat beruntung dapat bercinta dengan do’i.

Kurasa selama ini libidonya tidak tersalurkan hingga datang seorang pria, yakni aku, yang berhasil menjamahinya tubuhnya yang konon, tidak pernah disentuh pria lain itu. Selain itu caranya yang pertama menolak namun akhirnya malah membalas dengan liar menjadi suatu sensasi yang dahsyat memancing birahiku.

Aku membuka seluruh pakaianku hingga hanya mengenakan underwear saja. Lalu aku berbaring ke atas kasur hotel yang empuk itu. Menunggu si dosen molek itu menyerahkan tubuh montoknya agak bisa kuremas, kujilat, kucumbu dan kujamahi setiap jengkal tubuh indahnya itu.

Tak lama kemudian Buk Tuti muncul dari kamar mandi, rambutnya diikat kebelakang. Tubuh montok itu hanya mengenakan bra hitam dan celana dalam bewarna sama dan juga berenda dan agak transparan, menampakan selangkangannya. Dari balik celana dalam hitam transparan itu nampak selangkangannya yang indah itu.

Wajah do’i memerah menahan malu, melihat mataku yang melotot mengaggunmi keindahan bodynya.

“kesini dong sayang.. duh… sexy banget …” ujarku takjub.

Buk Tuti malu-malu mendekat dan kemudian naik keatas ranjang.

“Brian.. kenapa kamu suka sama saya? Bukannya usia saya terpaut jauh diatas kamu?” tanya nya. Jarak usia ku dengan Buk Tuti sekitar 7 tahun, aku berusia 23 tahun, Buk Tuti berusia 30 tahun.

“banyak wanita sebaya kamu yang jauh lebih menarik dari aku. Kenapa kamu memilih aku?” tambahnya memberondongku dengan pertanyaan.

Aku mengela nafas,

“ke sini sayang.. tidur disebelahku dulu” peritahku agar dia berbaring disampingku.

Buk Tuti pun membaringkan dirinya disebelahku. Aku menatapnya hingga kami bertatapan dalam posisi menyamping

“Kamu itu cantik… laki-laki mana yang menyangkal.. kalau ada pasti mereka gila” ujarku.

“kamu tidak berniat merusak saya saja kan Brian” ujar Buk Tuti, rona wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sebuah keraguan

“sayang… walaupun kamu lebih tua dariku, aku tidak malu berpacaran denganmu” ujarku mencoba menenangkan do’i.

“pacar..? sejak kapan kita pacaran?” Tukas Buk Tuti heran, tapi sambil tertawa sinis

Aku pun mencoba menghiburnya

“Ibu sudah pernah pacaran? “pancingku

“dulu.. udah lama waktu sekolah SMA, kata orang itu cuma cinta monyet. Saya orangnya serius Brian, dari dulu saya belajar, belajar dan belajar hingga saya dapat meraih prestasi.”

“jadi bagi saya belajar dan pendidikan itu segalanya, mana sempat pacaran, ada sih, beberapa pria yang coba mendekatiku, tapi aku tidak tertarik dan menganggap mereka teman” ceritanya lagi.

“jujur, aku penasaran bagaimana rasanya pacaran. Aku berharap keperawanan yang sudah kujaga selama bertahu tahun ini akan kuberikan pada suami ku di malam pertama kelak. tapi aku tidak menyangka. Harus berakhir seperti ini.” ujarnya mulai sedih.

“kamu pria pertama yang menyentuhku Brian, bahkan merenggut kesucianku” tambahnya.

Aku sadar dia mulai larut dalam fikiran sedihnya.

“tapi pacaran kan gak mengenal tua muda sayang..” ujarku berusaha menenangkan. Aku merangkul tubuhnya.

“ aku tahu perbuatan yang kita lakukan ini dosa dan terlarang Brian. Tapi kamu… kamu… menjeratku.. hingga aku tak kuasa… “terdengar do”i mulai terisak. Aku memeluk dan mencium keningnya. Aku biarkan dia mencurahkan perasaannya, karena mau tak mau dia sudah menjadi milik ku. Setidaknya untuk saat ini.

“udahlah kamu istirahat saja dulu.. gak seru suasananya. Aku pingin kita berduaan roamtis romatisan disina, kamu nya malah curhat” ujarku ketus.

Buk Tuti hanya diam. Tatapannya hampa dan menerawang.

“kalau masih bicara kayak tadi, aku pergi saja lah..” ujarku pura-pura kesal dan beranjak dari ranjang.

Tapi secepat kilat Buk Tuti meraih tanganku dan menahanku

“” mau kemana kamu..? jangan tinggalkan aku Brian..” rajuk nya memelas padaku

“kalau ngomongnya seperti itu tadi aku gak suka ya…” ancamku

“iya iya.. aku gak bicarakan itu lagi ..” jawabnya

“bilang dulu, iya Brian sayang..” ujarku

Do’i tersenyum nakal

“iya Brian sayang..”

“gitu dong” ujarku senang mengusap pipi nya.

Buk Tuti kemudian mendekatiku, Kurasa saat itu do’i mendekatkan wajahnya ke wajahku. Segera aku mencium aroma wangi dari tubuhnya hingga membuat jantungku berdetak.

Bahkan kemudian ia melanjutkan dengan mendekatkan bibirnya ke bibirku, membuat detak jantungku menjadi kencang. Sesaat kemudian kusadari bibirnya dengan lembut telah melumat bibirku.

Kedua tangannya dilingkarkan ke leherku dan semakin dalam pula aroma wangi tubuhnya terhirup napasku, yang bersama tindakannya melumat bibirku, kemudian mengalir dalam urat darahku sebagai sebuah sensasi yang indah.

Buk Tuti terus melumat bibirku. Lalu tangannya pelan-pelan mengusap pundak ku dengan lembut, aku balas memeluk tubuhnya yang terasa montok dan padat. Kemudian tangan ku menelusuri setiap lekuk tubuh Buk Tuti dengan membelai dan mengelus kulitnya yang halus. Semakin lama tanganku merambat kebawah dan sekarang menuju selangkangannya.

Aku menengok ke bawah, jantungku berdetak kencang. Tubuhnya begitu mulus dan putih. Saat tanganku menyentuh selangkangannya. Buk Tuti melenguh pelan, saat kuelus selangkangannya itu dengan ujung jariku.

“Mpphhhh… Briaaannnhhh…” desahnya manja disela mulut kami saling berpagutan. Terasa mulutnya menggingiti bibirku. Di balik celana dalam berwarna hitam berenda yang indah itu kurasa tersembul bongkahan bukit yang menggairahkan. Di tepi renda celana itu, tampak rambut yang menyembul indah melengkapi keindahan yang sudah ada.

Kulihat Buk Tuti tersenyum, saat kuelus selangkangannya. Do’i menatap lonjoran tegang di balik celana dalamku. Tangannya yang lembut mengelus pelan lonjoran itu.

Sensasi yang menjelajahi aliran darahku kemudian menggerakkan tanganku mengelus bukit rimbunnya. Do’i tampak memejam sesaat dengan erangan yang pelan ketika tanganku menyentuh daging kecil di tengah bukit rimbun itu.

Kemudian Buk Tuti mendorong tubuhku hingga berposisi berbaring di ranjang. Do’i lalu memposisikan diri berada diatasku.

“Brian… aku mau mencoba memuaskanmu ..” ujarnya manja.

Dadaku berdegup kencang mendengarnya, seluruh syaraf rangsangku terpacu melihat Buk Tuti yang cantik itu berubah menjadi begitu binal seakarang.

“ya sayang..” ujarku datar, dan menunggu apa yang akan dilakukannya padaku.

Buk Tuti yang berada diatas ku itu mulai menyelusuri leherku dengan bibirnya. Napasnya membelai kulit leherku sehingga terasa geli namun nikmat. Kadang-kadang ia menggigit leherku namun rupanya ia tidak ingin meninggalkan bekas. Aku hanya memejamkan mata menikmati cumbuan do’i padaku.

Kemudian do’i turun ke dadaku dan mempermainkan puting susuku dengan mulutnya, yang membuat aliran darahku dialiri perasaan geli tapi nikmat.

“Ohhh.. Buuukk..” desahku merintih menahan nikmatnya jilatan lidahnya di tubuhku. Aku tak menyangka do’i pandai menyervisku seperti ini.

Semakin ke bawah do’i diam sesaat menatap batang yang tersembunyi di balik celana dalamku. Sesaat ia mempermainkannya dari luar sambil menatapku dengan tatapan mupeng dan penuh birahi. kemudian kulihat do’i menarik celana dalamku. Buk Tuti tersenyum ketika menyaksikan rudalku yang tegak dan ngaceng, seperti mercu suar yang siap memandu pelayaran gairah libido kewanitaannya.

Tanpa kuduga tiba-tiba do’i kemudian mengulum rudalku. Maka aliran hangat yang bermula dari permukaan syaraf rudalku pelan-pelan menyusuri aliran darah menuju ke otakku.

“Ahhhh…” desahku. Aku serasa diterbangkan ke awan pada ketinggian tak terukur. Buk Tuti terus mempermainkan lonjoran daging kenyal rudalku itu dengan kelembutan yang menerbangkanku ke awang-awang. Ngocoks.com

Caranya mempermainkan barang kejantananku itu seperti orang yang sudah berpengalaman. do’i i dengan sangat lembut seolah tak ingin melewatkan seluruh bagian syaraf yang ada di situ.

Ketika perjalananku ke awang-awang kurasakan cukup, kutarik rudalku dari dekapan mulut lembutnya. Giliran aku yang ingin membuat dia terbang ke awang awang. Maka kubuka bra yang menutupi payudara indahnya. Semakin terperangahlah aku dengan keindahan yang ada di depan mataku. Di depanku bediri dengan tegak bukit kembar yang indah sekaligus menggairahkan.

Aku hanya mengelus putingnya sebentar. Itupun aku sudah menangkap desah halus yang keluar dari bibir indahnya.

“SShhhh… Oowwwwhh… Briannhh… Sayannggh.. Terusssa sayanggh.. enakkk..” desahnya

Aku mulai menggeser posisiku dengan bersandar ke kepala kasur dan diikuti oleh Buk Tuti. Dengan posisi berada dibawah tubuhnya, Kumulai mengecup lehernya. Kulit lehernya yang halus licin seperti porselen dan wangi kususuri dengan bibirku yang hangat. Buk Tuti mendesah terpatah-patah. Tanganku tak kubiarkan menganggur.

Jari-jariku memijit lembut bukit kenyal di dadanya dan kadang-kadang kupelintir pelan puting merah kecoklat-coklatan yang tumbuh matang di ujung buah dadanya itu. Kurasakan semakin lama puting itu pun semakin keras dan kencang. Setelah puas menyusuri lehernya, aku turun ke dadanya. Dan segera kulahap puting yang menonjol merah coklat itu.

“Oohhhhh… “desahnya tertahan.

Kusedot puting itu dengan lembut. Ya, dengan lembut karena aku yakin gaya seperti itulah yang diinginkan do’i. Mulutku seperti lebah yang menghisap kemudian terbang berpindah ke buah dada satunya. Tapi tak kubiarkan buah dada yang tidak kunikmati dengan mulutku tak tergarap. Maka tangankulah yang melakukannya.

Setelah puas aku turun bukit dan kususuri setiap jengkal kulit wanginya. Aku menurunkan posisi tubuh ku semakin turun kebawah. Lidahku mejelajahi perutnya hingga wajahku tepat berada si selangkangannya hingga kucium aroma yang khas dari barang pribadi seorang perempuan. Aroma dari serambi lempitnya.

Semakin besarlah gairah yang mengalir ke otakku. Tapi aku tidak ingin langsung menuju ke sasaran. Cara Buk tuti membuatku melayang rupanya mempengaruhiku untuk tenang, sabar dan pelan-pelan juga membawanya naik ke awang-awang. Maka dari luar celana dalamnya, kunikmati lekuk bukit dan danau yang ada di situ dengan lidah, bibir dan kadang-kadang jari-jemariku.

“Ooocccchh… Briaannn.. Hhhh… Oooohhh… Sayanggghh.. hhh..” jerit nya megap megap.

Setelah cukup puas, baru kutarik celana dalamnya pelan-pelan. Aku tersentak menyaksikan apa yang kulihat. Bukit yang indah itu ditumbuhi rambut yang lebat.. Meski lebat, rambut yang tumbuh di situ tidak acak-acakan tapi merunduk indah mengikuti kontur bukit rimbun itu. Walaupun aku pernah beberapa kali mecicipinya, walau belum pernah menjilatinya, tapi aku tidak mengira seindah itu.

Suasana hotel yang tenang ini menambah fantasi liarku. Segera berkelebat pikiran dalam otakku, betapa menyenangkannya tersesat di hutan teduh dan indah itu. Maka aku segera menenggelamkan diri di tempat itu, di hutan itu. Lidahku segera menyusuri taman indah itu dan kemudian melanjutkannya pada sumur di bawahnya.

Maka Buk Tuti menjerit kecil ketika lidahku menancap di lubang sumur itu. Di lubang serambi lempitnya. Bau khas serambi lempit yang keluar dari lubang itu semakin melambungkan gairahku. Dan jeritan kecil itu kemudian di susul jeritan dan erangan patah-patah yang terus menerus serta gerakan-gerakan serupa cacing kepanasan.

“AHHHH.. BRIANNNNNHH.. OOHH.. ENAKKK… OOHH..” Jerit Buk Tuti.

Aku menikmati jeritan itu sebagai sensasi lain yang membuatku semakin bergairah pula menguras kenikmatan di lubang sumur serambi lempitnya. Lendir hangat khas yang keluar dari dinding serambi lempitnya terasa hangat pula di lidahku. Kadang-kadang kutancapkan pula lidahku di tonjolan kecil di atas lubang serambi lempitnya. Di klitorisnya.

Kemudian pada suatu saat ia berusaha membebaskan serambi lempit nya dari sergapan mulutku. Ia menarik tubuhnya dari atas tubuhku.

“Briann.. aku gak tahan sayangghhh… masukinn… yahh.. “rengeknya manja. Buk Tuti sekarang berbaring disebelahku dan menarik tubuhku berada diatas tubuhnya.

“kenapa sayang.. gak tahan yahh..” godaku.

“kamu jahat.. kamu harus tanggung jawab Brian..” ujar Buk Tuti menatapku dengan pandangan yang penuh nafsu membara

‘ tanggung jawab apa ..?” godaku kembali.

Do’i tak menjawab, ronanya wajahnya memerah. kurasa do’i memegang rudalku yang sudah tidak sabar mencari pasangannya itu.

Buk Tuti membimbing daging kenyal yang melonjor tegang dan keras itu masuk ke dalam serambi lempitnya. Aku pun pelan-pelan menyodokan batang rudalku kedalam lobang cintanya.

“Ugghhh.. tahan sayannngg, masih nyerii…” bisiknya tertahan. Aku mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar guna memudahkan batang pelerku kedalam bukit indah itu.

Terasa kepala kombet ku sudah mulai tertelan black hole nya. Aku terus menekan pinggulku kedalam,

“masukkin sayannggg ahhhhh…” desah buk tuti mencengkram lenganku. Do’i memajukan pinggulnya seolah mau melumat batang pelerku. Dan..

“Blesss…”

“Aaaaaaaaggghhh…”

Diiringi teriakan Buk Tuti, akhirnya rudalku bablas ke dalam serambi lempitnya, terdengar jeritan kecil yang menandai kenikmatan yang ia dapatkan. Aku juga merasakan kehangatan mengalir mulai ujung rudalku dan mengalir ke setiap aliran darah. Ia memegangi pundakku dan menggerakkan pinggulnya yang indah dengan gerakan serupa spiral.

“Uuuhh… Ugghh.. Hhh.. Ooohh.. Ahhhh..” Desah Buk Tuti saat serambi lempit nya kugenjot dari atas.

Suara gesekan pemukaan rudalku dengan selaput lendir serambi lempitnya menimbulkan suara kerenyit-kerenyit yang indah sehingga menimbukan sensasi tambahan ke otakku. Demikian juga dengan gesekan rambut kemaluannya yang lebat dengan rambut kemaluanku yang rapi.

“Ssshhhh… Hhhhh… Owwwwhh.. Mmmpphh..”

Suara-suara erangan dan desahan napasnya yang terpatah-patah, suara gesekan rudal dan selaput lendir serambi lempitnya serta suara gesekan rambut kemaluan begitu nikmat sekali.

Matanya yang terpejam kadang-kadang terbuka dan tampak sorot mata yang aku hapal seperti sorot mata yang tidak biasa kulihat saat bercinta dengan do’i. Sorot matanya seperti itu. Sorot mata nikmat yang membungkus perasaannya. Mungkin karena aku dan do’i melakukan ini dengan sama sama menikmati. Tidak seperti yang sebelumnya.

Sekian lama kemudian ia menjerit panjang sambil meracau..

“Briaaannhh Oooocchh Briannn Ahhh… Aku.. Aku akuu mau keluarr, Briannhhh… !!!”

teriak nya suara nya terdengar berubah menjadi parau.

Sesaat ia terdiam sambil menengadahkan wajahnya ke atas, tapi matanya masih terpejam. Kemudian Buk Tuti melanjutkan gerakannya. Barangkali ia ingin mengulanginya dan aku tidak keberatan karena aku sama sekali belum merasakan akan sampai ke puncak kenikmatan itu. Sebisa mungkin aku juga menggoyangkan pinggulku agar dia merasakan kenikmatan yang maksimal.

Jika tanganku tidak aktif di buah dadanya, kususupkan di selangkangannya dan mencari daging kecil di atas lubang serambi lempitnya, yang dipenuhi oleh rudalku. Aku terus menghujamkan kejantananku keluar masuk lobang serambi lempit nya yang sudah terasa makin licin, melancarkan rudalku untuk menyeruak ke bagian lebih dalam.

Lobang serambi lempit do’i memang masih terasa rapat dan singset. Otot serambi lempitnya seakan mencengkeram dengan kuat otot rudalku. Maka gerakan pinggulnya untuk menaik turunkan serambi lempitnya menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. Membuat rudalku ditelan dan dipelintir di dalam kemaluannya itu. Dan sejauh ini aku belum merasakan tanda-tanda lahar panasku akan meledak.

Bu Tuti memang luar biasa, aku heran do’i seperti tahu menjaga tempo permainannya agar aku bisa mengikuti caranya bermain. Ia seperti tahu menjaga tempo agar aku tidak cepat-cepat meledak. Memang sama sekali tidak ada gerakan liar. Yang dilakukannya adalah gerakan-gerakan lembut, tapi justru menimbulkan kenikmatan yang luar biasa, Sekian lama kemudian aku mendengar lagi ia meracau..

“Ah.. Ah.. Akuu kelluuarr lagiihh… Ugggghhhh…!” Di susul jeritan panjang melepas kenikmatan itu.

Aku yang belum mencapai orgy terus melanjutkan permainan cinta yang lembut tapi panas itu. Aku mulai menggenjotnya dengan cepat dan bertenaga. Tapi sesaat kemudian ia berbisik dengan mata yang masih terpejam..

“Pelan-pelan saja, Brian. Aku masih ingin orgasme”. ujarnya

Aku tersadar apa yang telah kulakukan. Maka kini gerakanku pelan dan lembut seperti permintaan Buk Tuti. Kini erangan dan desahan patah-patahnya kembali terdengar. Do’i menarik punggungku agar aku lebih dekat ke badannya. Aku maklum. Tentu ia ingin mendapatkan kenikmatan yang maksimal dari gesekan-gesekan bagian tubuh kami yang lain.

Dan memang benar, begitu dadaku bergesekan dengan buah dadanya, semakin besarlah sensasi kenikmatan yang kudapat. Kurasa demikian juga dengannya, karena jeritannya berubah semakin santer. Apalagi saat aku juga melumat bibir merahnya yang menganga, seperti bibir serambi lempitnya sebelum aku menusukkan rudalku di situ.

“Mmmhh.. Hhh.. Oowwwhh..”

Meskipun jeritannya agak bekurang karena kini mulutnya sibuk saling melumat bersama mulutku, tapi aku semakin sering mendengar ia mengerang dan terengah-engah kenikmatan. Hingga beberapa saat kemudian aku mendengar ia meracau seperti sebelumnya..

“Aku.. Aaaah.. Aku.. Uhhh… Aku keluarr laggiii.. Ahhhh…!!!!!” jeritnya

Setelah jeritan panjang itu, matanya terbuka. Tampak sorot matanya puas dan gembira. Kemudian ia berbisik terengah-engah..

“Aku.. Aku.. kamu kok belum keluar sayanghh.. ayo sayang.. semprot aku… genjot akuuuhh… terus sa… yaangg hhhh…” ujarnya dengan nafas terengah-engah. Do’i mencoba mengimbangi sodokanku yang semakin lama semakin cepat keluar masuk lobang kawinnya.

Sekian lama kemudian kurasakan lahar panasku ingin meledak. rudalku berdenyut-denyut enak, menandai bahwa sebentar lagi akan ada ledakan dahsyat yang akan melambungkanku ke awang-awang. Maka aku membenamkan rudalku kedalam lubang serambi lempitnya yang nikmat itu.

”.. Uhhh.. Uhh. Uhhhhhh…!!!!! ”. jeritnya.

Maka ketika lahar panas dari rudalku benar-benar meledak, kubiarkan ia mengendap di sumur serambi lempit milik Buk Tuti, dengan diiringi teriakan nikmatku.

“Oouuhhhh…!!!!” jeritku panjang saat merasakan seluruh persendian ku seperti mengeluarkan semua tenagaku.

Buk Tuti begidik dan berteriak panjang pula saat kutumpahkan sperma ku dalam lobang kawinnya.

“adduhh… enakkk sayannngghhh… Ouuhh..” rintihnya tertahan merasakan gelombang kenikmatan di seluruh tubuhnya.

Setelah itu kami mengatur nafas. Sekujur tubuhku terasa berkeringat. Buk Tuti memintaku untuk tetap berada di atas tubuhnya barang sesaat. Dengan lembut ia menciumi bibirku dan tangannya meremas-remas rambut ku. Aku juga melakukan hal yang sama dengan mengusap-usap buah dadanya yang saat itu basah karena keringat.

Aku sudah sangat dekat dengan Buk Tuti. Aku merasa dosenku ini seperti kekasihku yang sudah sering dan sangat lama bermain cinta bersama. Aku merasa sangat dekat. Maka begitu aku merasa sudah cukup, aku menarik rudalku yang sebenarnya masih sedikit tegang dari lubang serambi lempitnya. Tampak air muka Buk Tuti sedikit kacau.

Sambil bergurau, aku menggodanya..

“Ibu.. Justru kelihatan cantik setelah bercinta” godaku.. Do’i hanya tertawa mendengar gurauanku.

“iya sayang enak banget bercinta denganmu.. aku kecanduan sayang… Aku sedikit capai tapi merasa segar…”, jawabnya dengan berbinar.

“I love you Brian “tambahnya mengecup pipiku.

Dosen killer itu sekarang resmi menjadi kekasihku. Sikapnya yang ini galak, akibat fikirannya yang terus menerus serius, terobati dengan kehadiranku. Yang akan selalu memberinya kenikmatan dan sensasi – sensasi kenikmatan seksual yang belum pernah dia rasakan selama 30 tahun dia hidup.

Begitulah, kini hampir setiap akhir pekan aku selalu bercinta dengan dosen ku Bu Tuti Khairani ini. Wanita perawan tua yang semula hanyalah seorang wanita yang terobsesi dengan karir dan menuntut ilmu hingga berubah menjadi wanita haus akan pelajaran-pelajaran seksual dariku. Pemerkosaan yang kulakukan ternyata membuka jalan ku mendapatkan apa yang ku mau dari Buk Tuti yang montok ini.

Buk Tuti tetap menjadi dosen yang dihormati oleh semua orang di kampus. Aku sedikitpun tidak ingin merusak citranya. Dan ia pun sekarang seorang yang professional, meskipun di luar kami sering bercinta, do’i pintar menutupi hubunganku dengannya.

Sebagai mahasiswanya dan ia membimbing bahkan mengejarkan tugasku dengan serius. Sesuatu yang sangat aku sukai. Bercinta dengannya bukan sekedar mendapat kepuasan libido, aku merasakan sesuatu yang lain. Entah apa itu.

Bersambung… Setelah beberapa kali bercinta dengan Buk Tuti, dosenku yang montok di berbagai kesempatan, membuat aku dapat melampiaskan semua birahi seks ku pada wanita ini. Buk Tuti dan aku bagaikan sepasang kekasih, namun kami berdua tidak menunjukan kemesraan kami pada public. Apalagi di lingkungan kampus. Untuk menjaga reputasi do’i sebagai dosen yang alim.

Demikian pula dengan kejadian ini. Keinginanku yang belum terpenuhi adalah menggenjot Buk Tuti di kampus, sebuah sensasi yang belum pernah aku lakukan dengan do’i. di lain pihak kuperhatikan Buk Tuti tambah hari semakin ketagihan dengan seks denganku.

Bahkan dosen killer itu selalu mencari kesempatan untuk bercinta denganku, apalagi saat do’i pulang mengajar dari kampus. Terkadang sehabis kami berhubungan badan, akumemberikan Buk Tuti sejumlah uang guna membayar sewa kost an nya, biaya hidupnya dll.

Buk Tuti seperti telah menjadi gundik ku. Karena kutahu do’i hanya sendiri di kota ini, tanpa dibantu oleh saudara saudaranya. Maka nya selain kecanduan nge sexs denganku do’i juga sayang padaku.

Terkadang membuatku risih. Tapi karena kesibukan do’i mengajar, ditambah do’i berencana mengambil S3, aku bisa melepaskan diri dari do’i, terutama pada pagi dan siang hari.

Malamnya do’i bersamaku atau aku yang datang menemani nya belajar di kost an nya. Semua yang kuberi kuanggap sebagai tanda terima kasih ku padanya karena telah mau menjadi selingkuhanku.

