Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Love Story

Love Story

Prolog Novel Love Story – Kata orang cinta sejati itu tidak ada, terlebih kepada sesama manusia, bahkan akhir-akhir ini aku sering mendengar bahwa kebohongan terbesar dalam cinta adalah kalimat:

“Kebahagiaan terbesarku adalah melihat kamu bahagia dengannya”.

That’s true.

You’re so fuckin’ foolish if you agree with that statemant. That’s bullshit mennn…

Novel Love Story Ngocoks Logikanya sih begitu. Kalimat itu dianggap suatu kebohongan yang menggelikan dan tidak patut dipercayai. Tapi disini aku mencoba memahaminya. Mencoba menyelaminya. Dan mencoba menjalani. Menyingkirkan segala teriakan akal logikaku dan memilih menggunakan hatiku. Hatiku yang lemah, bodoh dan naif.

Sebenarnya apa itu Cinta?

Mengapa hanya karena hal itu aku yang memiliki IQ diatas rata-rata, kemampuan yang dielu-elukan sejuta umat bisa tunduk tak berdaya dibawah kendalinya??

Mereka bilang, Cinta yang membuat kita tetap tersenyum walau dia tak berada di pelukan kita??

Is that true?

Mungkin memang ada. Mungkin juga hanya satu diantara seribu yang benar-benar rela melepaskan orang yang begitu dicintainya untuk berbahagia dengan orang lain.

Mungkin saja bukan karena tak mau berjuang, tapi memang suatu keadaan yang mengharuskan kita melepaskannya, orang yang kita cintai. Melepaskan orang terkasih demi melihat senyumnya tanpa ada sakit yang kita timbulkan ataupun yang kita rasakan.

Jujur saja pasti sebenarnya kita pun sakit melihatnya tersenyum karena orang lain. Karena pada dasarnya hati ini menginginkan dia hanya tersenyum karena kita.

Terlebih melihat dia dipelukan orang lain, setulus apapun cintamu, hatimu akan tetap merasa teriris perlahan, perlahan, dan perlahan. Hingga kamu akan terbiasa dengan rasa sakit itu, dan tetap bisa tersenyum karena apapun yang terjadi, senyumnya begitu menenangkanmu.

Cemburukah??

Tentu saja dong, gimana sih… Namanya cinta ya pasti cemburu dong.

Tapi…

Kembali lagi. Aku akan berusaha menerimanya… Berusaha berdamai dengan keadaan.

Caranya??

Mungkin aku akan berusaha menghibur hatiku sendiri, perlahan menyingkir, sedikit lebih jauh, agak jauh dan akhirnya tak terlihat olehnya, meskipun pandangan mataku tak pernah terlepas darinya, tak lepas untuk mencoba mencari tiap kejujuran di matanya, dan berharap masih ada cinta untukku di mata itu.

Kecewa, sakit, putus asa, mungkin itu yang kamu rasakan, tapi cinta, sekali lagi cinta, cinta yang melembutkan hati kita untuk tetap ingin membahagiakannya, cinta yang membuat kita mampu merelakan dan tetap tersenyum walau dia tak berada di pelukan kita.

Itulah cinta yang tak pernah bisa dilogika, itulah cinta yang mungkin sangat terlihat bodoh. Tapi itulah cinta yang memang benar-benar ada, dan benar-benar merelakannya berbahagia walau bukan dengan kita, karena cinta memberi kekuatan yang luar biasa untuk tetap bertahan di tiap kesakitan.

Aku tak memungkiri betapa sakitnya itu. Begitu menyakitkan. Sangat sakit. Teramat sangat menyakitkan. Sungguh-sungguh sakit.

Namun disini aku masih berusaha terus menyelami semua yang terjadi untuk bisa terus bertahan dikubangan rasa sakit yang sangat menyayat melihat bagaimana seseorang yang begitu kucintai, pernah saling mencintai, saling membahagiakan pada akhirnya harus ku relakan bersama orang lain.

Aku mencoba mencari satu kata yang tepat untuk melukiskan diriku sendiri, menggambarkan cintaku yang kandas, menggambarkan betapa beratnya perjuanganku dan betapa sakitnya lukaku, tapi sayangnya, aku tak mampu menemukan satu kata itu. Apakah kalian pernah merasakan posisi sepertiku??

Jagi…Kamu dan cintaku terus masuk semakin dalam dihatiku, itu yang aku rasakan, sama sekali tidak surut sedikitpun.

Seringkali aku berpikir. Terheran dengan diriku sendiri. Bagaimana bisa aku melepasmu begitu saja? Bagaimana bisa??

Wahai kamu pria pujaanku, maafkan aku yang tak mampu memaksa hatiku, menahan sakitku, karena aku tak akan pernah bisa melupakanmu, bahkan menghapus sedikit saja memori tentang kita dari hatiku, aku tidak bisa.

Semakin kamu memintaku merelakanmu, semakin aku mencintaimu. Rasanya sungguh tak sanggup aku melihatmu bergandengan mesra dan bahagia dengannya. Tapi lihatlah.

Aku berdiri disini menyaksikan perhelatan bahagiamu dengannya. Kamu yang terlihat begitu bahagia menggandengnya disampingmu. Kau begitu terlihat bangga ketika puluhan pasang mata bersorak antusias menyaksikan kebahagiaanmu dan dia, menyisakan diriku sendirian diujung sini.

Sekali lagi, bagaimana jika kalian jadi aku saat ini??

Lihatlah aku disini. Diriku yang sendiri berusaha bertahan agar tetap bisa berdiri tegak menopang tubuhku. Menahan rasa sakit didadaku. Berusaha mempertahankan senyuman diwajahku untukmu. Berusaha menunjukkan padamu bahwa aku sudah mengikhlaskanmu. Merelakanmu. Meski itu berat. Amat sangat berat.

Sungguh ini sangat berat jagiya…

Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku??

Aku sangat mencintaimu.

Sungguh-sungguh, sampai detik ini masih amat sangat mencintaimu.

Tak bisakah kau melihat itu semua??

Tak bisakah kau melihat betapa hancurnya aku??

Dan yang tak habis pikir, bagaimana bisa kamu memintaku, memohon padaku untuk datang menghadiri perhelatanmu ini??

Apakah kamu buta akan perasaanku jagiyaaa??

Bagaimana bisa??

Bagaimana bisa kamu sekejam ini pada hatiku??

Sama halnya saat kamu memintaku merelakanmu saat itu. Kau torehkan sebuah luka tak berdarah teramat dalam. Kau mengukir lubang dihati sampai kedasar jiwaku.

Apakah ini yang dinamakan Cinta??

Andai aku mampu menyuarakan semua isi hatiku itu padamu, mungkin aku tak akan merasa semenderita ini. Setersiksa ini. Tapi melihat senyummu, melihat matamu yang berkaca-kaca memohon, aku tak mampu menolaknya. Hal bodoh yang bisa kulakukan hanya tersenyum menenangkanmu untuk menyanggupinya.

Itulah fakta yang berusaha kusimpan rapi didasar hatiku darimu. Aku tak ingin merusak tawa bahagiamu saat ini. Biarlah kehancuran hatiku ini aku sendiri dan Tuhan yang tahu. Apapun akan kulakukan untuk membuatmu bahagia. Jika memang inilah yang kau mau. Dan bisa membuatmu bahagia. Maka kuberikan. Apapun untukmu.

Biarlah aku dikata bodoh, pengecut ataupun pecundang.

Inilah cintaku padamu.

Apakah cintaku ini bisa dikategorikan sebagai cinta sejati? Entahlah… yang kutahu, “Kebahagiaan terbesarku adalah melihat kamu bahagia dengannya”. Kata-kata itu benar adanya dan bukan suatu kebodohan, melainkan sebuah perjuangan dan cinta yang benar-benar tulus.

Terima kasih telah hadir menghiasi kehidupanku yang sunyi dan tak berwarna selama ini. Terima kasih telah mengenalkanku dengan apa itu Cinta.

Terima kasih telah mengajarkanku tentang apa itu pengorbanan dan keikhlasan. Terima kasih sudah sempat menghangatkan hatiku yang beku. Terima kasih telah memberiku kasih sayang yang tulus selama ini.

Terima kasih, Seungri-ah. Aku hanya bisa mendoakan semoga kau bahagia dengan pilihanmu.

Tapi,

Aku yakin. Suatu saat nanti, kamu akan menyadari bahwa kamu tak akan pernah bisa menemukan atau pun mendapatkan Cinta seperti yang aku berikan kepadamu. Cinta tulus yang tak meminta balasan. Cinta yang rela memberikan segalanya untukmu. Cinta yang hanya dipersembahkan padamu seorang. Yaitu,

Cinta seorang Kwon Jiyong kepada Lee Seungyun.

Maaf ya sobat Ngocokers jika prolognya terlalu panjang, yuk langsung saja ke bab selanjutnya untuk membaca ceritanya…

Aku berdiri disini, dijajaran tamu undangan paling belakang, menyaksikan perhelatan sumpah setiamu dengannya. Kamu dan dia, kalian terlihat sangat sumringah bahagia. Saling memandangi satu sama lain.

Sorot mata kalian terlihat jelas penuh cinta untuk satu sama lain. Senyum lebar tak pernah luntur dari bibirmu. Pandangan matamu hanya tertuju padanya. Seakan duniamu terhenti padanya seorang. Seakan hanya dia sosok yang paling berharga dalam hidupmu.

Apakah benar seperti itu jagi??

Jika memang benar, kenapa kamu juga pernah melakukan hal yang sama padaku??

Lalu apalah arti diriku dalam hidupmu sesungguhnya??

Jika yang kamu lakukan padanya ini adalah bentuk dari rasa cintamu padanya, salahkah diriku yang berharap kamu juga merasakan hal yang sama terhadapku??

Aku tahu kamu tahu tentang bagaimana perasaanku kepadamu walau aku tak mengatakannya. Bahkan semua orang juga tahu bagaimana perasaanku. Tapi kenapa kamu melakukan ini??

Apa kali ini kamu memilih untuk buta??

Masih teringat jelas dalam ingatanku bagaimana kamu menghancurkan hatiku hingga berkeping-keping. Mungkin jika hanya sebatas petualanganmu mencari hiburan kepada para jalang itu aku mungkin masih bisa bertahan. Tapi kali ini… Kamu melakukan lebih dari batas seharusnya.

Menurutmu aku harus bagaimana?

Flashback…

“Hyung…” panggilmu pelan seakan ingin menyampaikan sesuatu yang buruk kepadaku. “Hn” jawabku singkat masih berkutat dengan pekerjaanku.

Aku adalah seorang komposer sekaligus produser music. Dan kamu adalah salah satu artis penyanyi yang bernaung dibawah management label music milikku. Kamu adalah artis pertama yang kumili. Kamu juga yang senantiasa mendampingiku saat aku mendirikan perusahaan ini dari nol sampai detik ini hingga berdiri begitu besar seperti sekarang memiliki puluhan artis dan banyak relasi.

Kita saling bergantung pada satu sama lain. Terasa seperti kita tak terpisahkan. Terasa kita adalah satu. Memiliki satu sama lain. Bahkan sampai tak ada cela untuk siapapun bisa masuk ditengah-tengah kita saking kuatnya bounding kita.

Meski banyak para pengganggu seringkali berkeliaran disekitar kita, kita sedikitpun tak goyah. Bahkan kita pun ikut bersenang-senang menghibur diri kita bersama mereka. Tapi. that’s it. Nothing more.

