
Cerita ini hanya fiktif belaka murni hasil dari pengembangan fantasy semata tanpa ada keinginan untuk melecehkan dan atau merendahakan suku, ras, dan agama, diharapkan kebijakan dan kedewasaan pembaca, segala sesuatu yang terjadi kemudian diluar tanggung jawab penulis.
Cerita Sex Cita Rasa Beda Agama – Adrian, umunya masih 21 tahun, hasil pekerjaannya sebagai penjual pakaian memang tidak menentu. Namun dia memulainya dari 0, mungkin hal itulah yang membuat ayahku menerima lamarannya.
Karena ayah melihat watak pekerja keras pada adrian, sehingga seminggu kemudian ayah meminta dia membawa keluarganya jika memang ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan. Awalnya aku ragu, namun setelah sholat malam entah kenapa ketika aku bangun ada rasa yang mendorong bahwa aku harus mengikuti kata ayah.
Hari pernikahanku kini sudah di depan mata, dan dia, adrian, pria yang sudah memberanikan dirinya mengucap ijab atas diriku. Kini adrian sudah sah menjadi suamiku, walaupun umurnya 3 tahun lebih muda dariku, aku tetap menghormatinya sebagai imam dalam rumah tanggaku.
Cerita Sex Cita Rasa Beda Agama Ngocoks Sebagai perempuan yang cukup taat beragama aku tahu, ketika dia mengucapkan ijab atas diriku maka pindahlah sudah kewajiban orang tuaku kepada imamku, kini semua kehidupanku ditanggung olehnya.
Malam pertama kami lalui dengan malu malu, hanya kecupan mesra dari uda di keningku. Begitulah aku memanggilnya sekarang, karena dia orang padang, malam itu untuk pertama kalinya aku tidur disamping seorang laki laki,dialah suamiku.
Dia memeluku dengan erat, aku sebenarnya agak bertanya tanya apakah uda mau melakukan hubungan intim atau tidak, jika iya aku harus segera melayaninya.
“kita tidur aja ya, aku tau kamu lelah”
“baiklah”
Hari itu mamang sungguh melelahkan, membuat kami tertidur cepat diatas kasur pengantin yang dihias indah untuk mereka. Esok harinya uda mengajaku untuk sedikit jalan jalan ke area pertanian, udaranya sangat sejuk sekali. Sore harinya kami menginap di vila yang sudah uda sewa.
“yang nanti malam kita jima yah”
“iya uda” jawabku malu malu
“yaudah, abis makan kamu mandi terus dandan yang cantik”
“iya”
“masyaallah cantik banget istri uda ini”
Menjelang maghrib aku segera mandi, rasanya itu mandi paling lama dalam hidupku, aku mandi sebersih bersihnya mandi, aku tidak ingin membuat suamiku kecewa. Kemudian, setelah mandi aku mengenakan pakaian terbaik yang aku bawa, pakaian serba putih, terlihat suamiku sangat terpesona dan hendak mencium keningku.
“uda”
“iya?”
“biar wudhu fitri gak batal jangan sentuhan dulu ya”
“oiya, nanti bedaknya ilang, yaudah, jaga jarak dulu ya”
“hehe makasih”
“aduh gatahan banget yang”
“sabar uda, uni kasih semua nanti”
“yaudah mari kita sholat maghrib dulu”
Setelah sholat maghrib berjamaah kami tadarus bersama sampai adzan iya berkumandang. Selama adzan berkumandang diluar kami hanya saling tatap tatapan sambil senyum, uda memandangiku penuh kasih. Setelah sholat sunnah dua rokaat aku iqomah dan kami melanjutkan sholat isya berjamaah.
“alhamdulillah, udah siap uni?”
“udah uda”
Suamiku memangku badanku ke atas ranjang, saat itu baru aku sadari bahwa badannya kuat sekali dan gagah. Hatiku berdebar debar tidak karuan membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya, sekelebat pikiranku teringat beberapa saran temanku yang sudah menikah duluan, aku pikir aku bisa melakukannya.
Aku terbaring diatas kasur dengan pakaian serba putih, dia duduk disampingku sambil menatap wajahku. Hatiku berdebar debar namun juga merasa bahagia, kulihat kepalanya mulai mendekat ke arah wajahku, ketika bibirnya tidak 10cm dari mulutku aku memejamkan mataku, tanganku memegang sprei kasur erat.
Kemudian terasa hembusan nafas hangatnya menerpa bibirku disusul terasa kecupan hangat bibir uda di bibirku. Aku membalasnya, ciumannya terasa basah namun hangat, kami sama sama baru pertama kali melakukannya sehingga masih menerka nerka satu sama lain.
Lalu kurasakan lidah uda seperti ingin masuk ke dalam mulutku, aku membiarkannya. Lidah itu masuk ke dalam mulutku seperti mencari lidahku untuk saling menyapa, aku yang masih belum berpengalamanpun berimprovisasi sebisaku, kujulurkan juga lidahku dan aku cukup kaget karena uda menyedot lidahku masuk ke dalam mulutnya.
Getaran itu, getaran ciuman pertama yang membuat bibir sesara sedikit ngilu namun nikmat, inilah memon dimana aku belajar untuk melayani suamiku.
Kini kami duduk berdampingan, uda menyudahi ciuman itu untuk beberapa saat.
“uda mau apa?”
“kita foto dulu sayang”
“kenapa harus foto dulu?”
“mau aja, sini sayang deketan”
Cekrek
“masyaallah, cantik sekali istriku, makasih ya allah”
“alhamdulillah”
“ini foto uni masih perawan, hehe”
“ih dasar”
“sakiiiit ih cubitannya jahat”
“hihihi maafiin” aku manja kepadanya
“yaudah, ayok terusin”
“iya”
“sini sayang”
Suamiku duduk didepanku, tangannya dengan lembut menarik badanku ke dekapannya, beberapa saat kemudian ciuman kami kembali bertaut. Bibir kami mulai merasa terbiasa dengan ciuman itu, ciuman kami mulai menimbulkan suara clepak clepok suara bibir basah yang saling menyedot satu sama lain.
Kami saling memeluk, saling menghembuskan angin angin yang membuat api syahwat yanghalal. Kurasakan badanku terasa semakin hangat ketika kami semakin lama berpelukan dan berciuman.
Oh tuhan, rasanya candu sekali rasa ciuman itu, dalam hati aku bertanya tanya kapan uda akan menyudahi ciuman ini, karena kami sudah ciuman cukup lama sekali, mungkin sampai 10 menit dan lebih.