Awalnya Buk Tuti tidak mau menerima uang itu, mungkin do’i tersinggung. Setelah kubujuk dan ku rayu, kalo tidak diterima, aku pura-pura marah hingga do’i menerima pemberianku.

Malahan sekarang aku memindahkan kost an nya dari tempat yang sempit itu ke sebuah kost an yang cukup mewah. Kiriman dari uang tuaku dan jatah dari usaha orang tuaku cukup untuk memenuhi kebutuhanku bahkan aku dapat membiayai kebutuhan Buk Tuti, termasuk biaya kuliahnya yang cukup mahal.

Selepas menyelesaikan urusan administrasi di biro kampus, aku pergi menuju ruangan Buk Tuti, jabatan Buk Tuti sudah cukup tinggi sekarang, menjadi dosen tetap beberapa mata kuliah dan memiliki ruangan tersendiri di kampus.

Aku berinisiatif untuk memantaunya dari luar, sudah hampir 2 jam aku mengawasi hilir mudik ruangan nya terasa ramai sekali karena ada beberapa mahasiswa yang berdiksusi dengannya masalah proposal penelitian, baru ketika menginjak sore terasa sepi dan tinggal beberapa orang saja.

Aku langsung menutup matanya dengan kedua tanganku

“Hei… siapa ini ..??!! Lepas aaah “sungut Buk Tuti terkejut.

“Jangan keras keras honey…” kataku dengan pelan

Mendengar nada suaraku Buk Tuti langsung diam lalu membuka tanganku dan memalingkan ke belakang

“Kamu toh, Brian.. bikin saya kaget… dari mana kamu masuk?” tanya Buk Tuti geleng geleng kepala.

“Ya pintu depan donk “ “Nggak ada yang tahu?”

“Nggak.. orang sudah pada pulang.. paling ada ibu-ibu yang bersihkan halaman tuh. “ “Wuih kamu nakal.. ada perlu apa kesini?” tanya Buk Tuti dengan tersenyum

“Apalagi kalo nggak bercinta denganmu sayang.. “candaku nakal dengan menjawil buah dadanya yang tertutup kemeja putih dan blazer hitam.

“Nakal ah kamu .. “genit Buk Tuti dengan gemas.

“Tapi suka khan?” candaku lagi dengan gemas

“Kamu tunggu sini dulu.. saya mau periksa dulu yaaa ..” ujar Buk Tuti dengan meninggalkan aku namun ketika lewat sampingku, aku langsung meremas pantatnya

“Ssssst.. jangan nakal ah” bisik Buk Tuti dengan tersenyum menggoda

Buk Tuti keluar menuju pintu dan memastikan pintu sudah terkunci dari dalam, kemudian do’i memastikan lagi dengan melihat lihat melalui jendela.

Disaat itu aku memberanikan diri membuka baju dan celanaku hingga hanya mengenakan underwear saja. Aku sengaja bersembunyi di balik lemari besar di ruangan itu

Tak lama kemudian Buk Tuti membalikan badan kearah ku. Kudapati do’i kaget karena tak menemukanku diruangannya. Ketika Buk Tuti tampak bingung dan mencari ku, posisinya pas berada membelakangiku yang bersembunyi di belakang lemari rak buku nya, aku langsung memeluknya dari belakang

“Hahhh.. Ngagetin aja kamu sayang .. “semprot Buk Tuti merasa terkejut. Saat itu pula aku menusukan rudalku yang sudah ngaceng di pantatnya dari belakang namun Buk Tuti belum menyadari kalo aku sudah setengah telanjang.

“Ih.. kok ada yang aneh di pantatku, sayang “celetukBuk Tuti dengan menggoda

“Itu milik mu Buk Tuti sayangg ..” godaku

“Haaah.. nakal ah kamu ..” ujarnya terkekeh nakal.

“Copot deh seluruh baju kamu.. aku ingin melihat keseksian dan kesintalan tubuh mu..” ajakku dengan gemas

“Boleh…” sahut Buk Tuti dengan membuka jilbabnya. Saat do’i lalu kemudian berbalik.. do’i melotot melihatku hanya mengenakan underwear rudalkusudah ngaceng mengacung dengan tegak dari balik underwearku.

“Iiihh… kamu buat aku nggak tahan deh sayanggg… ayoo.. sini ..” kata Buk Tuti membuka satu persatu pakaiannya itu dengan tergesa gesa tak tahan nafsunya yang semakin naik seiring melihat rudalku yang besar dan ngaceng itu.

Pakaian itu akhirnya terlepas semua dan sisa BH dan Celana dalam warna putih bermotif bunga kesukaanBuk Tuti, dengan pelan pelan, kedua tangannya ke belakang dan membuka kaitan BHnya dan… alamak.. buah dadanya sungguh indah sekali menantang dan menggairahkan, di situlah aku sering bermain dan mempermainkan buah dadanya.

Dengan masih tersenyum kemudian melemparkan bra-nya kepadaku dan kutangkap lalu kucium pada cupnya, tak lama kemudian do’i membuka celana dalamnya, begitu celana dalamnya turun sebatas paha, terlihat rambut kemaluan di serambi lempitnya yang rimbun dan eksotis itu. kemaluannya tampak mulai membasah, dilihat dari bercak di celana dalamnya.

“Ayo sayang… perkosa akuu…?” ujar ku, mengerling pada nya. Melihat itu Buk Tuti menarik tanganku menuju ke kursi kerjanya yang di depannya ada meja lumayan besar.

“Duduk disini sayang…” perintahnya menyuruhku duduk di kursi kerjanya. Dengan wajah mupeng, do’i memandang tonjolan di selangkanganku.

“sini dibukain celana dalam kamu ya..” ujarnya. Tanpa menunggu persetujuanku do’i melepaskan celana dalamku. Hingga rudalku yang tegang itu menjulang.

Buk Tuti tersenyum dan mengelus elus batang rudalku. Terus kemudian diurut nya dari pangkal sampai ke kepala nya.

“gede nyaa… panjang lagi… ini yang bikin saya gak bisa lupain kamu..” ujarnya memuji betapa gede dan panjang nya rudalku sambil tertawa nakal.

Buk tuti terus memijit rudalku, tangannya menggenggam batang rudalku dan sesekali tangannya satu lagi memainkan buah zakarku.

“Uuhhhh… sayaaangghhh… gelliii ouuhh… “desahku meringis merasakan nikmatnya tangan Buk Tuti mempermainkan rudalku.

“Jilaatt sayaanngghh.. seperti biasaaa.. emuuuttt… rudalkuuu, mau khan?” godaku meringis menahan rasa nikmat yang mejalari seluruh syaraf rangsangku.

“Mauu..? “goda Buk Tuti makin nakal dan mulai mengocok batang rudalku.

“Mauuu sayanngghh… hisaaapp uuhhh…” ujarku merem melek.

“pernah saya menolak punyamu sayang ..? di mana pun ada kesempatan ngemut ini, saya lakukan dengan senang hati, silakan duduk sayanggg, akan ku servicepunyamu biar tambah gedhe lagi.. nikmatin aja ya… “pinta Buk Tuti dengan tersenyum menggoda dan nakal sekali.

Aku mengadahkan kepala di sandaran kursi, kedua kakiku aku pancalkan di kedua pegangan tangan kursi putar itu, lalu Buk Tuti membungkuk di depanku dan memegang rudalku yang terasa semakin tegangitu.

Dari lututku, Buk Tuti mulai menjilati pahaku, uuuhh… terasa geli sekali saat lidahnya bersentuhan dengan kulit pahaku. jilatan itu terasa pelan, dan pelan pelanlidahnya menuju ke selakanganku, tangan Buk Tutimasih memegang rudalku yang lingkaran tangannya tidak menjangkau besaran rudalku, lalu sampai di selakanganku hanya menjilati bagian kepala rudalku saja

“Yaaa.. enak Sayannngg.. Mmmhhh… enak sekali.. teruuussss .. “erangku sambil merasakan jilatan lidahBuk Tuti di kepala rudalku. Sepintas kulihat tatapan mata Buk Tuti memandangku dengan nafsu tak tertahankan

“Nggak tahan ya sayangg..?? “canda Buk Tuti dengan gemas lalu menuju ke pahaku lagi sebelah kiri menjilati lagi, tak lama kemudian balik lagi menuju ke selakanganku dan memandang rudalku yang mengacung tegak. Tak henti hentinya tampak raut wajah sumringah Buk Tuti menikmati pekerjaan nya.

“Sehari nggak ngemut punyamu ini rasanya gimanaagitu…?” keluh Buk Tuti dengan gemas lalu mendekatkan lidahnya ke rudalku, tangan kanan yang memegang rudalku terlepas dan rudalku langsung dilahap dalam mulut do’i.

“Uuuuuh… kamu terlalu bernafsu yaahhh.. biasanya jilat jilat dulu di zakar atau batang.. kini malah langsung ditelan… aaaaaaaauuh.. pelan aah.. sayang.. kamu nakaaal sekali “erangku sambil tersengal sengaldengan tubuh yang terasa menggelinjang.

Buk Tuti tak mempedulikan eranganku. Terus disepongnya rudalku lalu dipermainkan dengan lidahnya berulang ulang, lalu dikeluarkan dari mulutnya

“Kamu suka ya diginiin ..?” Tanya Buk Tuti dengan genit

“Jilatin aja dehs sayyyy.. ituuhh.. di telurku sama batang nya” ajakku dengan menekan kepala Buk Tutimenuju ke bawah.

Buk Tuti dengan patuh langsung menjilati buah zakarku dengan lidahnya secara gemas dan membuatku semakin suka dengan dosen cantik ini.

“Uuuuuh.. nikmaaat banget sayyy.. duh.. Kamu makin hari makin nakal saja… “erangku meremas kepala Buk Tuti, ingin rasanya aku meremas remas buah dadanya yang menggelantung dan menggoda untuk diremas. Namun aku menahannya untuk memberikan kepuasan pada Buk Tuti mempermainkan batang dan buah zakarku.

Buah zakarku itu secara nakal diludahi oleh Buk Tutilalu dijilati dengan lidahnya lagi. Buah zakarku menjadi semakin basah, dari bawah aku menggelesot terlihat serambi lempit Buk Tuti yang rimbun itu sudah basah termakan birahi, pelan pelan buah zakarku dijilat dan naik menuju batangku, dengan gemas Buk Tuti menjilati ke atas dengan rakus sampai kepala rudalku.

“Kamu kudu muncrat yaaa.. aku pengin nelan spermamu lagi ..” ujar Buk Tuti disela-sela jilatannya yang terasa semakin cepat.

“Tentu sayanggg.. Oh.. cantikuuu.. lakukan sepuasmuuuhh…!!!” sahutku membuat Buk Tutisemakin senang.

Berulang ulang batangku dijilat jilat Buk Tuti sampai basah dan membuatku semakin mengerang dengan gemas. Lalu dimasukan batangku ke dalam mulutnya dan disedot sedot dengan keras membuatku sampai berusaha membenahi dudukku. Setelah aku duduk dengan cara “tidak benar” karena aku telanjang bulat dan kaki masih berada di sandaran tangan kursi putar itu dengan rudalku berada di dalam mulut Buk Tuti.

“Sayangkuuu.. jangan keras keras nyedotnya.. yang pelan biar nikmat “erangku terasa sekali sedotan mulut Buk Tuti di batangku terasa ganas. Namun Buk Tuti tidak mengubrisnya, tetap saja mengemut batangku dengan ganas

“Aduuuuuh… nakal sekali kamuuu… awas yaaa “candaku dengan nakal mulai menyelusupkan kedua tanganku memegang kedua buah dada Buk Tuti dan meremasnya membuat Buk Tuti melenguh

“Mmmmmmmffffff… mmmmmm .. “lenguh Buk Tutikarena mulutnya penuh dengan batangku itu.

Lama sekali Buk Tuti mempermainkan batangku dimulutnya, do’i begitu lihai mempermainkan dengan lidah dan giginya, ketika batangku keluar dari mulutnya, batangku dikocoknya dengan cepat berulang ulang, lalu dimasukan lagi ke dalam mulutnya

“Aaaaaaauh… hhhhssss… aaargggg.. enaaaak aaah.. nakaaal nyaa kamuuu.. “lenguhku dengan memajukan dadaku, namun tangan Buk Tuti langsung menahan dadaku dan membuatku kembali merapatkan punggungku ke sandaran kursi putar itu.

Tak terasa lebih seperempat jam Buk Tuti melakukan oral ke rudalku dan tanda tanda aku mau orgasme semakin dekat

“Sayang.. mau sampai nih .. “erangku dengan nafas berat dan badanku sudah basah kuyub dengan peluh birahi.

Mendengar aku berkata demikian Buk Tuti langsung mempercepat kuluman di mulutnya keluar masuk, kemudian dikocok di luar dengan cepat

“Saaayy.. aaah… mau sampaaai.. bentar lagiiii aaah.. aduuuuh .. “erangku dengan memejamkan mataku merasakan oral Buk Tuti yang semakin cepat dan rakus

“Ooooooougghhhhh… aaah..!!! “erangku

Kurasa mulut Buk Tuti menyedot rudal ku dalam dalam, dan… aku merasakan orgasme luar biasa, kunaikan selakanganku sehingga batangku ludes dalam benaman mulut Buk Tuti

“Creeeeeeet.. creeeeeeeet… creeeeeet… creeeeeeet “batangku memuncratkan sperman menembak ke dalam mulut Buk Tuti, tak sedikit sperma yang keluar dari mulutnya, disedotnya spermaku ke dalam mulutnya batangku terasa bersih kembali, hanya di buah zakarku masih ada sisa sisa sperma, aku menegang dengan kaku lalu berkelonjotan tak karuan.

Buk Tuti menjilati sisa sisa sperma itu sampai ludes dan tersenyum penuh kemenangan melihatku terkapar dengan penuh orgasme. Aku memejamkan mataku rapat sekali, baru beberapa menit kemudian aku membuka mataku dan tak melihatt Buk Tuti yang semula jongkok di depan ku. Sekarang do’i terlihatmengambil sebuah kursi yang tak jauh dari tempat dudukku.

“Gimana sayang..? enak..? Puas gak dioral?” tanyaBuk Tuti dengan membuka laci mejanya dan mengambil tissue. Do’i terlihat membersihkan sisa muncratan sprema ku di mulutnya

“Pu.. Puas deh.. puas ..” sahutku senang dengan nafas berat dan masih lelah.

Buk Tuti tersenyum nakal, do’i sekarang sungguh nakal dan liar. Otaknya sudah penuh dengan fantasi sexs yang liar. Mungkin karena kuatnya otak nya berfikir hingga membuat libido sexs nya menjadi setinggi ini.

“Bagusss.. kamu istirahat dulu.. butuh minum?” tanya Buk Tuti

“Yaaa.. terserah minum apa saja.. susu juga boleh “candaku nakal

“Iih.. jangan susu dulu.. nanti aja, ngemut susu ini aja nanti” balas Buk Tuti tertawa sambil menolehkan matanya ke arah buah dadanya yang menggantung indah itu. kemudian Buk Tuti berdiri ke arah dispenser dan menuangkan minuman kemudian memberikannya padaku.

Puas dioral oleh Buk Tuti yang di mana kami berdua memadu birahi di ruangan kerja Buk Tuti, obsebsiku tercapai sudah dengan menggumuli do’i di kampus. istilah nya fast sex dan sex after lunch. He he he…

Dosen Killer nan catik ini sudah dalam kekuasaanku dan aku semakin bebas mengerjai Buk Tuti sepuasku, Dengan penuh tawa kepuasan setelah mengoral rudalku Buk Tuti mengelus elus batangku lagi, dipermainkan batangku dengan tangannya yang lentik itu, disekanya peluh yang membanjir di wajahnya yang cantik itu.

“nggak tahan saya melihatmu bugil say .. “ajak Buk Tuti dengan langsung memanjat tubuhku yang masih berada di atas kursi itu.

Buk Tuti langsung menghujani aku dengan lumatan ganas dan liar, sehingga aku kembali meladeni nafsu bejat Buk Tuti ini, kupegang kepalanya dan kami saling melumat dengan penuh keliaran, tangan Buk Tuti menekan ke dadaku, sedang aku memegang buah dadanya dan kuremas sekuatku

“Bryaannnn… aaaah… aaaah.. teruuuuss.. sayaaaaang.. remeesssss… “lenguh Buk Tuti tak tahan akan remasanku di buah dadanya, nafsu do’i amat liar, aku tak percaya bahwa nafsu do’i sekuat ini. dibalik penampilan nya yang alim ternyata kenakalan dan keliaran Buk Tuti semakin menjadi jadi.

Kami terus saling meraba raba di kursi kerja milik Buk Tuti, dengan bertelepak di sandaran kursi kerja itu Buk Tuti terus menyerbuku, kakiku mancal ke atas meja, Sekarang Buk Tuti menduduki selakanganku. Teriakan dan erangan kami bersahutan di ruangan yang sepi itu.

Tubuh Buk Tuti sudah berpeluh itu semakin rakus, dingin AC dalam ruangan itu menambah gairah kami untuk saling menggumuli. batinku Buk Tuti ingin melampiaskan semua beban emosinya dengan mencapai orgasme, dengan liar dan nakal do’i mundur menggeser posisi duduk nya kemudian memegang batangku dan dikocok lagi agar ngaceng, sedang serambi lempitnya digesek gesekannya kepahaku.

“Masukin yuk Bryann.. saya nggak tahan nih.. pleasee..“ bujuk Buk Tuti dengan mengorek serambi lempitnya sendiri agar melebar. Dengan gemas rudalku diarahkan ke serambi lempitnya dan menekan dengan mantap dan tenaga besar

“Uuuhhh… aaaah.. pelaaan aaah.. jangan dipaksa… “keluhku dengan ulah Buk Tuti yang sangat binal dan liar itu, Buk Tuti menggodaku dengan tersenyum

“Kamu ketagihan ama punya ku yaa?” tanya Buk Tuti dengan tersenyum dan pelan pelan menekan ke batangku sehingga rudalku masuk ke dalam serambi lempitnya yang becek itu

“Uuhh… sayaaang kuuuu..“ sapaku mesra

“Ya, sayaaang.. enak ya say …?“ goda Marissa Haque dengan gemas

“Iiyaaa hhh .. “balasku dengan gemas

Pelan pelan rudalku melesak sampai setengahnya, Buk Tuti meringis keenakan.

“Aaaaauh… hhhhssss… mmmm… “lenguh Buk Tuti dengan bertalu talu

Aku merasakan batangku mulai terjepit luar biasa di serambi lempit Buk Tuti. Menahan bobot Buk Tuti tak seberapa, namun tekanan dan jepitan di serambi lempit Buk Tuti terasa berat juga, apalagi aku belum sempat mengoralnya, Buk Tuti udah minta dimasukin dan disetubuhi

“Ayoo.. sayangg.. turunkan pinggul muu..” ajakku pada Buk Tuti yang juga meringis merasakan besarnya rudalku yang menerobos belahan kewanitaannya.

“begini ya sayyy… ujar Buk lalu melumat bibirku dengan rakus dan langsung menekan pantatnya turun sehingga batangku semakin amblas. Tak terasa aku sendiri semakin kepayahan menghadapi libido selingkuhan ku ini. Nafsunya semakin meninggi semenjak aku sering menidurinya.

Dengan susah payah akhirnya batangku ludes dalam serambi lempit Buk Tuti, dengan penuh tawa menggoda Buk Tuti dengan pelan pelan menaikan pantatnya, kakinya dipancalkan dengan membuka lebar ke sandaran tangan kursi itu, aku menjadi lumayan nyaman dengan posisi do’i yang mulai bergerak menggenjotku naik turun itu.

“Mmmmmmmmmffffffff… aaaah.. mmmmmaaaahhhh.. fffuuuuuuuh “lenguh Buk Tuti merasakan tusukan batangku keluar masuk serambi lempitnya. Gerakan tubuh Buk Tuti tetap saja pelan dengan nafas ditahannya, rudalku dibuat keluar masuk dengan lancar walau pelan pelan Buk Tuti menggenjotku.

“Kesalahan fatal sayy.. akibat ngocok rudalku aku jadi susah keluar” kataku dengan memegang pinggang Buk Tuti.

“saya goyang yaaa…” ujar Buk Tuti dengan tersenyum dan tetap bergerak pelan pelan memberikan remasan pada batangku

“Oooh… sayang… terusssss… uugghh… enak nyaaaaa. Jepitan punyamu…” timpalku dengan menciumi bibir do’i dengan pagutan ringan. Mendegar itu Buk Tuti menggenjotku lebih cepat sedikit.

“Naaaah.. enak sayaanggg.. enaaak aaah.. yuuuk kita tuntaskan…” ajakku dengan memegang pantat Buk Tuti dan meremasnya lagi

“Yaaaaaaa.. remes sayanggh remassssss… terus bokong kkuuuuu… hhhh… “lenguh Buk Tuti dengan terus bertahan naik turun dengan mantap, gerakannya dipercepat lagi dan kini malah menjadi liar.

“Bu.. aaaaaaaah.. aahhhhhhh.. aaaah “lenguhku menghadapi gerakan Buk Tuti yang liar itu, badannya naik turun dengan liar dan cepat menghujamkan serambi lempitnya di batangku yang tegak perkasa itu

“Ooooohhh… aaaaaaaaah.. biaaar aaaah.. biaaaar ..” teriak Buk Tuti dengan gemas dan nakal.

Kami terus saling memacu dengan liar, genjotan Buk Tuti semakin brutal. Sehingga aku langsung meladeni dengan meremas buah dadanya dengan keras dan kasar, Buk Tuti hanya menanggapi dengan tersenyum dan langsung bergerak lagi dengan menggenjotku secara liar. Gerakan naik turunnya sudah tidak hanya tegak namun kadang miring ke sana kemari, kepalanya mendongak ke atas kemudian dimajukan lagi dan memegang kepalaku.

Gerakan Buk Tuti semakin cepat dan seperti hendak mencapai orgasme.

“Aku hammm.. piiir sampaaai aaaa “ lenguh Buk Tuti dengan suara mulai melemah.

Aku langsung menggerakan pantatku ke atas menyambut serambi lempit Buk Tuti yang menjepit rudalku, jepitan serambi lempitnya semakin menyempit, kuremas buah dadanya sekuatnya.

“Bryaaaa… aaaaaaaah.. nggaaaak kuaaaat” teriak Buk Tuti dengan keras dan kurasa tanggulnya sudah jebol, Buk Tuti melolong mendapatkan orgasmenya, serambi lempitnya mengucur cairan deras, dipeluk nya aku dengan erat dan badannya kemudian berkelonjotan. Aku berhenti bergerak karena Buk Tuti sudah melemah dengan cepat, dadanya turun naik habis menggenjotku, matanya terpejam dengan erat.

Kami berdua diam dengan penuh peluh, mata kami terpejam dengan erat. Sepintasaku menoleh, dan… aku menyadari kalo ada sepasang mata mengintip kami dari jendela luar ruangan kerja Buk Tuti yang terbuka sedikit, aku sendiri sedikit kaget. Namun aku membiarkan saja mata itu menonton kami, kepalang tanggung.

Aku mengelus elus punggung Buk Tuti dengan menenangkan

“Puas sayang ..?” tanyaku

Buk Tuti mengangkat kepalanya dan berujar

“Terima kasih Bryan.. saya puaas.. enak banget Bryan sayanghh… yuuuk.. istirahat dulu“ ujarnya sambil beranjak dari atas pangkuanku.

Sementara aku masih penasaran siapa tadi yang mengintip. Ternyata si pengintip masih belum beranjak dari tempat nya. Samar samar aku melihat itu seperti seorang wanita. yang mengenakan kacamata. Posisi Buk Tuti membelakangi mata si pengintip di balik pintu. Hingga do’i tidak tahu kami sedang diintip dari luar.

Aku berusaha tenang. Kemudian aku berdiri dan membersihkan rudalku yang penuh cairah cinta Buk Tuti dengan tisue.

Kubiarkan Buk Tuti yang tampak masih menikmati orgasmen nya duduk di lantai yang dialasi karpet. do’i terlihat kelelahan. Posisi do’i yang berada di bawah kolong meja kerja nya itu tidak terlihat dari posisi si pengintip. Kemudian aku beranjak ke arah sudut ruangan setelah sebelumnya aku mengenakan celana dalam dan mengambil pakaianku.

Aku menuju ke ruangan sudut, yang letaknya tidak memungkinkan untuk dipantau posisi si pengintip. Setelah aku mengenakan semua pakaianku. Aku diam-diam berjalan ke arah pintu dan dengan sangat hati-hati kubuka kunci pintu ruangan kerja Buk Tuti.

Setelah terbuka dengan cepat aku membuka gagangnya dan menuju keluar, mengejar si pengintip. Kulihat si pengintip kaget dengan kedatanganku yang begitu cepat tanpa disadari nya. Dan… ternyata wanita itu adalah seorang wanita setengah baya.. berusia sekitar 40 an lebih. Aku mengenali wanita itu…

Entah mengapa Buk Endang ini masih berada di kampus. Padahal kami memulai bercinta pukul setengah 4 sore saat semua mahasiswa dan dosen sudah pada pulang.

Dan aku tak menyangka Buk Endang ini sedari tadi megintip semua yang kami lakukan dalam ruangan kerja Buk Tuti. Aku takut juga kalau skandal perselingkuhan ku dan Buk Tuti tercium oleh rekan kerja Buk Tuti dan juga dosen ku ini.

Aku sadar dari lamunanku saat Buk Endang mencoba untuk lari. Melihat itu kukejar dosen itu. jelas dia kalah tenaga dariku, dan dengan mudah aku merengut tubuh nya. Setelah dapat. Kuseret paksa Buk Endang ke dalam WC yang tak jauh dari sana

“apa maksud Bu Endang mengintip intip tadi haaaa..??!! “gertak ku membuat ekspresi wajah marah padanya.

Buk Endang tampak ketakutan. Dan menggigil saat kusandarkan tubuhnya ke didinding kampus.