Itu yang selalu kita tekankan pada diri kita masing-masing meski tak terucap. Kita bisa memahami satu sama lain meski tanpa kata. Meski mereka tak tahu apapun tentang hubungan kita.

Tapi,.. yang kau ucapkan kali ini benar-benar diluar ekspektasiku. Memang benar kita tak ada ikatan yang resmi seperti “Kekasih atau Lover”. Kita tidak pernah mendeklarasikan diri seperti itu.

Kita juga tak pernah mengatakan “I Love You” pada satu sama lain. Meski kita sudah melakukan ciuman bahkan berhubungan sex ribuan kali, ya meski hanya orang-orang terdekat kita saja yang tahu.

Tapi bagiku, aku tak perlu melakukan itu semua, cukup perbuatanku yang aku tunjukkan kepadamu sudah menjadi bukti mewakili seberapa besar dan dalamnya apa yang aku rasakan terhadapmu.

Dan dirimu pun demikian. Tanpa mengatakannya, kita sudah bisa menyelami pikiran dan perasaan kita masing-masing. Namun sekarang apa?? Apakah yang selama ini aku salah menilainya??

“Hyung… apa kau punya waktu sebentar saja?” tanyanya mencoba merebut perhatianku kembali. “Ada apa sih jagi?” responku seperti biasa.

Dia diam. Dan itu sukses membuatku meninggalkan pekerjaanku dan menghadapnya. “Apa kamu lapar? Mau makan malam dimana hem?” tanyaku berusaha mengalihkannya dari tema pembahasan yang ingin dimulainya.

Aku tahu hal buruk apa yang akan dia sampaikan kepadaku. Tapi meski aku sudah diberi laporan sebelumnya, aku masih belum bisa percaya semua itu.

Ya, salah satu sahabat sekaligus orang kepercayaanku yang ikut membantuku mengurus perusahaan ini sudah memberiku setumpuk laporan mengenai apa saja yang ‘kekasih’ ku ini lakukan diluar sana.

“Hyung, ada yang ingin aku katakan padamu.” ucapnya lagi tanpa menjawab tawaranku. Aku hanya menatapnya intens tanpa menjawab. Terlihat diam berusaha mengumpulkan keberanian untuk menatap balik.

“Kau tahu kan bahwa ibuku sudah berkali memintaku untuk menikah?” tanyanya yang tak meminta jawaban karena kami berdua sama-sama tahu.

Aku bersyukur orang tuaku tidak seperti ibunya, orang tuaku membebaskanku melakukan apa yang ku mau. Apalagi aku yang memiliki kakak perempuan yang sudah memberinya seorang cucu membuat mereka tak mempermasalahkanku.

“Dan kau tahu juga adik perempuanku masih kuliah jadi semakin sulit buatku untuk menghindar.” Ucapnya lagi.

Sengaja kubiarkan dia gelagapan bermain dengan kata-kata didepanku. Terlihat dia begitu kebingungan mencari kata-kata yang tepat untuk mengutarakan niatnya padaku. Mungkin karena melihat wajahku yang datar tanpa ekspresi menatapnya membuatnya makin tertekan.

“Kamu mengenal Yoo Hye Won kan hyung?” tanyanya tanpa kurespon. “Ehm… dia.. dia wanita yang baik. Dan ibu menyukainya. Lalu.. Lalu ibu memintaku melamarnya.

Segera.. dan bahkan ibu sendiri sudah menghubungi orang tuanya. Aku sungguh tak bisa menolaknya hyung.. maafkan aku…” ucapnya sudah pasrah karena teramat stres tertekan oleh aura dinginku.

Hening sejenak.

“Hyung…” panggilnya lirih dengan matanya yang berkaca-kaca.

“Lalu maumu aku harus bagaimana?” responku datar.

Terlihat dia terbelalak agak shock dengan respon yang kuberikan.

“Ibu sudah menetapkan tanggal pernikahan kami. Aku tak bisa berbuat apa-apa.” ucapnya lagi semakin kacau. “Hyung… kumohon…” ucapnya makin desperate dengan matanya yang memelas. “Lalu aku harus apa Lee Seungyun?” respon ku dengan tenang. Seakan tak terusik sedikitpun.

Dia yang melihatku seperti itu akhirnya meneteskan air mata, tertunduk memohon. “Lepaskanlah aku hyung… aku tak mau menyakitimu lebih dari ini.” sambil menangis dia akhirnya mengutarakan niatnya.

Kubiarkan dia yang menangis.

“Kumohon kamu bisa datang. Aku tak bisa tenang jika kamu tidak datang hyung. Kumohon… Kabulkanlah permintaanku yang egois ini kepadamu. Aku janji ini adalah yang terakhir.” ucapnya lalu tiba-tiba bersimpuh di bawahku. “Ku mohon maafkan aku hyung… hiks… maafkan aku.. Maafkan aku…” ucapnya lagi sambil terus terisak.

Aku masih tak memberikan respon apapun padanya. Masih duduk dengan tenang dikursiku membiarkannya masih bersimpuh didepanku.

Suara detik jarum jam begitu terasa mencekam diruanganku yang hening saat ini. Aku bisa melihat bagaimana dia yang terus berusaha menghapus air matanya dengan tertunduk.

Dengan santai kuraih handphone yang tergeletak dimejaku. “Hyung… atur agar tidak ada seorang pun yang masuk keruanganku. Siapapun itu. Aku ada diruang pribadiku tak bisa diganggu.” ucapku pada sahabat sekaligus tangan kananku yang ruangannya tak jauh dari ruanganku.

Dia paham maksud dari ucapanku. Sedang namja yang sedang bersimpuh didepanku pun juga paham. Terbukti dari respon tubuhnya yang bergetar setelah mendengar ucapanku.

“Pastikan kamu mengatur semua sampai besok.” Finalku sebelum menutup telpon.

Namja yang sedang bersimpuh, ‘kekasih’ku, Seungri, Lee Seungyun. Dengan sangat kejamnya melakukan semua itu padaku. Apa salahku?? Dimana kurangku?? Aku sudah memberikannya segalanya. Hidupku, hatiku, jiwaku. Hanya karena kami sama-sama bergender sama aku harus menanggung luka teramat menyakitkan seperti ini.

Aku merasa seperti sampah. Setelah tak berguna dibuang begitu saja. Kupikir selama ini dia yang paling paham bagaimana hatiku. Tapi ternyata aku salah. Terbukti bagaimana dia melakukan semua ini tanpa memikirkan bagaimana perasaanku.

Jika maumu begitu aku bisa apa? Karena bagiku yang terpenting adalah kebahagiannmu. Jika dengan menghancurkanku begini adalah caramu bahagia, maka baiklah. Pergilah… Pergi kemanapun yang kau mau. Aku membebaskanmu.

Setelah menutup sambungan teleponku segera ku seret dia ke kamar pribadiku yang terletak tersembunyi di ruanganku. Aku sering menggunakan kamar ini untuk sekedar melepas lelah atau paling sering kamar ini kugunakan untuk bercinta dengan Seungri seperti saat ini.

Kuhempaskan tubuhnya ke kasur dengan kasar. Segera kulucuti pakaianku dan pakaiannya. Tak kupedulikan dia yang meronta-ronta memohon padaku untuk melepasnya.

Saat ini yang ada dalam pikiran dan hatiku hanyalah luka yang teramat dalam yang kurasakan sampai ke relung-relungku. Dengan kasar dan ganas aku menyetubuhinya tanpa ampun tanpa jeda.

Aku membekukan hatiku saat ini. Tak kupedulikan jeritan kesakitannya, tak kupedulikan tangisan memohonnya. Yang ada dikepalaku hanyalah membuatnya mendesah dan memanggil namaku. Hanya namaku.

Hingga namaku itu bisa terpatri di otak maupun seluruh aliran darahnya. Aku sampai tak sadar jika aku menyetubuhinya sambil menangis juga. Dia yang melihat air mataku malah menangis semakin pecah. Sadar bahwa ini moment terakhir kami, kami bercinta sambil berpelukan dan menangis.

Karena hatiku yang teramat terluka membuat gerakanku makin brutal. Dia sampai pingsan beberapa kali karena tak mampu mengimbangi keganasanku.

Dan katakanlah aku bejat karena meski dalam keadaannya yang pingsan aku masih menyetubuhinya tanpa ampun. Aku tahu benar kelemahan setiap inci bagian tubuhnya yang membuatnya tak akan mampu menolak sentuhanku. Hingga pagi pun tiba…

“Ugh~~ hyung~ su-sudah~..ah~sss…” desahnya lirih sedikit mendesis karena perih dengan suara serak hampir hilang saat aku masih terus menggenjot lubangnya dengan kuat.

Bagaimana ga ilang itu suara. Melihat keadaannya yang sungguh amat menyedihkan seperti ini siapapun juga tahu bagaimana brutalnya aku menggarap tubuhnya.

Matanyanya yang bengep karena terus menangis, bibirnya yang bengkak dan sedikit terluka karena ulah mulutku, seluruh tubuhnya yang penuh bercak merah dan ungu bahkan ada bekas gigitanku, bukan hanya bercak-bercak yang menghiasi seluruh tubuhnya melainkan air mata, liur, keringat dan juga sperma.

“Ji~ ahk~ ak-aku.. argh~~!!” Jeritnya tertahan tanpa suara saat dia orgasme sampai terkencing-kencing kembali entah yang keberapa kali tak terhitung. Ngocoks.com

Dengan sisa tenaga yang ada aku semakin memacu kecepatan memompaku hingga aku memuntahkan sisa-sisa spermaku yang ada beserta air seniku. Jika boleh jujur mau berapa kalipun aku bercinta dengannya entah kenapa aku tak pernah merasa cukup.

Aku selalu ingin lebih lebih dan lebih. Hanya dia yang mampu memuaskan birahiku. Sadar ini akan menjadi terakhir kalinya aku bisa memeluk orang yang kukasihi segenap hatiku, aku memeluk dan menciumnya dengan penuh perasaan yang membuncah menyalurkan perasaanku padanya.

Kami berdua terdiam masih sambil berpelukan mengatur nafas, hati dan pikiran. Dia terkulai tak berdaya dalam pelukanku. Terlihat jelas dia tak memiliki tenaga sedikitpun. Tak berapa lama terdengar dengkuran halus darinya. Dia tertidur dalam pelukanku. Terlihat kelelahan. Setelah puas menatapnya aku beranjak ke kamar mandi.

Setelahnya aku membawa wadah berisi air untuk membersihkannya. Kuperhatikan baik-baik tubuhnya yang penuh hasil karyaku. Penuh tanda kepemilikan dariku. Namun yang membuatku tersenyum miris adalah dia bukan milikku.

Saat aku membersihkan tubuh bagian bawahnya dapat kulihat noda-noda darah yang membuktikan permainan kasarku. Aku yakin jika dia seorang yeoja dia bakal langsung hamil.

Melihat bagaimana perutnya begitu banyak menampung sperma milikku. Ahh, aku salah. Mungkin dia sudah hamil sejak awal aku mulai menyentuhnya. Dengan telaten kubersihkan semuanya dan mengobati luka-lukanya.

Bersambung… “Ugh..” lenguhnya saat terbangun.

