Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Nyai Menggetarkan Iman

Nyai Menggetarkan Iman

Selamat malam sobat Ngocoks. Perlu diingat untuk para pembaca Ngocokers yang setia bahwasanya tulisan ini hanyalah fiktif belaka murni hasil dari pengembangan fantasy semata tanpa ada keinginan untuk melecehkan dan atau merendahkan suku, ras, dan agama, diharapkan kebijakan dan kedewasaan pembaca, segala sesuatu yang terjadi kemudian diluar tanggung jawab penulis.

Saya harap para pembaca Ngocokers untuk bijak dalam cerita dewasa ini. Mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian ataupun cerita, maka itu semua hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan dari penulisnya.

Nyai Menggetarkan Iman – “Sampai di sini saja perjumpaan kita, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” suara merdu ummahat berkacamata yang tetap tampak manis di umurnya yang kian senja itu mengmasiri sebuah program kuliah subuh di salah satu stasiun radio swasta.

Sembari tersenyum kepada operator sound di hadapannya, ia pun melepas headset yang membelit bagian atas dari jilbab kuningnya. Sembari membetulkan sedikit posisi kacamata minusnya, wanita setengah baya yang usia 47 tahun itu pun menggapit tas tangan kulit dengan tangan kanannya dan kemudian berjalan menuju pintu keluar.

Sebelum keluar, sang operator sempat memajukan tangannya untuk mengajak ustadzah itu bersalaman. Ustadzah itu pun menyambut tangan sang operator tanpa menyentuhnya sedikitpun sambil tetap menundukkan pandangan dan bergumam, “Assalamualaikum.”

Cerita Sex Nyai Menggetarkan Iman Ngocoks Tapi hal itu sudah cukup membuat sang operator menelan ludahnya karena terpana akan keindahan gundukan kembar di dada sang ustadzah yang sekilas tercetak di jubahnya ketika ia menunduk.

Baru saja keluar ruang siaran, sang ustadzah berkacamata itu langsung disambut oleh seorang laki-laki berjanggut tipis yang berumur sekitar 27 tahun. Tubuhnya begitu kekar dan tegap dibalut baju koko hijau muda, peci putih, dan celana panjang hitam dari bahan kain.

Hidungnya yang mancung dan tulang pipinya yang kokoh memperkuat aura keshalihan dan kelelakiannya yang pasti menarik setiap wanita yang melihatnya termasuk ummahat berjilbab panjang di hadapannya yang tengah berdesir sedikit darahnya berhadapan dengan ikhwan yang jelas lebih tampan, lebih tegap, dan lebih muda dari suminya kini. “Assalamualaikum, Nyi,” ujar lelaki itu membuka suara.

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, apa kabar mas Ganang?” Jawab sang ustadzah yang baru selesai siaran itu.

“Alhamdulillah ana bi khoir, Nyi. Saya baik-baik saja. Bagaimana tadi siarannya?” Lelaki tampan yang ternyata bernama Ganang itu sengaja atau tidak kian mendekat ke tubuh mungil lawan bicaranya yang tampak begitu alim dan lembut itu.

Jantung sang ustadzah itu berdetak lebih kencang dari keadaan normal menyadari gerakan ikhwan tersebut, wajahnya kian tertunduk, walau tanpa bisa dipungkiri, ketampanan dan aura kejantanan yang terpampang jelas di wajah Ganang membuatnya tak bisa menahan diri untuk mencuri-curi pandang pada Ganang, “Aa…aall…alhamdulillah, lancar-lancar saja mas.” Ia pun sampai tergagap-gagap karenanya.

“Krriiiing….krriiiing….,” sebuah bunyi dari handphone di kantong sang ustadzah pun menetralisiri situasi yang hampir tak terkendali itu, sampai-sampai sang ustadzah itu pun menghela nafas panjang saking leganya.

Ia merasa Allah telah menyelamatkannya dari hawa nafsu yang hampir tak bisa ditahannya itu. Ia bergeser dan sedikit berpaling ke sebelah kanan,”sebentar ya, mas.”