“kamu telah melakukan tindakan asusila di dalam kampus Bryan.. kamu berbuat mesum dengan si Tuti Khairani ternyata.. saya baru tahu kalian ternyata sering berbuat tidak senonoh. Saya akan laporkan ini pada Dekan… “ancam nya dengan wajah marah tapi bercampur takut.

Terus terang aku ketakutan juga dengan ancamannya, otak ku mulai berfikir.. ya… aku masih menyimpan obat tidur si saku celanaku. Obat ini memang sering kubawa-bawa, buat jaga-jaga jika aku kepingin bercinta dengan wanita lain. Aku berfikir bagaimana membungkam dosen wanita yang satu ini.

“coba saja kalau ibu lapor saya akan…” ujarku. Belum sampai aku bicara kudengar Buk Endang sudah akan berteriak. Dengan cepat aku sumpal mulutnya dengan tanganku. Aku merapatkan tubuhnya ke dinding dan menekannya agak tidak bisa bergerak. Sementara satu tanganku merogoh saku celanaku. Untunglah botol kecil itu masih ada isi nya.

Lalu dengan cepat aku lepaskan tanganku itu dari mulut Buk Endang, karena aku butuh tanganku yang satu lagi untuk menuangkan nya ke tangan yang satu nya. Karena takut jika suara Bu Endang terdengar, maka mau tak mau kusumpal mulutnya dengan mulutku. Ngocoks.com

“Mpphhh..” terdengar suara Bu Endang disumpal mulutku. Setelah pekerjaanku selesai aku lepaskan mulutku dari mulutnya dan aku bungkam mulut dan hidungnya dengan tangan ku yang sudah kutuangkan dengan obat tidur itu.

Kulihat matanya melotot saat kusumpal. Namun tak lama kemudian matanya melemah sayu diiringi dengan tubuhnya yang melemah dan ambruk ke bawah. Untung nya aku dapat menahan tubuhnya.

Aku menghela nafas… “beruntung rencana ku berhasil”.

Namun saat bersamaan, tiba – tiba Buk Tuti sudah berada di depan pintu WC.

“kenapa Bryan.. loh.. kok kamu berpelukan sama Buk Endang..??” ujar nya sedikit marah mendapati posisiku seperti orang berpelukan dengan Buk Endang

“Bukan sayang.. tau nggak kamu… kenapa aku keluar.. kita diintipin sama dia… maka langsung saya kejar. Ternyata Bu Endang ini sedari tadi mengintip kegiatan kita dan malah dia mengancam akan melaporkan perbuatan kita sama dekan” tuturku.

“waduh.. bahaya..! Kamu sih… ngajak bercinta sembarang tempat “sungutnya kesal padaku. Buk Tuti tampak panik mengetahui apa yang terjadi.

“gak usah itu disesali.. sekarang coba fikirkan bagaimana dengan Buk Endang ini..” ujarku tegas mengalihkan pandangan pada Buk Endang yang pingsan di pelukan ku.

Buk Tuti terdiam saat aku setengah membentaknya.

“kamu apain dia Bryan..? dia gak mati kan..” tanya Buk Tuti sedikit tenang.

“gak lah.. cuma kubuat pingsan saja…“

“saya tadi kaget, kamu tiba tiba saja keluar ruangan saya.. belum sempat tadi saya pake pakaian. Saat mencari kamu saya lihat pintu ruangan terbuka.. saya kaget lah.. saya kira kamu ninggalin saya begitu saja. Makanya saya cepat-cepat berpakaian dan mencari kamu diluar. Trus, tadi saya dengar suara gaduh gaduh di WC, makanya saya kesini” tutur Buk Tuti.

“nah, sekarang kamu udah tau kan… jadi gimana nih.. mau diapain nih Bu Endang ini?” ujarku meminta saran do’i

“Duhh.. saya gak tauu… otak ku buntu nih..” kata Buk tuti tak kalah panik

Aku mulai berfikir keras dan akhirnya mendapat ide.

“gini saja.. Bu Endang ini kan masih pingsan… kita bawa aja dulu dia menjauh dari kampus. Daripada nanti dia keburu sadar disini dan bercerita tentang kejadian tadi pada sekuriti kampus. Saya mau ambil mobil dulu dan bawa ke dekat sini. Nanti saya beritahu satpam bahwasanya Bu Endang mendadak pingsan.

“o.. gitu yah.. terserah kamu lah.. yang penting kita aman dulu.” Ujar Buk Tuti pasrah.

“kamu tunggu disini ya..” ujarku dan langsung bergegas menuju parkiran. Sebelum menuju mobil aku sengaja bercerita pada satpam yang berada di kantor dekanat bahwa aku dan Buk Tuti akan mengantar Buk Endang ke rumah sakit karena mendadak pingsan’

“Iya Brian..?? .. waduh.. mana orang sudah pada pulang lagi…” ujar nya bingung mendengar cerita ku

“apa perlu saya cari bantuan sama satpam lain.. saya telepon dulu ya..?” ujar satpam itu menawarkan

‘ gak usah lah bang.. saya kan sama buk tuti. Kami berdua aja yang langsung antar buEndang ke rumah sakit” tolak ku halus.

“kalau sudah kejadian seperti ini kita harus bertindak cepat bang… biar saya aja dan Buk Tuti yang antar ke rumah sakit pakai mobil saya” ulangku.

“kalau begitu baik nya tidak apa-apa Bryan.. ya sudah.. terimakasih ya.. dan hati hati dijalan”

“ya.. tadi saya dengar Buk Tuti pun sudah mengabari keluarga bu endang juga biar mereka langsung ke rumah sakit”

“oke deh Brian.. tapi ngomong ngomong kenapa Bu Endang mendadak pingsan ..?”

“saya juga nggak tahu bang… saya kan baru keluar ruangan Buk Tuti barusan… habis konsultasi skripsi dengan Buk Tuti… Tiba-tiba tak lama saya keluar Buk Tuti histeris memanggil saya dari ruangannya. Setelah saya susul, rupanya Buk Endang yang tadinya juga berada diruangan Buk Tuti, sudah dalam keadaan pingsan ..

“iya ya.. mana kampus sedang sepi lagi… Baiklah hati hati ya Bryan, eh.. aku pura-pura gak tahu aja ya… mumpung kamu bantuin aku. Karena itu termasuk tanggung jawab kami juga sebagai sekuriti” ujar satpam itu nyengir.

Bersambung… Mendengar itu aku merasa keberuntungan memang berpihak padaku. Karena jika seandainya dia ikut mengantar Bu Endang kerumah sakit otomatis kerjaan dia akan repot. Belum lagi dia meninggalkan pos penjagaan atau memanggil rekan rekannya.

“sip.. aman itu bang. Kalau bisa dosen yang lain jangan tahu juga.. kalau terlalu banyak yang tahu kita berdua juga yang pusing meladeni pertanyaan mereka.. bantu tidak, tapi nanya nya banyak.. ya kan bang” ujarku mencoba mencuci otaknya.

“benar itu brian.. kamu atur aja” ujarnya menepuk pundak ku.

Melihat satpam kampus sudah bisa ku kelabui maka ku pun pamit untuk menjemput Buk Tuti dan Buk Endang di ruangan C, yakni ruangan kerja Buk Tuti. Aku pun membawa mobil ke arah kamar mandi. Disana Buk Tuti sudah menunggu dengan raut cemas.

“lama banget kamu Bry.. untung gak ada orang kesini .. “sungutnya.

“santai say… tadi aku lagi mengelabui satpam. Biar dia gak ikut dan gak kesini. Pokoknya semua sudah aman. Sekarang mari kita bawa dia ke dalam mobil” ujarku.

Aku membuka pintu samping belakang mobilku. Lalu aku menggendong Buk Endang yang masih tak sadarkan diri dan meletakan tubuhnya di jok belakang mobilku. Karena cuma ada dua jok dalam mobilku ini.

Buk Tuti mengawasi dengan wajah was was, do’i tampak gelisah dan melihat kiri kanan, mengawasi dan memastikan tidak ada orang yang melihat aku memasukan Buk Endang ke dalam mobilku. Setelah semua beres aku memberi isyarat pada Buk Tuti agar masuk ke mobil.

“bentar Bry.. saya kunci dulu kantor saya ..” ujarnya tergesa gesa masuk kedalam ruangannya. Tak lama kemudian Buk Tuti keluar membawa tasnya dan mengunci kantornya. Setelah itu do’i langsung masuk ke dalam mobil dan duduk disampingku.

“mau kemana kita bawa dia Bryan? “tanya Buk Tuti cemas.

“yang penting kita keluar dari kampus dulu baru kita fikir..” ujarku sambil menjalankan mobil beranjak keluar meninggalkan kampusku.

Sesampai di jalan aku dan Buk Tuti berfikir mau kemana dan mau diapakan Buk Endang yang masih pingsan itu.

“bawa ke rumah aku aja sementara say..” ujarku masih berfikir.

“trus mau diapain disana? “tanya Buk Tuti bingung

“kita paksa dia agar tidak membocorkan apa yang dia lihat tadi” tambahku sekenanya.

“Trus mau kamu apain? Kamu siksa? biar dia tidak mengadu.. percuma Bryan.. dia pasti bakal ngadu ..” ujar Buk tuti kesal.

“Benar juga ya.. atau gini.. kita buat kita dan dia sama-sama memegang kartu. Kalau dia ngadu kalau tapi nggak ada bukti juga gak ada yang percaya..” ujarku. Sontak aku dan Buk tuti berpandangan. Untung lah pada saat aku memapahnya ke mobil Buk Tuti ternayata mengamankan tas Buk Endang.

“saya periksa hp nya..” ujar Buk Tuti mengerti maksudku, Buk Tuti memeriksa tas Bu Endang. Didapati nya 2 buah handphone. Satu berkamera satu tidak berkamera. Buk Tuti membuka HP Buk Endang yang berkamera dan tampak memeriksa isi HP Buk Endang.

“saya sudah liat semua file di menu video nya.. gak ada kok rekaman dia tadi.. tapi biar lebih aman aku cabut aja memori HP nya..” ujar Buk Tuti dengan cekatakan mencabut memori HP Buk Endang dan memasukan ke dalam tas nya. Terkadang aku kagum juga dengan kepintaran do’i

“Trus, kita apakan dia?” ujarku meminta saran.

“bawa aja kerumah kamu dulu, baru nanti kita fikir” ujar Buk Tuti.

Aku fikir benar juga. Kalau seandainya Buk Endang ini sadar di mobil saat kami masih berjalan bisa repot jadinya. dia pasti akan berteriak minta tolong. Kalau dirumahku yang besar jeritanan nya bakal gak kedengaran dari luar. Persis kejadiannya sama saat aku memperkosa Buk Tuti pertama kali. Aku menjadi tersenyum sendiri mengingatnya.

Aku pun membelokan mobil menuju arah rumahku dengan kecepatan tinggi. Buk tuti sendiri masih mengawasi Buk Endang dan untungnya Buk Endang itu masih tertidur.

Sesampai dirumah aku membuka pagarku berikut garasi, lalu memasukan mobil kedalam. Setelah menutup kembali garasi.

Aku dan Buk Tuti keluar dari mobil, dan aku memondong tubuh Buk Endang ke dalam rumahku. Buk Endang kubawa ke dalam kamarku dan membaringkannya di ranjang.

Aku dan Buk Tuti berpandangan. Bingung apa yang akan kami perbuat.

Kemudian terlintas sebuah ide di otak ku, namun Buk Tuti tak boleh berada dirumah. Setelah lama berfikir aku mengutarakan pada Buk Tuti.

“Buk.. bagaimana kalau saya telepon kawan saya di sekitar rumah, lalu saya bayar dia, gunanya kita suruh dia tidur disamping Buk Endang ini seolah – olah mereka berselingkuh. Nanti kita foto mereka saat tiduran dan aku cetak.. Lalu saat Buk Endang sadar kita perlihatkan foto itu dan kita ancam kalau dia mengadukan perbuatan kita di kampus tadi, foto-foto dia tidur bersama temanku itu kita sebar di internet..

Buk Tuti hanya mengangguk angguk

“kamu memang licik Bryan..” ejek nya sinis. Mungkin dia merasa ingat saat aku menjebaknya untuk tidur kali pertama. Tapi do’i sampai sekarang tak sadar bahwa aku membiusnya bercampur obat perangsang hingga do’i menyerahkan keperawanan nya padaku saat itu.

“Lha.. Cuma cara ini yang bisa membuat nya bungkam bu..” ujarku.

“terserah kamulah.. kepala saya sudah pusing dan bingung memikirkan ini” ujarnya pasrah.

“tapi kalau bisa Ibu jangan ikut serta. Jadi biar seolah olah saya yang jadi tumbal. Saya yang memeras. kalau Buk Endang tahu. Hubungan Ibu dan Buk Endang jadi makin tidak enak.

“Iya sih.. Buk Endang ini kan dosen senior.. jadi saya pura-pura tidak tahu saja agar kedepan nya urusan saya lancar” ujarnya mengalah.

Cerita Dewasa Ngentot - Membuka Pakaian Dosen Cantik yang Dingin di Balik Meja Kerjanya
“benar… ibu pura-pura tidak tahu saja saat dia tanya saat sadar.” ujarku berbinar. Kata kata ku tampaknya termakan oleh Buk Tuti

“jadi sementara saya telepon teman saya, Ibu dikamar lain saja ya.. jangan sampai terlihat oleh Buk Endang kalau Ibu berada bersamaku dirumah ini.” Bahasku.

“kalau gitu saya pulang ke kost an sajalah.. pake taksi.. sambil ganti pakaian dan mandi… nanti kalau udah selesai kamu mesti kasih tahu saya..” ujar nya

“sip..” ujarku dengan mata berbinar.

“tapi kamu nggak ada niat bercinta dengan dia kan..?” selidik Buk Tuti curiga

“Ya elah sayangku… mana mungkin aku bercinta sama wanita yang udah mau jadi nenek-nenek kayak dia..??” ujarku tergelak dan pura-pura menepuk jidat sendiri.

“udah alot tau.. “ejeku Disambut tawa Buk Tuti.

Kami berpelukan erat… Setelah itu aku menelepon taksi untuk menjemput Buk Tuti, kekasih ku itu. Buk Endang yang masih pingsan itu kami biarkan terlentang di kasurku. Sambil menunggu kedatangan taksi, aku dan Buk Tuti menyempatkan untuk bercumbu.

Pertama sebatas berpelukan dan french kiss. Kemudian karena gemas kulorotkan celana panjang nya dan jari ku meremas dan memijit daerah kewanitaannya

“iihh… hhhh.. ssshhhh.. nakal kamuuu Briannhh… Auuuuuhhhh…” desah Buk Tuti sambil terus menciumi dan menghisap mulutku. Tangannya dirangkulkan ke ke leherku dengan manja.

Setelah beberapa saat handphone ku bedering, rupanya supir taksi sudah berada di depan rumahku.

“Sial.. cepat banget datangnya taksi sialan itu..!” umpatku. Buk Tuti terseyum geli mendengarnya.

“kamu masih nafsuu aja say..”godanya

“sama kamu nafsu ku gak akan habis habisnya say..” ujarku balas menggoda.

Aku pun menaikan kembali celana katun nya, sebelumnya aku yang berposisi menunduk meraih celana nya dan menaikan nya keatas, saat wajahku berada di selangakannya dengan cepat kukecup serambi lempitnya yang masih tertutup celana dalamnya itu hingga Buk Tuti kaget dan terpekik kecil

“iihhh… nakal.. kaget tau..” ujarnya mengangkat tubuhku hingga berdiri dan langsung kupeluk lagi do’i

“gitu aja udah basah ..” ujar menggoda. karena kuperhatikan tepat di lobang kenikmatannya itu tercetak cairan cintanya yang sungguh menggoda.

“Ihh.. nakal kamu gak habis abis ya… nanti malam ya say.. kita bercinta lagi ..” ujarnya tersenyum nakal

“saya pulang dulu.. kasian supir taksi nya kelamaan diluar…” tambahnya bergegas berbenah.

“ya say.. kalau supir taksi nya macam macam telepon aku ya..” tegurku

“gak lah say… kalau macam macam sama aku, aku menghajarnya duluan” ujar Buk Tuti tertawa.

Kemudian kami keluar dari kamar menuju pintu depan. Disitu aku lepas kepergian Buk Tuti hingga teras dan taksi itu pun melaju meninggalkan rumahku.

Aku kembali masuk kedalam rumah dan menuju kamar. Kuperhatikan tubuh Buk Endang yang terbaring di ranjang tidurku. Dosen setengah baya itu terlelap pulas, kuamati lekuk tubuhnya dengan dalam, Saat itu posisi rok span nya yang panjang nya selutut itu terbuka hingga kepangkal pahanya. Hmmm… Rupanya paha Buk Endang putih juga mulus…

Buk Endang ini adalah salah seorang dosen senior di jurusan dan fakultasku. Usia nya kutaksir sekitar 35 tahunan. Bodynya masih cukup montok dan bahenol. mungkin karena sudah bersuami. Kesehariannya beliau mengenakan pakaian tertutup dan jilbab seperti Buk tati. Buk Endang ini orang jawa berkulit putih mulus, dan yang seperti khasnya, ayu tenan…

Lama kelamaan aku menjadi tergoda juga untuk melihat lebih jauh sesuatu di dalam roknya itu. tungkai pahanya padat dan mulus. Kuperhatikan di wajah ayu nya itu ada tahi lalat kecil di bibirnya.

Aku mendekat ke arahnya dan perlahan kulepas jilbabnya. Nampak wajahnya yang ayu, walau sedikit berkeriput karena usia.

Mataku tak bisa berpaling ke arah paha putih nya yang tersingkap itu, aku tergelitik, rasa penasaran membuatku aku menaikan rok spannya keatas hingga sebatas pusarnya. Tampak sepasang paha Buk Endang yang putih… Selangkangan nya ditutupi celana dalam berwarna biru muda. Perlahan kuelus pahanya dari bawah, betis, lutut hingga kepangkal paha nya.

“wah.. masih kencang juga kulitnya” bathinku. Elusan tanganku sampai diselangkangan nya dan aku memijit bagian indah pada kelamin nya. Tubuh Buk Endang bergerak sedikit. Lalu kulanjutkan rabaanku ke bagian atas, kepusar dan di buah dadanya. Sesampai disana aku meremas pelan buah dadanya.

Buah dadanya ternyata cukup besar dan kencang. Aku meremas nya beberapa kali hingga kemudian aku melepaskan semua kancing bajunya dan melepaskan bajunya.

Buk Endang mengenakan BH berwarna hitam. Kemudian rok spannya yang sudah terangkat sebatas pinggang itu pun aku lepaskan, hingga sekarang Buk Endang terbaring hanya mengenakan BH dan celana dalam saja.

Kuraba lekukan tubuhnya, walau sudah memelar karena usia, untuk ukuran seusia Buk Endang, kulitnya masih kencang dan terawat. Diakhiri dengan kecupanku dibibir nya, terbayang oleh ku, saat aku membiusnya aku sempat mencium bibirnya agar tidak berteriak

Selanjutnya aku menjelajahi bagian leher Buk Endang dengan lidahku, aku mengecup leher nya dan memainkan lidahku di telinga nya. Lama kelamaan kurasa tubuh Buk Endang bergerak, pertanda do’i hampir sadar.

Melihat itu segera kujalankan rencanaku. Aku beranjak dari atas tubuh nya dan mengambil handycam. Kuletakan handycam itu di sebuah kursi yang lensa bidikannya mengarah ke ranjang. Setelah kuperiksa dan pengambilannya pas, aku menekan tombol rec untuk merekam kegiatan ku, kali ini dengan Buk Endang, dosen setengah baya yang hendak aku tiduri.

Setelah itu aku membuka semua pakaianku hingga telanjang. rudalku sudah mengancung tegak, siap mencicipi lobang serambi lempit Buk Endang, mangsaku berikutnya. lalu aku melihat ke kamera, setelah setelan nya pas, aku menuju ke ranjang dan menggumuli Buk Endang yang hampir sadar itu.

“Ummhh.. hhhhh..” terdengar desahan Buk Endang saat aku mencumbunya dengan buas. Tanganku masuk kedalam cup BH nya meremas remas dengan kasar payudaranya yang terasa montok dan kenyal itu.

“uuuuhhh.. mmhhhmh…” desahnya saat aku mulai menetek di payudaranya. Sementara tanganku yang satunya meraba dan mengelus elus tepat di kemaluannya.

Tubuh Buk Endang makin liar dan terasa dia memelukku dengan kuat. Tubuh nya terasa menggeliat geliat membuat ku makin birahi untuk terus mencumbui nya

“ohhh.. ohh… siapaa iniihh.. oohhhh.. ‘ desahnya. Kuhentikan aktifitasku dan melihat ke wajahnya.

Tampak Buk Endang kaget dan berteriak tertahan. Tapi dengan cepat kulumat bibirnya dengan mulutku. Setelah itu aku melepaskan pagutan ku dan dengan sigap aku membekap mulut Buk Endang dengan tanganku.

“dasar… bajingan kamu… Bryy… hentikaaaaaan… ibu mohon… aaaaaaaaahhhhh… Ibu gak mau Briaaa… ini dosa… aaaaahhhhh…” teriak nya berusaha berontak dari dekapan ku.

“Percuma berteriak Bu.. nikmati aja.. aku tahu ibu kepengen bercinta dengan saya… Saya juga nggak tahan nih Bu… kepingin menyetubuhi ibu sejak di WC tadi. Sebentaaar saja, Bu.. ”. ujarku tenang,.

“Tidaakkkk..!!!! lepasskan akuu Briannn..!!!” ujarnya berontak namun kutahan tubuhnya kebawah hingga Buk Endang kembali jatuh ke ranjang kutindih tubuhnya. ciumanku merangsek ketiak dan bagian tubuh nyayang lain. Aku tak peduli Buk Endang menjerit jerit minta dilepaskan. Tetapi teriakan dan berontakan nyasia-sia.

Buk Endang tampak terus berusaha berontak danmenggeliat. Tapi aku menindihnya dengan kuat. Kemudian tanganku sekarang meremas remas mangkuk buah dadanya yang masih tertutup BH itu.

Tubuh Buk Endang menggelinjang hebat saat kuremas buah dada nya. Tangan ku terus mengaduk buah dadanya dan sekarang aku menaikan cup BH nya keatas hingga buah dadanya tersembul keluar. Ngocoks.com

“Iiihhh… Jangaan lakukaan Briannn… iiihh… Ibu mohon hentikaaann Ooohh.. Briaanh..” desah nya megap – megap saat ku urut buah dada nya.

“gak usah melawan.. nikmatin aja kenapa.. jangan bohongi birahimu bu..” bisik ku ke telinganya.

“Oooohh… mmphhh… sshhh… Ohhh… Briiaannhh.. Sshhh…” Desahan manja dan pasrah terdengar dari mulut Bu Endang. Kurasa dia berusaha menahan rangsangan yang sedang melanda nya. Lama kelamaan perlawanan nya mengendur hingga membuatku leluasa menjamahi buah dada nya yang lumayan besar itu.

Cukup puas menggarap payudaranya kini akumerangkak menuju perut Buk Endang. Aku melanjutkan menjilati udel nya. Buk Endang yang tampak sudah mulai pasrah itu membiarkan aku terus mencumbui tubuhnya. Setelah kurasa perlawanan nya berhenti, tanganku mulai melepasi BH hitam nya yang cup nya sudah terangkat keatas.

Payudaranya membetot keluar, sudah sangat menggunung. Payudara Buk Endang lebih besar dari punya Buk Tuti, namun memang sudah agak lembek dan turun, tidak sekencang punya Buk Tuti. Tapi itu cukup untuk membuat nafsu birahi ku menjadi makin kesetanan. Kemudian dari jilatan dan sedotan ku diperutnya kuarahkan cepat beralih mengenyot buah dada Buk Endang yang sudah keluar dari BH yang telahberantakkan ikatannya.

“Bryaannh.. Ohhh.. Bryannhh.. Uhh… “dia terus mendesah sambil memejamkan mata

“Ibu menggairahkan sekali bu… tenang.. nikmati aja…” ujarku. Buk Endang tampaknya sudah mulai tenang dan membiarkan aku terus mencumbunya

“Tapi Bryan… kamu gak boleh sepeti ini pada Ibu… saya ini dosenmu uuhhh …” desahnya. Aku tak memberi dia kesempatan. Tapi dia menolak aku yang terus mencumbunya

“hentikan Bryaaan.. jangan aaaah… ibu mohon jangaaannn…” rintih Buk Endang.. Dia hanya melarangku dengan kata – kata nya yang bernada marah tapi dia tak melawan bahkan tangannya diam tak berusaha mendorong tubuhku lagi.

Melihat itu perlahan kucoba menurunkan celana dalam biru muda yang masih melekat melindungi auratnya

“stoooopppp.. hentikan ini Bryan… kamu jangan kurang ajar sama Ibu.. aaaahhh… aaaahhh… hentikanBry!!! aaaahhh” kudengar nada kata katanya yang tadi seperti orang marah ternyata sekarang berubah menjadi lirih dan diiringi dengan desahan desahannya yang membuatku semakin bringas dan liar menetek di payudaranya.

.” aaahhhhh.. Ohhhhhh..” desah Buk Endang mengerang kenikmatan. Buk Endang membiarkan aku melorotkan celana dalamnya. Hingga dosen paruh baya itu telanjang bulat bersama ku sekarang. memejamkan mata sambil mendesah dan tapi sempat juga melarangku melakukan itu.

“Bryan… jangan… Bry… aaaaahhhhh… ini perbuatan dosaa… aaaahhhh… sekali lagi… ibu mohon… jangan lakukan ini ..” ujar Buk Endang mengatur nafas nya. mata nya menatapku dengan pandagan sayu. Masih juga dia malu –malu, mungkin malu karena dia berhasil kutelanjangi.