Aku membantunya duduk bersandar di headboard tempat tidur. Sesaat dia terlihat linglung melihat sekeliling. Sekarang tubuhnya sudah bersih terbalut bathrope sedang aku sudah mengenakan pakain baru.

“Makanlah, mumpung masih hangat. Ini sudah siang.” ucapku lembut padanya sambil menyodorkan semangkuk bubur.

Aku memutuskan bersikap biasa saja padanya. Dengan keadaan tenggorokannya saat ini, menurutku bubur adalah pilihan yang tepat. Melihatnya yang tak bertenaga aku pun memutuskan menyuapinya dalam diam.

Setelah membantunya meminum obat aku memintanya istirahat kembali. Aku sangat menyadari lah, setelah kugarap habis-habisan gitu siapa sih yang ga langsung terkapar.

Meski Seungri itu termasuk namja yang kuat, tapi jika kuhabisi begitu ya KO juga lah. Tapi aku bangga padanya, dia satu-satunya yang mampu mengimbangi nafsu beast gilaku diranjang. Aku selalu puas dengannya, bahkan aku selalu ketagihan ingin lebih dan lagi.

“Istirahatlah. Aku sudah mengabari big bro keadaanmu. Dia yang akan mengatur semuanya. Setelah kondisimu membaik, ada sopirku yang standby untuk mengantarkanmu pulang. Aku sudah menyiapkan pakain bersihmu di sebalahmu.” ucapku tenang memberikan informasi seperlunya.

Dia terus menatapku selama bicara. Tatapan penuh penyesalan dan kesedihan. Dan entah lah…

“Kurasa sudah tak ada lagi yang kau perlukan, jadi aku pergi.” “Selanjutnya jika ada urusan kamu akan bertemu dengan big bro. Dia yang akan menyelesaikan semua mewakiliku.

Setelah ini kita tak ada urusan lain selain pekerjaan. Kamu sudah memilih jalanmu, dan aku mengikuti apa maumu. Aku anggap urusan kita selesai sampai disini. Sampai berjumpa lagi diacaramu.”

Fyi saja yaa, Big bro yang kusebut-sebut itu adalah panggilan akrabku kepada sahabat baikku yang sekaligus menjabat sebagai tangan kanan kepercayaanku diperusahaanku ini. Nama aslinya adalah Choi Seunghyun.

Namanya sama ya sama Seungri, cuma beda marga doang. Beda lagi kalau Seungri, dia biasanya memanggil dia big hyung. Kami bertiga sangat dekat sudah seperti saudara sendiri.

Entah setelah ini aku tak tahu hubungan kami akan bagaimana. Yang jelas aku tak akan mampu melihat wajah ‘namja yang sangat kucintai’. Aku takut lepas kendali. Jadi lebih baik, kami tak usah bertemu sama sekali.

Setelah mengatakan itu aku pun keluar tanpa menoleh padanya sedikitpun. Mempertahankan wajah datar, tenang dan dinginku menutupi segala bentuk perasaan yang berantakan didalamnya.

Pada kenyataannya hatiku bagai diiris-iris. Saking sakitnya aku tak mampu mengeluarkan air mata. Setelah ini aku tahu aku tak akan pernah bisa sama lagi. Aku akan kembali ke diriku sebelum bertemu dengannya. Jiyong yang dingin dan kejam.

Entah sudah berapa lama Seungri termenung dengan air mata yang telah mengering saat aku masuk ke kamar rahasia Jiyong tersebut. Aku sudah mendengar cerita lengkapnya dari Jiyong sendiri. Meski aku sendiri sudah tahu apa yang terjadi dengan keduanya sejak awal.

Sebagai sahabat dan orang kepercayaan Jiyong, aku selalu berusaha memastikan yang terbaik untuk sahabatku sekaligus bosku tersebut. Dengan perusahannya yang sebesar ini tak heran jika dia dikelilingi oleh banyak musuh, baik dari luar maupun dari dalam.

Tanpa diminta aku selalu berusaha menjaganya agar selalu aman. Namun aku tak mampu jika itu mengenai penjagaan hatinya. Aku tak punya kendali atas hatinya. Tapi aku selalu berusaha sebaik-baiknya meminimalisir.

Saat dia menyuruhku menjaga Seungri dengan mengirimkan bodyguard bayangan untuk orang yang dicintainya, aku pun melakukan semaksimal mungkin. Namun dalam prosesnya aku pun mau tak mau harus melaporkan kejadian apa saja yang dialami sang terlindung kepadanya.

Aku memahami tindakannya. Kekasih mana sih yang tak ingin selalu memastikan orang terkasihnya selalu aman apa lagi hidup di industri yang begini. Seungri sendiri sebenarnya sangat menentang jika berhubungan dengan body guard, dia sering menolak jika Jiyong mengirim bodyguard untuknya.

Maka dari itu Jiyong mengirim body guard bayangin yang menjaganya dari jauh tanpa sepengetahuannya. Nah ini lah yang berat, saat harus memberikan berbagai macam laporan kegiatan kepadanya mengenai Kekasih yang dijaganya ini.

Karena akhir-akhir ini banyak kejadian yang melukainya. Aku bisa melihat luka yang ditimbulkan meski hanya dari perubahan sorot matanya. Jika orang lain yang tak mengenalnya melihat, mereka pasti berpikir dia baik-baik saja dengan tampang datarnya itu.

“Apa kau sudah baikan?” tanyaku yang tiba-tiba mengagetkan Seungri, membuyarkan entah apa yang dilamunkannya. “Oh big hyung…” ucapnya sambil tersenyum lemah kearahku.

‘Uhh… melihat keadaan wajah dan lehernya kurasa Jiyong benar-benar tak menahan diri semalam. Gilak!’ batinku ngeri.

“Apa kau perlu sesuatu?” tanyaku sambil berjalan ke arah minibar menuangkan sedikit wine. “Tidak hyung, Im good.” jawabnya berusaha tetap tersenyum.

“Ok, kalau begitu tidak ada salahnya kan kita ngobrol sebentar yaa sebagai kakak dan adik seperti biasa?!” ujarku yang direspon tatapan bingung darinya.

“Aku selama ini sudah menganggapmu seperti adikku sendiri sama seperti Jiyong. Kamu jelas tahu itu kan?!” ucapku yang direspon anggukan darinya karena memang kita selama ini berinteraksi layaknya saudara bukan rekan kerja.

“Jujur aku sangat kecewa padamu.” ungkapku dingin berdiri diujung ranjangnya.

Aku melemparkan sebuah amplop coklat dipangkuannya lalu duduk di stool minibar. Dibukanya amplop dariku tersebut dengan wajah kebingungan. Seketika dia terbelalak shock mengetahui isinya.

“Ini….” ucapnya terhenti karena tercekat menatap horor padaku. “Seharusnya kamu bertanya, kenapa dengan mudahnya dia melepaskanmu.” mulaiku. Dia masih terbelalak dengan kebenaran yang barusan dia terima.

“Jangan dikira selama ini dia tak mengetahui semua sepak terjangmu diluar sana. Jangan negatif thinking dulu terhadapnya. Pada dasarnya dia hanya bertindak sebagai seseorang yang hanya ingin memastikan orang terkasihnya aman dan bahagia.

Namun naasnya. Niat tulusnya dibalas sangat menyakitkan. Terlebih oleh orang yang sangat dicintainya sendiri dengan sepenuh hati. Dia tak pernah mengatakan apapun tentang semuanya juga mengenai pengorbanan yang selama ini dilakukannya terhadapmu.

Bagaimana terlukanya dia saat melihat foto-foto bahagiamu dengan wanita itu. Bagaimana kamu bermain-main dibelakangnya. Bagaimana kamu ternyata mempermainkan kepercayaanya. Meski dia sudah mengetahui rahasia busukmu, dia masih berusaha tersenyum dengan tulus kepadamu.

Memilih pura-pura tidak tahu sampai kamu memutuskan. Jika dia mau, ini hanya perkara kecil baginya untuk melenyapkan wanita itu dan menghancurkan seluruh keluargamu.” ucapku lugas dan menusuk.

Dia tertegun.

“Kamu jelas sangat tahu siapa dia bukan?? Dia orang yang bagaimana. Jika bukan karena rasa cintanya yang begitu besar terhadapmu mana mungkin dia mau melakukan ini semua. Rasa cintanya yang tuluslah yang membuatnya melepaskanmu tanpa syarat.

Karena selama ini baginya yang terpenting adalah kebahagiaanmu diatas segalanya. Melihat tawa bahagiamu bersama wanita itu membuatnya mengalah. Kamu bisa melihat sendiri file-file didalam amplop itu. Itu semua rekam jejak pengorbanannya padamu selama ini.

Ini inisiatifku sendiri memberitahukan padamu. Jiyong sangat menentang ini. Tapi aku juga tak bisa melihat dia seperti habis manis sepah dibuang begitu saja seperti ini. Meskipun dia tidak komplain sedikitpun.”

“Hyung..aku..” ucapnya yang langsung ku potong. “Cukup. Aku tak mau mendengar pembelaan apapun. Karena yang kau katakan hanya excuse semata. Kalau aku jadi Jiyong, aku pasti menghajarmu habis-habisan karena telah menghianatinya. Tapi kurasa dia sudah sedikit memberi mu pelajaran meski tak sebanding.” ucapku menunjukkan kondisinya saat ini.

“Begitu halnya Jiyong. Aku pun hanya bisa menawarkan relasi sebagai rekan kerja sekarang. Sebagaimana kamu memutuskan hubungan kalian. Dia menolak bertemu denganmu dalam hal apapun. Bisnis restaurant dia berikan sepenuhnya untuk kau kelola.

Dia tak akan ikut campur sedikitpun lagi. Dia hanya menarik akses aset dan black cardnya darimu. Selebihnya kamu bisa memiliki yang telah dia berikan kepadamu. Kurasa yang dia berikan padamu selama ini sudah sangat lebih dari cukup. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Namun ingat ini baik-baik Seungri. Suatu saat kamu akan menyesal.”

Dia terbelalak. Tertegun. Bimbang dan tertekan.

“Tapi hyung… Apanya sebenarnya yang kuputuskan jika sejak awal kami tak memiliki hubungan seperti itu??” ucapnya desperate. “Lagi pula kita hidup dinegara yang tak menerima hubungan macam ini hyung… kau tak mengerti perasaanku!! Aku tak mau mengecewakan orang tuaku hyung, kau juga tahu bagaimana orang tauku hyung… Tolong mengertilah..” ucapnya makin terpuruk.

“Asal ada niat dan tekad apapun bisa. Silahkan kamu mencari pembelaan untuk mendukung opinimu sendiri. Kamu bukan bayi kemarin sore yang tak bisa memahami arti seseorang dalam hidupmu. Kamu bukan remaja ababil yang memuja deklarasi. Ngocoks.com

Kamu bukan a boy yang tak bisa apa-apa, you are a man for fuck sake Ri!!!! Jangan bicara tentang hal ga bermutu seperti itu didepanku. Aku tahu sebagaimana kamu. Jika mau menipu diri sendiri silahkan. Tapi fakta yang jelas yaitu kalian lebih dari itu semua. Kalian memiliki ikatan emosional yang kuat.

Dan kamu jelas tahu apa maksudnya itu. Tak perlu mencari-cari pembenaran diri. Yang sudah terjadi sudahlah. Aku tak akan mengatakan lebih lanjut lagi. Kita semua sama-sama tahu. Aku cuma bisa bilang semoga kamu tak menyesali keputusanmu.”