Namun aku hanya mengikuti apa kemauannya saja, bagiku ini adalah ladang pahala untuk melayani suami. Beberapa kali gigi kami saling beradu karena sudah sangat menikmati ciuman itu, sungguh rasanya manis sekali kurasakan.
Brrrrrgggh
Kurasakan tubuhku bergetar, antara geli dan kaget kurasakan kedua tangan udah mulai menyentuh pantatku. Kemudian tangannya meremas perlahan lahan, namun aku nikmati itu, rasanya semakin membuat tubuhku terasa hangat dan bergairah.
Bibir kami masih terus berciuman, tanpa terasa ada beberapa tetes ludah kami yang jatuh ke jilbab putihku. Semakin lama remasan tangannya semakin erat ke pantatku, sepertinya dia begitu gemas sampai terasa sedikit sakit.
Kemudian badanku terdorong dan kini aku terlentang diatas kasur dengan dia diatas tubuhku sedikit menindih, ini adalah momen intim pertama kami. Kini tangannya tidak lagi menjamah buIatan pantatku, namun beralih meremas lemak kenyal yang menggantung pada dadaku.
“boleh uda buka?” tanya suamiku
“tentu” jawabku
Uda menyibakan jilbabku yang memang lebar ke atas leherku, disana jarinya menukan resleting bajuku. Perlahan resleting itu turun perlahan sampai ke perut, perlahan tangan udah melebarkan gamisku yang setelah itu keluarlah bra yang aku gunakan berwarna hitam itu.
Dia menatapku sambil tersenyum, yang lucu adalah ketika uda membuka BH-ku dengan memotong titik tengah BH diantara kedua gunung kembarku dengan gunting.
“ih nakal”
“hehe maaf ya sayang”
Kemudian dibukalah tutup payudaraku, matanya terbelalak nafsu melihat kulit payudaraku yang putih dengan puting merah muda cerah.
“masyaallah sayang, punya kamu ternyata besar”
“uda suka?”
“suka banget sayang”
“sekarang ini punya uda”
“aduh gemes banget sayang”
“aaahhh geli uda” suamiku mulai meremas payudaraku.
Rasa geli itu berbeda dengan rasa geli yang pernah aku rasakan sebelumnya, rasa geli itu seperti menjalar ke seluruh tubuhku. Ketika kontraksi syaraf itu sampai ke area bawah tubuhku, rasanya justru terasa nikmat di area selangkanganku.
Rasa nikmat itu menjadi lebih dan lebih lagi ketika kurasakan lidah hangat uda membasahi puting susuku yang merah muda. Sunguh itu rasanya nikmat dan geli yang tidak karuan, puting susuku menjadi keras dan rasa hangat nikmat menjalar samoai ubun ubun.
Lima menit kemudian, celana inner dan celana dalamku sudah terlantar dia diatas lantai kamar kami. Aku hanya bisa mendesah dan pasrah membiarkan apa yang suamiku lakukan, aku sebenarnya melarangnya karena jijik, namun dia memaksa kalau dia suka melakukannya, kini area selangkanganku dibasahi oleh ciuman uda.
Kuliah juga jarinya mempermainkan cairan bening yang licin, cairan itu seperti lengket juga dia mainkan didepan wajahku seakan ingin menunjukan kalau itu sebuah keindahan.
Mataku terpejam, merasakan lincahnya lidah suamiku bergerak keatas dan kebawah. Tidak habis habisnya dia memuji kemaluanku, aku memang punya darah keturunan chines, neneku adalah seorang mualaf chinese dan yang dia wariskan
sangat membuat suami bahagia. Katanya, kemaluan orang indonesia rata rata berwarna merah gelap cenderung hitam, namun miliku putih dengan merah muda. Aku tidak tahu itu perasaan apa, tapi rasanya seperti ada sesuatu yang akan meledak dalam diriku, terasa di area selangkanganku, tepatnya kemaluanku, ada rasa sepeti menggeliat yang nikmat disana.
Tanganku meremas kepala suamiku agak kasar, badanku menegang beberapa saat, kumudian terasa ada cairan hangat sekalin mulai keluar sampai ke duburku.
Rupanya, itu adalah orgasme pertamaku. Rasanya lemas sekali setelah itu, tidak bisa aku gambarkan, seperti semua energi dalam tubuhku keluar bersama cairan hangat tadi.
Mungkin ada sampai lima menit sampai aku merasa ada tenaga lagi dalam diriku, selama itu uda berbaring disampingku sambil meremas remas pelan payudaraku, sementara kedua pahaku masih mengangkang lebar.
“udah enaknya?”
“aduh uda, fitri lemes banget tadi”
“tapi enak gak?”
“heehm, enak banget uda”
“yaudah, sekarang bukain celana uda ya”
“iya uda”
Memang ketika diluar dia sangat terlihat masih kekanak kanakan dan cenderung manja kepadaku karena aku lebih tua dan cocok jadi kakaknya. Tapi diatas ranjang, dia menjadi sangat dominan dan entah kenapa aku sangat menurutinya, apalagi ketika aku membuka perlahan celana dalam uda.
lni yang erni temanku katakan, ular kasur, namun aku merasa gambaran erni tidak terlalu benar, punya suamiku tidak sepanjang yang erni ceritakan. Mungkin hanya panjang sekitar 15cm saja dengan diameter 3cm, ya itukan punya suamiku bukan punya suami erni.
Padahal suamiku belum menyuruhnya saat itu, namun aku teringat pesan dari erni, kocok perlahan batangnya. Langsung saja aku pegang batang ular kasur suamiku dengan tangan kananku, mataku menatap matanya, dia tersenyum padaku.
“ayo cium” katanya
Aku hanya menggeleng tidak mau, walau sebenarnya aku sudah tahu kalau suaminya juga sering memintanya untuk mengulum batang suaminya.
“ayo sayang gapapa”
Waiau beberapa kali aku menolak, namun dalam hatiku juga terbesit perasaan penasaran bagaimana rasanya mencium batang kejantanan laki laki. Aku pikir aku harus memberanikan diri, lagi pula dia sudah halal menjadi suamiku juga.
Aku mulai menurunkan kepalaku dan perlahan mencium batang suamiku perlahan, rasana hangat sekali. Jika dilihat dari dekat, terlihat sekali urat urat yang ada
padanya, memang yang aku pelajari dulu kalau batang pada laki laki itu adalah urat dan tidak ada tulang padanya.