Aku menatap sejenak Buk Endang yang telanjang bulat dihadapanku, tubuhnya putih, susuya mencuat tegang walau sudah agak turun, pinggulnya agak lebar dan perutnya sedikit berlemak. Dosen ini memiliki sepasang paha yang padat dan besar. Dan bulu kemaluannya tercukur rapi. Ada sedikit lemak di pinggir pangkal pahanya.

“mari kita bercinta Buk Endang.. saya akan praktek an apa yang saya lakukan dengan Buk Tuti tadi dengan Ibu… mari kita lakukan Bu..” ujar ku menatapnya penuh nafsu. Tubuh nya yang montok walau berusia setengah baya memang membuatku gegitu bergairah dan penasaran melesak kan rudal ku kedalam serambi lempit nya.

“Bryan… ibu ini hanya wanita tua berumur 40 tahun an… tak pantas… kau perlakukan ibu sperti ini… hentikan… hentikan Brian… Sebelum kita berbuat lebih jauh” pintanya memohon dengan nafas tersegal segal. Aku menangkap nya sudah bergitu bernafsu namun masih gengsi menunjukan nya padaku.

Aku tidak mengacuhkan nya.

“gak usah pungkiri bu.. saya tahu ibu sudah bernafsu.. saya bisa lihat titit ibu sudah basah tuh …” godaku sambil melirik pada kemaluannya yang sudah mengeluarkan pelumas di daerah kewanitaan nya. Kontan saja wajah Buk Endang memerah menahan malu.

Tanpa persetujuannya aku mengangkangkan kedua kakinya. Buk Endang coba menahannya. Tapi karena hal itu tidak dia lakukan sungguh-sungguh maka dengan mudah ku lebarkan kedua pahanya itu. sekarang kemaluan Buk Endang tersaji didepanku. Tampak kemaluannya yang bulu nya tercukur rapi itu sudah basah dan siap untuk disodoki rudalku.

Buk Endang memalingkan wajahnya dari ku, tapi dia membiarkan aku membuka pahanya. Buk Endang sekarang tampaknya sudah pasrah kusetubuhi.

Aku menyejajarkan batang rudalku medekat ke belahan kemaluan Buk Endang yang telah pasrah untuk ku setubuhi. Perlahan namun pasti kudorong rudalkumemasuki lubang serambi lempit nya. Sebagai permulaan aku menggesek gesekan rudalku ke selangkangannya yang menganga lebar.

“… Ooooooohh Bryaann hhhhh …” terdengar desahan meringis memanggil namaku, namun aku mengartikan nya sebagai panggilan mesra agar aku cepat memasukan rudalku dalam lobang surgawinya.

“Enak kan..? “goda ku.

“Gellyyyy.. hh.. Bryann.. Ohh..” rintihnya manja.

Dan ketika akhirnya ujung rudal ku mendesaki gerbang serambi lempit Bu Endang. Sepintas tampak bibir serambi lempit Buk Endang menebal dan menganga seakan menyambut kedatangan rudalku menembusi nonoknya. Kulihat juga Buk Endang mulai mengoyangkan pantat nya naik turun dan berputar cobek seakan tak sabar menunggu dan menangkap rudalku

Aku merasa Buk Endang melakukannya dengan naluriah, dan sekarang pasti minta segera kusodoki. sudah demikian kegilaan menunggunya.

“Buk Endang… anda memang STW yang menggairahkan…” bathinku

“maafkan aku Buk Tuti, ini bukan salahku,” dalam benak ku

Aku mulai menekan pinggulku hingga kepala rudal ku masuk menyeruak membelah lobang serambi lempit Buk Endang.

“Blesss..” tanpa kesulitan rudalku berhasil amblas dalam liang kenikmatan Buk Endang

Diiringi dengan ringisan dari mulut Buk Endang, serambi lempitnya menelan seluruh batangan rudal ku,

“aaauuuuuuhh.. “rintih Buk Endang sambil memejamkan matanya saat rudal ku berada dalam jepitan serambi lempit nya, Aku dilanda gelinjang nikmat yang sangat dahsyat. Buk Endang terdengar lagi mendesah dengan hebatnya.

Dan lebih konyol lagi, sekarangpantat Buk Endang yang malah bergoyang naik turun untuk menjemput rudal ku hingga terus menembusike liang lebih dalam lagi, Buk Endang menggoyangkan pantatnya seperti “ngebor”, memutar pantat ke kanan dan ke kiri, serasa melumat batang rudalku untuk menggaruk dinding serambi lempit nya yang pastinya sudah sangat gatal.

“Oocchh, Oochh.. ampuni aku Mas Dibyoo.. Uhhhh… “terdengar teriak kecil Buk Endang, membuat aku menghentikan sejenak genjotan ku.

“siapa Mas Dibyo tu bu ..?” ujarku pura-pura tidak tahu. Karena kurasa itu adalah nama suaminya. Namu aku terus menggejotnya dengan penetrasi cepat hingga Buk Endang menjerit jerit kenikmatam.

“… aaaaahhhhh… aaaaahhhhh… aaaaahhhhh… oowwwwhh diam… Kamuuu.. hh..!! jangan banyaakk tanya kammuuu aaaaahhhhh.. genjot ajaaa.. occhhh.. enaakk.. oohh…” jerit Buk Endang terus menggoyang pantatnya mengaduk rudal ku. Kurasa dia malu saat keceplosan menyebut nama suaminya. He he he…

Aku faham sekarang Buk Endang telah berada di wilayah kenikmatan birahi nya dan tak mungkin berteriak-teriak kalau tidak merasa kenikmatan sepertiitu. rudalku mulai ku pompa secara teratur dan cepat menembusi nonok nya. cairan birahi yang mengucur di dinding rahim nya tak lagi bisa menyembunyikan hadirnya nafsu birahi nya.

Bahkan kini Buk Endang benar-benar menggoyang-goyangkan pantat nya makin liar hingga kenikmatan menimpa diriku. Dari mulutnya terdengar racauanmenyemangati ku.

“Teruzzss Bryannhhh… Oohh.. terusszz… Oohhh… enhhaakk… oohh.. terusszzhh” dari mulutnya secara spontan.

“Bu, enak sekali ya, Bu… Bu enhaakk, yaa..”, balaskusambil menahan birahi ku yang sudah demikian tak terkendali. Aku merasakan enak dan nikmatnya pemerkosaan ini… Buk Endang tampak mengangkangkan kedua kaki nya lebar lebar seolah memberi ke leluasaan rudal ku keluar masuk nonok nya.

Genjotan rudal ku semakin kuat memenyetubuhi kemaluannya. Susu Buk Endang tampak tergoncang-goncang.

“aaahhhhh… aaaaahhhhh… aaaaahhhhh… aaaaahhhhh… aaaaahhhhh… aaaaahhhhh… aaaaahhhhh… aaaaahhhhh… aaaaahhhhh…” rintih Buk Endang saat tubuh semok nya ku genjot dengan penetrasi cepat. Rupanya dibalas Buk Endang dengan begitu liar, pantatnya digoyang kan nya seakan melumat rudal ku yang berada di dalam nonok nya.

Sekarang baru keluar aslinya Buk Endang. Dosen senior itu bagai kehausan sex yang amat sangat. “Brryy aann.. cium akkuuu Occhhhh…” ujar Buk Endang meminta ku menciumi bibirnya. Kami pun saling melumat dengan ganas yang disebabkan gelombang dahsyat yang menerpa birahi kami. Dan kini aku merasa seluruh urat dan otot-otot serambi lempit Buk Endang meremas rudalku dari dalam.

Kulihat mata Buk Endang melotot, tangannya tampak berusaha menggapai dan meremas alas kasur. serambi lempit nya terasa makin mencengram rudalku. Tubuhnya menegang dan bergelonjotan. Goyangan pantatnya makin liar dan tak beraturan

“ooooh.. ooh… oooh.. iiihhhh..!!!!” jeritnya tertahan. Aku yakin Buk Endang sudah mencapaiorgasme nya. Matanya membeliak-beliak menahan dera nikmat, Dan kurasa Buk Endang menggigitipundak ku..

Aku mendapatkan pengalaman nikmat macam ini dari seorang dosen setengah baya yang ternyata amat hot di ranjang.. Buk Endang kini menjadi buas dan kehilangan perasaan malu. Kudengar Buk Endangmeracau dan mengeluarkan ucapan-ucapan yang sangat seronok dan kotor yang seharusnya tidak keluar dari mulut nya.

Aku menjadi terdorong, nafsu birahiku yang menggelegak hebat mengucapkan nikmat luar biasa sambil merintih. Dan berbareng dengan itu, Akusemakin keras dan cepatnya memompa nonok nyahingga kudengar suara bijih pelir ku yang memukul-mukul bawah nonok Buk Endang.

“Uuooooohh…” jeritku menyusul menyemprotkan air mani ku ke dalam nonok Buk Endang. Sperma ku menyemprot rahimnya beberapa kali.

“… aaaaahhhhh… aaaaahhhhh… aa… aaaaahhhhh… aaaauuuuuhh…”

Kudengar Buk Endang melolong bersamaan semprotan benihku memenuhi rahim nya. Aku tak bisa bayangkan lagi betapa banyak spremaku menyemprot lubang kemaluan Buk Endang. Air mani dan cairan birahiku membusa meleleh keluar membasahi pangkal pahanya. Dan akhirnya semua berhenti.

Kami mengatur nafas, terengah engah menikmati orgasme. Buk Endang memeluk ku dengan erat. Kedua kaki nya mengapit pinggulku dengan erat, seolah menyuruhku membenamkan rudal ku di dalam kemaluannya. Aku pun mengeggelamkan kepalaku di buah dada nya yang kenyal.

Setelah beberapa menit, aku bangun dan mengeluarkan batang kejantananku dari dalam lubang senggamanya. Buk Endang merintih dan begidik saat aku mencabut rudal dari dalam lobang serambi lempitnya. Terlihat sedikit air maniku meleleh keluar melalui lubang kemaluannya yang masih berdenyut-denyut menahan kenikmatan.

Aku duduk bersila di atas ranjang dengan menghadap arah memandang wajahnya. Kepalaku sejajar dengan kepalanya yang masih terbaring di atas ranjang itu. Aku meremas dan memilin putting payudaranya.

“tak kusangka mimik Ibu ini masih montok” ujar ku melirik padanya.

Buk Endang membiarkan aku menjawil tetek nya. Dia bangkit dan duduk dihadapanku sambil tangannya membelai rambutku. Terasa seperti suami isteri.

“Terima kasih Brian…” bisik nya lembut, lalu Buk Endang mencium pipi ku.

Aku mengangguk dan tersenyum.

”Bu maafin aku… sekali lagi maaf…” bisiku ketelinganya.

“Gak apa – apa Bryan… kamu itu hebat Brian.. bisa membuat ku begini… kamu buat aku menggelepar Bryan.. kamu pandai membuat ku birahi… trus punya kamu tu gedhe bangeeett… aku puass Bryann…” ucap nya nakal.

Lalu aku kembali mengajaknya berbaring di ranjang, aku tiduran disamping Buk Endang sambil memeluk tubuhnya yang bahenol.

“kalau ibu janji jangan cerita perbuatan ku dengan Buk Tuti di kantor tadi aku janji akan memberi Ibu kepuasan kapan ibu menginginkannya.” ujar ku.

Buk Endang terdiam dan menatap wajah ku.

“Tapi ibu juga harus janji apa kita lakukan ini jangan sampai Buk Tuti tahu..” tambahku.

“iya.. aku janji.. asal.. jika aku butuh kamu, beri aku kepuasan seperti tadi Brian… aku siap melayani kamu.. “puji nya malu malu.

Aku tersenyum dan beranjak dari tempat tidur, begitu Buk Endang menoleh kemana aku pergi ekspresinya berubah menjadi marah

“apa apa an kamu brian..??!! kamu.. kamuu.. merekam kita tadi..?? adduuhh.. bodohnya aku tidak menyadarinya …” umpat Buk Endang kesal.

Aku hanya nyengir dan mematikan kamera ku. Ya!! semua adegan ranjang ku dengan Buk Endang sengaja kurekam, agar kalau dia macam-macam kuacam dia akan mengedarkan video mesum kami

“Untuk jaga-jaga aja Buk.. mana tau Ibu berubah fikiran” ujar ku sekenanya.

Buk Endang langsung bangkit dari ranjang, tapi aku keburu mengamankan kamera ku. Dan dengan cepat membereskannya.

“kemarikan Brian..!! brengsek kamuu.. jahat…!!” ujarnya berusaha merebut kamera ku. Aku berkilah dan mendorong tubuhnya hingga terjatuh di lantai.

“tenang bu… kalau ibu gak macam-macam dengan aku dan Buk Tuti ini aman..” tekanku.

“brengsek kamu,!! Licik..!!!!” bentak Buk Endang marah.

Aku menyimpan kamera di lemari kamar dan menguncinya

Setelah aman aku mendekati Buk Endang.

“ayo mandi Buk ..” ujarku mengalihkan perhatiannya, mendekatinya dan mengulurkan tangan mengajak nya berdiri.

Buk Endang masih menatapku dengan tatapan benci

“jangan sampai kamu sebarkan itu ya Bryan…” ujarnya emosi

“iya.. selagi ibu gak cerita hubunganku dengan Buk Tuti dengan orang lain, apalagi dengan dosen-dosen lain, rahasia ini kusimpan rapat-rapat.. kalau ibu butuh pelampiasan nge sex kayak tadi.. kan tinggal telepon aku. Tapi.. jangan sampai Buk Tuti tahu” ujarku.

Buk Endang hanya terdiam dan berfikir panjang.

“sudahlah.. gak usah difikirin… yang penting tadi kita sama-sama puas kan ..?” bujuk ku

Buk Endang bersungut kesal. Aku tertawa melihatnya.

Kemudian tampak Buk Endang berdiri dan menuju kamar mandi yang ada di kamarku. Kulihat dia masuk kedalam kamar mandi.

Agak lama juga aku duduk dikamar dalam keadaanbugil, menunggu Buk Endang keluar dai kamar mandisambil menantikan tenaga pulih kembali dan sampai jantung berdegup dengan normal.

Kemudian Buk Endang keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk menutupi badan bahenolnya. Aku diam saja sambil terus mengawasinya dengan pandanganku. Kemudian Buk Endang tampak memakai pakaian dalamnya dihadapanku.

Jam menunjukkan pukul 17:30 sore. Ternyata di luar hujan turun, terdengar cukup lebat tidak ada tanda-tanda mau berhenti. Sudah jam segitu belum ada Buk Tuti meneleponku. Mungkin do’i sedang bersitirahat di kost nya. Aku kenakan lagi celana dalam ku. tetapi baju tidak kupakai lagi. Karena masih letih, aku duduk bersandar di sofa kamar mengenang peristiwa tadi.

“Gila.. “bathinku.

Hanya dalam hitungan jam aku mengembat dua orang dosen. sebuah kenikmatan badan, apa yang kuidamkan selama ini akhirnya bisa kudapatkan. Aku memang tidak pernah berkhayal bisa bercinta dengan Buk Endang yang notabene sudah tua dan setengah baya itu, namun goyangannya yang hot masih terasa mengebor rudalku barusan.

Jika selama ini aku segan dan takut dengan Buk Endang yang merupakan dosen senior yang begitu berwibawa dan anggun di fakultasku hari ini aku melihat dapat sisa sisa kemolekan tubuhnya yangbahenol, setiap lekuk badannya, payudaranya dan kemaluannya.

Semuanya kualami dengan menikmati pemandangan yang mempesona, malah tidak hanya itu, tetapi juga dapat merasakan kenikmatan yang ada pada tubuh itu.

Ketika aku melamun, aku dikejutkan dengan bunyi dentuman petir yang kuat. Aku melihat Buk Endang yang sudah selesai mandi itu sedang tidur tiduran di ranjangku sambil menonton TV. Jam sudah menunjukkan 16.00 sore.

Aku menuju ke arah Buk Endang. Kelihatan Buk Endang telah easy going, tidur tiduran dengan hanya mengenakan pakaian dalamnya saja.

“sebentar lagi kamu antar saya pulang ya..?” ujarnya lembut.

Setelah mandi tampaknya dia sudah melupakan semua perbuatanku padanya

“iya Bu Endang ku” jawabku ringkas sambil duduk disebelahnya dan memandang Dosen ku itu

Buk Endang tetap menonton TV

“diluar hujan.. dingin Brian.. matiin aja AC nya” ujar Buk Endang memecah kebuntuan kami

“iya… tapi kan salah ibu gak pake pakaian..” godaku.

Buk Endang tersenyum nakal. Dengan cepat dipeluk nya aku. Wajah tua nya tersipu malu

“kenapa kamu melakukan ini Brian..? saya kan sudah tua.. tidak menarik lagi.. kenapa kamu masih mau bercinta dengan saya..?“ujarnya sambil menatapku.

Bersambung… Kutatap balik wajah nya. Wajahnya mulai keriput, walau masih tampak anggun dan ayu., Dengan rambut ikalnya yang panjang. Entah kenapa aku bisa terpikat dengan dosen Bersuami di hadapanku ini. “mungkin karena tubuhnya yang bahenol dan goyangannya yang hot “bathinku,

“aku membelai rambutnya yang keriting itu

“Ibu itu bahenol.. dan masih montok.. ini gara-agar aku lihat paha Ibu saat rok bu tersingkap tadi.. tapi sudahlah semuanya sudah terjadi.. asal ibu ingat kesepakatan kita tadi.. saya bersedia melayani Bu Endang dengan sepenuh hati” ujarku

Buk Endang hanya tersenyum kecut mendengar penuturanku.

“Terima kasih yah…” Ujarnya

“Terima kasih apa..?” tanyaku

“Yang tadi… Sebab tadi adalah pengalaman yang terindah buat saya… kamu.. membuat Ibu baru merasakan nikmatnya bercinta.. setelah lama menikah” Ujarnya malu – malu

“Ooo… tapi jangan kasih tau orang lain.” Ujarku tersenyum. Buk Endang mengangguk pasti.

“Janji.” Tambahku

“janjii..” balasnya.

Kami tersenyum berdua, dosen senior ini pun telah dapat kutaklukan

“Kenapa tadi Ibu marah..?” tanyaku penasaran

“Marah kenapa..?” ujarnya heran

“Iya… awalnya Ibu melarang, menolak Saya, tapi setelah itu..?” ujarku menjelaskan maksud pertanyaan

“Setelah itu Saya biarkan…?” sambungnya.

“Haaa…” jawabku dan langsung kusambung, “Apa sebabnya..?”

“Kalau Saya lawan pun Kamu pasti memaksa, Kamu pasti sangat menginginkan.”

“Belum tentu.” kelakarku

“Pasti begitu. Pertama jujur saya kaget, tiba-tiba sudah berduaan dengan kamu di kamar ini ..” ceritanya.

“tapi kan saya juga punya harga diri… melihat kamu ngotot, ya mana mungkin saya melawan. Jadi lebih baik saya biarkan kamu memaksaku. Padahal diam diam saya menikmati nya .” tutur Buk Endang polos

“tapi jujur.. sejak kapan Ibu mengintip kami di ruangan Buk Tuti tadi siang” tanyaku penasaran.

“oo… saya mau masuk ke ruangan Tuti, karena ada skripsi mahasiswa bimbingan saya tertinggal di ruangannya. Pertama saya mau masuk di jendela kelihatan kalian sedang bergumul.. penasaran, maka saya intip..” jelasnya

“trus Ibu gak konak..? “pancingku

“ya konak lahh… kalo gak konak gak bakal saya intip sampai selesai.. “tambahnya tertawa.

“saya berkhayal.. melihat ekspresi Tuti saat kamu gumuli.. begitu bergairah.. makanya saat saya sadar bahwa saya berdua dengan kamu disini serasa mimpi aja” aku nya malu malu. Wajah tua nya tampak bersemu

“Anda tidak menyesal..?” tanyaku ingin kepastian.

“Kalau rela, mana mungkin menyesal, buat apa..?” jelasnya lagi. Buk Endang semakin nakal dan berani dalam menjawab pertanyaanku yang sebenarnya pancingan padanya.

“Lagian walau kamu seperti memperkosa saya, saya menikmatinya… gak tahu kenapa., Saya jadimenikmatinya. Ditambah lihat body kamu yang atletis… mungkin lain cerita nya jika saja orang lain yang berbuat begini ke saya, Saya pastilah menolak.” Tambahnya lagi

“Habis, anda kelihatan nya gak betul betul berontak… Iya nggak..?” tanyaku meyakinkan

“kan sudah saya katakana… Saya juga konak Briaann makanya saya biarkan kamu menyetubuhi Saya.” Ujar Buk Endang mencubit lenganku

Kami berdua tertawa,

“Kalau suami Anda tahu.. tadi sempat saya dengar anda bilang mas Dibyo.. itu suami anda kan?” ujarku lagi

“benar.. tapi Gimana dia akan tahu.. kecuali kamu jahat, melihatkan rekaman tadi kesuami saya?” ujar Buk Endang menatapku tajam

“Lho, kan udah saya bilang.. Ini hanya rahasia kita saja kan..?” Ujarku menenangkannya. Buk Endangmengangguk.

“Jadi, janganlah beritahu orang lain.. tentang skandal ku dengan Buk Tuti karena kita berdua juga memiliki skandal!” ujarku tersenyum penuh kemenangan.

Buk Endang mengangguk lagi tanda paham.

“iya iya.. gak usah dibahas lagi” ujar Buk Endang

Kemudian Buk Endang mendekatkan tubuhnyakepadaku. Merebahkan kepala nya ke dadaku.

“Wanginya…” sapaku manja. Buk Endang mencubit pahaku dan aku berkata,

“Saya mau lagi…” rengeknya

“Mau apa..?” tanyaku pura-pura bodoh

“Yang seperti tadi.” rajuknya

“Tadi kan sudah…” ujarku

“Tak puas…” ujarnya akhirnya

“Aiii… nggak puas juga..?” ujarku tertawa

“Suami Saya sekali saja langsung lelah dan tidur, masak kamu sama kayak dia..?” tantang Buk Endang

“Soalnya… peluang seperti ini susah saya dapatkan… nanti kamu pasti sama Tuti mu itu” ujarnya sinis.

Aku tertawa mendengarnya.

“Buk Endang seperti ABG saja.. pake acara cemburuan” ujarku menertawakannya

Tampak Buk Endang melongos tidak senang.

“Ibu cantik ku.. sini ..” ujarku meraih satu tangannya.

“pegang ini ya… Saya ingin merasakan Ibu pegang ini .” Jawabku sambil mengeluarkan rudalku dari celana dalam dan aku mengarahkan tangan Buk Endang hingga tangannya sekarang menggengam batang kemaluanku. Buk Endang begidik karena tangannya tak cukup menggengam diameter rudal yang panjang dan tegak menjulang itu

“Ihh.. gedhe banget punyamu.. dikasih apa sih” tanya Buk Endang sambil mengurut urut batangnya dengan gemas.

“Uuhh.. enakk Buu… terusiinn… Ohh..” desah ku mengadah merasakan enaknya pijitan tangan Buk Endang mengurut rudalku. Lama kelamaan Buk Endang melepaskan celana dalamku. Sambil terus mengurut batang nya, wajah Buk Endang memandangku dengan genit, membuatku birahi ku naik kembali.

“Jilat Bu… Mau kan..?” Ujarku tak tahan

“Jilat..? Mau meniru cerita BF yach..?” balasnya tersenyum.

Aku mengangguk membalas senyumannya. Kemaluanku yang tambah menegang, membuattenagaku pulih. Aku genggam tangan Buk Endang yang terus mengurut rudalku yang mengeras itu. Buk Endang seperti paham dan meraba batangku. Aku biarkan saja, sedap rasanya.

Setelah itu, aku dengan telanjang berdiri di hadapanBuk Endang. Dia hanya tersenyum memandangku. Perlahan-lahan, kemaluanku yang menegang itu dipegangnya, dibelai dan diusap ke atas dan ke bawah. Nikmatnya tak terkira, tangannya yang lentik terasa amat memanjakan anganku, birahiku dan nafsu liarku…

Aku mendesis karena nikmatnya. Aku berharap Buk Endang akan menghisap dan mengulum batang kejantananku. Memang sepertinya Buk Endang sudah tahu keinginanku. Diciumnya ujung batang kemaluan aku, dan ujung lidahnya dimainkan di lubang kepala kejantananku. Aku terasa ngilu, tapi sedap. Perlahan-lahan Buk Endang membuka mulut dan memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya.

Oohhh… Terasa kehangatan air liurnya membasahi batang yang setengahnya berada di dalam mulutnya. Dihisapnya rudalku, dikulumnya ke atas dan ke bawah. Terasa seperti tercabut ketika itu. Kupegang dan remas rambutnya yang tipis itu. Aku dorong batang kemaluanku jauh ke dalam mulutnya, terasa ujung kejantananku terkena dasar tenggorokannya.

Setelah itu, aku pegang bahunya. Buk Endang berdiri memandang dengan penuh kesayuan. Aku pegang dan belai rambut nya. Perlahan-lahan kulepaskan BH nya, berikut melorotkan celana dalam Buk Endang.

Sekarang aku dan Buk Endang sama samabertelanjang. Berdiri diatas ranjang. Aku lingkarkan tangan di pinggang nya dan mulai mendekapnya lembut. Kami berpelukan dan bertautan bibir sambil jari-jariku meraba dan menggosok seluruh badan Buk Endang. Sekarang baru aku bisa merangkul tubuh yangbahenol dan padat itu dengan pinggul yang besarsepuas-puasnya.

Setelah puas bermesraan sambil berdiri, lalu aku baringkan dia di atas ranjang sambil terus memberikan kecupan demi kecupan. Kali ini aku tidak berlama-lama mencium payudaranya sebab sasaran mulutku adalah ke liang kenikmatannya. Aku turunkan ciumanku ke bawah, kulihat kemaluannya masih kering.