Setelah mengatakan itu aku meletakkan gelas wineku dan berjalan pergi. Kulihat wajahnya begitu kacau. Akupun tak bisa berbuat apapun. Inilah jalan yang dia pilih sendiri. Aku tak bisa ikut campur urusan diantara mereka ini lebih jauh lagi. Meski jujur aku sangat kecewa. Seperti aku pun ikut terluka.

Aku tahu setelah ini tak akan ada lagi senyum sumringah Jiyong, tak akan ada lagi keributan bagai Tom and Jerry antara keduanya yang selalu sukses membuat kami yang berada disekitar mereka gemas sendiri dan ikut merasakan kebahagiaan cinta kasih mereka.

Aku bukan type orang yang religius, tapi aku tak bisa untuk tak berpikir ‘skenario Tuhan memang lah misteri dalam kehidupan’.

Tak terpikirkan olehku pasangan yang belasan tahun bersama bagai tak terpisahkan oleh apapun jua kini bisa bercerai berai begini dalam sekejab.

Sungguh Tuhan… Sebenarnya apa rencana-Mu??

Bersambung… Hari ini adalah hari yang telah ditunggu-tunggu oleh seluruh keluargaku. Hari pernikahanku dengan seorang yeoja cantik dan baik bernama Yoo Hye Won. Ibuku sangat menyukainya. Hingga memaksaku untuk segera menikahinya.

Sebenarnya awal pertemuan kami juga tak disengaja. Dia adalah teman dari salah satu temanku. Seperti kebanyakan para teman-teman wanitaku yang lain, awalnya aku hanya bermain-main dengannya. Bukan hal baru dijagat tanah industri hiburan jika aku dikenal sebagai seorang yang playboy.

Entah bagaimana aku merasa sosok Hye Won dimataku sangatlah berbeda. Dan itulah yang membuatku tertarik padanya. Hari demi hari kami lalui dengan mengobrol-ngobrol ringan sampai menumbuhkan rasa nyaman dihatiku.

Aku merasa banyak kecocokan diantara kami berdua. Sampai akhirnya aku mencoba memulai suatu hubungan khusus dengannya.

Sengaja aku tak begitu mengumbar kemesraan kami selain karena aku tak ingin seseorang mengetahuinya terlebih dahulu, aku mungkin juga masih belum memiliki keyakinan tentang hubunganku dan Hye Won ini mau seperti apa.

Main-main seperti sebelum-sebelumnya atau bagaimana. Entahlah… Hatiku terus mengatakan bahwa aku memiliki hati yang harus terus kujaga.

Mungkin karena itulah mengapa hatiku selalu memperingati diriku sendiri bahwa aku tak ingin menyakitinya dan apa yang aku lakukan ini salah terhadapnya.

Tapi disisi lain hatiku berontak selalu meneriakkan pada logikaku bahwa kami tak memiliki ikatan apapun yang harus membuatku merasa bersalah tentang hubunganku dan Hye Won.

Lagi pula kami sama-sama namja, mau dibawa kemana memangnya hubungan seperti itu. Terus saja hatiku bergelut dengan pro dan kontra sampai akhirnya orang tuaku mengetahui hubunganku dengan Hye Won ini.

Terutama ibuku, tanpa sepengetahuanku beliau sudah menyelidiki latar belakang Hye Won. Dari situlah, ibu memaksaku untuk segera menikahinya. Dengan berderai air mata dia menjelaskan keinginannya.

“Nak, semua orang tua pasti menginginkan anaknya bisa hidup bahagia. Begitu juga ibu. Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu. Dan ibu yakin Hye Won adalah wanita yang tepat untuk mendampingimu. Ibu yakin dia mampu menjadi istri dan ibu yang baik untukmu dan anak-anakmu kelak.

Nak, kami, ibu dan ayahmu sudah tua. Umur kami tidaklah panjang. Kami ingin segera menimang cucu sebelum kami dipanggil. Hanna adikmu masih sekolah, perjalanan masa depannya masihlah panjang, kami tak tahu sanggupkah umur kami menunggunya sampai waktu itu tiba.

Disini harapan kami untuk mewujudkan impian kami ini hanyalah kamu. Kami harap kamu bersedia mempertimbangkannya…” Anak mana sih yang tidak merasa trenyuh ketika mendengar permohonan orang tuanya seperti itu??

Begitu pun denganku. Berdasar dari itu dan perasaan yang saat ini kumiliki pada Hye Won juga pertimbangan norma sosial, aku mulai membulatkan tekadku mengambil keputusan.

Aku tahu keputusanku ini pastinya akan sangat menyakitkan seseorang yang selama belasan tahun ini bersamaku, mendampingiku dalam suka duka, berkorban dan memberi segalanya untukku. Memang tidak mudah dan tidak adil. Tapi inilah keputusanku. Ku enyahkan segala pikiranku yang semakin semrawut. Semoga aku tak salah langkah.

Ku langkahkan kakiku mantap menuju altar. Berdiri diam menunggu wanita pujaanku. Aku tak berani mengedarkan pandanganku ke jajaran para tamu.

Kenapa??

Mungkin karena aku takut menemukannya disana. Atau mungkin aku takut melihat wajah terlukanya. Karena bagaimanapun kami sudah hidup bersama sekian lamanya. Naif jika sampai aku tak memiliki perasaan untuknya.

Tapi hatiku tak bisa berbohong bahwa aku membutuhkan kehadirannya saat ini. Kehadirannya adalah sumber kekuatan bagiku. Egois memang.

Lamunanku buyar ketika sang MC mengumumkan kedatangan calon mempelaiku bersama ayahnya.

Tuhann!! Betapa indahnya hasil karyamu ini. Dia berjalan begitu anggun dengan gaun putihnya bak bidadari turun dari langit berjalan kearahku. Sungguh mempesona. Taburan bunga dan tepukan tangan yang sangat meriah mengiringi langkah mereka.

Sampailah kami diupacara sakral kami. Aku begitu bahagia memilikinya. Senyum bahagia tak pernah lepas menghiasi bibirku begitupun dia. Sorakan dan tepuk tangan yang meriah berkumandang seperti merestui perhelatan kami ini.

Dan saat kami berbalik menunjukkan wajah bahagia kami dan rasa terima kasih kami pada para tamu yang menyaksikan uparaca kami barusan, saat itu lah aku melihatnya. Dia berdiri dijajaran meja tamu paling belakang, bertepuk tangan seperti tamu yang lainnya melihat kearahku.

Deg!

Jantung dan dadaku rasanya sakit dan sesak sekali.

Aku melihatnya berjalan menuju altar dengan langkah penuh percaya diri. Saat dia berdiri didepan altar menunggu mempelainya tiba, aku melihatnya tertegun sejenak. Aku tahu dia sedang memikirkan keputusannya ini. Setitik harapanku bahwa dia akan menyadari perasaannya dan segera membatalkan pernikahannya saat ini juga.

Namun naasnya ini adalah dunia nyata, bukan seperti kisah dongeng fairy tale yang mana sang pemeran utama akan berlari kepada cintanya setelah menyadari perasaannya dan berakhir berbahagia bersama. No fuckin’way ini akan seperti itu. Wake up mennn, ini lah fakta. Terima aja woe!!

Tak terasa lonceng altar nyanyian penyambutan sang mempelai tiba berbunyi. Kulihat raut wajah sosok namja terkasihku yang sedari tadi kuamati perlahan mulai merona bahagia, terlihat jelas terpesona dengan wanita yang saat ini berjalan menghampirinya.

Sakiiittt. Teramatt menyakitkan.

Sampai detik ini aku masih belum bisa berhenti bertanya-tanya pertanyaan yang sama berulang-ulang.

Kenapa kau lakukan ini padaku baby??

Apa salahku padamu??

Semakin hancur ketika kamu mengikrarkan sumpah setiamu dan berkata “I do” padanya dialtar itu dengan lantang tanpa keraguan sedikitpun.

Apakah sebenarnya sejak awal tak ada artinya diriku bagimu selama ini??

Sehingga kamu tak memikirkan perasaanku begini. Aku pun sekarang juga menyangsikan adanya keberadaanku di pikiran dan hatimu selama ini.

Aku terus berpikir. Kesalahan apa yang telah kuperbuat padamu hingga kamu menyakitiku seperti ini. Tidak puas hanya dengan memintaku merelakanmu, kamu pun memintaku menyaksikan pernikahanmu. Sebenarnya sebesar apa kesalahanku sehingga aku pantas mendapatkan hukuman darimu seperti ini??

Selama ini aku tak pernah mempermasalahkan gaya hidupmu yang glamour berbranded, sering berpesta, bermain-main dengan banyak wanita. Aku malah memfasilitasimu dengan kesenanganmu tersebut.

Kamu mau apapun aku tak pernah mengatakan “No” padamu. Kamu ingin membangun usaha, label DJ, dan lain sebagainya aku dukung penuh memberikan yang kupunya padamu. Aku tak memikirkan untung ruginya apapun itu asal kamu bahagia.

Mereka bilang kamu memanfaatkanku, kamu memeletku, guna-guna lah segala macem aku tak peduli. Kututup kudua mata dan telingaku pada itu semua.

Kugunakan mataku hanya untuk melihatmu seorang, kugunakan telingaku hanya untuk mendengarkanmu seorang. Aku tak peduli mereka mengatai cintaku padamu adalah cinta buta. Karena yang kurasakan adalah perasaan tulus benar-benar sangat mencintaimu. Sungguh mencintaimu.

Kutelan mentah-mentah rasa sakit yang kurasakan saat kamu bermain-main dibelakangku selama ini. Tapi kali ini, aku tak sanggup melakukannya. Aku memang tak peduli kamu menginjak-injak hati dan harga diriku sampai seperti itu selama ini. Karena bagiku yang terpenting kamu masih ada disampingku, menyayangiku.

Cerita Dewasa Ngentot - Love Story
Tapi kurasa pikiranku salah, aku terlalu naif dengan semua perlakuanmu padaku. Kamu yang kupikir peduli padaku, nyatanya tega menyakitiku. Kamu yang kupikir menyayangiku ternyata tega menghianatiku. Kamu yang kupikir mencintaiku ternyata tega melakukan ini semua padaku tanpa memikirkan perasaanku sedikitpun.

Sebenarnya kurang apa aku padamu??

Dan ketika rasa sakit, kecewa dan marah kembali melingkupiku kamu perlahan menatapku. Aku tahu itu dalam moment ketidaksengajaan. Karena memang dari awal kamu tak berniat melihat sekelilingmu.

Kamu terlihat fokus diacaramu ini dan istrimu kini. Dan saat tanpa sengaja arah pandangmu jatuh padaku, aku bisa dengan jelas menangkap wajah terkejutmu.

Kenapa jagi?

Apa kamu tak menyangka aku datang ke acaramu?

Apa kamu terkejut melihatku yang dengan tenang menyaksikan siksaan yang kau berikan padaku ini?

Apa dengan begini kini kamu sudah benar-benar bahagia jagi?

Sudah puaskah dirimu menyakitiku seperti ini?

Tahukah kamu jagi? Rasanya aku sudah tak mampu lagi menahan tubuhku agar tak ambruk saat ini karena kakiku tak mampu lagi rasanya menopang hatiku yang hancur lebur seperti butiran debu begini.