“Iya, Tafadhol. Silahkan, Nyaii.”

“Assalamualaikum,” ujar sang ustadzah memberi salam pada lewan bicaranya di telepon yang telah amat dikenalnya.

“Waalaikumsalam, Ibu. Habis siaran ya? Kapan kamu kembali ke Bandung?” Tanya seorang lelaki dengan logat sunda-nya yang khas di ujung telepon.

“Hmm…kayaknya baru malam ini, A. Nanti mau ke rumah Ummu Abdillah dulu di Radio Dalam. Memang ada apa A? Kapan pulang?” Jawab ustadzah tersebut dengan suara yang sedikit dilembut-lembutkan karena lawan bicaranya itu adalah sang suami tercinta.

Namun itu sudah cukup membuat Ganang yang tanpa ia sadari terus memandangi wajah putih sendunya yang beitu mempesona sedikit bergetar imannya. Sebagai lelaki, Ganang pun tak bisa bohong bahwa ummahat di hadapannya masih terlihat menarik walau telah memiliki beberapa orang anak.

“Nggak ada apa-apa kok, tapi kayaknya Aa sama Rini bakal lebih lama di sini. Masih banyak yang harus diselesaikan. Jadi tolong jaga anak-anak ya, nggak apa-apa kan, teteh?” Lelaki yang dipanggil Aa tadi menjelaskan.

Walau hatinya sedikit perih, namun ia memaksakan diri untuk menjawab pertanyaan itu sekenanya, “Owh, nggak apa-apa kok, A. Lasmi nggak apa-apa di sini. Biar Lasmi yang urus anak-anak. Ya sudah, A, lagi buru buru, assalamualaikum.” Ustadzah yang ternyata bernama Lasmi itu langsung menutup telepon tanpa basa-basi lagi.

Ya, ustadzah yang baru saja siaran itu adalah Teh Lasmi, istri pertama seorang Kiyai yang alim dan begitu cantik. Saat ini, Sang Suami tengah berada di Surabaya bersama Rini, istri kedua-nya, guna suatu urusan dakwah.

Dan baru saja suaminya itu menelepon karena urusan itu menuntut tambahan waktu. Walau ia sudah berusaha untuk ikhlas, namun Teh Lasmi hanyalah seorang wanita biasa yang punya rasa cemburu dan butuh perhatian.

Sudah satu bulan Suaminya berada di Surabaya bersama Rini, madunya itu. Dan selama sebulan pula Ibu Lasmi terlarut dalam kesendirian. Tak hanya fisiknya yang lelah, batinnya pun lelah, rindu belaian mesra sang suami yang dicintainya.

Seperti tahu benar hal itu, Ganang kembali menggeserkan tubuhnya mendekati Teh Lasmi. Dengan penuh aura kelelakian, ia pun membisiki telinga kiri Bu Lasmi,” Nyai keliatan capek, istirahat saja dulu di ruangan saya, sebentar saja.”

Bagaikan tersihir, Bu Lasmi pun menganggukkan kepalanya dengan anggun. Ummahat yang begitu indah dipandang inipun menggoyang-goyangkan bongkahan pantatnya yang tercetak jelas di bagian belakang jubah putihnya mengikuti Ganang.

Goyangan yang sedikit erotis dan menggairahkan itu sudah pasti mampu menggugah iman setiap lelaki yang memandangnya. Walau telah beberapa kali melahirkan anak lewat serambi lempitnya yang mungil nan imut, tubuh Nyai Lasmi tetap terlihat seksi dan menggairahkan.

Ia adalah sosok perempuan sunda yang mampu menjaga bentuk tubuhnya walau telah termakan usia. Walau telah berusaha menutup diri dengan jubah dan jilbab panjang berwarna kuning.

Tonjolan payudara Nyai Lasmi yang alim dan shalihah ini dapat kita lihat jelas, begitu montok dan berisi, mengundang setiap insan untuk meremas-remasnya. Apalagi pagi ini ia memakai jubah yang lebih ketat dari biasanya.