Jika digenggaman, rasanya hangat sekali dan terasa sangat keras seperti ada tulang, teksturnya sangat aneh di tanganku karena banyak sekali urat uratnya. Suamiku memintaku untuk mengulumnya, sungguh aku merasa tidak sanggup saat itu, namun suamiku tetap memaksaku.
Karena itu aku mencobanya beberapa saat, entah kenapa aku malah merasa mual dan mau muntah, suamikupun meminta maaf dan mengatakan ini terlalu cepat untuku.
Alhasil menu utama menjadi acara selanjutnya, suamiku mengarahkan batang merahnya ke arah kemaluanku yang merah muda cerah. Nampak kontras sekali perbedaan warna kulit kami disana, apalagi pada daerah selangkangan, namun itu tidak mengurangi rasa hormat dan cintaku padanya.
Uda adrian terlihat sudah sangat ingin memasukan batangnya ke dalam lubang nikmat yang ada pada diriku. Sungguh aku sudah sangat ikhlas menerima tusukan
pertamanya, aku mengucap basmallah agar semua berjalan lancar dan menjadi berkah karena ini adalah sunnah. Beberapa kali mencoba namun gagal karena lubangnikmatku serasa masih belum mau menerima tamu,namun setelah suamiku mengambil cairan licin dari serambi lempitku dan mengoleskan cairan licin itu ke kepala batangnya mulailah ada kemajuan.
Aku memejamkan mata dan menggigit bibir bawahku secara spontan, tanganku meremas kasur. Kurasakan ada sebuah benda masuk ke dalam diriku perlahan, uda adrian memasukan perlahan demi perlahan. Ketika aku membuka mata semua bagian batang uda sudah masuk ke dalam diriku, kami saling memandang lalu pandangan kami ke arah selangkangan.
Kulihat ada bercak darah ketika uda menarik batangnya, namun anehnya aku tidak merasa sakit, padahal kata erni sait sekali rasanya.
Uda mulai melakukan gerakan maju-mundur, mula mula rasanya perih, lama lama rasa perih itu hilang, rasanya berganti menjadi nikmatnya sekali. Rasa nikmatanya seperti ada pada bagian pintu masuk liang serambi lempitku, ketika batang uda masuk bagian itu seakan merasakan gesekan dari batang uda dan menimbulkan rasa nikmat.
Uda menindih badanku, tangannya ada dikepalaku mengelusnya, elusan tangannya dikepalaku seakan memberikan kenyamanan untuku. Bibir kami saling berciuman, sedangkan pinggang uda diatas tubuhku berjuang keras menggerakan badannya sehingga batang uda keluar masuk dalam liang nikmatku.
Mungkin 7 sampai 8 menit berlalu, bibir uda masih ada di bibirku mengenyot lidahku ke dalam mulutnya. Tusukan batangnya terasa semakin cepat, kurasakan hembusan nafasnya juga semakin tidak teratur dan bebera tusukan kemudian batangnya menusuk dalam dalam liang kemaluanku dan kurasakan ada semprotan hangat mengguyur.
Kami terdiam dalam posisi itu, cukup lama, lalu uda menarik batangnya perlahan lahan. Dia lalu terbaring disampingku dan tertidur meninggalkanku, rasanya masih ada kedutan nikmat pada kemaluanku. Aku mencoba menyentuh area sensitifku, entah kenapa rasanya geli nikmat, aku melihat uda, dia sudah tertidur.
Aku lanjutkan kembali menyentuh nyentuh serambi lempitku dan lama kelamaan rasanya semakin nikmat, akupun lepas kontrol dan semakin cepat mengucek-ngucek bagian itu dan alhasil aku gemetar dan mendapatkan orgasme kembali. Rasanya lemas sekali, tanpa sadar aku tertidur karena lelah sekali.
Bersambung… Bulan bulan awal pernikahan adalah hari hari paling manis yang aku lalui dengan suamiku, menyiapkan sarapan dan semua keperluannya adalah rutinitas baru yang sangat aku nikmati. Sebagai istri, sepenuh hati aku melayaninya, karena disetiap ridhonya kepadaku adalah jalan menuju syurga-Nya.
Begitupun dia, apa yang aku butuhkan secara lahir, dia penuhi kebutuhan lahir dan bathinku, menyayangiku dengan kelembutan, walau penghasilannya tidak terlalu besar, namun aku mendapatkan ras berkah darinya.
Bulan pertama pernikahan memang cukup melelahkan untuku, beradaptasi dengan kebiasaan baru. Kini bukan hanya badanku yang harus aku perdulikan, juga badan suamiku, namun tidak hanya itu.
Kebutuhan syahwatnya adalah tanggunganku sekarang, sebisa mungkin aku penuhi walaupun sebulan pertama itu hampir setiap hari dia memintanya.
Namun selama aku tidak ada halangan, aku layani dia sepenuh hati, disisi lain juga kenikmatan hubungan suami istri itu menimbulkan rasa candu untuku, walaupun setiap hari harus mandi besar bukan masalah.
Kini ada rutinitas baru lainnya yang selalu kami jadwalkan, setiap dua minggu sekali kami rutin saling mencukur bulu kemaluan masing masing. Biasanya kami lakukan hari jum’at siang setelah suamiku jum’atan. Kalau dia sedang nafsu kami lanjutkan ke persetubuhan, namun belakangan dia mau mengeluarkan spermanya di dalam rahimku.
Dengan alasan sangat menyukai jepitan serambi lempitku, karena jika aku hamil pasti ada waktu yang cukup lama diriku tidak boleh di sentuh, maksunya bersenggama. Apalagi jika nanti melahirkan, kemungkinan besar serambi lempitku menjadi longgar, jadi yang harus menampung spermanya adalah wajahku.
Awalnya dia memintaku untuk meminumnya, namun aku masih merasa jijik dan malah muntah ketika mencobanya.
Karena itulah sekarang, wajahku yang harus jadi target tembakan spermanya berulang kali, namun sensasinya cukup nikmat karena rasa hangat saat menyentuh wajahku, sperma itu loncat dari lubangnya. Aku sangat menyukainya entah kenapa, ketika sperma itu keluar muncrat dari lubangnya, terlihat sangat indah sekali.
“sayang, ini uang bulanan ya, tolong hemat hemat”
“iya uda terima kasih”
“samasama” dia mengecup keningku
Aku membuka amplop yang diberikan suamiku, alhamdulillah hampir setiap bulan nominalnya selalu bertambah. Kali ini cukup banyak, aku diberi 2jt rupiah, sudah pasti cukup untuk kebutuhanku dan rumah tangga. Untuk masalah makan, suamiku sangat sederhana, asal ada telur atau sop sudah cukup baginya.