Wajahku sudah kram mempertahankan tampang datar nan tenang. Namun aku terus mencoba bertahan hingga sesi kedua acaramu. Kamu dan dia terlihat bahagia memakai pakaian baru dengan bergandengan memasuki altar kembali. Iring-iringan nyanyian romantis, tepuk tangan dan sorak sorai riuh menyambut kalian.

Sesi foto-foto dan ucapan selamat sudah mulai digelar. Kuperhatikan semua dari kejauhan sambil menikmati wine yang kusambar dari nampan salah satu waitress yang kebetulan berjalan didepanku.

Kulihat orang tuamu dan dia berpose sangat bahagia dengan kalian dipodium. Menerima ucapan selamat dengan suka cita tiada tara. Ahh… Sungguh potret yang sangat indah. Ngocoks.com

Akupun jadi berpikir, akankah orang tua kita akan berekspresi seperti itu jika itu kita yang menikah??

Hahaha.. Aku hanya bisa tertawa miris.

Kulangkahkan kakiku menuju tempatmu berada. Kusalami keluargamu seperti biasanya. Aku tak mendengarkan basa basi dari ibumu, aku hanya mampu memberinya senyum simpul dan pelukan seperti biasa. Saat aku tiba dihadapanmu, aku bisa melihat gerak gerikmu yang canggung. Tapi maaf jagi, aku sudah muak dengan semua ulahmu.

Dan layaknya seorang yang profesional aku memberimu ucapan selamat beserta jabat tangan seperti rekan kerja. Aku tahu kamu terkejut dengan sikapku. Mau bagaimana, ini adalah resikonya jagi.

Kamu yang mengakhirinya jagi. Jangan salahkan aku. Dan aku tak sebodoh itu jika sampai kamu berharap setelah ini semua perlakuanku padamu akan tetap sama. Kita sama-sama tahu jagi.

Kamu yang membuatku kembali dingin bertambah semakin dingin. Berharap saja aku tak akan berubah menjadi jahat. Karena apa jagi? Karena luka yang kamu torehkan teramat sangat.

Kulangkahkan kakiku dengan tegap menjauhimu. Tanpa keraguan sedikitpun seperti yang kau lakukan tadi, aku berjalan dengan penuh harga diri kembali dengan sorot mata penuh kemantapan dan keyakinan penuh.

Aku mungkin memang tak mampu memunguti serpihan hatiku yang sudah lebur tertiup angin. Tapi aku tak akan tunduk padamu lagi. Ataupun pada apa itu yang namanya cinta.

Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Dan ku harap kamu jangan sampai memancingku menjadi jahat setelah ini. Karena jika sampai itu terjadi, aku tak yakin jika aku mampu menahan diriku untuk tak berlaku kejam pada siapapapun, termasuk kamu, bahkan keluargamu sekalipun.

Ingat jagi, apapun dan bagaimana aku setelah ini adalah hasil perbuatanmu sendiri.

Bersambung… Satu tahun lebih setelah pernikahanmu kita sudah tak pernah bertatap muka langsung. Aku memang sengaja menghindarimu. Aku tak sanggup merasakan sakit yang lebih lagi.

Selama setahun setelah pernikahanmu itu, sosial media, majalah dan berita di infotainment terus menyorot kehidupan bahagiamu dengannya.

Tak heran jika aku menjumpai foto-foto kemesraan kalian dimana-mana sampai banyak yang memberikan taggar pada akunku. Hahh… Apa kau tahu bagaimana rasanya itu? Rasanya tuh seperti penyakit kronis yang sangat menyakitkan menggerogotiku secara perlahan.

Kau tahu bagaimana big bro selama setahun itu melihatku? Aku tahu meski dia tak mengucapkan apapun matanya syarat akan kekawatiran dan kesedihan yang mendalam melihat kondisiku.

Yang membuatku selalu ketawa adalah tingkah-tingkah konyolnya yang selalu dia lakukan untuk menghiburku. Jujur aku terhibur dengan perhatian diam-diamnya itu, dan aku sangat bersyukur akan hal itu.

Aku bersyukur masih memilikinya disampingku. Ku dengar juga beberapa kali kamu mencoba menemuiku tapi selalu dicegat olehnya.

Ahhh… aku makin bersyukur deh memiliki big bro yang sangat bisa kuandalkan dan mengerti aku. Sampai akhirnya kamu dan dia beradu argumen agak panas yang membuatmu akhirnya berhenti berusaha menemuiku.

Tak lama jagat hiburan heboh dengan berita kehamilan istrimu. Tuhan… kurasa pil yang kau berikan semakin pahit rasanya. Apa yang bisa kulakukan selain menerima pil itu dan menelannya bulat-bulat??

Dan sampailah di insiden naas saat itu. Saat tanpa sengaja kita berada dalam satu pesta yang sama. Didepanku kamu beradegan begitu mesra dengannya.

Dengan hati-hati dan penuh sayang kamu memperlakukan istrimu yang sedang hamil anakmu, mengajaknya berdansa dengan bahagianya seakan disitu hanya ada kalian berdua, dan terakhir ciuman panasmu dengannya membuatku hampir kalap.

Padahal kamu tahu aku ada disitu. Big bro senantiasa mencengkram bahuku berusaha menyalurkan kekuatan padaku juga mencoba menenangkanku. Setelah berbasa-basi dengan beberapa tamu bisnis aku pamit mundur meninggalkan big bro mewakiliku. Meninggalkanmu yang berusaha mencari celah menghampiriku.

Kuputuskan untuk menyetir mobilku sendiri malam ini. Aku butuh space sendiri dan udara segar. Tanpa sadar aku memacu kendaraanku dengan kecepatan diluar batas wajar saking frustasinya karena semrawutnya pikiran dan hatiku. Dan…

BAMMMM!!!!

Kecelakaan naas itu tak terelakkan. Semua terasa menyakitkan, namun tak sesakit hatiku. Duniaku serasa berangsur-angsur menggelap. Bisa kudengar huru hara disekitarku sebelum mataku benar-benar tertutup. Ahh… apakah ini akhir hidupku?

Apakah ini akhir dari penderitaanku? Sungguh Tuhan Engkau baik sekali. Engkau sangat tahu bahwa aku sudah tak sanggup lagi menahan penderitaanku ini. Dengan begini akhirnya aku bisa benar-benar merelakanmu Seungri-ah.

Saranghaeyo… Goodbye my love…

“Brengsek!!! Kenapa bisa jadi begini!!! ARRGHH!!”

BANG! BANG! BANG!

Aku memukuli tembok rumah sakit tepatnya didepan ruang operasi Jiyong. Saat aku mendengar kabar kecelakaan yang dialaminya dimana aku masih diacara pesta yang beberapa saat lalu ditinggalkannya.

Saat itu aku sedang berbicara dengan dua orang rekan bisnis ketika menerima nomor telepon tak kukenal yang ternyata mengabarkan tentang kecelakaan Jiyong. Aku sampai tak menyadari kalau Seungri sudah berada disamping ikut mendengarkan percakapanku.

“Maaf, saya permisi dulu.” pamitku segera pada rekan bisnisku tersebut. “Hyung, tunggu. Ada apa dengan Jiyong hyung??” tanyanya sambil mencekal lenganku mencegatku.

Wajahnya terlihat jelas diliputi kekawatiran. Tapi aku tak ambil pusing. Dengan sekali hempas kukibaskan cekalannya dan pergi. Aku tiba dirumah sakit tepat saat Jiyong turun dari ambulance.

Ohh GOD!!!!! Aku kaget bukan maen ketika melihat wajah jiyong dan seluruh tubuhnya sudah tak terlihat jelas. Seluruh tubuhnya dibanjiri darah segar.

Aku sampai hampir tak mengenalinya. Petugas dan aku pun segera berlari membawa Jiyong ke IGD, tak kupedulikan teriakan frantikku yang super panik menggema dilobby rumah sakit memanggil-manggil dokter.

“HYUNGGG!!!”

Tiba-tiba aku mendengar teriakan histeris dari arah belakangku saat kami sibuk melarikan Jiyong. Entah sejak kapan Seungri mengikutiku. Aku tak ambil pusing meski rasanya ingin kutendang, tak kepedulikan wajah kacaunya yang panik dan berderaian air mata. Yang terpenting sekarang adalah Jiyong.

Setelah Jiyong masuk ruang operasi disitulah emosiku pecah. Perawat dan dokter lalu lalang keluar masuk dengan tergesa. Sempet kudengar kata-kata dari mereka

“Dok, jantung pasien melemah! “Dok, tekanan darahnya menurun drastis! “Dok, pasien menolak bantuan oksigen!

Dan masih banyak lainnya yang berakhir terdengar bunyi yang sangat nyaring dari dalam.

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttt!!!!

“Noooooooo!!!!!!!” jerit Seungri pilu hingga terkulai ke lantai.

“Shitt!!!” umpatku frustasi.

Aku mengacak-acak ramputku sambil menendangi kursi tunggu didepanku. Sampai salah seorang perawat keluar kutarik kerahnya, kucengkram kuat-kuat…

“Brengsek!!! Jangan sampai kau berani mengabarkan hal buruk padaku!! Jangan sampai mengatakan yang tidak-tidak bangsat!!! Lakukan tugasmu dengan baik, selamatkan dia bagaimanapun caranya atau kuhabisi kalian semua!!!” makiku padanya yang berusaha berontak.

“Tu-tuan te-tenanglah, kami sedang melak-kukan yang terbaik!!” ucapnya kesusahan sampai kami dilerai beberapa perawat sambil menjelaskan keadaan didalam.

Amarah dan kekawatiranku belum hilang. Rasanya mau meledak. Keadaan Jiyong didalam sana yang belum jelas kepastiannya bagaimana membuatku kian depresi.

Hatiku terus berdoa semoga yang kudengar tadi bukan beneran semoga Jiyong mau kembali, aku terus berdoa dalam hati. Pandanganku jatuh pada Seungri yang masih berada dilantai.

Dengan langkah tergesa aku menghampirinya, kutarik kerahnya sampai berdiri. Dia terlihat tak peduli masih tenggelam dalam kekacauan pikirannya sendiri.

“Brengsek kau LEE SEUNGRI!!!”

Bammm!! Bamm!! Bammm!!

Aku menghajarnya habis-habisan. Dia tak melawan sedikitpun. Hanya terus menangis kacau penuh penyesalan dan kesedihan.

“Ini semua gara-gara KAU BANGSAT!! Bamm!! Lihat apa yang telah kau lakukan hahhh!!! Akibat dari keegoisanmu brengsek!!! Bamm!!” aku terus memukulinya sambil memakinya tanpa henti.

Beberapa orang datang mencoba melerai kami.

“Tuan!! Tolong hentikan! Ini dirumah sakit!!” begitu teriakan mereka.

“Bawa BANGSAT ini pergi dari sini!!!Atau akan kuhancurkan wajahnya!!” teriakku penuh emosi. Aku yang selalu bisa tenang dalam segala situasi, kali ini aku tak mampu menahan diri.

“Mianhae… Hiks. Mianhae hyung.. Hiks.. Please, ijinkan aku tetap disini hyung.. Hiks.. Aku tak bisa meninggalkan Ji hyung.. ” lirihnya hancur lahir batin.

“Terlambat. Kau sudah tak ada hak disini. PERGI dari sini!!! Jangan pernah menampakkan mukamu lagi. Aku MUAK melihatmu!! ENYAH dari hadapanku Tuan Lee. Atau akan kuhancurkan seluruh keluargamu yang kau agungkan itu, kau PAHAM!!!” bentakku menggelegar sambil berusaha meraihnya untuk menghajarnya kembali.

