
Pak Beni mengajak kedua anaknya berlibur ke rumah nenek di luar kota selama beberapa hari. Sayang sekali, saya tidak diajak. Mas Budi, mengetahui hal ini, tersenyum ramah. "Nes," katanya, "ini kesempatan bagus. Pak Beni pergi bersama anak-anak, dan kamu tidak ikut. Bagaimana kalau kita berlibur berdua?"
Tawarannya membuat saya penasaran. "Mau ke mana, Mas?" tanyaku. "Teman saya, Adi, mengajak ke vilanya," jawabnya. "Dia akan membawa pacarnya, Santi. Kamu ikut, ya? Kita pasti akan bersenang-senang." Senyumnya hangat, dan saya mengangguk setuju.
Sore harinya, Mas Adi datang menjemput. Perkenalan singkat terjadi, dan saya merasakan keakraban di antara kami. Mas Adi memang tampan, dan Santi memiliki kecantikan yang menawan; seorang gadis muda yang terlihat lebih muda dari saya. Ia mengenakan pakaian yang menonjolkan bentuk tubuhnya, dan penampilannya memikat.
Suasana perjalanan terasa menyenangkan. Mas Budi berbisik, "Nes, Mas Adi terus memandangmu." Saya tertawa, agak malu-malu. "Ah, masa sih?" Ia tertawa dan menunjuk ke kaca spion mobil, "Lihat saja sendiri!" Memang, sesekali Mas Adi melirik ke arah saya di kaca spion. Perjalanan ke vila tidak terlalu lama. Karena sudah malam, kami memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu sebelum menuju ke vila. Mas Adi telah membawa bekal makanan dan minuman ringan untuk dinikmati di vila. Setibanya di vila, kami segera membagi kamar masing-masing dan setelah menata barang bawaan, kami berempat berkumpul di ruang tamu untuk mengobrol. Suasana malam itu terasa hangat dan penuh keakraban, menjanjikan liburan yang menyenangkan.
a udah horny berat.
Dia memelukku, mengelus2 rambutku dan pahaku yang tidak tertutup rok miniku yang tersingkap. Dia berbisik ngajak aku masuk kamar. Aku ngikuti aja. “Duluan ya”, kata mas Budi kepada temannya.
Di kamar, dengan ganas mas Budi segera memelukku dan mencium bibirku dan menjilati leherku. Belahan toketku diusap2nya, blusku dibukanya, sehingga aku hanya mengenakan bra yang tipis. Pentilku tampak menonjol, sudah mengeras.
Perlahan dia menciumi toketku. Aku mulai mendesah perlahan ketika pentilku dihisapnya dari balik braku. Setelah puas menikmati toketku, dia menciumku kembali.
“Kamu gantian dong, hisap rudalku” katanya lagi. Kubuka retsleting celananya sekaligus dengan CDnya, sehingga rudalnya yang sudah tegang membengkak mencuat keluar. rudalnya mulai kukocok-kocok perlahan.
Dia mendorong kepalaku ke arah rudalnya. “Isep Nes”, desahnya ketika mulutku mulai mengulum kepala rudalnya. rudalnya kukocok2 perlahan. “Nikmat Nes” erangnya. Dia menyibakkan rambut yang menutupi wajahku.
“Terus Nes, enak banget, ” katanya lagi. Akupun mengeluarkan rudalnya dari mulut dan mulai menjilatinya. Kemudian rudalnya kujejalkan dalam mulutku.
Dia mengelus-elus rambutku, ketika mulutku memompa rudalnya. Dia sudah sangat bernapsu sekali. Rok dan cd ku dilepasnya sehiongga aku telah bertelanjang bulat. Dia duduk dikursi dan aku disuruhnya duduk di atas pangkuannya sambil menghadap memunggunginya. Dia melepaskani baju yang tersisa. Dia menciumi pundakku, dan mengarahkan rudalnya yang sudah berdiri tegak ke nonokku.