Buk Endang mengerti dan menaikan punggungnya. Aku pun melorotkan celana dalamnya, setelah lepas diantara kedua kakinya, Buk Endang membuka kedua kakinya lebar lebar, hingga kemaluan nya menganga indah di hadapanku.

Aku mendekatkan wajahku ke kemaluanya. Perlahan kukecup bibir kemaluannya,

“Ahhhhh… Bryaannn hh… “Sontak Buk Endangmendesis keenakan sambil menggeliat manja saat lidahku kujulurkan ke labia mayora nya itu. Aku terus mencium kemaluannya itu dengan lembut. Terangkat punggungnya menahan kenikmatan itu.. tanpa menunggu Bibir kemaluannya itu kujilat, kujulurkan lidah dan menusuk ke dalam lubangnya..

Terdengar suara Buk Endang merintih rintih kenikmatan. serambi lempit Buk Endang mulai basah dengan air ludahku, aku tak peduli, aku terus jilat dan hisap sambil tanganku meremas-remas puting payudaranya.

Tiba-tiba, saat menikmati sedapnya menjilat, Buk Endang meraung dengan tubuhnya terangkat. Serentak dengan itu, habis mulutku dibasahi dengan simbahan air dari dalam liang kewanitaannya. Ada yang masuk ke dalam mulutku sedikit, rasanya agak payau dan sedikit asin. Aku berhenti dan mengelapkan mulutku yang basah karena air maninya.

Selanjutnya aku mainkan dengan jari saja lubang serambi lempit itu. Entah karena apa, timbul nafsu untuk menjilat air maninya lagi. Aku kembali membenamkam wajahku dan mulai menjilat lembah yang basah berair itu. Lama-lama rasanya menjadi sedap, habis kujilat, kuhisap serambi lempitnya.

“Uuuuuuhhh.. Briaannnhh.. Ennaakkk Ooohh… Occh… “terdengar Buk Endang merintih manja sambil meliukkan tubuhnya. Ketika aku menghisap kelentitnya, kumainkan lubang kenikmatannya dengan jari. Tiba-tiba, sekali lagi dia terkejang kepuasan, dan kedua kali jugalah air maninya menerjah ke dalam mulutku.

Dengan mulut yang basah karena air maninya, kucium mulut dia. Air maninya bercampur dengan air liurnya apabila aku membiarkan lidahku dihisap. Buk Endangmenjilat air maninya sendiri tanpa mengetahuinya.

Ketika sudah habis air mani di mulutku karena disedotnya, aku mulai menghentikan pemanasan. Tubuhnya kutindih, dengan sauh dihalakan ke lubuk yang dalam dan dilepaskan layar, maka jatuhlah sauh ke dalam lubuk yang selama ini hanya dilabuhkan oleh sebuah kapal dan seorang nakhoda saja.

Aku menghimpitkan tubuhku ke atas tubuhnya dengan lembut sambil mencium wajahnya. Secara otomatis Kemaluanku bergesekan dengan kemaluannya. Terasa ujung kejantananku bertemu dengan bulu dan air mani yang membasahi lembah kenikmatan itu.

Setelah mendapatkan kedudukan yang tepat, kupegang kejantanan dan mengarahkan ke lubang senggamanya. Tanpa disuruh Buk Endang membuka dan meluaskan kangkangannya pahanya sedikit.

Setelah berada di ujung muara, aku pun melabuhkan tongkat nakhodaku ke dalam lautan birahi dengan perlahan-lahan diikuti oleh desisian dan raungan kami berdua yang bergantian, mengiringi terbenamnya tongkat ke dalam lembah di lautan.

“Aaarrrghhh… mmm…”

Aku menekan sampai pangkal kemaluan dan membiarkannya sekejap karena terasa seperti terjepit. Aku mencium leher dan mulutnya berulang kali. Bila keadaan sudah agak tenang, aku mulai mendayung, atas, bawah, pelan dan teratur. Kenikmatan pada waktu itu adalah sangat indah, susah untuk dapat dikatakan, kemudian aku menggerakkan ke atas dan ke bawah berulang kali.

Aku dorong dan tarik kemaluanku dengan diiringi suara mengerang yang agak kuat sambil melihat pemandangan indah di bawah. Sungguh pemandangan yang indah jika dapat melihat kejantananku sendiri sedang masuk dan keluar dari lubang senggama wanita, dengan bunyi yang cukup menawan.

Buk Endang memeluk erat pinggangku ketika bergoyang mengimbangi tubuhku, punggungnya bergerak ke atas dan ke bawah mengikuti arus irama. Sesekali dia menggoyang-goyangkan punggungnya untuk membantu daya dorongku, terasa kenikmatan yang tiada bandingnya. Kulajukan dayungan, semakin laju dengan suara yang semakin kuat.

Buk Endang hampir mengeluarkan suara erangannya, dan aku merasakan hampir keluar seperti gunung berapi hendak memuntahkan lavanya. Aku lajukan lagi, dengan sekuat tenaga kutusukkan sedalam-dalamnya diikuti dengan teriakan Buk Endang yang nyaring, terpancurlah air maniku jauh ke dasar lubang senggamanya.

Ketika kubuka mataku, aku melihat mata Buk Endang menutup serta dadanya yang naik turun dengan cepat, ada tetesan peluh di dadanya. Begitu juga badanku, terasa peluh meleleh di belakang. Kejantananku semakin menekan ke dalam lubang kenikmatanya yang semakin lembab akibat muntahan yang terjadi bersamaan.

Kukecup dahi Buk Endang, dia membuka mata dan tersenyum memandangku. Aku membalasnya dengan mengecup mesra bibirnya. Akhirnya aku tindih tubuhnya di atas kasur itu dengan kepalaku kuletakkan di atas dadanya. Terdengar bunyi degupan jantung yang kencang di dada Buk Endang, dosen semok yang mengajar Dasar dasar logika di Jurusanku itu

Setelah beberapa menit, aku bangun dan mengeluarkan batang kejantananku dari dalam lubang senggamanya. Terlihat sedikit air maniku meleleh keluar melalui lubang kemaluannya yang berdenyut-denyut menahan kenikmatan.

Aku ambil tisue di tepi meja kamar dan kubersihkan air mani yang meleleh itu. Buk Endang hanya memandang sambil melemparkan senyuman mesra ke arahku.

Buk Endang membiarkan sambil tangannya membelai pahaku. Terasa seperti suami isteri.

“Terima kasih sayang…” bisiknya lembut.

Aku mengangguk tersenyum

“sekali lagi ya..” bisiku ke telinganya

“Bry.. a… aaan.. ja…” belum sempat Buk Endang menghabiskan kata-katanya, bibirku berpautan pada bibirnya, kali ini aku cium sekuat-kuatnya.

“Mmmppphhh… mmmppphh…” Buk Endang tidak bersuara lagi saat mulutnya kukecup. Tanpa menunggu persetujuan dari Buk Endang kembali kugarap tubuh dosen ku yang bahenol itu…

Kini kapal lain datang bersama nahkoda muda yang terpaksa berhempas pulas melawan badai mengarungi lautan birahi untuk sampai di pulau impian bersama-sama. Perjuangan kali ini lebih lama, dan melelahkan kerena masing-masing tidak mau mengalah duluan.

Berbagai aksi dilakukan untuk sampai ke puncak kejayaan. Tubuh Buk Endang kusetubuhi dalam berbagai posisi, dia juga memberikan kerjasama yang baik kepadaku dalam menempuh gelombang.

Akhirnya, setelah berhempas pulas, kami tiba juga di pulau impian dengan kejayaan bersama, serentak dengan terjahan padu air hikmat serta jeritan manja, sang dosen bahenol itu meraung kepuasan.

Kami terdampar keletihan setelah penat belayar. Terkulai Buk Endang di dalam dekapanku. Kali ini lebih romantis, sebab banyak posisi dan gaya yang telah kami lakukan. Kami telentang kelelahan, dengan peluh memercik membasahi tubuh dan wajah kami. Air maniku meleleh keluar kedua kalinya dari lubang yang sama.

Tubuh kami terasa tidak bernyawa, rasanya untuk mengangkat kaki pun tidak kuat. Lemah segala sendi dan urat dalam badan. Hanya suara rintihan manja saja yang mampu dikeluarkan dari pita suara kami dalam kedinginan akibat hujan yang masih turun lebat.

“I Love you”… aku mengecup dahinya, dia tersenyum. Kepuasan nampak terpancar di wajahnya.

“Kamu benar-benar hebat…” sahutnya.

“Hebat apa..?”

“Iya lah, empat kali aku muncak kali dalam sejam.” Ujarnya menatapku malu malu

“Ibu juga hebat… saya suka bercinta dengan ibu.” balasku ringkas.

“Belum pernah Saya merasa puas seperti ini…” jelasnya jujur.

“Belum pernah..?” tanyaku keheranan.

Dia mengangguk perlahan, “Saya tidak pernah orgasme lebih dulu.” sambungnya

“Suami Ibu melakukan apa saja..?”

“Dia hanya memasukkannya sampai Dia keluar…” sambungnya.

“Bila sudah keluar, dia letih, terus tertidur. Saya sudah tidak terangsang lagi saat itu.”

“Kenapa Ibu tidak memintanya..?” saranku.

“Kalau sudah keluar, Dia tidak terangsang lagi.”

“Dalam seminggu berapa kali Ibu dan suami berbuat..?” tanyaku mengorek rahasia mereka.

“Sekali, kadang-kadang tidak dapat sama sekali dalam seminggu itu…”

“Kenapa..?”

“Dia pulangnya terlalu malam, jadi sudah letih. Tidak nafsu lagi untuk bersetubuh.”

“Ohhh…” aku menganguk seakan memahami.

“Kapan terakhir Ibu melakukannya..?” pancingku lagi.

“Ehh, dua minggu yang lalu.” jawabnya yakin.

“Jadi Sudah dua minggu Ibu tidak mendapatkannya..?” sambungku terkejut,

Buk Endang hanya menganggukkan kepala mengiyakannya.

“Jelas Buk Endang tidak marah besar ketika aku mulai menjamah tubuhnya.” dalam hatiku, “Dia mengidamkan juga rupanya…”

Hampir setengah jam kami berbicara dalam keadaan berpelukan dan bertelanjang di atas ranjang itu. Segala hal mengenai masalah rumah tangganya ku tanya dan dijawabnya dengan jujur. Semua hal yang berkaitan diceritakannya, termasuk jeritan batinnya yang rindu akan belaian dari suami yang tidak pernah benar-benar dinikmatinya.

Suaminya terlalu sibuk dengan kerjanyabegitu juga dengan Buk Endang. Memang bodoh suamiBuk Endang, sebab tidak menggunakan sepenuh nya tubuh yang montok dan masih kencang ini, kurasa semua lelaki memberikan penilaian yang sama denganku. Nasibku baik, sebab dapat menikmati tubuh itu dan sekaligus membantu menyelesaikan masalah kepuasan batinnya.

Aku semakin bangga apabila dengan jujur Buk Endangmengakui bahwa aku telah berhasil memberikan kepuasan kepada dirinya, batinnya kini tidak lagi bergejolak.

Raungannya kini tidak lagi tidak dipenuhi, Buk Endang sudah dapat apa yang diinginkan batinnya selama ini, walaupun bukan berasal dari suaminya sendiri, tetapi dengan mahasiwanya, yang lebih muda15 tahun tetapi gagah seperti berusia 30 tahun.

Tak lama kemudian, HP ku berdering, ternayata kekasihku Tuti Khairani memanggil, aku memberi isyarat agat Buk Endang tidak bersuara dulu. Buk Endang patuh dan aku menjawab telepon Buk Tuti

“say… gimana ..? udah beres masalahnya” ujar Buk Tuti diseberang sana.

“sudah.. semua baik baik saja say… pokoknya aman… Buk Endang gak bakal menceritakan kejadian tadi siang.. dia sudah janji…” ujarku.

“kamu percaya begitu aja sama dia…? “tanya Buk Tuti.

“iya.. percaya… sudah aku ancam dia… yakin deh.. dia gak bakal macam-macam..” ujarku menoleh pada Buk Endang. Buk Endang tampak bersungut kesal.

“ya sudah… kamu jemput saya ya say.. saya kangeenn” ujar Buk Tuti manja.

Aku tergelak dan menoleh ke Buk Endang, tampak raut tak senang dari wajahnya.. dia cemburu.. hi ihi hi

“oke.. tunggu aja disana.. Buk Endang nya sudah pulang dari tadi.. aku mandi dulu ya say… byee..” ujarku menutup telepon.

“Buk.. mau saya antar pulang atau naik taksi aja.. soalnya cintaku Tuti Khairani minta dijemput” ujarku.

“saya pulang naik taksi aja“sungutnya kesal. Aku tertawa dan mendekatinya lagi.

“Buk Endang sayang… jangan marah dong.. nanti kubuktikan aku akan membagi cintaku padamu..” ujarku tapi langsung tanganku ditepis Buk Endang

Seperti disuruh, Buk Endang mengenakan kembali pakaian dalamnya berikut pakaian kerjanya. Aku membiarkan Buk Endang berbenah, sambil nyengir…

“tua tua kok cemburuan… dasarr… wanita… “bathinku.

Aku menanti Buk Endang selesai berpakaian di kamar itu. Tak lama kemudian, dia berjalan bergegas keluar kamar. Aku mengikutinya dari belakang, lalu meraih HP ku dan memesan taksi untuk Buk Endang.

Aku menuju ke ruang tamu mengajak Buk Endang. Buk Endang mengikutiku. Dia hanya diam dan tak bersuara.

Aku membiarkan saja.. peduli amat bathinku.

Tak lama kemudian terdengar suara klakson taki di depan rumahku. Mendengar itu Buk Endang berdiri danminta diri untuk pulang. Saat dia berdiri, aku memeluknya. Buk Endang membiarkan saja. Sikapnya sungguh dingin, bila mendengar nama Buk Tuti

Aku berkesempatan meremas pantatnya yang bahenol

“Auuu..” jerit Buk Endang. Aku menciumi pipinya dan mengecup lehernya.

Buk Endang ternyata membalas pagutanku. Kami bercumbu sambil berdiri. Tampak kemudian Buk Endang mengikat rambutnya seolah mempersilahkanku menggerayangi lehernya dengan mulutku. Kemudian Buk Endang gantian menciumi leherku dengan ganas. Dan tiba-tiba..

“Auuuu..” jeritku saat kurasa gigi Buk Endang menggigit keherku.

“sakit bu,,” protesku. Buk Endang tak peduli dan terus menjilati leherku sambil sesekali mencupangnya, melihat dia begitu bergairah aku mencoba menahannya

“Bu.. cukup dulu yah… tuh taksi kelamaan nunggu diluar yahh..” ujarku melepaskan diri dari pagutannya, sungguh bernafsu sekali wanita ini bathinku

“ya sudah.. saya pergi dulu ya Brian… nanti saya telepon kamu..” ujarnya membenahi pakaian nya yang agak berantakan akibat rabaan dan gerayangan ku pada bodynuya

Aku mengiringi Buk Endang ke pintu. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih atas segala layanannya. Buk Endang juga berterima kasih karena telah merasa aku layani dengan baik.

Aku lalu membuka pintu pagar dan mengantar Buk Endang ke pintu taksi. Tak sampai hitungan menit tidak terlihat lagi taksi itu dari rumahku, maklumlah hujan, aku masuk ke dalam rumah dan sekarang waktunya makan malam.

Sebelum nya aku menuju kamar mandi ingin buang air kecil. Sesampai disana aku kaget saat melihat pantulan diriku di cermin kamar mandiku, terlihat dengan jelas bekas gigitan di leherku.

Ah, gawat bisa ketahuan aku dengan Buk Tuti. Sial.. bathinku. Pintar juga Buk Endang ini.., membuatku harus mencari alasan untuk tidak bertemu Buk Tuti karena do’i pasti akan curiga padaku saat melihat ada bekas gigitan di leherku.

Aku berniat kalau tidak hilang sampai besok, aku pasti tidak akan ke kampus. Aku kemudian menelepon Buk Tuti bahwa aku tak bisa menjemputnya dengan alasan karena mendadak sepupuku datang dan aku harus menjemputnya di bandara.

Keesokan harinya, tidak terlihat bekas gigitan pada leherku. Di kampus, bila bertemu dengan Buk Endangyang anggun dan ayu itu, aku tersenyum dan mengucapkan selamat, seperti tidak ada sesuatu di antara kami. Buk Endang pun bertingkah biasa saja, walaupun di hati kami masing-masing tahu apa yang terjadi.

Terkadang aku juga melayani nafsu birahi Buk Endang jika dia lagi horny dan butuh kehangatan dariku. Namun hubunganku dengan Buk Endang kami tutup rapat-rapat. Serapat aku menutup hubunganku dengan Buk Tuti.

Pernah sekali saat aku kebetulan berpapasan dengan Buk Endang di kamar mandi kampus. Kami saling memandang dan dia tak menolak saat aku menarik nya ke dalam WC pria. Ngocoks.com

Kami becumbu melepas birahi, saling berciuman, saling meraba dan saling meremas. Kemudian aku mendapati sebuah ide, kusuruh Buk Endang membalik membelakangi ku dan berhadapan dengan cermin dan tangan nya bertumpu memegang wastafel.

“jangan aneh aneh deh .. “tolak nya halus, namun patuh juga dengan instruksi ku itu. Aku memeluknya dari belakang dan langsung kucumbu pundak nya, berikut kujilati daun telinga nya dan bersamaan juga kuremas bukit kembar nya dari belakang. Tubuh Buk Endang langsung menggelinyang saat kuremas payudaranya itu.

“Uuhh.. Adduhh.. Pelan pelan… Ooh.. Gellyyh..” desah nya mendesis tertahan, aku makin menggila mendengar desahan nya itu, kulepaskan satu kancing baju nya dan kuremas mangkuk BH nya itu dengan gerakan tak beraturan, hingga terdengar Buk Endang meringis merasakan pijatan tanganku meremas kedua bukit kembar nya.

Aku terus memijit bagian kemaluan nya yang tertutup celana dalam itu,

“uuhh… Bryannnnhh.. aaahh.. “desahnya sambil mengadahkan kepalanya keatas.

“enak yaa.. oucchh.. Bukk.. aku lepas kancut mu ya.. “pinta ku, tanpa persetujuannya aku menurunkan celana dalam nya hingga sebatas lutut. Posisi tubuh Buk Endang ku arahkan menjadi setengah nungging. Pada saat itu pula aku mengelusi mengelusi bokong Buk Endang sekaligus meremasi nonok nya. Ku mainkan jari ku pada kelentit nya.

“Oooo.. hhh.. Bryaann.. Ohh… enaaakkk… shhhh.. “desahnya megap megap saat jari tengahku ku colokan dalam kelamin nya.

Kurasa jari ku diremas oleh dinding serambi lempit Buk Endang. tanganku yang satunya memeluk pinggang Buk Endang, dan dari saat kuperhatikan Buk Endang di cermin tampak wajahnya begitu berbirahi dan hot. Kurasakan tidakan ku ini mulai melanda birahiku dan semakin hebat akibatnya. Aku merasakan nonok Buk Endang mulai membasah.

Buk Endang terus mengerang penuh kehausan. Di lain pihak rudal ku terasa sudah ngaceng serasa mau meledak keluar dari celanaku. Dan saat nya jari kucabut dari nonok nya. Kemudian kubuka resleting celanaku dan mengeluarkan rudalku

“Bryaannhh.. jangan disini.. nanti ketahuann ..” bisik Buk Endang lirih mengetahui aku akan menyetubuhi nya di WC itu. Tapi kurasa Buk Endang juga begitu gatal untuk disetubuhi di tempat itu.

“Bentar aja Bu.. aku nggak tahan… aku masukin ya.. kangkangkan dikit pantat mu..” ujarku ku sangat tak sabar menyodok pantat nya dari belakang. Buk Endang patuh dan melebarkan kangkangan kedua kakinya. Hingga celana dalam nya yang masih berada di lututnya juga ikut melebar selebar batas celana dalam nya.

Aku menyejajarkan rudalku ke belahan serambi lempit nya, untuk membantu ku kusibak kan belahan pantat Buk Endang yang bahenol itu. setelah kurasa pas aku mencoba menyodok serambi lempit Buk Endang.

“Blesss.. Uuhh.. “bunyi rudalku masuk bercampur cairan cinta yang keluar dari kemaluan Buk Endang…

Buk Endang langsung menggelinjang.

“Ooohh.. Bryannn hh..” jeritnya tertahan saat rudalku amblas dalam serambi lempit nya. rudal ku tanpa kesulitanmenembusi serambi lempit nya. Nafsu birahiku yangmenyergap membuat ku terbakar hingga melumpuhkan nalar sehatku. Kuberanikan memenyetubuhii dosen senior ini dalam kamar mandi kampus.

Kudorong pinggulku membuat rudal ku keluar masuk nonok Buk Endang dengan penetrasi lambat, sambil menikmati enaknya jepitan serambi lempit dan pantat Buk Endang yang menjepit rudal ku. Refleks kurasakanBuk Endang menggoyangkan pantat nya. agar rudalku lekas meruyak ke bagian terdalam serambi lempit nya yangpasti sudah demikian gatal merasakan besarnya diameter rudal ku.

Irama nafas aku dan Buk Endang bertautan turun naik, memacu gairah yang kami rasakan.

‘ooh.. uuhh.. Ahh.. Ooohh..” desah kami seirama, kami saling menggenjot dalam posisi berdiri. Dari cermin tampak wajah Buk Endang begitu bernafsu dan terlihat jelas dilanda prahara kenikmatan dengan posisi itu.

Kami bagai dua insan yang penuh gairah, berpacu untuk meraih orgasme dalam ruang toilet itu. Aku merasa tak tahan, lalu dengan sangat cepat akumemompa kontoku dalam kemaluanku. Buk Endangsendiri sepenuhnya menyambut nya. Pantat nyaterus bergerak maju mundur mengimbangi kecepatan pompaan rudal ku.

Persanggama-an kami tidak berlangsung lebih dari 5 menit. Setelah kurasakan setiap persendianku begidik bermuara pada rudalku, ingin menyemprotkan lahar panasku.

“Uhh.. Uuh.. Uuuuuugghhh…” jerit ku dan Buk Endang bersamaan, Kami sama-sama menumpahkan cairan-cairan kami. Ku tembak kan peju ku sebanyak banyak nya menyemprot-nyemprot rahim Bu Endang.

Aku meraih orgasme dalam sensasi birahinyabersetubuh sambil berdiri. Aku merasa sangat puas. Demikian besar kepuasan orgasme yang aku dapatkan dan rasakan melebihi orgasmeku yang secara rutin ku semprotkan dalam rahim Buk Endang sebelum nya.

Aku pun melenguh kelelahan begitu juga Buk Endang, kami berdua sejenak mengatur nafas kami yang ngos ngos an sehabis bersenggama.

“Udaah ya Bryaan.. cabut punya kamu.. “rintih Buk Endang, masih dalam posisi setengah menungging.

“Ya Bu.. makasih ya..” ujarku mengecup pundak nya, kemudian mencabut rudalku dari dalam serambi lempit Buk Endang.

Buk Endang merintih tertahan saat kucabut rudalku. Posisi nya masih setengah nungging dan tangannya bertumpu pada wastafel.

Aku kemudian merapikan kembali celanaku. Sementara Buk Endang berajalan menuju WC, mungkin mau mencuci nonok nya yang sudah kesembur peju ku.

“Bu.. aku cabut dulu ya.. bye..” ujarku padanya dari luar pintu kamar mandi.

“Pergi cepat gi.. nanti ada orang masuk kemari bisa berabe lho.. “terdengar suara Buk Endang dari dalam kamar mandi. Mendengar itu aku pun meninggalkannya dan keluar kamar mandi dengan senyuman penuh kepuasan.

Bersambung… Aku sedang berada di kantin kampus, menikmati sebatang rokok dan juice Saat Posel ku berdering, tertera nama Buk Endang Calling… aku tersenyum dan mengangkatnya

“haloo..” sapaku

“Bryan, kamu lagi dimana sekarang..?” ujar Buk Endang

“lagi di kantin.. ada apa Bu..?” tanyaku

“ooo.. dikampus kan.. mmm.. Bryan… kamu ke ruangan saya sekarang ya.. saya tunggu..” kata Buk Endang

“sekarang..? ada apa..?” tanyaku

“pokoknya datang saja sekarang… kamu lagi nggak ada kuliah kan?” kata Buk Endang lagi

“nggak sih…” sahutnku

“nah.. cepat kesini… mau dikasih enak nggak?” kata Buk Endang sambil tertawa

Aku paham maksudnya, lagi pula hari ini aku lagi kosong kuliah. Menunggu pacarku, kak Rita sekitar sejam lagi selesai kuliah

“Oke say… tunggu disana..” ujarku

“baik… buruaann..” perintah Buk Endang dan mematikan panggilan.

setelah membayar semua belanjaanku, aku bergegas keluar kantin dan berjalan menuju ruangan jurusan yang berada di gedung 3. Sesampai disana, kulihat pintu ruangan Buk Endang tertutup. Aku mengetoknya

“siapa..? “terdengar suara Buk Endangdari dalam

“Bryant Buk Endang..” ujarku

“masuk Bryan..” ujar Buk Endang

Aku pun membuka gagang pintu, setelah terbuka kudapati Buk Endang disana, wajah ayu nya tampak sumringah melihat kedatanganku. Buk Endang yang semula sedang duduk kemudian berdiri menghampiriku

“tutup pintunya Bry,,” bisiknya.

“Baik bu…” ujarku sambil menutup kembali pintu ruangan Buk Endang

Saat aku membalikan badan kearah Buk Endang. Buk Endang langsung berlari dan memeluku.