Begitu melihat Ganang memasuki sebuah ruangan, Nyai Lasmi pun berhenti sejenak. Sesaat ia membaca papan nama di depan ruangan tersebut, “Ganang Zaidi, Kepala Divisi Da’wah dan Syari’at Islam.”

Dengan perasaan tenang, karena yakin Ganang yang baru dikenalnya di stasiun radio ini sejak sebulan yang lalu itu adalah seorang ikhwan yang baik-baik, Nyai Lasmi pun memasuki ruangan yang hanya berukuran 6 x 4 meter itu.

Tanpa disuruh, Nyai Lasmi langsung duduk di sofa yang berada di dekat pintu. Seperti kata Ganang tadi, Nyai Lasmi memang sedang lelah. Tak hanya lelah fisik, tapi juga lelah batinnya.

“Nyai Lasmi Mau minum apa?” tanya Ganang berbasa-basi sambil berjalan menuju dispenser. “Teh manis, mau?”

“Boleh, mas. Gulanya sedikit saja ya,” ujar Nyai Lasmi sambil meletakkan tas tangannya di atas meja kaca di depannya. Ia tak merasa canggung sedikitpun.

Walaupun ia hanya berdua saja dengan seorang lelaki yang notabene bukan mahromnya di ruangan itu, namun pintu ruangan itu dibiarkan terbuka oleh Ganang. Ia pun semakin yakin bahwa Ganang tak akan berbuat macam-macam pada dirinya.

Ganang segera pergi ke dapur mengambil minuman segar agar tamu istimewanya ini tak menunggu terlalu lama, Ganang langsung saja membawakan cangkir putih berisikan teh manis itu dan meletakkannya di depan ummahat berparas manis nan berbodi indah itu. “Silahkan teh manisnya, Nyi.”

“Iya, syukron ya mas. Terima Kasih,” ujar Bu Lasmi. Ia langsung meraih pegangan cangkir yang dihidangkan di hadapannya itu sembari menyeruput perlahan teh manis yang begitu nikmat itu dengan bibirnya yang mungil dan berwarna merah muda.

Sedikit demi sedikit, Ibu Lasmi menghabiskan teh manis yang terasa begitu lezat di permukaan lidahnya itu. Ia rasakan tubuhnya terasa panas seketika dan sedikit bergetar, namun ia membiarkannya. Mungkin hanya sedikit efek hangat dari teh manis ini, pikir Bu Lasmi.

“Ada apa, Nyi. Kok kelihatannya gelisah begitu?” Bu Lasmi mulai menyadari kalau ini bukan sekedar efek hangat dari teh manis biasa. Ganang pasti telah mencampurkan sesuatu ke dalam minumannya tadi.

Kurang ajar sekali ikhwan ini, pikirnya. Tubuhnya mulai berkeringat. Sekujur tubuhnya terasa lemas dan kelopak matanya begitu berat. Dengan mata setengah menutup, ia menggaruk-garuk kecil pundak kirinya dengan tangan kanannya yang lentik karena terasa sedikit gatal.

Untuk mengurangi rasa kantuk yang menerpa, Bu Lasmi mencoba mengalihkan pandangan pada jam yang ada pada dinding di belakangnya., namun usahanya itu tidak membuahkan hasil.

“Tidak, tidak apa-apa kok mas Ganang,” Ganang yang jauh lebih muda itu kini menyadari bahwa istri pertama Ustadz Haji Maulana itu telah masuk dalam jebakannya dan sebentar lai akan memasrahkan tubuh molek nan sintal miliknya untuk digagahi Ganang dengan penuh keikhlasan.

Ganang pun semakin tak sabar dan segera mengambil tempat di sebelah kiri Nyai Lasmi. Ia genggam tangan kiri Bu Lasmi yang halus dengan tangan kanannya yang cukup kasar.