“Ohhmas, besarnya. Enak, ahh, entotin Ines mas”, desahku. Dia mengenjotkan rudalnya keluar masuk nonokku, gerakannya terbatas karena aku ada pangkuannya. Toketku yang berayun-ayun seirama enjotannya diremasnya.
“Ohh, Mas, Enak Mas, Enjot terus mas” kataku sambil melingkarkan tanganku ke belakang merengkuh kepalanya. Dia menciumku bibirku sebentar dan kemudian menghisap toketku sambil terus mengenjot nonokku.
“Ohh mas, enak banget, besar banget” eranganku semakin menjmas Adi, dan tak lama aku pun menjerit. Tubuhku menggelinjang-gelinjang dalam dekapannya. Tak lama, diapun mengerang nikmat ketika ngecret dalam nonokku. Kamipun melepas lelah sejenak sambil berciuman kembali. “Enak ya Mas” kataku.
Aku masuk kekamar mandi yang menjadi satu dengan kamar tidur. Selang beberapa saat aku keluar lagi hanya mengenakan lilitan handuk dibadanku tanpa pakaian lainnya lagi. “Udah siap lagi ya Nes”, mas Budi menggangguku.
“Iyalah mas, kan kita kesini untuk menyetubuhi. Kata mas mau menyetubuhiin Ines sampe 4 kali”, jawabku. Belahan dadaku sedikit tersembul dibalik handuk yang menutup dada serta pahaku. Melihat itu sepertinya dia napsu lagi.
Luar biasa juga staminanya, gak puas2nya dia menyetubuhii aku. rudalnya sudah berdiri tegang. Dia berbaring di ranjang. “Mas, ngelihatnya kok begitu amat sih ?” kataku.
“Nes, sudah malam nih, kita tidur saja” katanya.”Mau tidur atau nidurin Ines mas”, godaku. “Tidur setelah nidurin kamu lagi dong”, jawabnya. Aku berbaring disebelahnya, segera lilitan handukku dilepaskannya sehingga telanjang bulatlah aku. Toketku dielus2nya.
“Nes, kamu seksi sekali, mana binal lagi kalo lagi dientot. Kalo mas Beni dan anak2 pergi melulu, aku bisa menyetubuhiin kamu tiap malem”, katanya merayu. Aku hanya tersenyum, tidak menjawab rayuannya. Elusan tangannya di toketku berubah menjadi remasan remasan halus.
“Mas “, aku memeluknya. Dia memelukku juga serta mencium bibirku. Dia begitu menggebu gebu melumat bibirku, kujulurkan lidahku kedalam mulutnya. Nafasku menjadi cepat serta tidak beraturan. Setelah beberapa saat kami berciuman, aku menggeser badanku sehingga sekarang sudah berada di atas badannya. Dia semakin ganas saja dalam berciuman. Dia memeluk badanku rapat2 sambil menciumiku.
Kemudian aku menciumi lehernya dan terus turun kearah dadanya. Dia berdesis “Nes, sshh”. Aku terus menciumi badannya, turun ke bawah dan ketika sampai disekitar pusarnya, kucium sambil menjilatinya sehingga terasa sekali rudalnya kian menegang.
“Nes, aduuh” dan aku secara perlahan terus turun dan ketika sampai disekitar rudalnya, kucium dan kuhisap daerah sekelilingnya termasuk biji pelernya. “Sshh, Nes” katanya lagi.
rudalnya sudah ngaceng keras sekali, mengacung ke atas. Kupegang rudalnya dan kukocok pelan pelan. rudalnya kumasukkan kemulutku. “Aahh”, teriaknya keenakan. Aku segera menaik turunkan mulutku pelan2 dan sesekali kusedot dengan keras.
“Nes, enaak. Ayo dong Nes. Sini, aku juga kepingin” , katanya sambil menarik badanku. Aku mengerti kemauannya dan kuputar badanku tanpa melepas rudalnya dari mulutku.