Tapi sayang, aku dipegangi oleh beberapa orang. Dan akhirnya Seungri pergi diseret paksa oleh beberapa security.

“No no!! Lepaskan aku!! Aku ingin tetap disini… Ku mohon!! Aku ingin tetap bersama Ji hyung… Ku mohonn!!” rontanya sambil memelas tapi tak diindahkan oleh para security yang menyeretnya.

Beberapa jam kemudian dokter keluar dari ruang operasi mengabarkan kondisi kritis Jiyong. Kemungkinan kalau dia selamat, maka akan mengalami koma. Dan dokter tak bisa memastikan kapan Jiyong bisa terbangun. Hancur sudah seluruh hatiku mendengarnya.

Setelah itu aku mengabari orang tua Jiyong mengenai keadaannya, minus penyebab pastinya. Aku hanya menjelaskan kronologi kecelakaannya tanpa menceritakan beban hatinya.

Dan benar saja, Jiyong memang bisa melewati masa kritisnya, tapi dia jatuh koma. Tanpa banyak perdebatan keluarganya memutuskan membawa Jiyong untuk dirawat diluar negeri.

Aku pun sangat mendukung itu. Apapun yang terbaik untuk kesembuhannya. Disana aku yakin peralatannya lebih lengkap dan lebih canggih untuk mendukung agar Jiyong bisa lekas pulih. Ngocoks.com

Sementara perusahaan disini diambil alih oleh kakaknya dan aku. Selama setahun dia koma, aku sering mengunjunginya disana. Seungri tak henti-hentinya mencariku untuk menanyakan Jiyong.

Tapi aku sudah tak sudi melihatnya. Keadaan Jiyong memang sangat dirahasiakan. Tak ada yang tahu detail pastinya meskipun orang-orang kantor kami sekalipun. Media hanya tahu jika Jiyong dirawat di luar negeri.

Karir Seungri semakin merosot. Banyak nitizen yang menyalahkan kejadian yang dialami Jiyong adalah karenanya. Nitizen-nitizen ini adalah para fandom yang mendukung kedekatan mereka dulu. Hidup sebagai publik figure tentu saja harus siap akan mendapat spekulasi-spekulasi yang aneh-aneh dari fans.

Apalagi Jiyong sebagai komposer yang sangat digilai penggemarnya karena karyanya yang selalu fenomenal serta ketampanan dan kejeniusannya dibidang musik. Sedang Seungri penyanyi yang sangat diidolakan mereka. Tak heran jika muncul spekulasi mengenai kedekatan mereka.

Apa lagi mereka berdua memang sejak awal tak pernah menutupi interaksi kedekatan mereka. Maka muncullah fandom-fandom yang mendukung kedekatan mereka tersebut. Fanbase terbesar yang pernah ada, yang mereka sebut Nyongtory.

Memang sejak Seungri memutuskan menikah, para fandom ini sudah mulai membully Seungri. Ditambah kejadian Jiyong kemarin semakin menyulut kemarahan mereka padanya. Mau tak mau ini berakibat buruk pada karir dan bisnisnya.

Karirnya kian merosot. Ditambah performanya yang tidak stabil memperburuk keadaan. Kudengar slentingan bahwa dia sering hilang fokus atau sulit berkonsentrasi sekarang. Bisnisnya makin berantakan. Rumah tangganya diterpa prahara ketika istrinya mengalami keguguran.

Saat aku diberi kabar tentang itu semua, aku jujur tak tahu harus bersikap bagaimana dan harus merasa apa. Disisi lain bagian hatiku yang masih merasa sebagai hyungnya, aku merasa kasian dan miris. Disisi lain hatiku yang terlanjur kecewa sudah tak mau ambil pusing.

‘Apakah ini yang mereka bilang bahwa Tuhan itu tidak tidur?? ‘Apakah ini karmanya?

Ya sudahlah, positifnya aku tak perlu capek-capek turun tangan mengotori tanganku sendiri memberinya pelajaran. Ternyata Tuhan sudah bertindak terlebih dahulu. Lagian aku rasa, aku tak akan sanggup melakukan itu padanya. Aku sudah cukup memberinya pelajaran saat dirumah sakit waktu itu.

‘Tuhan.. Jika Engkau memang seluar biasa itu. Ku mohon berikanlah mukjizatmu untuk dongsaengku pabo Jiyong-ah. Dia sudah cukup menderita lahir batin.

Ku mohon berikanlah dia kesempatan untuk bahagia… Jika memang bahagianya adalah disampingmu,…. Aku.. Aku harus bagaimana? Menyakitkan memang untuk merelakannya, tapi jika itu bisa mendamaikan hati dan jiwanya aku bisa apa. Yang kuharapkan hanyalah dia bisa bahagia. Bantulah aku mengikhlaskan… ‘ batinku dalam hati.

‘Apakah seperti ini yaa rasa yang Jiyong rasakan ketika Seungri meminta merelakannya…

Tak terasa air mataku mengalir selama memanjatkan doaku tersebut. Bagaimana tidak, aku tak pernah menyangka kehidupan dua orang dongsaeng yang sangat kusayang, Jiyong dan Seungri akan berakhir setragis ini.

Bersambung… Jika mereka bilang aku bahagia dengan kehidupan rumah tanggaku, mereka tak sepenuhnya salah. Aku memang bahagia, terutama melihat betapa bahagianya ibuku. Meski sebagian hatiku hampa, aku berusaha untuk tak mempedulikan itu.

Tapi rupanya cukup sulit kala apapun yang ada disekitarku mengingatkanku padanya. Jalan yang kulewati, makanan kesukaannya yang sudah menjadi favoritku juga. Barang yang kumiliki sebagian besar adalah dari Jiyong.

Bahkan bisnisku sekalipun. Tidak mudah melepaskan diri dari bayang-bayangnya. Sebenarnya aku punya apa?? Adakah yang benar-benar murni dariku sendiri??

Namun lagi-lagi aku memilih egoku. Kutepis segala pikiran apapun tentangnya. Rasa bersalah, menyesal dan lain sebagainya ku kubur dalam-dalam. Semua sudah terlanjur. Aku tak bisa mundur, apa lagi kini aku sudah menikah. Aku berusaha hidup senormal mungkin dengan kehidupanku sekarang meski banyak mendapat cacian. Bukankah ini yang kuharapkan??

Iya. Harusnya.

Tapi hatiku ternyata jauh lebih tahu daripada aku sendiri. Setiap ke agensi atau kemanapun aku pergi, aku berharap bisa bertemu dengannya. Meski hanya dari jauhpun tak apa. Karena aku tahu aku sudah tak bisa menemuinya lagi. Dan itu adalah salahku sendiri. Aku tak bisa memungkiri hatiku yang tersiksa rindu.

Dulu aku berpikir aku pasti bisa mengatasi itu. Tapi ternyata betapa naifnya aku. Aku masih tak mampu melepasnya dari pikiran dan hatiku. Setiap waktu aku merindukannya.

Meski istriku selalu bisa menghiburku, ditambah kehamilannya yang membuatku gembira, tapi itu tak cukup mampu mengalihkan hatiku. Aku baru sadar, yang aku miliki saat ini hanyalah kebahagiaan semu. Sedang aku telah melepas kebahagiaan abadiku.

Lalu apa yang bisa kulakukan sekarang? Semua sudah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur. Hanya menjalani pilihanku ini dengan sebaik-baiknya adalah cara untuk menebus penyesalanku.

Mungkin memang aku tak pantas bersamanya, dia terlalu baik, tapi membayangkannya dengan orang lain membuat dadaku ngilu. Jika aku saja merasa begini hanya dengan membayangkan, apa kabar dia kemarin yang menyaksikanku??

Tuhannn!!!! Betapa kejamnya aku!!!

Sudahlah. Aku harus bisa melupakannya. Harus.

‘Ayolah Lee Seungri. Kamu pasti bisa. Lihat wajah bahagia ibumu dan istrimu. Lihatlah kedepan bagaimana calon penerusmu tertawa bahagia. Hanya itu yang perlu kau ingat terus diotakmu yang sempit itu!!!!’ kata-kata itu yang selalu aku teriakan dalam hati dan kepalaku setiap kali aku mulai goyah.

Aku tahu ayah selama ini memperhatikanku dari jauh. Tapi beliau tak pernah mengatakan apapun padaku. Dan akupun tak tahu harus bilang apa seandainya dia bertanya padaku. Tapi entah mengapa, jauh didalam lubuk hatiku aku merasa ayah tahu semuanya.

Beliau memang tak berkomentar atau bertanya apapun, tapi sorot matanya seperti bisa menembus diriku jauh kedalam bilik hatiku yang berusaha kukunci. Dan aku hanya bisa membalasnya dengan tersenyum “Gwenchana, aku baik-baik saja ayah tak perlu kawatir”.

Dan malam itu, aku melihat Jiyong dipesta. Sebenarnya aku tahu dia bakal datang, aku sudah mencari tahu terlebih dahulu. Dengan segala cara aku berusaha untuk bisa hadir juga dipesta tersebut hanya untuk bisa bertemu dengannya.

Tapi yang kuterima adalah kekecewaan dan terluka ketika dia mengacuhkan keberadaanku. Dia sama sekali tak melihatku, bahkan aku bisa merasakan kalau dia tak menganggapku ada. Emosiku mulai tak stabil, akhirnya aku melampiaskan dengan mencium istriku dilantai dansa.

Untung aku segera sadar kesalahanku, segera kuakhiri sesi ciumanku dan mengedarkan pandanganku mencarinya. Ketika kenihilan yang kudapat, hatiku benar-benar hancur, kecewa dan marah pada diriku sendiri. Menyesal dengan perbuatanku sendiri. Betapa bodohnya aku!!!!

‘Pobo kau Seungri!!!! Bodoh!!! Apa yang telah kau lakukan hahhh???!!!! Mau sampai kamu akan terus menyakitinya hahh???!!! Pantas saja dia tak mau melihatmu lagi bodoh!!!’ umpatku pada diriku sendiri.

Aku segera mendekat ke Big hyung untuk mancari informasi mengenainya. Tapi yang kudengar diluar ekspektasiku. Duniaku seperti tersambar petir yang maha dasyat.

Jantungnya rasanya berhenti berdetak saat aku tak sengaja mendengar Big hyung terkejut saat seseorang mengabarkan bahwa Jiyong mengalami kecelakaan barusan. Pikiran buruk melingkupi hati dan pikiranku membuat tubuhku tanpa sadar bergetar.

Tanpa banyak babibu, aku meninggalkan istriku dipesta memintanya pulang sendiri dengan sopirku. Aku segera berlari mencegat taxi mengikuti mobil Big hyung.

Dan betapa duniaku benar-benar hancur ketika melihatnya terkulai mengenaskan memasuki ruang operasi. Pikiranku blank. Hatiku hancur lebur. Aku tak tahu harus apa atau bagaimana yang ada hanyalah ketakutan yang tak berujung berusaha menelanku hidup-hidup.

‘Aku takuuttt Tuhan!!! Sungguh takuttt!!!! Kumohon jangan ambil dia Tuhann!!! Kumohon hukumlah aku, lakukan apapun padaku, asal jangan kau ambil dia Tuhan!!!! Kumohon jangan ambil dia dariku Tuhann!!!! Jangannn!!!!!!’ teriakku histeris dalam hati.