Sementara itu tangan kirinya mulai melakukan serangan fajar dengan mengelus-elus pipi sebelah kanan Bu Lasmi yang lembut bukan main dan penuh aroma kewanitaan.

Ia hadapkan wajah ummahat manis berjilbab yang tengah berjuang melawan sensasi aneh yang disebabkan teh manis ajaib buatan Ganang tadi agar menghadap ke wajahnya. Ditatapnya mata yang tengah berpendar di balik kaca mata itu dengan penuh kemesraan.

“mas…..Ganang. Jangan ya, kita kan bukan mahrom. Lagipula nanti kalau ketahuan orang bagaimana?” Ganang tak menganggap itu sebagai penolakan. sumber Ngocoks.com

Bu Lasmi tak sedikitpun menarik telapak tangan kirinya yang tengah diremas-remas penuh nafsu oleh tangan kanan Ganang, lagipula Bu Lasmi mengucapkannya dengan sedikit berbisik, penuh kelembutan dan keteduhan bagai berbicara pada suaminya sendiri.

Dan ketika Ganang menarik lembut kepalanya agar wajah mereka mendekat, Bu Lasmi pun tak berpaling atau berontak sedikitpun. Ia mulai menikmati sensasi seksual yang begitu nikmat menggerayangi tubuhnya. Apalagi sudah sekitar 2 minggu suaminya tak sekali pun menyentuhnya.

Sebelum Aa berangkat ke Surabaya, ia sedang dalam keadaan haidh sehingga tak bisa digauli. Baru kemarin darah haidhnya berhenti. Dengan kata lain, saat ini Bu Lasmi sedang dalam masa subur sehingga membuat birahinya begitu meledak-ledak.

“Tenang saja, Bu. Ganang nggak akan nyakitin Nyai. Ganang cuma mau ngasih Nyai kenikmatan yang nggak akan pernah lupa. Lagipula, nggak akan ada yang melihat kita di sini.” Kini bibir dua insan yang bukan mahrom ini hanya berjarak sekitar 2 cm.

Lasmi pun telah memejamkan matanya sebagai tanda kepasrahan dirinya akan apa yang bakal terjadi setelah ini. Walaupun telah beristri dan mempunyai 2 orang anak, Ganang tak pernah menghilangkan sosok ummahat bertubuh bahenol asal sunda yang sering mengisi imajinasi liarnya ketika bermasturbasi.

Kini, langsung di hadapannya, telah terdiam seorang ummahat berjilbab kuning dan berjubah putih idamannya itu sedangkan ia sendiri memakai baju koko hijau muda lengkap dengan peci putihnya sebagai tanda kealiman dan keshalihan keduanya.

Namun kini sang maswat dengan nakalnya telah memejamkan mata dan sang ikhwan pun tengah asyik meremas-remsa tangan sang maswat dengan syahwat membara. Tanpa terasa keduanya telah berada di tepi jurang perzinahan.

Melihat Nyai Lasmi yang tak memberikan sedikitpun perlawanan dan malah telah begitu pasrah pada keperkasaan dirinya, Ganang pu mengambil inisiatif.

Sedikit demi sedikit ia menarik wajah Nyai Lasmi ke wajahnya dan…hmmm…hhmmmch…..hhmmmmpff…bibir seksi nan indah seorang Nyai Lasmi telah bersarang di bibir Ganang.

Ganang pun tak tinggal diam, dibelahnya sedikit demi sedikitbibir ummahat yang juga merupakan ustadzah terkenal itu dengan mendorong lidahnya yang kasar dan hangat.

Bersambung… Tanpa kesulitan berarti, di mana Nyai Lasmi pun telah begitu terangsang oleh tatapan birahi Ganang dan gairahnya sendiri yang sedang berada di puncak, lidah Ahmda telah mampu menembus rongga mulut Lasmi yang alim itu.