Posisi nya sekarang 69 dan aku berada diatas badannya. Nonokku yang dipenuhi jembut yang lebat dijilatinya. Aku menggelinjang setiap kali bibir nonokku dihisapnya. Dengan mulut yang masih tersumpal rudalnya aku bergumam.
Dia membuka belahan nonokku pelan2 dan dijulurkannya lidahnya untuk menjilati dan menghisap hisap seluruh bagian dalam nonokku.
Kulepas rudalnya dari mulutku sambil mengerang, “mas, ooh”, sambil berusaha menggerak gerakkan pantatku naik turun sehingga sepertinya mulut dan hidungnya masuk semuanya kedalam nonokku. “Maas, terus maas” Apalagi ketika itilku dihisap, aku mengerang lebih keras “maas, teeruuss”.
Itilku terus dihisap hisapnya dan sesekali lidahnya dijulurkan masuk kedalam nonokku. Gerakan pantatku semakin menggila dan cepat, semakin cepat dan akhirnya Mas, aku nyampee”, sambil menekan pantatku kuat sekali kewajahnya. Aku terengah engah. Perlahan lahan dia menggeser badanku kesamping sehingga aku tergeletak di tempat tidur. Dengan masih terengah2 aku memanggilnya,
“Mas peluk Ines, maas” dan segera saja dia memutar posisi badannya lalu memelukku dan mencium bibirku. Mulutnya masih basah oleh cairan nonokku.
“Maas”,kataku dengan nafas nya sudah mulai agak teratur. “Apa Nes”sahutnya sambil mencium pipiku. “Maas, nikmat banget ya dengan mas, baru dijilat saja Ines sudah nyampe”, kataku manja. “Nes sekarang boleh gak aku… “, sahutnya sambil meregangkan kedua kakiku.
Mas Budi mengambil ancang2 diatasku sambil memegang rudalnya yang dipaskan pada belahan nonokku. Perlahan terasa kepala rudalnya menerobos masuk nonokku. Dia mengulum bibirku sambil menjulurkan lidahnya kedalam mulutku.
Aku menghisap dan mempermainkan lidahnya, sementara dia mulai menekan pantatnya pelan2 sehinggga rudalnya makin dalam memasuki nonokku dan blees, rudalnya sudah masuk setengahnya kedalam nonokku. Aku berteriak pelan “aahh maass”sambil mencengkeram kuat di punggungnya.
Kedua kakiku segera kulingkarkan ke punggungnya, sehingga rudalnya sekarang masuk seluruhnya kedalam nonokku. Dia belum menggerakkan rudalnya karena aku sedang mempermainkan otot2 nonokku sehingga dia merasa rudalnya seperti dihisap hisap dengan agak kuat.
“Nes, terus.Nes, enaak sekalii, Nes”, katanya sambil menggerakkan rudalnya naik turun secara pelan dan teratur. Aku secara perlahan juga mulai memutar mutar pinggulku. Setiap kali rudalnya ditekan masuk kedalam nonokku, aku melenguh “sshh maass”, karena kurasakan rudalnya menyentuh bagian nonokku yang paling dalam.
Karena lenguhanku, dia semakin terangsang dan gerakan rudalnya keluar masuk nonokku semakin cepat. Aku semakin keras berteriak2, serta gerakan pinggulku semakin cepat juga. Dia semakin mempercepat gerakan rudalnya keluar masuk nonokku.
Aku melepaskan jepitan kakiku di pinggangnya dan mengangkatnya lebar2, dan posisi ini mempermudah gerakan rudalnya keluar masuk nonokku dan terasa rudalnya masuk lebih dalam lagi.
Tidak lama kemudian kurasakan rasa nikmat yang menggebu2, kupeluk dia semakin kencang dan akhirnya “ayo mass, Ines mau keluar maas”. “Tunggu Nes, kita sama sama”, sahutnya sambil mempercepat lagi gerakan rudalnya.
“Aduhh maas, Ines nggak tahaan, maaas, ayoo sekarang”, sambil melingkarkan kembali kakiku di punggungnya kuat2.