Ketika suara lengkingan monitor serambi lempitik nyaring menandakan hal buruk terjadi pada Jiyong. Hancur sudah pertahananku. Aku tak sanggup. Sungguh tak sanggup. Kalau tahu begini jadinya, aku akan melakukan apapun untuknya. Aku menyesal sungguh amat sangat menyesal.

“Nooooooooo!!!” lolongku menyakitkan.

‘Oh Tuhan!!! Aku lah yang bersalah disini. Kenapa kau lakukan ini semua padanya. Apakah ini caramu membalasku???? Jangan kumohon jangannn…. Lakukan apapun padaku, hukum aku seberat apapun yang Kau mau, tapi jangan ambil dia Tuhan!!! Aku sungguh sangat mencintainya. Aku sangat mencintainya Tuhannnn.

Kumohon jangan lakukan ini padaku, jangan yang ini. Jangan Dia. Ambil apapun dariku tapi jangan dia Tuhan. Aku akan menebusnya dengan mengganti nyawaku untuknya, akan kulakukan apapun, tapi jangan pernah mengambilnya. Biarkan dia hidup Tuhan. Karena dia adalah hidupku. Kumohon. Ini permintaan terakhirku.’

Tak kupedulikan Big hyung menghajarku habis-habisan. Rasa sakitnya tak setara dengan rasa sakitku menyadari aku telah menyakiti Jiyong sedemikian rupa. Rasa sakitnya masih kalah dengan rasa menyesalku yang tak ada ujungnya.

Keinginanku hanya satu. Berada disampingnya, berada disisi Jiyong. Hanya itu satu-satunya yang aku inginkan. Aku tak menginginkan apapun.

Tak peduli jika dengan itu aku akan di benci, dicaci, dimaki atau bahkan menghancurkan hati ibuku. Aku hanya ingin bersamanya. Aku hanya ingin dia. Bodohnya aku menyadari ini semua saat aku sudah kehilangan segalanya.

‘Bodoh!!! Bodoh!!! Bodoh!!!’

Aku pulang dengan keadaan sangat kacau, aku hanya meringkuk dikamar tak mau menemui siapapun. Aku tahu aku membuat keluarga dan istriku kawatir, tapi aku sudah tak mampu lagi menahannya. Ketika aku mendengar Jiyong selamat tapi mengalami koma. Aku terus mencari informasi tentangnya seperti orang gila.

Berkali-kali aku diusir bahkan dihajar oleh bodyguard Big hyung karena memaksa untuk masuk. Sungguh hidupku hancur. Hariku kujalani seperti mayat hidup. Beberapa kali aku berniat mengakhiri hidupku, namun aku belum bisa sebelum meminta maaf pada Jiyong.

Aku sudah tak mempedulikan apapun disekitarku. Karir, bisnis, keluarga, ayah, ibu, bahkan istriku sendiri sekalipun. Karena semakin hari rasanya aku semakin asing dengan sosok istri dan keluargaku sendiri. Ditambah kabar buruknya istriku keguguran semakin membuatku terpuruk.

Aku sama sekali tak menyalahkannya. Aku lebih menyalahkan diriku sendiri. Karena semua itu terjadi karena kelalaianku sebagai seorang suami. Aku sudah tak sanggup berada disampingnya, rasanya sungguh sangat salah dan begitu menyakitkan. Aku bingung. Aku tak tahu harus berbuat apa.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tiba-tiba suara ayahku mengagetkanku.

Aku saat ini sedang dikantorku menatap jendela dengan tatapan yang tak bisa dijabarkan.

“Ayah? Ada perlu apa ayah kemari?” tanyaku mengalihkan. “Apakah mengunjungi anaknya sendiri harus ada alasan?” tanyanya balik.

Aku hanya memberinya senyum simpul dan mempersilahkannya duduk.

“Ayah mau minum apa?” tawarku. “Kamu terlalu banyak minum wine akhir-akhir ini. Aku tahu kamu tak begitu minum, apalagi wine.” ucapnya memulai pembicaraan.

Agak kaget sih, ternyata ayah memperhatikanku sampai sebegitu. Kuletakkan sebotol air mineral dingin didepannya. Aku tahu ini pilihannya, tanpa perlu berbasa-basi seperti tadi.

“Jika kamu sudah tidak sanggup menahannya, maka lepaskan.” lanjutnya.

Aku hanya melihatnya bingung dengan arah pembicaraannya. Berusaha menerka apa maksudnya.

“Aku ayah kandungmu, aku tahu apa yang terjadi dengan anakku. Setiap ayah menginginkan anaknya bisa hidup berbahagia. Bukan menyiksa diri. Lepaskan yang tak sanggup kau genggam, raihlah apa yang bisa membuatmu bahagia.

Apapun keputusanmu, lakukanlah sesuai keinginan hatimu. Dengarkan lubuk hatimu, Karena hatimu yang paling tahu jalan mana yang benar-benar kau inginkan, kau butuhkan, dan yang akan mengantarkanmu ke kebahagiaan sejati.”

“Ayah… “Mianhaeyo…mianhae ayah… ” Ucapku pasrah berlutut didepannya.

Karena aku tahu, dia tahu. Aku tak mampu menyembunyikan diriku lagi. Mungkin karena aku sudah teramat lelah. Amat sangat lelah hingga rasanya ingin menyerah. sumber Ngocoks.com

“Kejarlah kebahagiaan sejatimu nak. Sudah cukup kamu memikirkan dan berkorban untuk kami semua. Sekarang giliranmu untuk membahagiakan dirimu sendiri. Tak perlu kawatir setelahnya, percayalah, perlahan semua akan bisa menerima.”

Mendengar itu tangisanku semakin pecah, antara lega, bersyukur, bahagia, sedih, dan lain-lain bercampur menjadi satu hingga tak sanggup lagi kutahan. Aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya dipelukan ayahku.

Ternyata aku tak sendiri. Ternyata masih ada yang mengerti diriku. Ternyata masih ada yang menerimaku. Dan yang membuatku luar biasa karena itu tak lain adalah ayahku sendiri.

Keesokannya aku pulang, memang sudah cukup lama aku tak menapakkan kakiku dirumah. Aku lebih banyak berada diapartementku pribadi. Apartement yang dulu kutempati dengan Jiyong. Dan memang pemberiannya.

Sesampainya dirumah aku mulai membahas mengenai perpisahan dengan istriku. Aku berusaha sejujur mungkin mengatakan apa yang kurasakan, bahwa aku tak pernah mencintainya. Dan hatiku sejak awal sudah dimiliki oleh seseorang yang tak bisa kusebutkan.

Aku tahu aku jahat. Aku kejam. Aku tak punya perasaan. Tapi inilah fakta sebenarnya, yang baru benar-benar kusadari saat aku hampir kehilangan cintaku. Aku pantas menerima amukan kemarahan dari Hye Won. Aku terima tanpa mempertahankan diri. Karena aku tahu ini tak sebanding dengan rasa sakitnya.

“Percuma dipertahankan. Kita hanya akan saling menyakiti. Semua tak akan pernah bisa kembali seperti semula bagaimanapun itu. Karena saat ini aku sungguh tak memiliki belas kasih sedikitpun padamu.

Hatiku tidak disini, jadi aku tak akan bisa berada disini. Aku sudah lelah terus menerus membodohi diriku. Kamu pantas untuk bahagia. Dan itu bukanlah denganku. Maka dari itu kulepaskan kamu.

Atau disini akulah yang memintamu melepaskanku, yang mana saja boleh. Sekali lagi maafkan aku, sampai bertemu dipengadilan.” ucapku saat dia ngotot menolak.

Beberapa waktu kemudian akhirnya aku resmi bercerai dengannya. Ibuku orang kedua yang histeris mengenai perceraianku ini. Aku hanya bisa meminta maaf padanya sebelum benar-benar berjalan pergi. Ayah tak berkomentar apapun, hanya memberiku pelukan hangat dan senyuman menenangkan hatiku.

Ini memang sudah seharusnya diakhiri…

Bersambung… Aku menerobos masuk ke kantor Big hyung.

“Maafkan aku telah mengganggu waktumu hyung. Tapi aku janji ini yang terakhir. Jadi kumohon ijinkan aku berbicara denganmu sebentar saja” ucapku saat para bodyguardnya berusaha menyeretku keluar.

“Tinggalkan kami. ” perintahnya bada bawahannya. “Ada apa?” tanyanya to the poin.

Menyakitkan sih melihatnya sedingin ini padahal dia begitu hangat layaknya hyungku sendiri dulu. Ya mau gimana ini juga salahku sendiri.

“Aku tak akan bertanya lagi dimana Jiyong hyung berada. Aku juga tak akan meminta untuk menemuinya. Tapi setidaknya bolehkah aku tahu bagaimana kondisinya? Apakah dia sudah sadar dari komanya?” tanyaku tulus kawatir.

“Dia masih belum ada perubahan, masih tertidur. Dokter bilang kemungkinan dia menolak bangun.” jawabnya terlihat frustasi setelah diam beberapa saat.

Kulihat dia terlihat sangat sedih dan frustasi dengan keadaan Jiyong. Aku pun tak bisa untuk tak merasa semakin sedih dan teramat sangat menyesal.

“Hyung, bisakah aku meminta satu permintaan saja padamu. Satu saja, ini untuk terakhir kalinya. Aku meminta sebagai dongsaeng pada hyungnya sendiri. Tolong berikan suratku ini untuknya jika suatu saat nanti dia terbangun. Karena aku tahu aku tak akan pernah bertemu dengannya lagi.

Maafkan aku yang selama ini telah melukai dan mengecewakanmu dan Jiyong hyung. Aku tahu aku salah. Dan kesalahanku tak termaafkan. Aku janji akan menebusnya.

Terima kasih untuk segalanya hyung. Kau benar-benar telah menjadi hyungku. Kumohon jagalah Jiyong hyung. Setelah ini aku pun akan menjaganya dari jauh. Karena hanya itu yang bisa kulakukan sebagai bentuk rasa cintaku padanya.

Aku sangat mencintainya hyung. Bodohnya aku baru menyadari seberapa dalam dan pentingnya arti dirinya dihidupku saat aku kehilangannya. Maafkan aku hyung. Aku janji akan menepati semua ucapanku itu. Aku akan menebusnya.

Selamat tinggal hyung… Gomawwo for everything. ” ucapku lalu pergi setelah meletakkan sebuah amplop didepannya. Selama aku bicara dia sama sekali tak menyelaku. Aku sangat bersyukur. Mianhae hyungg… Gomawwo…

Kulajukan mobilku perlahan menyusuri jalan kenangan yang biasa kulewati dengan Jiyong. Kukunjungi setiap tempat favorit kami sambil mengenang masa indah kami.

Mobilku melaju semakin jauh semakin jauh hingga ketepian danau. Kunikmati hempusan semilir angin dimalam hari yang mungkin bagi sebagian orang cukup dingin, tapi bagiku menyegarkan.

Dirasa cukup aku kembali masuk mobilku. Kukunci rapat semua pintuku. Kunyalakan mesin mobilku perlahan mundur lalu maju dengan kecepatan penuh menembus pembatas.

Aku memang sudah merencanakan hari ini. Aku sudah mempersiapkan segalanya. Aku sudah mengurus pekerjaan dan bisnisku. Aku telah mengatas namakan ke ayahku. Jadi aku bisa pergi tanpa meninggalkan beban.