Tak lama kemudian, kedua anak Adam yang terkenal dengan keshalihannya itu telah saling hisap bibir pasangannya diiringi pergulatan lidah di dalamnya yang begitu seru dan basah. Entah karena reflek atau memang disengaja, tangan Nyai Lasmi ganti merangkul Ganang hingga keduanya larut dalam pusaran syahwat yang begitu menggairahkan.

Sebagai catatan, selama berbagai aktivitas itu terjadi, pintu ruangan Ganang, tempat semua kemesuman itu terjadi, sama sekali tidak tertutup. Pintu itu terbuka lebar, sehingga orang-orang yang berjalan dekat ruangan itu pasti bisa melihat segalanya.

Karena itu, Ganang berusaha membuat suara sesedikit mungkin. Namun untungnya, ruangan Ganang berada di ujung sebelah barat kantor radio tersebut, sedikit terpisah dengan ruangan kantor yang lain.

Sehingga suara dari ruangan Ganang tak akan bisa terdengar dari luar atau bahkan tertelan hiruk-pikuk kesibukan kantor di pagi hari. Ditambah lagi ruangan Ganang juga dilapisi dengan peredam suara karena ia sering mengedit siaran radio di ruangan tersebut.

‘Masya Allah….”, guman Ganang. Dalam hati Ganang sangat kagum dengan ulah ustazah ini. Tanpa disangka sama sekali oleh Ganang, Nyai Lasmi bergerak begitu aktif.

Tampaknya Nyai Lasmi telah begitu kuat menahan gairah seksualnya selama ini sehingga terasa bagaikan bom waktu yang menggemparkan ketika akan dilepaskan. Bibir dan lidah ustadzah kondang yang pernah dinobatkan sebagai ibu teladan itu silih berganti memagut, memberi kenikmatan erotik pada bibir lelaki beristri di hadapannya.

Tampak keduanya tak lagi mengingat status dan kedudukan diri mereka masing-masing. Keduanya telah hanyut dalam gelombang syahwat yang menenggelamkan hasrat mereka berdua dalam lautan birahi kebinalan.

Ganang yang merasa lebih berpengalaman membalas dengan tenang pagutan ummahat berjubah putih itu, dijulurkannya lidahnya bagai anjing kelaparan agar segera dihisap oleh ummahat di hadapannya itu,”hmmmm…hmmmm….hhmmppph….hhhmmmmpppf.”

“Duuh, Teteh. rudal Ganang jadi tegang neh. Tetek Nyai merangsang banget, bikin horny. Boleh gak Ganang pegang, sedikit saja?” Ganang mulai menunjukkan niatnya secara terang-terangan. Ia mencoba memancing libido yang selalu tersimpan rapat-rapat dalam diri seorang ibu shalihah yang tengah memagut liar bibirnya itu.

Entah setan apa yang tengah beraksi, atau memang dorongan seksual ini begitu kuat. Nafas Nyai Lasmi mulai tak beraturan dan jantungnya pun berdetak lebih kencang dari kecepatan normal.

Rasa kantuk yang tadi menderanya, berubah menjadi keinginan untuk memasrahkan diri secara total kepada lelaki muda yang begitu tampan di depannya. Dengan lembut dan sedikit bergetar, ia ucapkan dengan pasti, “Iya Mas….Pegang aja tetek Nyai Lasmi, lakukan sesuka kamu…”

Mendengar kata-kata penuh penyerahan diri seutuhnya dari seorang ustadzah yang mulai mendesah-desah tak karuan itu, tubuh Ganang pun semakin panas. Tangan kirinya mulai menyelusup masuk ke balik jilbab panjang Nyai Lasmi. Ia meraba-raba peyudara suci nan terawat milik ustadzah cantik itu secara perlahan.

Ia ingin membuat Lasmi merasakan sendiri getaran syahwat yang menggebu-gebu setelah bagian sensitifnya ini jatuh ke tangan Ganang. Benarlah, sesaat kemudian, desahan-desahan pelan diselingi erangan binal meluncur di antara bibir sang isteri Ustadz itu, “ssshh…akkhhhh….maasssshhh…mas Ganang, enak masssshh….!!”