“Nes, aku jugaa”, dan terasa creeeeeeet…creeeeeet… crrreeettt..pejunya muncrat keluar dari rudalnya dan tumpah didalam nonokku. Terasa dia menekan kuat2 rudalnya ke nonokku.
Dengan nafas yang terengah engah dan badannya penuh dengan keringat, dia terkapar diatasku dengan rudalnya masih tetap ada didalam nonokku. Setelah nafasku agak teratur, kukatakan didekat telinganya “Mas, terima kasih ya. Ines puas banget barusan,” sambil kukecup telinganya.
Dia tidak menjawab atau berkata apapun dan hanya menciumi wajahku. Setelah diam beberapa lama lalu aku diajaknya membersihkan badan di kamar mandi dan terus tidur sambil berpelukan.
Paginya aku terbangun kesiangan. Mungkin karena cape dientot aku tidur dengan pulas. Ketika terbangun dia sudah tidak ada disebelahku. Aku ke kemar mandi, membasuh muka dan sikat gigi, kemudian dengan bertelanjang bulat aku keluar kamar. Mas Budi sedang ngobrol dengan mas Adi dan Santi.
Aku segera masuk ke kamar lagi, walaupun mas Adi sempat ternganga melihat kemolekan badanku yang telanjang. Aku mengenakan kimono punya mas Budi, sehingga kebesaran. Aku bergabung dengan mereka dimeja makan. Aku mengambil roti dan membuat kopi, yang lainnya kelihatannya sudah selesai sarapan.
Mereka menemaniku sarapan sambil ngobrol santai. Kayanya Santi centil banget ngobrolnya dengan mas Budi. Setelah aku selesai sarapan, mas Adi mengajak berenang. Segera aku mengenakan daleman bikiniku. Mas Adi makin menganga melihat jembutku yang nongol dari balik CD minimku. “Nes, jembutnya lebat sekali”, katanya.
“Suka kan mas ngeliatnya”, jawabku. “Jembut Santi juga pasti lebat, lebih lebat dari jembutku”. Santi sudah memakai bikininya juga. toketnya yang montok tidak tertutup oleh bra bikininya yang kekecilan, dan jembutnya benar lebih lebat dari jembutku, nongol dari samping dan atas CD bikininya yang sangat minim, lebih minim dari CDku.
Mas Budi kayanya napsu banget lihat bodinya Santi. Aku mengerti sekarang skenarionya, kayanya mas Budi mau menyetubuhi dengan Santi dan aku akan dientot mas Adi. Kulihat mas Adi menelan ludahnya memandangi bodiku.
Mas Budi hanya memakai celana pendek dan kelihatan sekali rudal besarnya sudah ngaceng dengan keras. Mas Adi melepaskan pakaiannya sehingga hanya mengenakan CD saja. rudalnya juga sudah ngaceng, kelihatannya besar juga walaupun tidak sebesar rudal mas Budi.
Kami menuju ke kolam renang di kebun belakang. Ada 2 dipan, dan letaknya berjauhan, di masing2 sisi kolam. Aku memilih salah satu dipan.
Mas Budi sudah mulai menggeluti Santi di dipan satunya. mas Adi duduk disebelahku yang sudah berbaring di dipan. Dia mulai mengelus2 pundakku. Aku tau, dia pasti sudah napsu sekali. Segera saja kuelus2 rudal mas Adi dari luar CDnya, kemudian kuremas perlahan.
“rudal mas besar juga ya”, kataku sambil makin keras meremas rudalnya. Tanganku menyusup kedalam CDnya dan langsung mengocok2 rudalnya. ngacengnya sudah keras banget.
“Aku lepas ya CD nya”, kataku sambil memelorotkan CDnya. rudalnya yang lumayan besar langsung ngacung keatas. Aku udah gak sabar pengen merasakan rudalnya keluar masuk nonokku. Aku duduk dan memeluknya serta mencium bibirnya.