Makanya selalu sedikit, bukan karena tidak lapar, tapi karena dia selalu menjaga porsinya agar tidak berlebihan dalam makan, karena sehalal apapun makanan kalau kita makannya berlebihan akan menimbulkan penyakit penyakit.
Alhamulillah meski hanya baju sederhana, aku bisa membeli pakaian baru untuku dan suami. Aku membelikan kemeja tangan pendek tipe pakaian kesukaan suamiku dan 1 set gamis untuku.
Malamnya, aku mencobanya di depan suamiku.
“gimana uda, aku cantik gak?”
“cantik banget sayang, gausah ditanya”
“hihihi”
“nah gitu dong, pake kerudungnya yang syar’i kan lebih cantik”
“iya uda, sekarang aku belinya jilbab jilbab yang lebar”
“suka banget deh peluk kamu kalo pas lagi cantik cantiknya” uda memeluku dari belakang.
“ehmm… geli uda” dia meremas buah dadaku
“sepongin uda sayang”
“aahhh aku gabisa uda”
“gapapa pelan pelan aja, uda ajarin”
Ustazahku ketika pengajian pernah bilang kalau rudal adalah tempat dimana najis keluar, maka dari itu ada beberapa pendapat ulama yang beda pandangannya. Ada yangmengharamkan karena itu berarti menjilat najis ada juga yangmemasukannya ke kategori makruh karena itu demi kepuasan hubungan seks.
Aku sendiri sebenarnya lebih cenderung ke hukumnya makruh, karena ustazahku sendiri melakukan itu kepada suaminya hal itu justru membuat suaminya semakin sayang.
Akupun kini sudah berlutut di depan selangkangan suamiku yang sedang duduk di atas kursi ruang tv. Suamiku mengelus kepalaku dan sedikit mendorong kepalaku agar mulai menjilati batangnya. Kali ini aku tidak muntah, mungkin karena bimbingan suamiku yang dimulai dari hal mudah dulu sehingga lidahku terbiasa dengan rasa dan tekstur dari batang.
Menit menit berlalu, kini aku sendiri mulai menikmati rasa dari batang suamiku ini, teksturnya keras seperti ada tulangnya rasanya hambar namun ada aroma asam disana.
Elusan dan pujian dari suamiku membuat aku semakin bersemangat melakukan itu, lidahku menjilatinya dari bawah testis sampai naik ke atas kepala batangnya yang seperti kepala ular, mungkin karena itu disebut ular kasur.
Warna merah gelap batang suamiku berubah menjadi merah mengkilap karena sekarang batang itu basah dengan ludahku. Tidak mudah menahan mual karena kepala batang suamiku menjolok sampai tenggorokanku, namun lama kelamaan aku terbiasa dengan urat keras itu. Suamiku terus mengelus kepalaku sambil memuji kalau aku pintar sekali dan selalu bisa membuatnya puas.
“uuuuuhhhhh enak banget sayang, kamu pinter banget”
“ueek uhuuuk”
“uuuhhhh sini sayang” suamiku mengeluarkan rudalnya dari mulutku, kutatap wajahnya yang menahan nikmat.
“uhuuuh kenapa uda?”
“gapapa sayang enak”
“hehe”
“tadi ngapain?”
“apanya uda?”
“tadi namanya nyepong sayang”
“iya nyepong”
“apa yang kamu sepong?”
“batang uda”
“bukan sayang, ini namanya rudal”
“iya”
“iya apa? Apa namanya?”
Aku menggeleng
“ayo sebutin sayang, jangan malu”
“gamau ah malu”
“ayo, kamu masih malu sama uda? Apa namanya? Kon?”
“tol” suaraku pelan
“apa?”
“rudal” rasanya terasa aneh mengucapkan kata itu
“nah gitu dong pinter kesayangan uda”
“heehm”
“ayo terusin lagi sayang nyepong rudalnya”
Aku hanya melakukan apa yang dia minta dan dia sukai selama ini, ternyata dalam hatinya ada fantasi seks yang cukup kurang pas dihatiku, namun aku melakukannya karena itu masih bisa kulakukan.
“aaaahhhhh sayang enak banget uda mau keluar”
Uda berdiri dan mencabut rudalnya dari mulutku, kemudian dia mengocok rudalnya sendiri.
“aaaaahhhhhhh sayaaaaaang”
lndah sekali lompatan sperma itu kulihat, namun masalahnya sperma itu mendarat tepat di jilbab baruku. Namun ternyata memang itulah tujuan uda yang sebenarnya.
“aaaahhh uda, jilbab baru aku jadi kotor kan”
“gapapa sayang, kan masih bisa dicuci”
“hem iya iya”
“mulai sekarang, setiap kali kamu beli jilbab baru harus laporan ke uda”
“kenapa emang?”
“harus digituin dulu”
“aaahhh tapi kan kotor”
“eeeeh gaboleh bantah, ini perintah suami”
“iya uda”
“berkah sperma suami sayaang, biar kamu selalu dalam kesehatan”
“aaamiin uda”
“ayo bilang makasih”
“makasih uda”
“makasih udah pejuhin jilbab baru fitri”
“makasih uda udah pejuhin jilbab baru fitri”
“sama sama sayang”
Bersambung… Seperti yang aku katakan, suamiku ternyata memiliki fantasi seks yang sangat beda dari yang aku bayangkan. Salah satunya yang itu, setiap aku membeli jilbab baru pastilah jilbab itu menjadi incaran nafsunya juga, walaupun ya selama ini aku masih bisa menerima semua itu.
Aku tidak tahu itu kepercayaan dari mana, namun dia bilang kalau jilbab istri dipejuhin suaminya itu akan membawa keberkahan untuk istrinya disamping itu ketika aku memakai jilbab itu akan terhindar dari gangguan gangguan jin dan sebagainya, aku sih iya iyain aja meski sebenarnya aku tidak percaya, itu hanya alasannya saja untuk membenarkan fantasi nafsu seksnya yang besar.
Ada juga momen dimana aku membeli baju untuk berlebaran, aku sudah bilang kepadanya mengenai aku membeli jilbab baru. Namun uda masih belum menyuruhku memakainya, sampai hari lebaran tiba, kami pergi kerumah orang tuaku dan saat itu aku mengenakan jilbab baru.