“Iya ku sayang, Ganang tahu. Pintunya Ganang tutup dulu ya, biar kita tambah bebas.” Lasmi tak langsung menjawab, bibirnya kelu dan hanya kembali memagut bibir Ganang untuk meredakan gairahnya.

Namun sebuah cubitan nakal di tangan kanan Ganang-lah yang kemudian menjadi lampu hijau bagi Ganang. Ia pun melepaskan kulumannya pada bibir Nyai Lasmi yang nampak sedikit kecewa karenanya.

Dengan jantannya, Ganang pun merebahnkan ustadzah yang sudah horny itu di atas sofa. Ukuran sofa yang kecil memaksa kaki Nyai Lasmi tidak bisa selonjor dengan penuh namun sedikit naik karena tertopang pegangan sofa di seberang.

Dalam keadaan tubuh ‘siap entot’ itu, Ganang meninggalkan ummahat seksi itu sesaat. Ia berjalan ke arah pintu ruangan dan menutup serta menguncinya. “Cklik…” bunyi itu seraya menandakan telah terkuncinya iman kedua insan yang sebenarnya telah mempunyai pasangan masing-masing ini, dan tinggallah nafsu syaithan yang menjadi hakim di ruangan itu.

Ganang pun kembali mendatangi sang bidadari surga pujaan hatinya yang telah terkapar menahan birahi di atas sofa. Subhanallah, gumamnya dalam hati. Tanpa dinyana pula, bidadari berjilbab itu mendesah dengan binalnya,

“Mas Ganang, sini dong!” Nyai Lasmi yang manis itu telah membuka jalan bagi imaji liar Ganang dengan desahan lembut menggemaskan yang pasti merangsang birahi setiap pria yang mendengarnya.

Ganang langsung melepas kancing baju kokonya dari atas ke bawah satu per satu. Sesaat kemudian, tubuh tegap laksana anggota TNI itu telah terpampang jelas di depan Nyai Lasmi yang tengah membuncah nafsunya hingga memaksa ummahat itu menelan dalam-dalam ludahnya, “Mas Ganang…tubuh kamu seksi banget. Nyai Lasmi jadi nggak tahan…”

Komentar binal seorang ustadzah terkenal itu membuat syahwat Ganang menggelegak. Ia langsung berlutut di sisi kaki Nyai Lasmi yang penuh kepasrahan hati menelantangkan tubuh sintal khas sundanya si atas sofa.

Ganang lepaskan sepatu hitam yang melekat di kaki isteri Ustadz besar itu, dan mengendus-endus bau kaki yang menyengat nan menggairahkan di kaos kaki Lasmi. Ia tanggalkan kaos kaki berwarna krem itu dan langsung mencaplok jemari kaki Lasmi yang lentik dengan mulutnya.

Nyai Lasmi sampai terkaget-kaget dibuatnya. Tak pernah sekalipun suaminya yang shalih itu memanjakan birahinya seperti ini. Suaminya hanya menganggap bersenggama adalah cukup dengan memasukkan rudal ke dalam serambi lempit wanita, dan setelah itu selesai.

Mungkin ulama besar seperti beliau menganggap foreplay atau pemanasan seksual seperti ini hanya membuang-buang waktu belaka.

Padahal Teh Lasmi dan Teh Rini pun hanya wanita biasa yang butuh sensasi-sensasi baru dalam kehidupan seksual mereka. Uups, Teh Rini? ya, Teh Rini pun begitu haus akan rangsangan-rangsangan nakal seperti ini. Insya Allah nanti saya akan ceritakan kisahnya.

Dan saat ini, seorang ikhwan yang telah mempunyai isteri dan anak, bertubuh tegap, macho, dan berwajah rupawan sedang berlutut di bawah kaki Nyai Lasmi dan menjilat-jilat serta menghisap-hisap jari-jemarinya yang indah. Hal itu seolah menghapuskan rasa dahaga Nyai Lasmi akan aktivitas seksual yang sedikit di luar kebiasaan.