Mas Adi langsung memelukku kembali, bibirnya pun menghisap2 bibirku sedang tangannya mulai meremas2 toketku yang sudah mengeras. Tangannya nyelip kedalam bra ku dan memlintir pentilku yang juga sudah mengeras. “Nes sudah napsu ya, pentilnya sudah keras.
Nonoknya pasti udah basah ya Nes”, katanya lagi. Sepertinya dia sudah pengalaman juga dalam urusan permenyetubuhian. Aku mulai menyentuh dan mengelus rudalnya “ya, pegang Nes” desisnya. Mas Adi sekarang yang berbaring sedang aku menelungkup diatasnya. rudalnya mulai kujilat, kukocok sambil meremas biji pelernya.
“Oohh, enak banget Nes” teriaknya keenakan. Aku berhenti menghisap rudalnya tapi terus kukocok2.”Isep lagi Nes, isep lagi, enak banget” katanya. Kembali rudalnya kukocok sambil kupelintir pelan. “sshh, ohh, eennaakk bbannggett Nes. enak banget, terus Nes” desisnya. Aku terus melakukan aktivitas tanganku.
“Nes isep lagi donngg.. jangan pake tangan aja..ayo donk Nes” pintanya memohon. Aku hanya tersenyum dan mulai menghisap lagi.
Kali ini benar benar hot isapanku, kepalaku bergoyang kekiri kanan dan naik turun berkali kali sementara tanganku terus mengocok dan memutar batang rudalnya.
“Nes aku mau keluarr nih” katanya. Badannya mulai menegang. Aku terus menghisap rudalnya sambil terus memutar dan mengocok batang rudalnya yang makin menegang keras.
“Terus Nes, isep terus” jeritnya. Aku terus menghisap rudalnya dan akhirnya “ccrreett.. ccrreett.. ccrreett..”, pejunya muncrat dimulutku. rudalnya terus kuhisap. Terasa dia ngecret 5 kali didalam mulutku.
pejunya kuludahkan dan kubersihkan mulutku yang belepotan sisa pejunya. Dia duduk disebelahku dan mencium pipiku “Makasih ya Nes, enak banget deh” katanya sambil mencium pipiku lagi.
“Ya udah mas istirahat dulu, Ines mau ambil minum dulu, mas mau minum apa?” tanyaku sambil menuju dapur.
“Apa aja deh, nanti juga aku minum” jawabnya. Aku kembali dengan dua gelas minuman dan sebotol besar air mineral. Aku dan dia minum sambil nonton mas Budi yang sudah mulai menyetubuhiin Santi. terdengar Santi teriak2 keenakan ketika rudal besar mas Budi keluar masuk mengejot nonoknya.
Mas Adi memeluk pinggangku serta mencium leherku. “Sshh” aku mendesis. Tangannya meraba toketku, diremasnya pelan. Aku terangsang, yang sudah mulai berkobar sejak aku ngisep rudalnya, “Diremes2 dong mas, masa diraba doang sih” aku mulai mengerang.
Aku ditelentangkannya, bibirku dilumatnya. Aku balas mencium dengan penuh napsu. rudalnya kuelus dan kukocok lagi, ternyata sudah ngaceng lagi. Dia terus meremas toketku dan mulaimenjilati leherku lalu turun dan terus turun mencium belahan dadaku.
“teruuss, buka braku mas, bbuukkaa!” kataku setengah berteriak. Dia terus turun menciumi badanku, dia menciumi nonokku dari balik CDku yang sudah basah karena lendir yang keluar dari nonokku.
“aayyoo mas buka!” teriakku. Tapi dia terus menjilati kaki kiri dan pindah ke kaki kanan. Kembali dia mencium bibirku. Aku membalas ciumannya dengan penuh napsu. Dia menjilati telingaku. Pintar juga diamerangsang napsuku.
toketku kembali diremas2nya. Tangan satunya terus menggosok itilku dari balik CDku. “Buka donk, sshh, Ines udah ngga tahan nih” desahku. Dia terus saja meraba, menjilat serta mencium toket serta nonokku. “Mas jahil ya” kataku sambil mencium bibirnya dengan hot. rudalnya mulai ku remas dan kukocok.