Jika memang aku tak bisa bersama orang yang kucintai didunia. Aku tak masalah menunggunya disana. Mungkin sekarang giliranku yang berkorban untuk menunggu kedatangannya. Aku akan dengan setia menunggumu hyung…

Tak perlu terburu-buru, karena aku sangat sabar menunggumu. Anggaplah penebusan dosa karena telah menyakitimu meski ini tak sebanding, tapi aku janji, setelah kita bertemu lagi akan kupersilahkan kau menghukumku sesuka hatimu.

Saranghaeyo Jiyong hyung… Goodbye my love…

Ada apa dengan panda ini?? Aneh sekali omongannya ini. Ada apa sebenarnya? Kenapa perasaanku tak enak mengenai ini?

Tanpa banyak kata aku menyuruh dua bodyguardku mengikuti si panda. Aku merasa tak tenang. Hatiku gelisah.

Sampai malampun tiba saat aku mau beranjak tidur tiba-tiba ponselku berbunyi. Anak buahku mengabariku bahwa mobil Seungri menceburkan diri ke danau terdalam.

Bagai disambar petir, aku shock bukan main. Segera kuperintahkan anak buahku menyelamatkan Seungri bagaimanapun caranya. Aku segera menyusul mereka.

‘Panda bodoh!! Paboyaahhhh!!!! Kenapa kau melakukan hal bodoh itu pabooo!!! Apa kau benar-benar pabo hah???!! Kemana larinya otak cerdasmu itu hahh??!!!’ umpatku tak habis pikir.

Lagi-lagi. Apakah aku harus terus menyaksikan kedua dongsaengku perlahan hilang dari pandanganku dengan tragis?? Tidaaakkkk!!! Aku tak bisa menerimanya!

2 tahun kemudian….

“Yak hyung dimana kau????” teriak seorang namja yang berdiri dipintu. “KWON JIYOONG!!!” teriaknya lagi makin menggelegar.

“Aiss…Apa sih panda!!! Berisik sekali tahu pagi-pagi begini!!” balas seorang namja lainnya yang sedang berdiri didekat danau tak begitu jauh dari sang namja yang teriak.

“Kau meninggalkan tongkatmu lagi. Kan aku sudah bilang pakai tongkatnya entah itu mengganggu atau tak berguna setidaknya itu bisa menjagamu kalau-kalau sampai tergelincir lagi. Bisa ga sih sebentar saja ga bikin aku jantungan kawatir hah??” cerocos sang namja yang di panggil panda setelah menghampirinya.

“Oho~ kurasa kamu yang lebih membutuhkan tongkatku itu Jagi. Lihat cara berjalanmu itu yang aneh…” sindir pria bernama Kwon Jiyong melirik dan memberikan smirk andalannya pada lawannya.

“Yak Kwon Jiyong!!! Menurutmu ulah siapa aku bisa begini hahh?? Ga pagi siang malam kau menghajarku habis-habisan. Aku ga sekarat aja udah bagus. Lagian yak, bisa-bisanya pagi begini otakmu udah mulai mesum lagi padahal baru beberapa jam lalu kau menyiksaku hahh?? Yakk!!! Kemana larinya tanganmu itu Tuan KWONN!!” omelnya.

Kalian bingung??

Sini aku ceritain. Benar dan tak salah. Dua orang namja tersebut adalah Kwon Jiyong dan Lee Seungri. Mereka hidup dan sekarang tinggal berdua dengan bahagia dan sehat walafiat.

Big bro dan antek-anteknya berhasil menyelamatkan Seungri dari danau itu dan segera dilarikan ke rumah sakit. Untung mereka berhasil menyelamatkannya tepat waktu. Dunia jagat hiburan gempar oleh berita tentangnya yang menceburkan diri ke danau dalam itu.

Karena ada nitizen yang sempat melihat mobilnya yang melaju ke danau lalu segera menelpon bantuan tanpa mendekat ke TKP. Dengan situasi yang gelap gulita dimalam hari jadi nitizen tak memperhatikan siapa gerangan yang menolongnya dan tak tahu bisa menyelamatkannya.

Sedang Seungri yang tak berapa lama langsung sadar meminta Big bro untuk tak mengatakan pada siapapun kalau dia masih hidup. Dia akan mengasingkan diri. Tapi Big bro punya rencana lain.

Melihat seberapa besar rasa cinta dan sesal Seungri pada Jiyong hingga memutuskan bunuh diri begitu akhirnya dia membawa Seungri pada Jiyong. Disana Seungri benar-benar mengabdikan diri merawat Jiyong yang koma setelah meminta maaf dan membuat pengakuan pada orang tua Jiyong.

Dengan bantuan Big bro akhirnya orang tuanya mengijinkan untuk ikut merawatnya. Siang malam Seungri merawat Jiyong tanpa mengeluh, selalu bersikap ceria terus berusaha mengajak ngobrol Jiyong meski sebelah pihak. Beberapa bulan terlewati, akhirnya orangtua Jiyong luluh juga dan merestui.

Dan tiba-tiba ditengah malam Jiyong akhirnya terbangun didalam pelukan Seungri. Setelah beberapa hari sadar akhirnya mereka berdua bicara dari hati kehati.

“Hyung.. Kumohon maafkan aku. Aku benar-benar menyesal. Aku sangat menyesal. Ku mohon maafkanlah aku. Hukum aku seberat apapun yang kau mau, tapi kumohon ijinkanlah aku yang tak tahu diri ini berada disampingmu lagi.

Aku janji aku akan melakukan apapun, aku akan menebus segala kesalahanku. Kumohon hyung…. Aku sungguh sangat mencintaimu.. Aku sungguh-sungguh sangat mencintaimu hyung. Dan jika sampai aku meninggalkanmu lagi, kau bisa pegang kata-kataku ini. Aku lebih memilih mati dari pada aku harus jauh darimu.” janjinya yakin.

Perlu waktu beberapa bulan untuk Jiyong akhirnya mau membuka diri pada Seungri lagi. Dia luluh dengan ketulusan perhatian dan kasih sayang yang Seungri berikan.

Seungri tak komplain sedikitpun seberat apapun beban yang dia kerjaan saat merawat Jiyong yang kasar padanya. Dia akan terus tersenyum cerah dan bahagia padanya. Dan kekawatirannya pada Jiyong yang kelewat dramatis selalu sukses membuat Jiyong mengerjainya.

Terapi demi terapi Jiyong lakukan agar anggota tubuhnya bisa berjalan normal kembali karena kecelakaan dan koma yang lama. Sekarang dia sudah sehat kembali, cuma sedikit kendala dikakinya karena ada cidera. Dia bisa berjalan, cuma sedikit terpincang karena belum sembuh total, makanya dia kadang masih memakai bantuan tongkat.

Meski mereka masih berada diluar negeri, tapi sekarang mereka sudah tinggal dirumah pribadi yang Jiyong beli sendiri. Tak terlalu luas tapi juga tak kecil. Rumahnya sangat asri dengan taman dan danau yang luas.

Mereka memang sudah memutuskan untuk tinggal menetap disana mengingat status Seungri yang dianggap telah meninggal dalam kecelakaan itu.

Polisi menutup kasusnya dengan kasus kematian bunuh diri karena tak menemukan jasadnya dan mobilnya yang sudah terlanjur tenggelam cukup dalam dikatakan sudah tak mungkin dia bisa bertahan hidup.

Keinginan Seungri sendiri yang tak mau pulang. Dia mau biarlah semuanya begini adanya. Dia yakin keluarganya perlahan akan mengikhlaskan kepergiannya dari pada kecewa dan menanggung malu karena pilihan hidupnya. Karena ini yang terbaik untuk semuanya.

Seungri hidup dengan identitas baru sebagai Richard Lee. Ehem… Sorry author lupa. Sekarang dia Richard Kwon karena mereka telah meresmikan hubungan mereka 2 bulan lalu dihadiri kedua orang tua beserta kakak Jiyong dan Big bro.

Seungri benar-benar menepati ucapan dan janjinya. Dia mengabdikan dirinya penuh pada Jiyong. Selayaknya “Istri” ehem meski Seungri belum beneran terima predikat itu tapi apa yang dilakukannya selama ini menunjukkan tittlenya.

Seperti memasak, membersihkan rumah (mereka hanya punya tukang kebun itu pun hanya datang tiap sore doang), pokoknya melayani Jiyong dia lakukan sendiri. Dan itu memang keinginannya sendiri dengan alasan Jiyong sudah cukup memanjakannya sekarang gilirannya.

Dia menjadi “istri” yang lumayan menurut pada apapun ucapan Jiyong beda dengan dulu dia yang agak bebal. Terbukti dia tak pernah menolak apapun keinginan Jiyong padanya, bahkan hal mesum sekalipun.

Itulah mengapa meski tubuhnya digarap sedemikian rupa seperti romusa untuk melayani hasrat mesum kelewat batas suaminya dia tetap mengiyakan meski ngomel-ngomel endingnya. cerita ini dipublish Ngocoks.com

Kecuali jika itu mengenai kesehatan Jiyong barulah Seungri akan fight. Seperti hal kecil saat ini Jiyong meninggalkan tonggatnya. Dia takut kalau sampai tergelincir atau apa. Bukan dia tak percaya atau memperlakukannya seperti pesakitan.

Tapi karena trauma kehilangan terus menghantuinya meski berkali-kali Jiyong sudah menjelaskan padanya. Dia tak bisa untuk tak kawatir. Dia tak peduli dikatakan Lebay atau apalah. Dia hanya ingin memastikan orang yang dikasihinya sepenuh jiwa raganya aman, sehat bersamanya. Untung jiyong memahami sikapnya tersebut.

“Hei Jagi, kurasa kakiku agak ngilu.” ucap Jiyong tiba-tiba menghentikan cerocosan Seungri. “Eh?? Yang mana? Coba duduklah akan kulihat. Yang sebelah mana? Apa yang ini? Apakah sakit sekali? Kita kerumah sakit yaa?” berondong Seungri yang matanya sudah panik berkaca-kaca.

Ini lah yang membuat Jiyong makin cinta. Tingkah kawatir Seungri yang berlebihan ini begitu menggemaskan. Membuatnya ingin terus mengerjainya untuk terus bisa melihatnya, seperti saat ini.

“Sudahlah. Kurasa sudah hilang. Tak usah kawatir. Mungkin sedikit olah raga ranjang bisa mengobatinya.” goda Jiyong.

Cerita Cowok Keren itu Ternyata

“Yah!! Kwon Jiyong!! Sudah berkali-kali aku bilang jangan bermain-main dengan kesehatanmu. Tak tahukah kamu betapa kawatirnya aku?? Apa kau tahu gimana rasanya jantungku yang sudah mau mati rasa karena ketakutan??” marahnya dengan beberapa tetes air mata.

“Aigoo…. Aku hanya becanda sayang~ Mianhae yaa…” Ucap Jiyong sambil membawa Seungri dalam pelukannya.

“Kumohon jangan begitu hyung… Aku sangat takut…Aku sungguh sangat takut kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu hyung… Aku bisa mati berdiri jika sampai terjadi apa-apa padamu…hiks.” ucap Seungri miris semakin menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Jiyong.

“Nado jagiya…Nado saranghaeyo… Aku janji akan selalu bersamamu selamanya…”