Keluargaku ini memang keluarga besar, karena itu pastilah dirumah orang tuaku ramai sekali orang orang yang datang bersilaturahmi.
Namun disaat saat itulah suamiku menyuruhku ke belakang, padahal ini bukan momen yang tepat namun dia memaksaku untuk melakukan sepong saat itu juga.
“tapi uda disana banyak orang, kalo ketahuan gimana?”
“gak akan, makanya kamu jangan berisik” uda menurunkan celananya
“uda ih aneh aneh mulu mintanya”
“gapapa sayang, ayo kalo ada orang uda kasih tau entar”
Meskipun terpaksa, aku tetap melakukannya seperti biasa, namun disanalah aku merasakan sensasi sepong rudal yang berbeda dari sebelumnya. Ada sensasi nikmat menjilati rudal suamiku, namun ada juga sensasi takut ketahuan jika ada orang yang masuk ke dapur.
Kedua rasa itu saling bercampur dan menghasilkan sensasi yang luarbiasa aneh namun nikmat. Beberapa kali uda menyuruhku berhenti karena ada orang yang lewat, namun hanya lewat depan pintu saja.
“aaahhhh sayang uda mau keluar”
“aaah uda jangan kena jilbab kan masih banyak orang”
“yaudah kalo gitu minum sperma uda”
“aaaaah uda jangan gitu ah”
“eh ayo pilih telan atau kena jilbab dan malu”
“aaah udaaaa”
“udah ayo telan nih uda mau keluar”
Crooooooooooooot crooooooooooot crooooooooot crrrooooot
Kurasakan semprotan hangat sperma uda mengenai lidah dan gigiku, aromanya sangat anyir dan rasanya asin sekali. Namun aku terpaksa harus menelan semua cairan yang keluar dari lubang pipis suamiku itu, aku paksakan tenggorokanku menelannya.
“udah ditelen?”
“udah”
“mana liat buka mulutnya”
Aku membuka mulut menunjukan bahwa mulutku sudah bersih tidak ada spermanya.
“masyaallah, pinter banget istri uda nyepongnya”
Saat itu uda sedang membetulkan celananya, dia tidak mengeringkan dulu rudalnya yang sudah aku jilati.
“bersihin dulu uda jangan masukin dulu”
“gapapa sayang, ludah istri biar berkah”
Tidak lama setelah itu pamanku masuk ke dapur, untungnya aku sudah memegang gelas dan pura pura segera membuat teh.
“bikin apa fit?”
“mau bikin teh om, buat uda”
“wah om mau juga ya”
“iya om, dibikinin ya”
Memasuki pernikahan bulan ke 6, suamiku masih belum mau menanamkan spermanya ke dalam rahimku. Beberapa temanku yang sudah menikah lainnya sudah banyak bertukar cerita bagaimana perjuangannya menjadi seorang ibu hamil.
Namun meski aku berangan seperti itu juga, suamiku justru masih betah hidup berdua saja. Bebas kemanapun pergi berdua, melihat umurnya yang baru saja 22 tahun memang masih panjang ceritanya, namun kini umurku sudah 25 tahun, sudah lebih dari cukup tubuhku untuk siap disemai janin dalam rahim.
Setelah seharian bersilaturahmi pada hari lebaran kami segera pulang, lalu uda memintaku mengocok dan mengulum rudalnya walau keadaan pintu masih terbuka. Padahal disana orang orang banyak yang berlalu lalang, namun kami selalu ada pada posisi tersembunyi dimana tidak akan terlihat dari luar.
Beberapa menit kemudian, lahar putih yang hangat melompat bebas dan indah jatuh di wajahku. Dengan jariku yang lentik aku memasukannya ke dalam mulut, sisanya mengenai kerudung baruku. Alhamdulillah aku merasa diberkati dengan basahnya jilbabku dengan sperma suamiku.
“uda, kapanlah uda mau hamili uni?”
“kamu sudah tidak sabar ya sayang?”
“iya uda, temen temen uni udah pada mengandung”
“sabar ya sayang, uda masih sangat menikmati nikmatnya tubuh kamu sayang”
“uda, umur uni udah 25, uda enak masih 22, nanti uni keburu tua udaa”
“hem gini aja sayang, 4 bulan lagi aja, setelah uda menuntaskan fantasi seks uda”
“janji ya 4 bulan lagi?”
“asal uni mau nurutin maunya uda”
“iya uda, sebisa mungkin akan uni turutin”
Minggu demi minggu berlalu, aku tidak tahu dari mana suamiku melihat dan tahu hal itu, fantasinya sungguh diluar nalarku. Namun aku selalu mencoba mengerti dan menuruti kemauannya, ada kalanya mataku harus ditutup dan aku harus berpura pura memberontak seperti wanita yang diperkosa.
Ada kalanya bagian bagian tubuhku diikat, lalu beberapa bagian tubuhku ditampar cukup keras sampai aku meringis kesakitan. Namun aku merasa cukup aneh karena dia terlihat sangat menikmati ketika memperlakukanku seperti itu.
Kadang aku harus menahan rasa sakit ketika puting susuku harus dijepit oleh jepitan jemuran. Ada kalanya juga aku harus berkelakuan seperti seorang budak yang menurutin semua kemauannya.
Namun, jujur aku juga menikmati apa yang dia lakukan padaku, aku juga tidak pernah merasa bosan ketika harus bersetubuh dengannya, karena setiap hubungan intim kami melakukan skenarion seperti film yang berbeda beda dan itu terasa sangat nikmat.
Namun semua yang terjadi disana adalah rahasia kami, betapapun gilanya dia ketika melakukan seks. Dia juga tetap selalu menyayangiku dan selalu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup kami.
Aku sangat bersyukur dinikahi oleh lelaki pekerja keras sepertinya. Juga bukan hanya kerjanya saja yang keras, rudalnya yang menghantam pintu rahimku juga keras, alhamdulillah.
Menjelang akhir tahun aku dan suami harus pindah ke daerah dimana disana dominan suku batak. Kepindahan kami kesana bukan tanpa alasan, semua karena suamiku yang memindahkan kantor kerjanya kesana untuk mencoba peruntungan baru.
Disana, meskipun orang batak dikenal cukup kasar namun justru yang aku temukan mereka sangat baik sekali. Memang pada dasarnya ketika kita berlaku baik dan hormat kepada orang lain merekapun akan menghormati kita juga.
Tersebutlah disana tetanggaku bernama Pak Sitar, beliau bekerja sebagai tukang ojek di daerah itu. Rumahnya hanya terhalang 2 rumah dari rumahku, orangnya baik sekali, karena itu biasanya aku selalu ngojek kepada pak sitar jika harus pergi keluar untuk belanja dan sebagainya.