“Bryann… Saya rindu kamu sayang..” bisiknya

Tangannya berada melingkari pingangku dan kepalanya disandarkan di dadaku

Hanya sebentar tangannya di pinggangku, sekarang tangannya langsung menuju selangkanganku dan mengelus elus daerah selangkanku tepatnya rudalku

Buk Endang mendongakan kepalanya menghadapku sambil tersenyum genit. Aku pun membalasnya dengan tatapan sama

“kepengen ya..” bisiku ke telinga Buk Endang, yang hanya dijawab dengan anggukan dan senyum mesum Buk Endang

Tak lama berselang Buk Endang berusaha melepaskan ikat pinggangku, aku membiarkan saja beliau menggerayangiku dan hanya menatapnya, setelah ikat pinggangku terlepas Buk Endang berusaha melepaskan kancing dan resleting celanaku

Buk Endang membantu melorotkan celana ku kebawah hingga posisi nya sekarang menjongkok di hadapanku. Buk Endang kembali menatapku dengan tatapan mesum, tak lama berselang kubiarkan dia melorotkan celana dalamku.

Buk Endang menatap rudalku dengan tatapan takjub dan mupeng

“walah walah.. iki dia.. manuk yang seneng nyodokin tempek ku…” ujar Buk Endang mengunakan bahasa jawa

“guedhe dan panjang… sini Buk Endang cium ya…” ujar nya tanpa persetujuanku Buk Endang mencium kepala rudalku berulang ulang, tampak Buk Endang senang memainkan rudalku diciumi nya kepala sampai batang dan tangannya mulai megurut batang kejantananku yang sudang mengancung tegak.

“ooohhhh…” desahku memejamkan mata saat kusadari rudalku tengah disapu oleh lidah Buk Endang, rudalku sudah berada dalam mulut nya. Sapuan lidah dan sedotan Buk Endang membuatku merem melek menikmatinya.

Buk Endang tak bersuara, yang terdengar hanya bunyi kecipak saat rudalku dihisap dan di kulum oleh Buk Endang. Hanya Bunyi sedotan mulutnya bercampur air ludahnya nya terdengar dalam ruangan yang hening ini

Buk Endang terus mengulum dan mengoral rudalku berkali kali, kadang kadang satu tangannya mengelus dan membelai kantong testisku

“uuuuhhh.. Buuuukk… Uuuhhh..” desisku tertahan

Setelah beberapa saat Buk Endang menghentikan aktifitasnya, Buk Endang mulai bangkit berdiri dan kembali berhadap hadapan denganku. tangan nya menarik tanganku

“bryan… ayooo… sekarang kamu puaskan saya ya…” Pintanya manja

“disini,,?, gak apa apa nih..?” ujarku

“alaah… gak apa apa… paling lima menitan… saya udah konak berat niiihh..” rajuknya. Sungguh nakal dan binal dosen ku ini

Buk Endang menggandengku kearah meja kerja nya, dan langsung berposisi membelakangiku, sampai menggesekan pantatnya pada rudalku yang sudah tegang

“sodok saya Bryannn.. hh.. dari belakangg…” pintanya memelas sambil memalingkan wajahnya kebelakang dan menatapku dengan penuh birahi. Ngocoks.com

Mataku terbinar dan kuakui aku sendiri memang sudah terangsang sejak Buk Endang mengoral rudalku tadi, rasanya pejuku tadi sudah mau muncrat malah dia nya berhenti mengemut

“iya..” ujarku. aku membantu mengangkangkan posisi pinggulnya dan menyibakan rok nya keatas sepinggang Buk Endang

Kedua tangan Buk Endang tanpa kusuruh sudah bertumpu pada meja kerja nya, Buk Endang membuka pantatnya dan membuat posisi menungging sambil berdiri

Aku mulai merangsangnya dengan cara meremas tetek nya

“Ouuuhh… Ouuuuhh..” dash Buk Endang tertahan

Namun saat aku mencoba melepaskan kancing bajunya, tangan Buk Endang menahanku

“Nggak usah dilepas say… kita main fast aja yah..” pintanya

Aku mengangguk dan melanjutkan meremas kedua buah dadanya walau tertutup pakaian.

Kemudian satu tanganku beranjak menuju selangkangan Buk Endang, dan mulai mengobel kelamin Buk Endang.

“Ohhhhhh… ohhhh… ohhhh… enak sekali… ohhh… ohhh…” Erang Buk Endang karena merasa nikmat.

Aku mulai tak tahan dan gemas melihat ekspresi binal dosen ku itu, aku mulai melorotkan celana dalam Buk Endang, sekarang celana dalam berwarna hitam berenda itu sudah kulorotkan dan berada di bawah lututnya, setelah itu kukangkangkan kedua pahanya dan kutahan dengan kedua kakinya hingga pantatnya yang bahenol itu terbuka.

Aku menyibak kan lobang kawinya dengan tanganku, hingga Buk Endang meringis

“pelann Bry… perihhh..” ujar Buk Endang

Aku diam saja setelah lobang kawin Buk Endang menganga indah, lalu kusejajarkan rudalku pada lobang kawin Buk Endang, setelah kurasa pas dan sejajar, kusodokan pinggul ku berikut kejatananku menerobos kedalam lobang serambi lempit Buk Endang

“uuuuuuhhhh…” desah Buk Endang meringis saat kepala kombetku membelah diatara labia mayora nya, sedikir demi sedikit kubenamkan kejantananku untuk masuk lebih dalam

“ooohhhhh..” desis Buk Endang terhenyak, saat itu hampir seluruh batang kejantananku amblas dalam black hole Buk Endang.

Selanjutnya aku mengontrol tempo, dengan memaju mundurkan kejantananku dalam serambi lempit Buk Endang, tanganku yang semula di pinggangnya sekarang beralih kearah payudaranya. Dengan gemas ku remas kedua buah dada nya dengan kedua tanganku.

Walau masih mengenakan pakaian, remasan ku tambah buah hingga Buk Endang terlihat menggelijang keenakan..

“oouuuuhh… Ouuuhhh… enak Bry… Remeeees terussss remezzzz…!!!” desah Buk Endang, karena aku gemas kupercepat penetrasi sodokanku memborbardir lobang kawin Buk Endang..

Buk Endang terlihat menahan rintihan suaranya.

“sshhh… owwwhhh… mpphhh… Genjot terussss…!!!! “rintihnya tertahan, pinggul Buk Endang terasa makin hot goyangannya, hingga menimbulkan sensasi tersendiri bagiku

Tubuh Buk Endang dalam posisi berdiri membungkuk sambil berpegangan pada meja kerja di ruangannya. Pakaian atas nya masih lengkap terpakai, rok nya kuangkat sebatas pinggulnya sedangkan celana dalam nya sudah melorot sampai ke mata kaki.

Aku amat menikmati ensasi menyetubuhi Buk Endang dari arah belakang dengan ritme cepat dan bervariasi..

CREK… CREK… CREK… CREK… CREK… terdengar bunyi suara becek dari kemaluanku yang sudah sangat basah karena cairan kental yang berasal dari kemaluan Buk Endang

Terasa pantat Buk Endang terus memutar kearah berlawanan dengan sodokan ku.. gerakan nya makin cepat hingga rudal ku serasa di blender dalam nonok Buk Endang, pertanda Buk Endang akan mencapai orgasme nya.

“Uuuuhhh… uhhh… Aku sudah mau dapet aaaa… ohhhhhh” Buk Endang mulai merintih nikmat seperti orang kesurupan saat orgasme nya terasa akan datang.

Aku mempercepat gerakan pinggulku supaya beliau juga bisa mendapat ejakulasi bersamaan dengan orgasmeku.

“A… A… HHHH… HH..” Aku mendengar beliau berteriak tertahan dengan tubuh bergetar, Melihat itu rudalku ku tancapkan dalam-dalam pada liang senggama Buk Endang.

“Buu… ss.. saya… keluar …” bisik ku tertahan

“AHHHHMMMMPPPHHHH… Aku sendiri sedang sibuk menahan jeritan nikmatku sampai mukaku berubah menjadi merah padam.

SROOOTT… SROT… SROT… srot… srot… semprotan air mani ku yang hangat terasa memancar ke dalam rahim Buk Endang.

“ooohh.. ooohh.. shhhh… hhhh…” desah ku mengatur nafas menikmati enak nya berejakulasi dalam Rahim dosen ku itu.

Setelah menenangkan diri sampai nafas kami tidak memburu lagi, aku kemudian mencabut kejantannku dari dalam lobang kawin Buk Endang. Lalu mengambil tissue untuk membersihkan kemaluan Buk Endang dan kemaluanku. Aku kemudian membantu beliau memakai celana dalam nya berikut roknya kurapikan kembali.

“makasih Bryan sayang… Saya puass dengan permainan ini” kata Buk Endang sambil memeluk ku dengan mesra.

Setelah melepasnya aku merapikan kembali pakaianku

“kenapa nafsu Ibu kuat banget hari.. “pancingku

“Ngg.. Iya ya… hehehehe..” wajah ayu Buk Endang tersipu malu

“Kemaren suami saya minta jatah..”

“Trus…” godaku

“yaaa… saya belum orgasme dia nya udah nembak duluan..” sungut Buk Endang terlihat kesal

“Hahahaha…!!! Pantesan Ibu minta nya mendadak begini… ternyata semalam ada yang gantunggg..” godaku disambut tawa renyah Buk Endang

Setelah kejadian itu Aku sering diminta dosen wanita itu melayani Quickly Sex. di ruang kerja beliau terutama di pagi hari, kami hanya membutuhkan 5 – 15 menit saja untuk mencapai orgasme dan ejakulasi.

Salah satu hal yang mengurangi kenyamananku adalah aku harus menahan suara erangan nikmatku agar tidak kedengaran sampai keluar ruang kerja beliau.

Bersambung… Sekarang aku sedang berada di hotel berduaan dengan buk endang. Dosen paruh baya yang telah beberapa kali kutiduri. Kenikmatan bercinta dengan wanita berpengalaman seperti buk Endang membuatku makin ketagihan dengan permainan cintanya di ranjang.

Cara nya memuaskan libidoku terus membekas di benak ku, selalu terbayang goyangan pantat bahenolnya saat kusetubuhi dia dari belakang.

Didalam kamar dia memeluk ku dan kami saling berpelukan. Buk Endang menciumi ku wajahku berulang ulang, mungkin dia sudah sangat kangen atau konak untuk kusetubuhi.

Aku membiarkannya terus menciumi ku, masih dalam posisi berpelukan, pelan pelan aku menggiring langkah menuju ranjang. Setelah sampai di pinggir ranjang, Aku lalu merebahkan buk Endang di atas ranjang.

“ahhh.. ahhh..” desah buk endang menggelinyang saat kucumbu lehernya. Dia membiarkanku terus mencumbu nya.

Puas melepaskan nafsuku disana aku mulai mengecup bibirnya, berulang kali hingga buk endang secara naluriah membalas kecupanku. Bibir kami saling berpagut dan melilit. Buk endang cukup lihai dalam melakukan frech kiss itu. Aku memburu kemana bibir buk endang dan buk endang sendiri tak mau kalah dengan balas melumat bibrku.

Tak lama kemudian tanganku mulai merambat kebawah, tepatnya ke wilayah pahanya. Tanganku mulai mengelus paha sekal nya dari lutut sampai ke pangkal. Buk endang yang memakai rok pendek itu makin memudahkan aksiku, buk Endang terasa mengangkangkan kedua pahanya seperti mempersilahkan tanganku untuk menjamahi pahanya.

Dengan gemas sekarang aku arahkan tanganku ke pangkal paha hingga menyentuh kemaluannya yang masih tertutup celana dalam, sesampai disana langsung saja kuusap daerah itu berulang ulang, hingga terasa tubuh buk endang menggelinyang liar. kulihat kedua pasang kaki buk endang bergerak liar hingga mengacak acak alas kasur ranjang itu

“Hmmpphhh.. oooohhhh… Oooooouuhhh..” desah buk endang terasa makin liar memagut bibirku. Lidah nya makin liar menjelajahi langit langit mulutku dan terus membelit lidahku seiring kobelan jari tanganku meraba dan mengelus kemaluannya, aku makin bernafsu saja melihat tingkah dosen ku yang tambah hot dan membuat libido ku tambah naik.

Puas mengobel kemaluannya, perlahan ku selipkan jari tengah ku di sela karet celana dalamnya hingga terasa ujung jariku menemukan sebuah belahan daging yang terasa hangat dan basah, ya.. ujung jari tengahku sekarang sudah berada tepat di depan pintu sorganya. Tak sabar kutekan jariku itu disana dan ..

“Aaaaaaahhh… hhhhh… Ouucchhh… Ngghhhhh…” jerit buk endang sambil memejamkan mata dan menggigit bibirnya.

“gimana rasanya sayaaangg..??!!” bisiku gemas ke telinganya

“enn ennaakhhh bryaannhhhh.. ouuhhh.. hhhh..” desahnya terbata bata mengatur nafasnya yang naikm turun.

Tangannya terasa menggengam tanganku yang berada di pintu lobang surgawainya itu dan membantu mendorong tanganku hingga jari tengahku yang berada di dalam jepitan lobang serambi lempitnya itu menjadi terdorong… hingga seluruh jari tengahku amblas dalam jepitan lobang senggama buk endang.

Kuarasa jari tengahku menyentuh semacam biji yang ada dalam liang kenikmatan buk endang, karena gemas kukobel daging kecil itu berulang kali hingga terdengar buk endang kembali menjerit histeris

“Ouuuuuuhhhhhh Bryaaaannn hhhhh… Enak sayaaannghhh..” jerit buk endang saat kumainkan jariku di biji klentit nya itu.

“Bryyy.. saya nggak tahann.. ohhh… “desahnya manja.

Aku memandang wajah buk endang, dosen ku yang merah penuh nafsu birahi itu, wajah ayu nya tampak pasrah dan rela menyerahkan bulat bulat jiwa dan raga nya padaku pada saat itu. Wajah nya yang merah dan nafas nya yang tersegal segal benar benar tak mampu menyembunyikan apa yang dalam fikirannya.

Ya benar… buk endang tampak benar benar konak padaku dan dengan apa yang kulakukan padanya saat ini. Terasa tangan Buk Endang membimbing jariku keluar dari lobang kawinnya, aku membiarkan saja.

Setelah jari ku keluar dari lobang kawinnya kudekatkan jariku ke mulut buk endang dan kutaruh jari ku di mulutnya, aku memberi isyarat agar buk endang membuka mulutnya, reaksi pertama yang kudapat buk endang menggeleng, namun aku terus memintanya agar membuka mulutnya.

“Jilati bu endang sayaaang.. gak apa apa kok.. aku kan juga sering menjilati punyamu..” ujarku

Buk endang tampak memejamkan mata, terus kusuap kemulut nya, dan akhirnya terasa buk endang menyeruput jari ku yang penuh berlumuran cairan cintanya yang kental.

“gimana rasanya sayang?” ujarku. Buk endang tak menjawab namun itu hanya sebentar buk endang menyedot jariku, selang 5 menit mengeluarkan jariku dalam mulutnya. Lalu kemudian buk endang duduk dan melepaskan baju nya, aku hanya melihat saat buk endang melepas satu persatu kancing bajunya dan membuangnya sembarangan.

Selanjutnya buk endang mendekatiku dan mulai memberi isyarat agar aku mengangkat kedua tanganku, aku mengerti dan saat kedua tanganku angkat tak terasa buk endang sudah menarik baju kaos ku keatas dan melemparkannya sembarangan. Setelah itu aku mulai mengerti maksud buk endang. Sekarang gantian aku merebahkan tubuhku di ranjang.

Tampak buk endang melakukan dengan tergesa gesa, sekarang buk endang menarik paksa celana jeansku kebawah, kubantu aksinya dengan mengangkat pinggulku ketasa hingga buk endang dengan mudah menarik jeans ku, namun belum menarik sampai lepas, dia hanya menarik sebatas paha.

Setelah itu sikap buk endang pun mulai liar, dia mencium pahaku sampai ke pangkal paha, mencium rudalku yang masih berada di dalam celana dalam dengan gerakan yang cepat, bagai ayam yang sedang mematuk. Buk endang hanya melakukan itu sebentar untuk kemudian menarik celana dalamku.

Begitu melihat rudalku yang sudah mengancung tegak, buk endang langsung memburunya, mencium dan ohhh… rudal ku langsung di oral oleh buk endang dengan gerakan yang cepat, sapuan lidah dan air ludah buk endang menimbukan perasaan geli an nikmat… tubuh ku serasa terbang keatas menikmati kuluman buk endang yang dengan

pandai mengatur tempo kulumannya. Kadang cepat kadang pelan.

Lidah buk endang berada di pangkal kemaluanku. Terlihat dia kesulitan kemudian menarik celana dalam ku kebawah sedikit lagi, setelah itu buk endang langsung memburu daging lunak yang berada dipangkal rudalku yaitu kantung testisku yang berisi dua biji itu

“ooooouuuuuuughhh…” Desahku merem melek, kurasa lidah buk endang memainkan kantong kemih ku, biji ku dihisap dan dijilat dengan lidahnya. Kedua tanganku sampai mencengkram kepala buk endang saking menahan nikmat nya. Kutekan kepalanya kedalam seakan tidak boleh beranjak dari sana. Kemudian kulanjutkan dengan meremas remas rambutnya.

Buk endang makin liar dan ganas mengemut punyaku, tangannya menahan kedua pahaku agar tetap dalam posisi terkangkang.

“oouu.. bu.. endangg.. stoop sayaaang… aku mau keluar nih..” pintaku terbata bata

“keluarkan saja bryann.. keluarkan dimulutkuuu..” ujarnya menghentikan kulumannya sebentar kemudian mulai kembali mengulum rudalku

“ja.. jangaan ibuk sayang kuu.. aku nggak mau nembak di mulutmu aku mau nembak mulut yang dibawah sajaaa…” desahku menahan rasa geli

Mendengar ucapakan ku yang terakhir buk endang langsung menghentikan aktifitas mulutnya di rudalku. Tampak dia tersenyum menatapku dan mengangguk mesra padaku

“gitu dong.. sayaaang… lebih enak nembak di dalam itu kan” ujarku sambil menunujuk ke arah selangkangnya.

Aku membenahi pakaianku, buk endang membantuku melepaskan pakaian ku yang tersisa, yaitu celana jeans dan celana dalam yang sudah dilorotkannya sampai selutut itu sekarang lepas sudah semuanya.

Kali ini kembali buk endang membuat posisi merebahkan tubuh bahenolnya itu diatas ranjang. Dan aku setengah berdiri dengan menggunakan kedua lututku sebagai tumpuan diatas ranjang yang empuk itu.

Wajah buk endang tampak sudah terbakar nafsu, kemudian tangannya sendiri mulai menyapu perut, pusarku hingga berujung menyentuh dan menggenggam batang kejantanku lalu mengocok ngocoknya sebentar.

“wanita seperti ibu harus dipuaskan..” ujarku lirih padanya

“biarkan saya mencintai ibu..” tambahku menatap wajahnya yang sudah sangat kepengen untuk disetubuhi itu.

“walau ini kesalahan aku tidak dapat mencegah nya bryan.. saya tahu ini adalah sebuah kesalahan..” ujar bu endang lirih.

“tampar aku bu..” ujarku

Buk endang tampak heran mendegar ucapanku

“maksud kamu.?” ujarnya masih dengan wajah heran

“saya bilang.. tampar saya..” ulangku sambil meyakinkannya

“kamu ada ada saja..” ujarku Buk Endang tertawa kecil, namun tetap ditamparnya pipiku, dengan pelan.

Merasakan itu aku menjadi makin bergairah, aku langsung menyerang dan menindihnya.

Buk Endang pun terlihat makin bergairah dia kembali mencoba menamparku namun dengan cepat kutangkap dan kupegang kedua tangannya dengan kedua tanganku dan menahannya di dasar kasur hingga posisi kedua tangannya menjadi terkunci.

Aku mulai mencumbu nya dengan buas, kuciumi lehernya karena buk endang pun terlihat mengadahkan leher nya keatas pertanda dia memberikan lehernya untuk di cumbu. Terdengar desahan desahan liar nan erotis dari buk endang yang makin memacu birahiku.

Cumbuanku beralih cepat dari leher ke dadanya disana kubenamkan wajahku diantara belahan payudaranya yang sudah membetot tegang, kuciumi kedua buah dadanya secara bergantian tanpa membuka bh nya, kemudia beranjak ke perut lalu pusar nya dan puncaknya kubenamkan wajahku di selangkangannya dan dengan buas aku ciumi serambi lempitnya yang masih tertutup celana dalam itu

“owwwwhh brryaannn owww..” jeritnya nakal

Tubuh buk endang menggelinyang hebat, kedua pahanya mengapit kepalaku dan terus menyerang selangkangannya itu dengan kecupan. Terasa aroma khas dari kewanitaannya itu.

Tanganku yang sudah melepaskan kuncian dari tangan buk endang mulai mengangkangkan dan membuka belahan paha buk endang, kedua kaki buk endang berdiri dan tampak buk endang mengangkat pinggulnya.

Aku hentikan aktifitasku sejenak dan aku melempar senyum padanya. Lalu tanganku kembali mengelus perut nya dari bagian bawah payudara terus turun sampai ke pusar, aku membelai nya beberapa kali dan akhirnya kedua tanganku berada di masing masing pingulnya kanan dan kiri,

Dengan perlahan aku lorotkan celana dalam nya yang berwarna hitam berenda itu, buk endang tidak mempersulit pekerjaan ku, diangkatnya pinggulnya hingga memudahkan ku melorotkan celana dalam itu diantara kedua paha nya.

Sekarang buk endang tampak sempurna telanjang di hadapanku. Aku tidak mau berlama lama, cepat kuarahkan rudalku menuju pintu senggama buk endang yang sekarang mengangkangkan kedua pahanya lebar- lebar hingga lobang kawinnya tampak menganga indah, lobang itu tampak sudah basah, ditandai dengan cairan yang berada memenuhi mulut serambi lempitnya.

Tanpa berfikir lama aku sodokan rudalku hingga membelah dinding serambi lempit buk endang, diiringi dengan lenguhan lirih yang terdengar dari mulut dosen ku itu.

Kedua tangan buk endang terasa memegang kedua bongkahan pantatku dan mendorong pinggul ku untuk menyeruak ke bagian yang kebih dalam.

Aku memicingkan mata sebentar menikmati nikmatnya jepitan dinding serambi lempit buk endang yang dengan natural meremas batang kejantanku. Selanjutnya kupompa rudal ku maju mundur ke luar masuk lobang kawin buk endang dengan penetrasi cepat

“ooh.. oohh… ohh.. owwhh.. nghhh…” desah buk endang seiring genjotan rudalku yang keluar masuk vegy nya. Tangannya menekan pinggulku terus kebawah.

“Oohh.. bryaaann.. hh.. owhh… owwhh… mmpphhh..!!!” desahnya tak karuan

Aku terus menggenjotnya dari atas, buk endang tampak tak mau menatap ku yang terus memandangi nya dari atas tubuhnya.

“anda memang stw yang menggairahkan buk endaaangg..” bisiku padanya

“owwwhh… owwhh… owwhhh…” hanya itu jawaban yang kudengar

Melihatnya makin terangsang aku pun makin gemas melihatnya, bh yang masih menutupi buah dadanya langsung kutarik keatas dengan kasar, hingga buah dadanya yang lumayan gede itu membetot keluar, aku makin terangsang melihat sepasang payudara itu bergoyang goyang indah turun naik seirama genjotanku.

“buk endangg… balik ke belakang ya,,” ujarku

“mak.. maksudd kamuu.. hhh..?” ujar buk endang terengah engah

“balikan tubuh anda membelakangiku” ujarku. maksudku ingin menggagahi buk endang dengan cara doggie style.

“ii.. yaaahh…” ujar buk endang memperlambat goyangannya. Dengan posisi rudalku yang masih berada dalam lobang kawinnya Buk endang lalu membalikan tubuh bahenolnya hingga sekarang berposisi memunggungiku.

“naikan pinggul anda..” perintahku, sambil membantu mengangkat pinggulnya hingga buk endang sekarang berposisi menungging.

Buk endang tampak patuh dengan instruksi ku. Dengan rudal masih menancap disana kembali kugerakan maju mundur dalam lobang titit buk endang. Ngocoks.com

Posisi kepala buk endang berada dibawah bertumpu pada kasur. aku menarik pinggang nya dan kubantu kedua tangan buk endang membuat posisi menungging sempurna dengan menjadikan kedua lengan dan bahunya sebagai tumpuan

“oohh… bryaann… kamu apakan saya..” hanya itu suara yang keluar dari mulut buk Endang

“tenang saja buk…” ujarku. Setelah kedua tangannya tegak dan kedua tangannya bertumpu di dasar kasur perlahan kutarik pinggang nya dan kutahan tanganku disana. rudalku kembali menghentak lobang kawin nya dari belakang. Terus kuserang maju mundur lobang titit buk endang

“oohh.. buuukk… mpphhh… rrrrrrhhhh..!!!” ujarku dengan sekuat tenaga menggenjot lobang kawin buk endang dari arah belakang.

“ooh.. oohh.. iihhhhh… awwwhhh..” desah buk endang megap megap

Posisi ini makin merangsangku melihat bongkahan pantatnya yang besar itu bergoyang goyang seirama dengan genjotanku. Dan tak tahan lagi, kedua tanganku yang semula menahan pingggang buk endang sekarang meremas kedua buah dada nya.

“awww… bryaaaannnnn.. hhhh..!!!!” jerit buk endang saat payudara nya kuremas kuat. Kedua tanganku seolah kurang cukup memegang buah dadanya yang lumayan gede itu

Sekarang posisi kami sudah mirip dengan gaya anjing kawin. Gigiku gemeltuk menahan kenikmatan ini, semaki kupercepatan genjotanku.. Di lain pihak buk endang tidak mau kalah denganku, dia menggoyangkan pantatnya dengan gerakan memutar, berlawanan dengan sodokan ku yang maju mundur, membuat ejakulasi ku terasa makin cepat datangnya.