“Isep Nes. aku pengen diisep lagi” katanya sambil sedikit menarik kepalaku mendekati rudalnya. Aku terus mengocok sementara mulut dan lidahku terus menghisap dan menjilat rudalnya. Dia tidak tahan lagi, segera aku ditelentangkannya, sambil mencium leher dan pundakku.
toketku diremasnya dan tangan satunya meraba nonokku. “menyetubuhi yuk. Ines udah ngga tahan lagi” desisku. Dia menarik ikatan braku dan juga CDku. toketku langsung diisepnya “iisseepp pentilnya, maas” desahku.
Kemudian tanganku mendorong kepalanya kebawah “Jilat nonok Ines mas” desahku keenakkan karena dia sudah menjilati itilku dan menumpangkan kaki kiriku kepundaknya. Dia terus menjilati nonokku dan memasukan lidahnya dalam-dalam. “tteerruuss mas, yang dalem.
Oohh Ines uuddaahh mmauu klluuaarr nniihh” jeritku sambil terus menekan kepalanya. Dia terus menghisap dan menjilati nonokku. “Ines nyampe, isep tteerruuss nonok Ines” aku bergetar dan menggelinjang menikmati jilatan-jilatan lidahnya di nonokku.
Dia dan menaiki aku.. tangannya memegang rudalnya dan mengarahkan ke nonokku. Ditekannya masuk.
“rudal mas enak banget sih. Oohh, entotin Ines mas ” jeritku keenakan. Dia meremas pantatku dan tangannya yang satu lagi meremas toketku. Sebentar saja dienjot aku merasa sudah mau nyampe. “Ines udah mau nyampe, yang keras dong ngenjotnya, mas”, kataku.
Mas Adi mencabut rudalnya, aku disuruhnya nungging dan rudalnya kembali disodokkan ke dalam nonokku dengan keras, langsung ambles semuanya. Nikmat sekali rasanya. Kembali dia mengenjotkan rudalnya dari belakang keluar masuk nonokku dengan keras. Berulang kali dia mengenjot rudalnya sehingga mentok di nonokku.
“Nes. aku mau ngecret” jeritnya.
“Bareng ya mas, Ines keluar”, aku menjerit panjang sementara dia makin memperkeras enjotannya. Akhirnya “Nes, aku mau ngecret”, jeritnya dan pejunya kembali muncrat, kali ini membanjiri nonokku.
Aku telungkup dan dia menindihku. Lemes juga dientot pagi2 begini. Dia telentang, aku juga.
Sambil berbaring aku menoleh ke arah mas Budi, sepertinya mas Budi belum tuntas menyetubuhinya, gak tau kalo Santi udah nyampe atau belum. Mas Budi sepertinya mau mulai menancapkan lagi rudal besarnya ke nonok Santi yang terkapar di dipan. Dia meraba nonoknya dan sepertinya memainkan itilnya.
Santi berdesah gak karuan “Mas, jilat mas!” Mas Budi kemudian menjilat dan pastinya mengulum itilnya. Santi ditunggingkan dan mas Budi berlutut di belakangnya dan menggesekkan rudalnya ke nonok Santi.”Mmaassuukkiinn mmaass”, jeritnya saat rudal mas Budi masuk ke nonoknya yang sudah basah.
“teruss mas teruss, entotin Santi terus”. Mas Budi menggenjot Santi dengan ritme teratur. Setelah beberapa lama dengan doggy style “Santi nyampe mas”, jeritnya keenakan. Santi kemudian ditelentangkan dan mas Budi mengangkat kedua kakinya dan ditaruh dipundaknya.
Dia kembali rudalnya dan menggenjot Santi lagi. Santi kembali mendesah2. Mas Budi meremas toketnya yang montok dan Santi terus mendesah “Mas nikmat banget mas, terus enjot yang keras mas, aah”, jeritnya lagi, rupanya Santi kembali nyampe. Cepet banget, pikirku.