Pak Siter memang beragama kristen, namun beliau selalu menghormatiku yang notabene adalah perempuan muslim. Beliau menjagaku seperti anaknya sendiri ketika suatu hari ada keributan di pasar dimana ada kelompok yang memukuli para pedagang islam oleh tukang ojek kristen.
Aku yang memakai kerudung saat itu tentu merasa terancam dan benar saja ada beberapa orang yang berlari ke arahku, namun aku sangat bersyukur sekali karena disana ada pak sitor.
“heh anjing, pergi kalian, dia saudara aku”
Para preman itupun kabur karena disana pak sitor memang cukup dihormati dan senior. Saat itu umur pak sitor sudah S2 tahun, namun penampilannya masih segar dan gagah, preman preman disana sangat menghormati pak sitor, konon katanya pak sitor pernah ditembak oleh polisi namun tidak mempan sehingga orang lain menakutinya.
Dari sini awal mula perselingkuhanku dengan pak sitor dimulai, jujur aku sangat menghormati pak sitor sebagai seorang pria yang memang layak aku panggil ayah.
Namun kala itu pak sitor sakit dan dia hanya dirawat oleh cucunya yangmasih SMP. Jika dia sedang sekolah, aku yang menggantikannya merawat pak sitor, beberapa minggu kemudian alhamdulillah pak sitor sembuh.
Suatu hari aku sedang mencuci piring dirumah pak sitor, tidak ada angin tidak ada hujan tiba tiba saja pak sitor memeluku dari belakang.
“upik lagi apa?” upik adalah panggilan untuk anak perempuan
“astaghfirullah pak, jangan peluk pak”
“gapapa pik, ini pelukan sayang ayah ke anaknya”
“ehm… tapi pak”
“udah gapapa maaf yah”
Setelah itu aku cepat pulang karena merasa tidak nyaman apa yang pak sitor lakukan tadi. Sampai pada suatu hari aku yang jatuh sakit karena kecapean dengan banyak kegiatan, kemudian pak sitor datang menjenguk kerumah.
Disana dia memberikan aku beberapa ramuan herbal untuk obat, lalu dia memijati kakiku, sungguh rasa pijatan kakinya enak sekali, aku tidak tahu kalau ternyata di pijat kaki itu bisa senikmat itu.
Aku sungguh tidak mengerti apa yang terjadi dengan diriku, seakan aku sedang dihipnotis. Aku sadar dan aku melihat tangan pak sitor naik perlahan ke arah pahaku namun sungguh saat itu aku tidak bisa mengatakan jangan. Bahkan ketika tangan pak sitor mulai menyingkap gamisku pun aku hanya melihatnya saja dan diam.
Aku tidak merasa lemas ataupun hilang kesadaran, hanya saja aku hanya tidak mengerti kepada diriku sendiri ketika pak sitor mulai menarik celana dalamku dan melepaskannya. Bahkan ketika jarinya mulai menyentuh area serambi lempitku, aku hanya bisa diam dan memperhatikan apa yang dia lakukan.
Sungguh dibalik sentuhan jari jemarinya ada rasa nikmat yang membuat serambi lempitku mengeluarkan cairannya, aku melihat pak sitor memainkan cairan itu di jarinya depan mataku. Sungguh aku merasa aku sudah dihipnotis olehnya, setiap sentuhannya di serambi lempitku membuat diriku tiba tiba saja sangat bergairah.
Bersambung… Padahal yang pantas berbuat itu adalah suamiku tercinta namun aku telah tertutup mata hatiku oleh nafsu dan gairah yang menuntut pelampiasan.
Aku lalu dibimbingnya kekamar dan merebahkanku di ranjang yang biasa aku gunakan untuk bercinta dengan suamiku, namun kini yang berada di sini, disampingku bukanlah suamiku tapi seorang laki-laki tukang ojek yang notabene tidak pantas untukku yang sepantaran ayahku. Aku terlarut dalam gairah yang menghentak.
Pak Sitor menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Sedang lampu di luar tadi telah ia matikan. Aku diam menanti apa yang akan di perbuatnya padaku.
Astaghfiru/lah, Ya Allah tolong hambaaa
Namun aku tidak bisa melakukan apa yang seharusnya wanita terhormat lakukan, aku hanya diam saja dan menikmati apa yang pak sitor lakukan.
Padahal selama ini aku tidaksekalipun memberi hati jika ada laki-laki lain yang iseng merabaku dan mencolekku. Aku termasuk wanita yangmenjunjung tinggi kesucian dan kehormatan sesuai yang selalu diajarkan orangtua dan agamaku.
Tapi semua musnah oleh keangkuhanku sendiri. Aku terbaring tak berdaya dan Pak Sitorpun berusaha melepaskan pakaianku satu persatu, mulai dari kaosku lalu celana panjang dan akhirnya bra dan celana dalam kremku terlempar kebawah lantai.
Aku hanya memejamkan mataku, akupun semakin buta oleh nafsuku yang mulai naik. Selesai menelanjangi aku, lalu iapun melepaskan pakaiannya hingga lapis terakhir.
Aku memperhatikan tubuhnya yang hitam meskipun sudah tua namun ototnya masih ada dan ada gambar tatto tengkorak di lengannya. Aku tau dia adalah laki-laki yang biasa keras dan jarang ada kelembutan. ltu aku ketahui saat ia mulai merabaiku dan menelanjangiku.
lapun mulai memelukku dan menciumiku dari leher hingga belahan dadaku dengan kasar. Rabaan tangannya yang kasar membuatku kesakitan, suamiku dalam merabanya cukup hati-hati, namun Pak Sitar watak kasarnya terlihat.
Tampaknya ia sudah lama tidak berhubungan badan dengan wanita maka akulah yang menjadi sarana pelampiasan nafsunya. Aku tak kuasa atas tindakannya.
Air mataku menetes karena ada penyesalan dan aku telah menadai perkawinanku, namun percuma Pak Sitar asyik dengan tindakannya. Tiap jengkal tubuhku di jamahnya tanpa terlewatkan seincipun. Tubuhkupun berkeringat tidak tahan dan geli bercampur gairah.
“astaghfirullah pak, jangan pak”
“maaf upik, bapak tidak tahan”
Lalu mulutnya turun ke selangkanganku dan ia sibakkan kedua kakiku yang putih bersih itu.Disitu lidahnya bermain menjilat klitarisku. Kepalaku miring kekiri kanan menahan gejalak yang melandaku. Pegangannku hanya kain sprei yang aku tarik karena desakan itu.