Buk endang malah menaikan tubuhnya hingga pinggulnya mendarat di kedua pahaku dan tangannya yang semula menahan tubuhnya di dasar kasur kini dilepaskan nya dan membuat posisi seperti duduk namun membelakangiku. Aku pun kembali menahan pinggang nya agar tubuh nya tidak jatuh ke kasur

“uuhh… enak bryaann.. ohhh.. kamu hebat sayaaanghh… owwww.. hhh.. genjot terussssss!!!” jeritnya tak karuan

Jepitan dinding serambi lempitnya makin mencengkram batang kejantanku. Aku memicingkan mata merasakan seluruh persendianku bergelonjotan, hingga bermuara pada rudalku.

“uuhh… buk endaaangg… goyang terussssss..!!!! anda luar biasaaaaaa…!!!” jeritku

“aku.. akuhhhh.. mau dapet bryannnn.. owhhhhh.,!!” jerit buk endang

Bersambung… Mendengar buk endang mau orgasme aku makin mempercepat genjotanku, lobang serambi lempitnya sudah terasa lapang karena cairan yang keluar dari dinding rahimnya

“Uuuggghhhhhh…!!!!!!” Jeritku melepaskan semua ereksi yang tertahan selama 15 menit tadi, spremaku menyemprot Rahim buk endang berkali kali

“owwhh.. owwwhh.. awwwhhhhhhhh…!!!!!” Kudengar buk endang terpekik, mungkin dia juga sudah muncak bathinku

“aku… keluarrrr bryaann.. hh… ohh.. sayaaaaanggg.. hhhh!!!” jerit buk endang terengah engah mengatur nafasnya, dugaanku benar, buk endang juga sudah orgasme, kami serentak berejakulasi.

Setelah beberapa saat, tubuh buk endang mulai lunglai. Posisi pantatnya masih menungging namun kepalanya sudah mendarat di kasur. Aku masih belum mau mencabut rudal dari dalam lobang titit buk endang.. Aku hanya masih ingin menikmati indah nya sensasi bersetubuh dengan dosen ku ini.

“cabut bryan.. pinggul saya sakit nahan nya …” terdengar suara buk endang memintaku mencabut rudalku

“i.. iya buu.. hh..” ujar ku

“uughhh..!!” sahut aku dan buk endang bersamaan saat rudal ku cabut dari lobang kawinnya

Aku langsung berbaring disebelah buk endang dan buk endang memutar badannya kearahku dan memeluk ku lalu menyandarkan kepalanya didadaku.

Kami terdiam sambil mengatur nafas. Aku membelai rambut dan ubun ubun dosen ku itu. Buah dadanya yang kenyal dan hangat menempel di dadaku.

“anda benar-benar hebat di ranjang buk endang..” puji ku padanya

“bener..? tapi aku kan sudah tua dan alot… masak lebih hebat dari perempuan perempuan yang kamu tiduri..?” ujarnya seperti menyindirku

“beneran buk… anda benar-benar membuat saya menikmatinya..” balasku dengan tetap tenang

“nikmatan mana bercinta sama saya atau si tuti khairani..? “balasnya sambil mendongakan kepala berhadapan hadapan denganku, menatapku lekat lekat.

“o’o pertanyaan yang sulit dan penuh dengan perasaan cemburu..” bathinku

“ya jelas nikmat bercinta dengan buk endang lah… tuti itu hanya pelampiasan nafsuku saja.. kalau buk endang lagi gak bisa diajak beginian” ujarku menggoda nya

“beneran nih…” ujar buk endang menatapku dengan raut wajah terbinar. Wajah tuanya langsung beseri mendengar ucapaku

“beneranlah… Jauh lah si tuti di bandingkan buk endangku, wanita berpengalaman dan luar biasa di ranjang” ujarku terkekeh sambil menciumi jidatnya.

“pokok nya buk endang tetap nomor satu” tambahku meyakinkannya

“hihihi.. kamu bisa aja..” ujar buk endang terkekeh sambil membelai wajahku

“kamu itu cah bagus ku bryan… ganteng.. bisa membuat ibu klepek klepek ama kamu..” ujarnya lagi

“aku kan mesin sex nya ibu…” ujarku. Kurasa buk endang mendekapku dengan erat. Kami pun hanyut dengan perasaan masing masing.

“cuci dong tititnya buk.. nggak takut hamil nanti” godaku

“kalau aku hamil ya mau gimana lagi.. ya kamu kudu tanggung jawab” ujar nya balas menggodaku

“iya sih.. tapi tumbal pertama tentulah pak dibyo.. hehehheh” ujarku terkekeh, dibalas buk endang dengan mencubit rudalku.

“awww.. bikin kaget aja” isak ku meringis. Buk endang sekarang yang malah terkekeh melihat ekspresi ku.

“yo weess.. mari kita ke toilet bersih bersih..” ujarnya bangkit dengan malas malasan dari atas tubuhku

“tunggu” ujarku menahannya. Lalu aku juga duduk bangkit dari tempat tidur.

Buk endang bingung saat aku memeluknya

“lepaskan dulu ini nya” ujarku sambil melepaskan pengait bhnya berikut membuang bh hitam berenda itu ke lantai

“oooo..” ujar buk endang tertawa. Kami benar-benar menikmati suasana saat ini.

1 JAM KEMUDIAN DI TEMPAT YANG SAMA

Aku masih di tempat tidur, saat buk endang masih berada di kamar mandi. Pakaian kami masih berserakan dimana mana. Aku malas merapikannya dan bersandar di Rajang.

Aku melamun sejenak menikmati nikmatnya bercinta dengan dosen ku ini. Rasanya jauh lebih puas daripada bercinta dengan buk tuti, gendak ku. bedanya dengan buk tuti aku yang mengajari nya melakukan penetrasi seksual, dengan buk endang aku malah yang dilayani oleh beliau. Pengalaman beliau dalam hal memuaskan pasangan di ranjang amat hebat… BINAL..

Cara buk endang memperlakukanku, dan melayani nafsuku itulah membuat ku ketagihan untuk terus bercinta dengannya. Masih terbayang ekspresi wajahnya saat kusetubuhi tadi. juga desahan, rintihan dan lenguhan suara nya saat kugenjot dan ku beri rangsangan… amat menggairahkan..!!!

Buk endang juga pandai merawat tubuhnya. Walau usia beliau kutaksir sudah lewat 35 tahunan, namun tubuhnya itu lho… masih sangat montok dan bahenol!! bagian Pinggulnya yang besar dan pantat nya yang montok juga kencang. apalagi saat kusetubuhi dari belakang.. Wuiihhh… terasa goyangan pantat buk endang seperti mengebor hingga rudalku yang terjepit seperti di aduk dalam serambi lempitnya.

Membayangkan itu membuat birahiku kembali timbul. Aku bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Kuketok pintu dan memanggilnya…

“buk endang.. buka dong pintunya” ujarku sambil mengetok pintu kamar mandi beberapa kali

Tak lama kemudian pintu terbuka, dan buk endang mengolkan kepalanya

“ada apa bryan..? saya langsung mandi..” ujar buk endang membukakan pintu tak lama kemudian

Tampak sekilas tubuh buk endang berlumuran dengan sabun, kecuali wajahnya. Sementara rambut nya ditutupi nya dengan plastik keramas.

“mandi bareng yuk..” ujar ku disambut dengan senyuman mesra buk endang.

“mari masuk..” ujar Buk endang sumringah dan langsung membuka pintu kamar mandi dan tampak tubuh bahenolnya telanjang bulat berlumuran dengan busa sabun mandi

Aku pun masuk kedalam kamar mandi, langsung menuju shower dan mengguyuri badanku dengan air panas dari ujung kepala. Setelah beberapa saat aku mengambil sabun cair dan sepintas kulihat buk endang dengan erotis sedang menggosokan sabun mandi ke sekujur tubuhnya.

Apalagi saat dia meggosok payudara nya.. uuhhhh… tambah erotis saja, berikut tangannya tampak mengelus elus kemaluannya dengan sabun. Buk endang tampak serius sehingga tak sadar sedang kuperhatikan dia.

Dadaku kembali deg deg an melihat buk endang yang sedang menyabuni tubuhnya itu.

“Buk.. sabuni aku dong..” pintaku.

Buk endang memandangku,

“sebentar ya bryan..” ujarnya selesai menyabuni kedua kakinya.

Buk endang mendekatiku setelah sebelumnya mengambil sabun cair.

“kamu ini.. manjaaaa banget…” Lalu sekejap kedua tangannya melumuri tubuhku dengan sabun, mulai menggosok tubuhku dari dada lalu turun kebawah. Buk endang terus melumuri dan menggosok gosok kan sabun di seluruh tubuhku, Saat berada di bawah pusar tiba-tiba kurasa buk endang menjawil rudalku

“hiihhhh..” jerit ku kaget menahan geli, kulihat buk endang terkekeh dan kemudian kelakuannya makin nakal, tangannya mulai menggengam batang rudalku dan mulai mengocok ngok nya.

“auuuuhh.. gelliiii buuukk,,” rintihku meringis menahan geli bercampur nikmat itu.

Buk endang hanya tersenyum sekilas dan selayang memandangku penuh kemenangan. Aku makin meringis menahan rasa geli ini. Dengan lihai tangannya mengurut urut batang kejantanku, sensasi nya makin terasa karena pengaruh busa sabun yang licin, ditambah dengan blowjob buk endang yang terkadang meremas dan memainkan buah zakarku.

“gelii oooh…” desahku. Aku merasa tidak tahan dengan ini, akhirnya kuputuskan untuk menghentikan aktifitas buk endang yang mengurut rudalku. Lalu aku giring dia ke arah cermin besar yang berada di tengah kamar mandi itu. sesampai disana ku perintah kan buk endang untuk membalikan tubuh mya membelakangiku, hingga mengahadap cermin.

Di cermin itu tampak tubuh bahenol nan montok itu berlumuran sabun, aku memeluknya dari belakang. Tanganku tak bisa diam, kedua tanganku gantian mengurut dan meremas kedua payudara milik buk endang…” ooohh..” sungguh luar biasa sensasi yang kurasa…

“Auuhh… bryaann… hhhh.. oouuhh…” desah buk endang menggeliat saat kedua susu montok nya kuremas dari belakang. Terkadang tanganku bermain di pentil susunya, membuat buk endang mendesah desah kenikmatan..

“oouuuhh bryann… hhh… remassss sayyaangghh ouuhhhh…” desahnya.

Kurasa tangannya bergerak menuju rudalku. Dan terasa buk endang telah menggenggam rudalku lagi dan kembali mengocok ngocok rudal ku, tidak susah baginya untuk meraih rudalku walau posisi nya membelakangiku

“uuuhhhh…” desahku tertahan menikmati pijitan tangan buk endang yang maju mundur memainkan rudalku yang sudah 100% tegak itu.

Lama kelamaan aku menjadi tidak tahan dirangsang seperti itu, aku hentikan segera remasan kedua tanganku di payudaranya, sekarang tanganku menuju pantat bahenolnya, dengan gemas kuremas remas sepasang pantat yang sekal itu berulang kali, setelah puas aku arahkan posisi tubuh endang agak membungkuk dan mengarahkan kedua tanganya bertumpu pada wastafel kamar mandi, rudalku secara otomatis terlepas dari tangan buk endang, dan seperti nya buk endang mengerti apa yang kunginkan

“mau di eksekusi lagi saya bry..?” ujarnya pasrah sambil menatapku dari cermin. Tampak buk endang sudah sangat pasrah

Aku hanya mengangguk sambil menatapnya di cermin.

“kamu tu gak puas puas ya… nakal..” ujarnya lagi

“saya gak pernah puas sama anda buk endang… bawaannya kepengeeen terus..” sahutku disambut tertawa kecil buk endang

Secara naluriah buk endang membuka kangkangan kedua kakinya dan membungkuk hingga posisi nya menjadi menungging. Kedua tangannya menjadi tumpuan.

Aku sendiri tak sabaran untuk segera mengeksekusi nya. Aku arahkan rudalku yang tegak lurus menjulang itu menuju lobang kawinya dari belakang, sebelumnya ku sibakan bongkahan pantat buk endang agar memudahkan perjalanan rudalku memasuki black hole nya buk endang dari belakang

“Blessss…” rudalku masuk dengan mudah kedalam lobang kawin buk endang

“oooooowwwwhhh…!!!!” buk endang menjerit tertahan saat rudalku sudah berada dalam lobang buaya nya

Aku biarkan rudalku yang sudah amblas sampai ke batang itu dalam serambi lempit buk endang. Kedua tanganku menahan pinggulnya. Licinya sabun yang mengolesi tubuh kami seperti nya memberi sensasi tersendiri, sekujur tubuh buk endang yang berlumuran sabun itu tampak amat menggairahkan bagiku.

Setelah beberapa saat aku mulai menggerakan tubuhku dan memaju mundurkan rudal ku menggagahi lobang kawin buk endang, sabun yang melumuri seluruh rudal ku, begitu pula yang ada di wilayah kemaluan buk endang makin memudahkan rudalku yang dengan lancar keluar masuk serambi lempit buk endag

“ennnaakk bryaann… hhh oohhh… terussss bryaann.. ohhhhh..!!!” rintih buk endang, dari cermin kulihat kepalanya ditegakan dan mulutnya tak henti henti mengeluarkan kata kata penuh kenikmatan.

Aku makin bersemangat saja menggagahi buk endang. Kupercepat genjotanku, bagaikan mesin jahit menggempur lobang kawin buk endang, buk endang sendiri membalas nya dengan memutarkan pantat nya ke kiri dan kanan, sehingga rudalku serasa diaduk di dalam lobang kawinya itu.

Lama kelamaan kurasa buk endang mempercepat goyangannya, kurasa tubuhnya menegang dan rudalku dikepitnya erat erat hingga mataku merem melek dibuatnya. Ngocoks.com

“uuuuuuuhhh… sayaaa kel.. luuuaarrrr… hhhh…” jerit nya tertahan, rudalku makin dijepit serambi lempit buk endang, kurasa ada sedikit cairan hangat menyemprot kepala rudalku dalam serambi lempit buk endang..

Perlahan kurasa goyangan pantat buk endang melemah dan akhirnya berhenti. Tubuhnya lunglai kebawah.. kulihat dari cermin wajahnya menunjukan ekspresi puas tak terkira, matanya terpejam dan mulutnya menganga. Melihat itu aku pun menghentikan genjotanku. Aku biarkan buk endang mengatur nafasnya yang tampak tersegal segal setelah mencapai orgasme nya.

“enakk.. bryaann.. hhh.. ohh… kammuu.. belum keluar yaaa..” ujarnya terengah engah

“belum bu… “ “bantu dong keluarin..” ujar ku sekenanya

“oke.. hh.. okee.. cabut dulu punya mu say..” ujarnya menggerak kan tubuh dan mencoba mencabut rudal ku dari dalam lobang nonok nya dengan tangannya.

Awalnya aku keberatan karena belum muncak, tapi aku biarkan saja dan ku tarik rudal ku dari dalam lobang senggama buk endang

Setelah rudal kucabut, buk endang membalikan tubuh dan kami sekarang berhadap hadapan.

Dia memandangku dengan tatapan yang sayu, lalu kurasa tangannya meraih batang rudalku lalu menggenggamnya

“guedhe nya manuk mu ini bry…” ujar buk endang mulai memainkan tangannya membelai batang rudal ku.

“bukan manuk… ini nama nya rudal..” ujarku terkekeh

“iss.. ngomong jorok kamu… mau di keluarin gak nih..” ujar buk endang dengan wajah nakal

“mau lahhh…” ujarku

“tapii kamu kudu nurut dengan ibu yahh..” ujarnya memotong

“nurut aja.. biar ibu buat kamu nembak…” ujarnya lagi

Tanpa menunggu persetujuanku buk endang mendorong ku hingga sampai di dekat closet duduk

“duduk” perintahnya. Aku pun duduk diatas closet

Lalu kulihat buk endang berjongkok dihadapan posisiku yang duduk diatas closet itu

Aku mengerti maksudnya. Tampak buk endang mencuci rudalku dengan air.. setelah itu buk endang mengerling padaku dan aku pun mengangkangkan kedua kaki ku dan mendongakan kepala keatas..

Karena selanjutnya seperti yang kubayangkan, rudalku dimasukan buk endang ke mulutnya, ya… buk endang mulai mengoral rudalku

“uuhhh buukkk.. mppphhh..!!!” desahku menahan rasa nikmat saat lidah buk endang menyapu kepala rudalku, buk endang betul betul mengulum rudalku dengan buas seperti mengemut es batang. Lidahnya menari menjilati kepala kombet ku, kemudian kombinasi kebatang sampai ke pangkal dan terus melakukannya berulang ulang..

Buk endang memang lihai melakukan oral sex.. tangannya juga tiada berhenti mengurut batang kemaluanku dan terkadang meremas kantuh kemihku.

Aku mulai gelagapan dengan rangsangan yang diberikan buk endang, tanganku meremas kepalanya dan meremas-remas rambut tipisnya

“ssshhhh… hhh… hhhhh ohhh…” Desis ku

Lama kelamaan rangsangan itu membuat sekujur tubuhku menggigil dan hampir mencapai klimaksku.

Sementara itu buk endang tidak berhenti dan makin buas mengulum rudalku.

“ssssh.. akuu.. mauuu… hhhhh..!!!!!!!” jerit ku tertahan, kujambak rambut buk endang dengan kuat. Saat kurasa ada yang mau keluar dari seluruh persendian tubuh dan berujung di kepala kombet ku, kutarik cepat rudalku dari dalam mulut buk endang.

Belum lepas rasa kaget buk endang saat aku menarik rudalku dengan paksa, begitu rudalku sudah keluar dari mulut buk endang bersamaan itu aku mencapai orgasme ku. Sprema ku menembak tepat mengenai wajah buk endang

“aaaaaaaahhhh…!!!!!!!” jeritku panjang, ku muntahkan semua air maniku di wajah buk endang.

Kudengar buk endang juga menjerit, saat kubuka mata kulihat buk endang kaget dengan ekspresi begong, kulihat juga sprema ku yang muncrat tadi berceceran di wajah buk endang, hampir seluruh wajahnya itu tertutup dengan peju ku

“bryaaaaannn…!!!!” jerit nya histeris, matanya melotot memandangiku, dengan wajah tak percaya

“kamu.. kamu nembak di wajah saayyyyaa..” teriaknya lagi

“ma.. maaf buk.. saya.. saya… ingin merasa nembak di wajah ibuk..” ujarku terpaksa jujur. Karena aku belum pernah selesai bercinta dengan siapapun nembak di wajah teman tidurku

Buk endang segera berdiri dan bergegas kearah wastafel. Cepat cepat dia membersihkan wajahnya yang berlumuran pejuku dengan air kran

Aku membiarkan saja, sementara aku menikmati indahnya ejakulasiku

Tampak buk endang kesal akan tindakanku padanya itu

Bersambung… Setelah membersihkan wajahku buk endang mengampiriku yang masih terduduk lemas diatas kloset itu dengan wajah merah padam

“bryan! dari siapa kamu belajar ini.??? Saya tidak suka dibeginikan bryan!!” ujarnya tampak kesal padaku

Aku hanya cengengesan, melihat aku cengengesan buk endang mencoba menamparku tapi dengan cepat kupegang tangannya.

“jangan kasar dong say..” ujarku menatapnya

“habis kamu itu kurang ajar.. masak sprema mu kamu tembak kan ke muka saya.. jorok taukkk..!!!” ujarnya lagi

“santai aja buk… sperma ku kan sering juga kamu telan lagi… kalau diwajah kan tinggal dibersihin aja.. jangan terlalu lebay deh…” ujarku menekankan.

Buk endang hanya diam dan menatap tajam dengan nafas terengah engah menahan rasa kesal di fikirannya

“itu baru sensasi baru buuk.. kita belum pernah melakuka sebelumnya kan.?” godaku sambil bangkit berdiri.

“jangan kamu ulangi lagi ya” ujarnya menahan gusar.

“iya.. iya.. sorry…” ujarku, aku mendekati nya dan merangkulnya. Buk endang tampak membiarkan aku memeluknya. Malah tangannya melingkar ke pinggangku.

“sorry ya sayang..” bisiku ke telinganya. Kurasa kepalanya mengangguk tanda dia memaafkanku

Setelah itu kulepas pelukan, lalu tanganku merangkul pinggangnya

“ibuk pasti marah karena aku buang buang sprema ya..” godaku padanya

“maksud kamu..?” ujarnya tak menegrti

“iya.. biasanya aku kan nembak dalam ini..” ujarku sambil membelai vegy nya yang membuatnya meringis kaget

“disini.. dan dalam mulut kamu..” ujarku

“kalau mulut bawah kan jadi anak… kalau mulut atas kan obat awet muda..” ujarku terpingkal

Buk endang akhirnya tergelak juga mendengar guyonanku.

“kamu sihh… dasar nakal..” ujarnya menjawil rudalku

“tapi coba jujur… pasti wajah kamu terasa hangat kan…?? Nah tadi kalau diolesin wajah ibuk jadi tambah mulus dan segar hihihihihi..” ejek ku disambut dengan cubitan buk endang pada pinggangku

Wajah tua nya tersipu malu, mungkin diam diam dalam hati dia mengakui ada benar nya juga perkataanku itu

“tapi walau kamu sudah tua.. jauh tua nya diatas aku, ibu tetap number one bagiku” ujarku mulai merayunya

Wajah tua itu terseyum manja menatap lekat lekat wajahku,

“kamu tu ya.. paliing pandai buat saya kesal tapi paling pandai pula membuat saya tenang kembali..” ujarnya

“dasar wanita paruh baya.. puber ke dua.” Bathinku

Akhirnya kami berdua pun kembali mandi, kami saling bergantian membilas tubuh, kadang diselingi dengan candaan, saling menjawil alat kelamin… dan saat aku kembali meminta berhubungan badan di toilet itu buk endang memohon agar dia istirahat dulu, soalnya persendiannya pegal pegal katanya

Aku pun menurutinya karena factor usia mempengaruhi fisiknya walaupun libido nya masih tinggi, setelah mandi kami berdua pun keluar kamar mandi dan tidur di ranjang dengan mengenakan piyama dari hotel

Kulihat buk endang langsung tertidur di sampingku, tampak raut lelah di wajah tuanya yang masih memancarkan sex appeal itu. Wajahnya yang mulai keriput, rambut keritingnya yang mulai menipis makin menegaskan keanggunannya sebagai wanita patuh baya yang berwibawa. Aku benar benar puas setiap kali habis bercinta dengan wanita satu ini.

Tapi gairah sex nya yang membara itu membuatku betah bercinta dengan beliau, walau wanita ini sudah berumur, paruh baya pula.

Sebagai wanita jawa, buk endang cukup pandai merawat tubuhnya. Apalagi merawat serambi lempitnya, yang masih terasa menjepit dan empot empot. Walau tubuhnya sudah memelar tapi masih dalam batas kewajaran. Pantatnya yang bahenol pertanda dia rajin mengatur makan dan minum jamu jamuan.

Oo buk endang… buk endang… beruntung nya aku jadi selingkuhanmu.

Aku menatap lekat lekat wajah tua itu dan rasa kantuk akibat selesai bermain cinta mulai menghinggapi hingga aku pun tertidur di samping si bahenol, endang sulistyaningsih…

2 JAM SETELAH BERSENGGAMA RIA

Aku terbangun 2 jam kemudian dan di sampingku sudah tidak ada tubuh molek Buk Endang. badanku terasa sangat pegal sekali, terutama pada bagian pinggang, ketika aku hendak bangun tampak buk Endang sudah kembali berpakaian. Lengkap dengan baju blus dan rok pendek. seragam kerja nya

“Sudah bangun kamu Bry..? “sapa Buk Endang dengan tersenyum

“iya nih… ketiduran saya tadi “balasku sambil mengucek ucek mataku.

“mau kemana buk..? “ “ya beres beres lah… udah mau sore… pulang kerumah lahh..” ujar Buk Endang, tampak Buk Endang sedang menghadap cermin, lagi memasangkan bedak sepertinya

“Udah cukup nih… aku kepengen lagi nihhh..” godaku. Buk Endang tampak kaget dan menoleh kebelakang

“ihh.. kamu masih kepengen lagi..? nggak usah ngeseks lagi ya.. capek deh saya “sungut Buk Endang sembari duduk di depanku

“Kalah ya?” candaku sambil mengucek ucek kepalanya

“Iya.. kalah deh… “rajuk Buk Endang memelukku erat

“kamu itu… kuat banget Bryan… saya hampir pingsan melayani kamu” ujar Buk Endang tertawa kecil.

“pingsan karena kenikmatan kaleee..” godaku

“terus kemana kita.. kan ini baru jam 4 sore” tanyaku sambil menyingkirkan selimut, rudalku yang ngaceng membuat Buk Endang terkejut dan terbelalak

“Ih.. manuk mu itu lho.. masih saja perkasa ..” kata Buk Endang sambil membelalakan matanya ke rudalku.

“Ya perkasa dong.. kalau ibuk kuat, ini masih minta jatah lho” godaku sambil mengerlingkan mata ke arah rudalku

“Jangan ah.. saya masih capek… “elak Buk Endang dengan memalingkan mukanya dan tersenyum sangat nakal sekali.

Aku tersenyum senang, walau tidak bisa ngeseks setidaknya aku bisa menggerayangi bagian sensitifnya. Apalagi Buk Endang menggunakan rok pendek selutut model lebar. Saat itu rok nya pun tersingkap hingga Paha mulus dan montok nya jelas terlihat

Aku langsung dipeluknya, kami saling memagut penuh kemesraan.

“Sayaaang… mari kita pulang…” ujar Buk endang dengan wajah bersemu merah

“Yaa ..” ucapku sambil meremas pantat Buk Endang dengan gemas. Mencoba menggodanya untuk setidaknya bercinta sebentar.

“Please… udah an untuk hari ini ya… badan saya masih pegal pegal Bry…” bisik Buk Endang di telingaku

Aku hanya mengangguk.

Buk Endang tersenyum manis. Lalu beranjak menuju meja dekat TV.