“Mas, nikmat banget ya menyetubuhi sama mas, mana mas kuat banget menyetubuhinya. Santi sudah berkali2 nyampe, mas belum ngecret juga”, kata Santi sambil terengah2.
Mas Budi mencabut rudalnya yang masih keras dan menghampiriku, kayanya dia pengen ngecret dinonokku. Benar saja, aku yang sedang ditelentang langsung dinaikinya. Dia mengesek-gesekan rudalnya di nonokku, langsung saja napsuku bangkit lagi
“masukin mas, mmaasuukiin dong” desahku berulang kali. Dia membalikkan tubuhku dan sehingga aku tengkurap. Perut bawahku diganjang bantal yang ada di dipan, kakiku direnggangkannya dan dia langsung menusukkan rudalnya ke nonokku.
“aahh mas, eennaakk bbaannggeett” desahku. Dia menggenjotnya semakin cepat. Karena napsuku sudah bangkit sejak aku nonton mas Budi menyetubuhiin Santi, aku merasakan sudah akan nyampe. Dia terus memompa rudalnya keluar masuk nonokku dengan cepat dan keras.
“Terus mas, entot Ines yang keras mas, ach” desisku. Akhirnya aku nggak tahan lagi dan “Mas, Ines nyampee, aahh”, jeritku, badanku sampe bergetar saking nikmatnya. Dia masih saja menggenjot nonokku beberapa lamu, dan akhirnya , “Aahh, aku ngecret Nes”.
Terasa sekali semburan pejunya beberapa kali dinonokku. Nikmat sekali rasanya. Mas Budi mengajakku masuk ke vilanya. “Mas, kok mas ngecretnya nggak di nonok Santi”, tanyaku.
“Yang pertama udah di nonoknya, jadi yang kedua aku ngecretin aja di nonok kamu”, jawabnya. “Sekarang mau ngapain mas?” tanyaku.
“istirahat sebentar ya, nanti kita main lagi”, jawabnya sambil berbaring di sofa. Luar biasa staminanya, seperti gak ada puasnya. Aku mengambilkan minuman untuknya dan duduk diubin disebelah sofa. Dia membelai2 rambutku, terus mengusap2 punggungku. Aku hanya menyenderkan kepalaku di dadanya, romantis sekali rasanya.
Sementara itu mas Adi dan Santi sudah menghilang, entah kemana. Tak lama l\kemudian mas Adi keluar dan memberitahu bahwa makan siang sudah siap. Rupanya dia mempersiapkan makan siang. Lauknya sate kambing dan ada 4 botol minuman energi. Ada 4 gelas es batu juga. “Wah mas, hot banget makanan dan minumannya”, kataku.
“Iya Nes, kan kita masih punya setengah hari lagi, biar kuat”, jawab mas Adi. Kami segera menyantap makanan itu. Selesai makan, kita santai sejenak. Mas Adi sepertinya masih mau menikmati empotan serambi lempitku, mulai melancarkan aksinya. Sementara itu mas Budi membawa Santi ke kamar.
Mas Adi duduk di sofa dan mengajakku duduk disebelahnya. Kemudian diciumnya bibirku, aku membalas ciumannya dan menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Dia mengemut lidahku dan tangannya sudah mulai meremas2 toketku, pentilku diplintir2nya.
Diperlakukan seperti itu napsuku bangkit kembali, aku heran juga kenapa napsuku kali ini cepat sekali timbul. Pentilku diemutnya, ” Mass terruss emut pentil Ines maasss, enak”. Aku segera menyambar rudalnya, kuremas2, kukocok2 sampai akhirnya menegang lagi. “Mas, terusin diranjang yuk”, kataku sambil bangun. Dia tidak membawaku ke kamar tapi menelentangkan aku di meja makan.