Kedua kakikupun menerjang dan menghentak tidak tahan atas gairah yang melandaku. Beberapa menit kemudian aku argasme dan mulutnya menelan air argasmeku itu. Badanku lemas tak bertenaga. Matakupun terpejam, lalu aku kembali di bangkitkan lagi Pak Sitar dengan meciumi balik telingaku hingga liang keharmatanku.
Di sana jarinya ia masukan dan mulai mengacak acak liang kewanitaanku lalu mempermainkan celahnya, tampaknya Pak Sitar telah lama merencanakan ini dan juga mungkin telah lama ia berabsesi untuk meniduriku. Berarti ia telah melanggar amanat suamiku untuk menjagaku.
Namun, hati dan tubuhku berkata lain, ketika dalam hati menalak justru tubuhku merespan sentuhan sentuhan pak sitar yang hampir setiap kali menyentuh tubuhku semakin nikmat rasanya. Rasa nikmat itu mululuhkan egaku dan kesetiaanku kepada suamiku dan aku mulai tenggelam dalam syahwat.
Akupun akhirnya argasme untuk yang kedua kalinya aleh tangan Pak Sitar, Badanku telah basah aleh keringat kami berdua. Aku lemas dan Pak Sitar minta izin padaku untuk memasukan rudalnya ke lubang keharmatanku. Aku menggeleng tidak setuju sebab aku tahu kansekwensinya, liang keharmatanku akan cemar aleh cairan laki-laki lain dan aku merasa terlalu jauh berkhianat pada suamiku.
“astagfirullah pak, tidak pak, jangan lakukan itu” namun anehnya tanganku hanya bisa dia.
Bagiku cukuplah tindakannya tadi dan tidak usah diteruskan lagi hingga penetrasi. lapun mau menerima pendapatku dan aku lihat ada rasa kecewa dimatanya yang telah terabsesi menyenggamaiku.
Aku liat rudalnya telah siap memasuki diriku jika aku izinkan. Panjangnya melebihi milik suamiku dan agak bengkak dengan diameter yang melebar. Pak Sitar minta aku untuk membantunya klimaks dengan mengulum rudalnya.
Pak Sitor mohon sebab ia merasa tersiksa sebab ia belum klimaks. Aku kasihan juga tidak adil rasanya aku yang telah dibantunya sampai 2 kali orgasme membiarkannya seperti itu.
Akhirnya aku beranikan diri mengulumnya. Dengan sedikit jijik aku buka mulutku, namun tidak muat seluruhnya dan hanya sampai batangnya saja. Mulutku serasa mau robek karena besarnya rudal Pak Sitor. Baru beberapa kali kulum aku serasa mual dan mau muntah oleh aroma kelamin Pak Sitor itu.
Aku maklum saja karena ia kurang bersih dan seperti kebiasaan laki-laki batak ini rudalnya tidak ia sunat hingga membuatnya agak kotor serta makanan yang tidak beraturan barangkali. Aku lalu menyerah dan melepaskan rudal Pak Sitor dari mulutku.
Aku heran Pak Sitor ini sampai sekian lama koq tidak juga klimaks, aku salut akan staminanya dan sikapnya yang menghargai wanita dengan tidak memaksakan kehendak, padahal aku saat ini bisa saja ia paksa namun tidak ia lakukan.
Aku merasa bersalah pada diriku dan ingin membantunya saat itu,dalam pikiranku berperang antara birahi dan moral. Namun karena terlanjur basah dan tidak ingin menambah masalah antara aku dan Pak Sitor.
Jika aku larang terus nantinya Pak Sitor bisa saja memperkosaku sebab seorang laki-laki yang telah berbirahi di ubun ubun sering bertindak nekad dan lagi pula aku sendirian di pulau ini. Akhirnya dengan pertimbangan demi kebaikan kami berdua maka aku izinkan dia melakukan penetrasi di dalam rahimku.
Pak Sitorpun tampaknya merasa gembira sebab tadi sempat kulihat wajahnya tegang sekali. Aku lalu berbaring dan membuka kedua pahaku memberinya jalan memasuki rahimku. Tubuh kami berdua saat itu telah sama sama berkeringat dan rambutku telah kusut.
Dari temaran lampu dinding aku lihat Pak Sitor bersiap siap mengarahkan rudalnya. Posisinya pas di atas tubuhku. Tubuhnya telah basah oleh keringat hingga membuat badannya hitam berkilat mungkin karena ia masih menahan untuk ejakulasi.
Diluaran saat ini hujanpun seakan tidak mau kalah oleh gelombang nafsu kami berdua. Pak Sitor dengan hati-hati menempelkan kepala rudalnya, ia tau jika tergesa gesa akan membuatku kesakitan sebab punyaku masih kecil dan belum pernah melahirkan.
Akupun berusaha memperlebar kedua pahaku hingga mudah dimasuki kejantanan Pak Sitar, sebab aku melihat kejantanannya panjang dan agak bengkok jadi aku bersiap siap agar aku jangan kesakitan.
Akupun sempat bilang kepadanya untuk jangan cepat-cepat. Dengan bertahap ia mulai memasukan rudalnya, aku memejamkan mata dan merasakan sentuhan pertemuan kemaluan kami.
Untuk melancarkan jalannya, kakiku ia angkat hingga bahunya, lalu langsung rudalnya masuk kerahimku dengan lambat.
Aku terkejut dan merasakan nyilu di bibir rahimku, aku meracau kesakitan lalu Pak Sitar membungkam mulutku dengan mulutnya. Tidak lama kemudian seluruh rudalnya masuk kerahimku dan ia mulai melakukan gerak maju mundur.
Aku merasakan tulangku bagai lalas, sama seperti saat aku dan suamiku melakukan hubungan intim saat kegadisanku aku serahkan pada malam penganten dulu. Dan tidak lama kemudian aku merasakan kenikmatan. Mulut Pak Sitarpun lepas dari mulutku karena aku tidak kesakitan lagi.
Kekuatan laki-laki ini amat membuatku salut, sampai membuat ranjangku dan badanku bergetar semua seperti kapal yang terserang badai.
“ahhhhhh aaah allahu ya allah enak banget… astaghfirullah maafkan aku udaaa”
“nikmati saja upik, enak upik?”
“ehmmm… enak pak”
“apa yang enak?”
“itunya pak sitar”
“iya itu apa namanya?”