Ketika Buk Endang kebetulan berposisi membungkuk aku langsung bangkit dari tempat tidur dan memeluknya dari belakang.

“Awwhhh… kamu Bry.. bikin kaget aja.. lepasin dulu… saya mau sisiran..” ujar nya melotot

Karena gemas aku lalu mencolek buah dada nya, lebih lebih saat beliau mengambil minuman di minibar, pantatnya yang juga terangkat. Apalagi rok yang dipakainya rok kerja model lebar dan panjangnya selutut hingga menampakan paha putih mulus nya dari belakang. sehingga aku langsung meremas pantatnya juga.

“Haaah.. nakal “semprot Buk Endnag dengan mendelik.

Aku langsung memeluk Buk Endang dengan memagut dan melumat nya dengan rakus,

“Ihhh.. anak satu ini… nafsuuuu terus bawaannya..” ujar Buk Endang, namun beliau tetap melayaniku. Buk Endang membalas lumatanku dengan tak kalah rakus, kami saling menyedot, tanganku semakin nakal melepaskan satu pesatu kancing bajunya masuk ke dalam bajunya dan meremas buah dadanya.

‘ Ohhhh… Udah lah… Bryann.. hhh… Kamuu.. hh.. buat saya terangsang lagii.. oohh..” desahnya

Kami sambil megap megap setelah puas saling melumat, Buk Endang membatuku melepaskan kacing bajunya namun aku hanya sebatas itu, aku biarkan baju nya masih terpakai

Masih dengan memeluknya dari belakang, tanganku melingkar ke depan dan meremas buah dadanya dari luar, membuat Buk Endang menahan tanganku dengan mengempitnya. Bukannya menepis tanganku sehingga tanganku tetap menempel di dadanya

“Kamu tuh ya… nakal, sayang” ujar Buk Endang dengan mencubit tanganku

rudalku yang ngaceng itu aku tempelkan di belahan pantatnya membuat Buk Endang hanya meringis saja

“apaan tuh.. nyodok nyodok dari belakang..??” godanya menoleh kebelakang dan kusambut dengan ciuman di bibirnya.

“mau masuk kayaknya..” godaku

“ihhh… nakal… jangan… Nanti koyak punya saya baru kamu tau ..” ujarnya terkekeh

“Ibu juga nakal kok “ “Husss” ujar Buk Endang dengan mengatupkan ibu jarinya ke bibirku

Aku menggerakan pantatku sehingga batangku yang ngaceng tegak itu terasa sekali di belahan pantat Buk endang dan menggerakan pantatnya tanda senang.

“Besar sekali ya manuk mu ini.. aku suka” bisik Buk Endang

“Ketagihan ya” godaku

“Iyaaa” jawab Buk Endang dengan tersenyum lagi

Aku semakin nakal, kupegang kedua buah dadanya dan Buk Endang sampai mendesis keenakan.

“Bry.. udahan yaaaa .” ujar Buk Endang dengan menahan tanganku agar tidak terlalu jauh.

“nanti saya kepengen..” bisiknya lirih

“kalau kepengen ayoo.. saya juga kepengen” pancingku

“tapi saya capek… besok ya… please sayangg..” pinta Buk Endang

“Ya deh..” ujarku melepaskan dekapanku. Sebenarnya aku masih ingin bercinta dengan beliau. Tapi apa boleh buat. Buk Endang kecapek an

Aku lalu duduk di pinggir ranjang namun Buk Endang justru malah memancingku dengan duduk di pangkuanku.

rudalku terasa ditekan pantat Buk Endang dengan menggoyangkan sehingga membuatku semakin senang saja.

“Enak ya?” bisik Buk Endang

“katanya capek.. tapi mancing mancing..” godaku

“iya.. begini aja.. maksud saya jangan dimasukin manuk e lhoo..” ujarnya dengan gemas mencupang leherku

Melihat kenakalannya aku merasa bergairah kutarik roknya sampai atas sehingga terlihat paha mulus Buk Endang, aku mengelusnya membuat Buk Endang mendesis, bahkan aku semakin jauh memasukkan tanganku, Buk Endang membuka pahanya sehingga aku semakin bebas sampai bagian segitiganya, terasa sedikit basah, Buk Endang tampak makin terbakar birahinya

Buk Endang melumat bibirku dengan rakus, merangkulkan tangan kirinya ke belakang kepalaku. Kami saling beradu bibir dengan pelan saling memagut, sedangkan tanganku mengelus pahanya dengan bebas.

“Sudah puas belum?” tanya Buk Endang dengan tersenyum

“Begini puas…?? Ini mesin malah makin panas …” ujar gemas sambil balas menciumi lehernya hingga Buk Endang mendesah lirih

Karena tak tahan melihat tingkahnya yang menggemaskan itu, aku langsung menggumulinya, melumat habis bibir Buk Endang dengan rakus

“Stoop.. stoopp..” teriak Buk Endang dengan keras, namun aku tak mengubris lalu menggesekan rudalku yang berada tepat diatas selangkangan Buk Endang, Buk Endang menahan pinggangku

“Sayang.. aku sudah loyo.. nggak kuat “sergah Buk Endang dengan wajah merah.

“Please.. sekali lagi.. aku belum puas deh ..” kataku sambil terus menciuminya dan melakukan petting

“Stopp Bryannn.. nanti saya bisa pingsaaann.. hh… Ohhhhh..” desahnya saat kujamahi setiap lekuk tubuh bahenolnya

“Satu ronde lagi Buk endang kuu.. “pintaku dengan mengelus pahanya yang mulus dan berisi itu

“jangan dimasukin… begini aja… Uhhhh… Bryyy.. hhh…” desah Buk Endang dengan mulai mengerakan pantatnya memutar, aku merasa sangat nikmat ketika beliau menggerakan pantatnya memutar karena rudal ku bergesekan dengan nonok nya.

“Kalo gitu ya dah.. kita berhenti saja saling bercinta” kataku menggodanya

“Ah.. jangan deh.. jangan… baik kau menang” kata Buk Endang dengan mengalah

“tapi nggak usah telanjang ya… ohhh…” desahnya

“ya… buka dulu bajunya.. janji kok gak telanjang..” bujuku

Aku membantu buk endang melepas bajunya hingga beliau mengenakan bh

Selepas itu buk endang berdiri dari pangkuanku dan aku melorotkan rok dan celana dalamnya

Aku menggeser posisi duduk ku dengan bersandar pada ranjang. Membuat posisi melunjurkan kaki, aku menginstruksikan Buk Endang untuk menaiki tubuhku. Ngocoks.com

Dengan wajah malu malu Buk Endang pun naik dan berada dengan posisi jongkok. selangkangnya pas berada dan beradu dengan kontoku. Hingga menimbulkan sensasi yang nikmat, Buk Endang terus menggoyang dan menggesekan nonok nya dengan rudalku dengan posisi menduduki rudalku.

Tak sabar rasanya dirangsang sedemikian rupa oleh Buk Endang, rudalku yang sudah ngaceng sedari tadi aku sejajarkan dengan lobang kawinBuk Endang yang berada pas diatas kepala kombet ku.

Buk Endang meringis saat menurunkan pantatnya, dan perlahan tapi pasti

“sleeppp..” rudal ku amblas ditelan oleh black holeBuk Endang

“Ooohhhh…” jerit kami bersamaan

Buk Endang bergerak dengan sangat erotis di atas tubuhku, tubuhnya meliuk turun naik menggenjotku dari atas, kadang bergoyang ala ngebor, menggoyangkan buah dadanya meliuk liuk sambil terus menggoyang naik turun

“Owwhh… Bryyyy.. hhhhh..!!! Ummppphhh… Hhhhhh..” jerit buk endang megap megap, saat menggenjotku dnegan gaya women ini top

Aku pun tak mau kalah dengan menghentak rudalku naik turun dari bawah keluar masuk nonok Buk Endang sambil memberikan pagutan mesra ke bibir Buk Endang dan beliau membalas pagutanku dengan menekan ke bawah sehingga aku sampai berhenti memagutnya karena rudalku serasa dijepit sedemikian hebat.

“Uggghhhh enak banget goyangan mu buukk.. uuhh..?” desahku sambil menahan nafasku

“Arrrrrrrgggggg… sssstttt… eeeennnaaaak “erang Buk Endang kemudian.

“Pelan Buk.. aku bisa muncrat lho” kataku dengan tersenyum

“Ih nakal.. awas kalo keluar duluan “semprot Buk Endnag dengan genit dan mencoba melakukan penetrasi ke bawah dan menaikan lagi pantatnya, Tanganku semakin nakal meremas bokong Buk Endang dengan gemas sehingga membuat beliau berdegup

“Oh.. remas terus pantatku sayang “ajak Buk Endang dengan tubuh oleng tak jelas ke sana kemari menahan sensasi aku meremas pantatnya. Tangannya terlepas dari rudalku dan kemudian merangkulkan ke pundakku, padahal rudalku hanya masih separo, namun Buk Endang kembali melakukan gerakan memutarkan pantatnya membuat aku mengerang

“Awwww… enak… eeeeeeeeenaaaaak.. Buuuukk“erangku sambil memeluk Buk Endang dengan erat dan memberikan pagutan sangat bernafsu sehingga Buk Endang membalas pagutanku tak kalah bernafsu dan ganas. Namun itu tak berapa lama, kami kembali ke ritme sangat mesra.

Bersambung… “gitu dong say.. pelan.. uhh… ennnakkkkk “ajakBuk Endang Aku langsung menurunkan ritmeku dan kembali sangat mesra memberiukan pagutan ke bibir buk endnag, tanganku dengan sangat gemas meremas pantat Buk Endang, akibat remasanku di pantat Buk Endang membuatnya sampai mengadah menahan sensasi seksualitas yang tinggi

“Oh… enaknya tanganmu disana, sayang…” jerit Buk Endang dengan suara sangat merdu sekali dan lalu beliau kembali menghujamkan pantatnya ke bawah dan rudalku semakin terbenam dalam liangnya. rudalku tertahan separonya dan itu sudah membuatku sampai mendesis dan mengerang, jepitannya sangat keras, mengenyot dan menyedot dengan sangat gemas sekali.

“Dhuh.. nakal sekali tempekmu Buuukk… jepit sambil meremas remas dan menyedot” kataku sangat jorok disambut senyuman Buk Endang

“Iya sayang.. begini ya?” kata Buk Endang sambil menggoyangkan memutarkan pantatnya membuatku sampai mendelik dan kemudian merem menikmati goyangan erotis Buk Endang.

Tangan Buk Endang merangkulku dan memberikan buah dadanya untuk kusedot, segera kuanikan bh hitam berenda yang masih melekat melindungi payudara Buk Endang.

Buk Endang memposisikan dadanya tepat pada bibirku, selepas cup bh nya kutarik keatas, tampak sepasang buah dada Buk Endang yang montok itu bergoyang goyang serirama genjotan pinggul Buk Endang. Susu nya sudah mengeras, melihat putingnya yang menghitam itu mneganggur, aku mendekatkan mulut ku kesana dan menetek disana

“haaaaahhhh… ouuuhhhh…” jerit Buk Endang saat kuhisap bergantian putting susunya, dan goyangan Buk Endang makin liar, pinggul nya naik turun dengan gerakan menekan agar rudalku amblas, mata mengintip kebawah di mana rudalku keluar masuk masuk dan amblas tertelan lubang serambi lempit Buk Endang, sedangkan bagian selakangan Buk Endang tampak mengembung karena besarnya rudalku

Sampai sampai Buk Endang menggigit bibirnya menahan sakit atau enaknya menelan rudalku.

“berhenti bentar Buk Endang, aku mau ganti posisi..” ujarku

“posisi apa apalagi? Jangan aneh aneh lagi ah…” rajuknya.

Aku menghentikan sejenak sodokan ku pada tempeknya, lalu aku mengistruksikan Buku Endang yang berposisi women on top itu diatas ku agar berdiri sebentar. Buk Endang patuh saja menjalankan instruksiku. Setelah beliau berdiri, kubuat posisiku yang semula menjulurkan kakai menjadi bersimpuh. Setelah itu kuberi isyarat agar Buk Endang kembali menurunkan pinggulnya.

“tancapkan lagi nonok mu Buk..” perintahku

Tanpa banyak bicara Buk Endang kembali membenamkan rudalku dalam tempeknya

“Ooooohh… enaaakkk… Terasa masuk semuanya Bryyyy..” Desah Buk Endang meringis saat rudalku kembali ditelan black hole nya

Aku pun meringis merasakan urat syarat dinding serambi lempit Buk Endang kembali serasa meremas kejantanan ku didalam.

Posisi duduk bersimpuh itu memang sengaja kulakukan agar rudalku amblas bahkan sampai mentok di Rahim Buk Endang, ini menimbulkan sensasi nikmat bagiku dan Buk Endang.

Aku mulai menggoyang dan memborbardir tempek Buk Endang dari bawah

“Oohh. Ohhhh… Owwwhhh… ssshhhhh… Ennaak Bryaaann… Teruss terussiinn…” rintih Buk Endang megap megap.

Kedua kaki Buk Endang sekarang menjadi lurus, seperti posisi kaki ku semula. Gaya ini membuat posisi tubuh Buk Endang seperti terangkat, pinggungnya bertumpu pada kedua pahaku hingga memudahkan Buk Endang untuk menggoyangkan pingggulnya

“Ennaaaak… Oh… Gede banget punya mu Bryaann.. hhh.. “erang Buk Endang dengan gemas dan menghujamkan sedikit keras sehingga rudalku amblas semuanya, kami serambi lempitik dengan nyaring

“Auuuuuh… “pekikku disambut bersamaan erangan Buk Endang

Buk Endang masih terus melakukan penetrasi goyangan pinggulnya dari atas dengan mata merem melek.

“Dhuh.. enak sekali dengan rudal besar ini, sayang… owwwhhh… owwhhh…!!!” kata kata jorok Buk Endang semakin tak terkendali.

“katanya tadi gak kuat ..” godaku sambil terus melayani goyangan Buk Endang yang makin lama makin cepat dan tak karuan itu.

“Hhh… kamuu.. h… kamuu yang pancing pancing nafsu saya Bryannn… hhh…” bisiknya. sekujur tubuh kami sudah berkeringat, memacu dan memompa mencari senggama

“Ayo goyang terus say… pelan pelan aja…” kataku mengingatkan

Buk Endang langsung menggoyangku naik turun dengan irama lembut, setiap goyangan naik serasa memeras sekali rudalku, ketika turun rudalku serasa disedot dengan sangat nikmat, kedua tangan Buk Endang memeluk pundaku dan mengelus rambut bagian belakang kepalaku.

Buk Endang memberikan pagutan sangat mesra sekali, dan aku membalas pagutannya, sambil kami saling berpagut. tubuh Buk Endang tetap naik turun memberikan genjotan sangat mesra dan lembut, bahkan saking pelannya membuat aku semakin larut untuk menggumuli wanita ini.

Ternyata walaupun nafsu seksnya besar, tapi jika dikendalikan akan mempunyai rasa yang bisa menahan sensasi seksnya agar tidak meletup namun energinya bisa dipakai saat melakukan hubungan seksual.

Kami berdua terus saling memagut dan memilin dengan tubuh Buk Endang naik turun, yang mulanya pelan kini Buk Endang memberikan tempo naik turun dua kali lipat, gesekan dua alat kelamin kami sampai menahan kami tersenyum senang.

“Andai aku punya suami seperti kamu, sayang… dhuuuh.. enaknya” kata Buk Endang meluncur tanpa basa basi, keringat sudah membasahi kami berdua, keringat kamar hotel yang menjadi saksi bisu perselingkuhan ku dengan dosen ku itu, yang liar dan binal serta genit bahkan nakal.

“Aku menggairahkan ya, sayang?” tanya Buk Endang ditengah nafasnya yang berat dan naik turun menggejotku.

“Iya.. seksi dan cantik.. nakal, genit dan manja” kataku sambil terus melawan gejotan Buk Endang

“Sayang.. hhhh… aku nggak kuat lagiii.. Ooooh ..” jerit Buk Endang dengan mempercepat genjotannya. Tubuhku pun kini seakan tak kuat membendung orgasme yang akan muncul.

Tubuhnya aku peluk dan kuremas buah dadanya yang bergelantungan itu, Buk Endang terus saja menggenjotku dan beberapa menit kemudian mencapai orgasme, jepitan pada rudalku kian keras menandakan puncaknya akan datang.

“Ohuu… aakuu… saaaaaaamp.. aaiiii!!!!!” ucap Buk Endang terputus, tubuhnya menegang dan membuat busur panas, kuberikan remasan pada buah dadanya untuk menambah sensasi orgasmenya, wajah ayu Buk Endang menegang dengan wajah memelas, matanya merem melek menikmati orgasmenya, tubuhku kemudian luruh dan melemas dengan cepat dan memelukku.

“Keluar lagi, sayang..?” kataku memeluknya dengan erat dan memberikan ciuman di lehernya. Buk Endang hanya diam tak menjawab, mengatur nafasnya agar terkendali.

Lama Buk Endang dalam pelukanku diam, keringat kami saling berbagi demikian pula dengan bibir Buk Endang yang kini sudah sangat basah berbagi air liur denganku.

Setelah beberapa saat kami mengatur nafas, tubuh buk endang yang masih berada diatas pangkuan tubuhku terasa lunglai, Buk Endang memeluk ku erat, tangan berada di punggungku dan kepalanya disandarkan di leherku

“Maafkan aku yang memaksa kamu“bisiku pelan di telingan kanannya

“Nggak apa, sayang.. hhh.. aku juga senang kok ..” sahutnya ngos ngos an

“Ibu nggak marah lagi?” tanyaku mengelus punggungnya

“Nggak lah… saya ndak mau marah sama kamu, aku takut kalo kamu nggak mau lagi sama saya” ujar Buk Endang polos dengan memelukku lebih erat

“Jadi Ibu takut kehilangan aku ya?” tanyaku

“Iya.. takut.. Cuma kamu yang bisa memenuhi nafsu seksku, sayang …” ucap Buk Endang sambil mengangakt pinggulnya dari atas pangkuanku dan saat Buk Endang merebahkan tubuhku ke ranjang kembali Buk Endang berada di ataskudan menindih ku.

“Aku nggak marah kok sama kamu“kataku menetralkan suasana

“Akan kupenuhi apapun keinginanmu, nilai, uang, akan kuberi dengan syarat jangan tinggalkan aku ya “Buk Endang dengan memandangku mesra

“Asal kamu genit dan nakal padaku seperti ini sih aku senang sekali .. “ “Ih…” ujar Buk Endang dengan tersenyum menggoda.

“Kurang genit” timpalku

“Begini?” ujar Buk Endang dengan genit dan nakal sekali tersenyum menggodaku

“Dasar… genit “candaku lagi disambut cubitan tangan Buk Endang

“Aku aslinya memang nakal dan genit kok” timpalnya sambil tersenyum nakal kembali.

“Sini berbaring disampingku Buk Endang sayang?” ujarku sambil memberi isyarat padanya agar tidak menindihku dan berbaring disampingku sambil memeluk nya dan Buk Endang balas memelukku.

“Kamu sayang aku kan Bry…” Bisik Buk Endang dalam pelukanku

“lama lama ibu makin nakal dan manja..” ejeku

“aku memang nakal dan manja kok.. sama kamu…“kata Buk Endang dengan menjilati bibirnya dengan lidahnya kemudian dengan nakal meremas rudalku dengan gemas

“tahu nggak..? anda memang sexy buk endang ku?” tanyaku nakal sambil mengelus selakangan Buk Endang dan berhenti pada serambi lempitnya

“Apa enaknya tempekku?” tanya Buk Endang dengan mata memandang mesra kepadaku

“legit, menjepit.. sedotannya keras.. tapi badannya gampang loyo” timpalku dengan tersenyum

“Aku khan sudah tua “balas Buk Endang

“Makin tua makin menjadi jadi, menjadi tante girang” godaku disambut tabokan di dadaku

“Betul.. aku tante girang untukmu .. “cibir Buk Endang dengan tersenyum.

“Play girl gitu?” tanyaku lagi

“rudal ah.. kamu ngawur terus “semprot Buk Endang dengan nakal kembali meremas rudalku dengan gemas.

“Kamu oke juga kok dalam urusan ranjang.. aku suka sama anda“kataku

“kamu juga Bry… Kamu itu kuat dalam bercinta Bry… perkasa.. dan aku suka kamu karena kamu suka membuatku menggelepar..” ujarnya tanpa malu malu

“apapun posisi dan gaya yang kamu suruh saya pada saat bercinta, saya amat menikmatinya sayanggg.. saya nggak bisa menolak saat kamu mengajak saya bercinta, walau terkadang kamu memperlakukan saya dengan kasar, tapi saya malah menikmati perlakuan kamu Bry..” sambungnya sambil menatapaku dengan pandangan sayang.

Aku hanya terkekeh mendengar pengakuan Buk Endang, dan Buk Endang tersenyum mesra padaku dan mendekapkan tubuhnya padaku dengan manja

“mari kita bersihkan badan..” ujar Buk Endang sambil bangkit dari tempat tidur.

“ saya mau ke toilet bersihkan ini..” ujar Buk Endang menunjuk kemaluannya.

“kamu jangan ikut masuk ya.. nanti terjadi lagi hal yang diinginkan..” tambah Buk Endang dan membuat kami tertawa lepas berdua. Ngocoks.com

Akhirnya kubiarkan Buk Endang ke toilet. Aku pun bangun dari ranjang, mengelap rudalku yang penuh cairan dari dalam lobang serambi lempit Buk Endang dengan sprei. Setelah itu aku pun memasang piyama ku.

Berapa saat tampak Buk Endang keluar toilet, gantian aku masuk ke dalam toilet guna mencuci burungku. Setelah selasai dan membersihkan badan aku keluar toilet dan mendapati Buk Endang sudah mengenakan kembali pakaiannya.

Aku pun memasang kembali semua pakaianku. Jam sudah menujukan pukul emapt sore, cukup lama kami bercinta mengingat aku check in tadi jam 10 pagi. Setelah mengenakan pakaian aku duduk sejenak di kursi dan minum susu yang tersedia disana

Tampak Buk Endang menatap ku dengan raut wajah girang

“Makasih telah memuaskan aku ya Bry…” kata Buk Endang dengan membimbingku berdiri dan menggandengku keluar kamar

“Anal seks yuk?” godaku

“Ogaaaaaaaah.. aku paling benci… nggak mau.. “sungut Buk Endang dengan mencubitku lalu memberikan ciuman di pipi kiriku.

“Aku juga suka susumu say…“pujiku sambil meletakan tanganku buah dada sebelah kanan dan meremasnya lalu kulepaskan lagi

“Aku juga suka sama manuk mu.. gedhe dan panjang hihihihi” ujarnya nakal

Melihat kenakalannya aku remas bokong nya hingga Buk Endang kaget dan melotot

“Sudah cukup.. kamu ini.. mancing mincing saja.. aku mau pulang ke rumah dulu.. besok pagi saya kabari kita mau kemana, ada urusan yang harus kuselesaikan” ujar Buk Endang menggandengku untuk keluar dari kamar.

“bentar lagi lah buu… masih jam 4 lewat… santai aja dulu… aku masih menghabiskan waktu dengan kamu..” bujuku

“Bryaaan… besok saja… nanti suami ku curiga kalau aku pulang larut”

“Iyaaa… tapi besok Ibu pake celana dalam lingering ya” ujarku nakal

“Ih.. nakal sekali kamu, Bryan. “semprot Buk Endang mencubit pipiku.

“tunggu tunggu.. coba buk endang duduk dulu.. singkapkan rok anda.. perlihatkan pahamu mu dulu say..” kataku

“Ihh… kamu ini.. apalagi siihhh..” ujarnya dengan wajah kesal

“Bentaaarr aja.. aku mau motret ini mu.. lumayan buat bahan coli..” ujarku terkekeh

“coli coli… kamu tu ya… nggak ada puas puas nya…” sungutnya

“Pleasee.. “bujuku dengan wajah memelas

Buk Endang nurut juga walau dengan terpaksa. Beliau meletakan satu kakinya diatas kursi dengan malu-malu buk endang pun menyingkapkan rok blouse pendeknya lalu berpose dengan tersenyum mengerling nakal dan genit.

Dengan segera kukeluarkan smart phone ku dan menjepret beberapa kali Buk Endang yang mengangkang kan pahanya. rok nya ditariknya keatas dan terlihat satu tungkai paha puithnya.

“terus keatas say..” perintahku

Buk Endang pun mengangkat rok nya keatas sampai menampakan celana dalam hitam berendanya. Aku menjepret nya beberapa kali. Sungguh nakal dan binal memang dosenku yang satu ini. Usia tidak mempengaruhi fantasi dan libido nya

Lalu aku menyudahi dan memberikan pagutan mesra pada bibir Buk Endang dan juga mengelus pahanya.

Kami pun keluar dari hotel, Buk Endang duluan lalu aku menyusul karena tadi pagi check in atas namaku.

Sesampai di parkiran kami menuju mobil masing masing. Buk endang memberi aba aba agar aku masuk ke dalam mobilnya. Sesampai di dalam mobilnya kuberikan pagutan yang mesra dan lama, Buk Endang menikmati pagutan dan tersenyum dengan berbinar.

Novel Sebuah Pengkhianatan

“Trims.. mau melayani aku.. aku kangeeen sama manuk mu itu.. besok aku mau menikmati lagi sodokanmu, puaskan lagi aku seperti hari ini ya Bry…” ujar Buk Endang dengan memberikan amplop.

“Apa ini?” tanyaku

“Bawa saja.. nanti aku beri lagi.. kudu diterima” ujar Buk Endang enggan memegang tanganku.

Aku tak berkata apa apa, lalu Buk Endang memegang kepalaku dan memberikan pagutan sangat mesra, lama kami berpagut dan akhirnya berhenti juga dan aku keluar dari mobilnya dan melepas kepergian mobil Buk Endang

“oww. How luck me..” bathinku puas.