“Buat variasi ya Nes”, katanya sambil mulai mengelus itilku. Pahaku otomatis mengangkang dan diletakkan dipundaknya ketika itilku dikilik2 dengan jarinya. nonokku mulai basah lagi. “Mas, kalau gini terus Ines rasanya mau pingsan kenikmatan”. Kemudian dia mulai menjilati nonokku. Dia tau kalo aku dijilat nonoknya pasti napsuku lebih berkobar2 lagi.
“aduhhh aku nggak kuat, masss, masukkin mas”. Aku mengangkat kakiku dan mengangkang lebar2. Dia segera mengamblaskan rudalnya ke nonokku. Nonokku berkedut2 ketika kemasukan rudalnya yang besar keras itu. “Enjot yang keras mas”, teriakku lagi.
“Nes, nonok kamu ngempotnya kenceng banget, enak banget Nes”, katanya sambil memompa rudalnya keluar masuk nonokku, makin lama makin cepat. Ngocoks.com
Akupun semakin aktif memutar-mutar pinggulku mengiringi keluar masuknya rudalnya di nonokku, kutekan pantatnya dengan kakiku yang melingkari pinggangnya dengan keras hingga rudalnya rasanya masuk semakin dalam dinonokku. “Enak mas”, lenguhku lagi.
Dia terus mengenjot sambil meremas toketku, sesekali dia mengemut pentilku. Nggak tau berapa lama dia memenyetubuhiiku, sampai akhirnya
“Maas” jeritku sambil menjepitkan pahaku kuat2. rudalnya terus disodokan makin cepat dan akhirnya..Crot.. croot.. croot.. Terasa sekali muncratnya pejunya dinonokku. “Nikmat sekali mas”.
Selesai permainan hot itu, aku menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri dibawah shower. Tiba2 ada tangan yang memelukku, ternyata mas Budi. Dibawah shower kita saling berpelukan, saling menyabuni. toket dan rudal menjadi sasaran, mulanya dielus, akhirnya diremes2. rudalnya keras lagi karena terus saja kuremas dan kukocok.
Dia duduk diatas toilet, rudalnya sydah tegak mengacung keras. Aku duduk membelakanginya, kaki kukangkangkan dan mengarahkan rudalnya ke nonokku. Terasa sekali, perlahan rudalnya mulai lagi menyesaki nonokku. Dia menyodokkan rudalnya dari bawah keluar masuk nonokku.
“Mas, enjot yang cepet mas”, rintihku saking nikmatnya. Pinggulku kugoyang dengan liar mengiringi keluar masuknya rudalnya di nonokku. Dia meremas2 toketku sambil menarik tubuhku kebelakang. Dia mencium bibirku dan aku membalas ciumannya.
Cukup lama dia menyodok nonokku pada posisi itu sampai akhirnya dengan sodokan yang lebih cepat dan keras dia ngecret di nonokku. Akupun nyampe bersamaan dengan muncratnya pejunya. “Sst mas” jeritku dan dia memeluk aku dengan erat.
Cerita Liburan Panjang
Hingga beberapa saat dia masih memelukku, aku menikmati sensasi itu dengan berciuman lembut. “Trim’s ya mas, mas sudah membawa Ines ke surga kenikmatan, luar biasa weekend kali ini. Kapan2 Ines dientot lagi ya mas”, kataku.
“Tentu saja Nes, aku juga merasa nikmat sekali menyetubuhiin kamu. Nonok kamu jauh lebih nikmat dari nonoknya Santi, mana empotannya hebat lagi”, katanya memujiku. “Adi juga bilang lebih nikmat menyetubuhiin kamu, kayanya Adi mau menyetubuhiin kamu lagi deh kapan2.
Aku jadi punya saingan”. “Kenapa saingan mas, Ines mau kok ngelayani mas berdua sekaligus. Ines pasti nikmat banget kalo diantri begitu”, jawabku. Mas Budi sambil tersenyum “Hebat kamu Nes, pinter banget muasin cowok”. Selesailah sensasi kenikmatan tukar pasangan.