“kantal pak”
“kantalnya kenapa?”
“rudalnya masuk”
“masuk kemana?”
“ke serambi lempit fitri”
“rudal masuk ke serambi lempit namanya apa?”
“aaaaahhhh gamau, upik gamau sebut itu”
“ayo sebutin upik, kalau enggak bapak hamili kamu”
“ngewe pak”
“nah gitu dong piter, ayo upik bilang allahuakbar, bapak suka kamu bilang gitu pas lagi diewe”
“aaaahhhhh allahuakbar, subhanallah aaaaaaahhhhh”
“rudal bapak ngewe serambi lempit upik, nikmat paaaak aaaakhhhhh”
Kurang lebih 15 menit kemudian Pak Sitor gerakannya bertambah cepat dan tubuhnya menegang hebat, aku merasakan di dalam rahimku basah oleh cairan hangat. Tubuhnya lalu rebah di atas tubuhku tanpa melepaskan rudalnya dari dalam rahimku.
Akupun dari tadi pun telah sempat kembali orgasme, kamipun tertidur sementara di luar hujan masih saja turun. Butiran keringat kami membuat basah sprei yang kusut di sana sini. Saat itu tidak ada lagi batas diantara kami, namun aku merasa telah berdosa kepada suamiku.
Entah kenapa aku merasa tidak kecewa kepada pak sitar karena dia melanggar janjinya untuk tidak menumpahkan spermanya di dalam rahimku, namun sensasinya nikmat sekali, hangat.
Hingga tengah malam Pak Sitorpun kembali menggauliku sepuasnya dan akupun tidak merasa segan lagi karena kami tidak lagi merasa asing satu sama lain. Akupun tidak merasa jijik jika melakukan oral sex dengan Pak Sitar.
Bagi wanita sangat sulit untuk melepaskan diri dari kejadian ini. Penyesalanpun tiada gunanya. Bagiku yang tampak diluarnya keras dan berwibawa juga penuh kesombongan, namun semuanya tiada arti lagi jika laki-laki telah berhasil menggaulinya.
Kehormatan dan perkawinan yang aku junjungpun luntur sudah, namun aku bisa bilang pada siapa dan Pak Sitorpun kini telah merasa jadi pemenang dengan kemampuannya menaklukanku hingga aku tidak berdaya. Dan aku semakin tidak berdaya jika ia telah berada di dalam kamarku, untuk bersebadan dengannya.
Dari awal kesalahan yang kubuat ini aku merasakan telah terperdaya oleh gelombang gairah yang di pancarkan oleh Pak Sitor.
Sangat aneh bagiku jika Pak Sitor yangseusia dengan ayahku ini masih mampu mengalahkanku dan membuatku orgasme berkali kali tidak seperti suamiku yang hanya bisa membuatku orgasme sekali saja begitu juga aku. Aku akui aku mendapatkan pengalaman baru dan mengaburkan pendapatku selama ini bahwa laki-laki paro baya akan hilang keperkasaannya.
Selama kami berhubungan badan aku sempat bertanya padanya bagaimana ia bisa sekuat itu, dan Pak Sitorpun bercerita bahwa ia sering mengosumsi makanan khas Batak yang menurutnya dapat menjaga dan menambah vitalitas pria.
Aku bergidik jijik dan mau muntah mendengarnya, aku jadi ingat pantas saja saat bersebadan dengannya bau keringatnya lain juga saat aku mengulum kemaluannya terasa panas dan amis.
Selama aku bertugas di pulau itu hampir 1 tahun kami telah sering melakukan hubungan sex dengan sangat rapi. Tidak ada seorangpun yangmengetahuinya, dan untunglah perbuatan kami ini aku tidak hamil sebab sebelumnya aku telah ber KB dan Pak Sitor pun bebas menumpahkan spermanya di rahimku.
Kapanpun, kamipun sering melakukannya di rumahku kadang di rumah Pak Sitor yang kalau aku pikir alangkah bodohnya aku mau digauli di atas dipan kayu yang cuma beralaskan tikar usang.
Namun bagiku hasrat terpenuhi dan Pak Sitorpun bisa memberinya. Pernah suatu hari setelah kami bersebadan di rumahnya, Pak Sitor minta kepadaku untuk mau hidup dengannya di pulau itu.
Permintaan Pak Sitor ini tentu mengejutkanku, rasanya tidak mungkin sebab aku terikat perkawinan dengan suamiku dan akupun tidak ingin menghancurkannya, lagi pula Pak Sitor seusia dengan ayahku apa jadinya jika ayahku tahu, dan keyakinan kamipun berbeda karena Pak Sitar searang pratestan meskipun ia mau pindah ke agamaku asal aku mau kawin dengannya.
Bagiku ini masalah baru, rupanya Pak Sitar mulai mencintaiku sejak ia dengan bebas dapat menggauliku. Pak Sitarpun pernah menanyakan padaku kenapa aku tidak hamil padahal setiap ia menyebadani aku spermanya slalu ia tumpahkan di dalam.
Aku tidak memberitahu dia jika aku berKB. Dan diapun sebenarnya mengiinginkan agar aku hamil agar memuluskan langkahnya memilikiku. Akupun menyiasatinya agar ia tidak lagi bermimpi untuk mengawiniku. Namun bagiku hubungan ini hanyalah sebagai pelarianku dari kesepian selama jauh dari suamiku.
Akupun menjelaskannya kepada Pak Sitar dengan baik-baik saat kami usai berhubungan badan. la akhirnya mengerti dan mau menerima alasanku dan akupun bilang jika kelak aku pindah hubungan ini harus putus.
Cerita Sex Pemuda Kampung
Selama aku dinas di pulau ini ia aku beri kebebasan untuk memilikiku saat suamiku tidak ada dan jangan berbuat macam macam didepan teman kantarku yang kebetulan semuanya penduduk asli pulau itu.
Akhirnya ia mau mengerti dan berjanji akan menutup rapat rahasia kami jika aku pindah dan iapun menerima persyaratanku selama aku ditugaskan di pulau ini. Selama aku tugas di pulau itu, Pak Sitarpun terus memberiku kenikmatan ragawi tanpa kenal batas antara kami.
Bagiku cinta hanya untuk suamiku, Pak Sitar adalah terminal persinggahan yang harus aku singgahi. Dan dalam hatiku aku berjanji untuk menutup rapat rahasia ini. Ada penyesalan dalam diriku karena aku mengganggap diriku katar dan merusak keutuhan perkawinan kami.