Tanpa terasa, serambi lempit suci miliknya telah berdenyut-denyut kecil dan terlontar desahan dan erangan penuh luapan syahwat dari bibir indahnya, “Ssaaa…aakkkhhhh…Mas Ganang, enak sekali kulumanmu….,”

Nyai Lasmi pun bertekad akan menundukkan diri sehina mungkin di depan lelaki yang telah bangkitkan gairah masa mudanya yang haus akan seks.

Tanpa terasa, Ganang telah mengangkangi tubuh mungil istri idaman itu di atas sofa. Ia telah menyingkapkan jubah putih Nyai Lasmi hingga pinggang.

Kini paha mulus dan berisi serta betis yang membujur indah yang selalu dijaga dari pandangan orang itu telah terekspos bebas dan telah dibanjiri air liur bekas jilatan Ganang.

Ya, Ganang telah selesai menyapu bersih sepasang paha dan betis indah seorang Nyai Lasmi, isteri Ustadz Haji yang selama ini hanya ada dalam lamunan joroknya dan menghisap sejumlah besar air maninya yang habis ketika bermasturbasi menkhayalkan bersetubuh dengan maswat itu.

“Nyai kepanasan ya? Ganang lepas aja ya jubahnya…” Nyai Lasmi tidak segera menjawab. Ia hanya memejamkan matanya sambil berdehem ringan yang langsung diartikan Ganang sebagai izin. Dalam hati wanita sholehah itu tersadar akan dosa dan zina yag ia lakukan.

Bagaikan terkejut, seolahia diingatkan akan dosa zina ini. Sesaat ia diam dan beristighfar.

Cerita Dewasa Ngentot - Nyai Menggetarkan Iman
“Astaghfirullah…Astaghfirullah… ia memohon ampun atas dosa ini. Hanya sedetikia tersadar dari dosa ini.

Karena desakan syahwat yang melanda dirinya tak mampu dilawannya. Ia tak sanggup menahan amuk birahi yang melanda. Ia pun kembali larut dalam perzinaan yang nikmat dan syahdu.

Dalam sekejap, jubah putih ummahat itu telah tergeletak di atas lantai meninggalkan pemiliknya tanpa busana, hanya jilbab kuning, bra putih dan celana dalam putih berenda yang tersisa menutupi tubuh indah Nyai Lasmi. “Nyai, tubuh Nyai indah banget, putih, mulus, beda banget sama punya isteri saya. serambi lempit Nyai juga pasti lebih indah dan lebih legit!”

“mas…Ganang, malu neh. Jilbabnya gak dilepas sekalian?” Nyai Lasmi mulai membuka mata dan membalas perkataan-perkataan cabul Ganang.

“Nggak usah, Nyai. Ganang lebih suka Nyai pakai jilbab itu. Lebih cantik dan lebih anggun. Jadi lebih semangat buat merasakan manisnya tubuh ustadzah kayak Nyai.”

“Panggil aku Nyai saja ya Ganang. Mau kan”

“Iya deh, Nyaii sayang. Kamu kok binal banget sih. maswat binal kayak kamu tuh cocoknya dientot tiap hari sama rudal gede ku. Ya, masirnya sang ustazah itupun kehilangan sifat-sifatnya yang santun dan alim. maswat sunda itu telah menjelma sebagai maswat binal dan sundal (bukan sunda lagi).

Ruangan sempit itu, juga busana muslimah Nyai Rini yang telah berserakan di lantai semua telah terjadi. Seolah busana muslimah yang sehari-hari dipakai sang ustazah itu menjadi saksi atas perzinaan pemiliknya. Begitu juga jilbab yang masih dipakai Nyai Lasmi, seakan menjadi saksi bisu atas perbuatan dosa ini.

Mau lihat rudal Ganang gak? Banyak bulunya lho…” Kata-kata cabul Ganang membuat Nyai Lasmi tambah terangsang. Ia tak memperdulikan lagi bahwa Ganang adalah suami orang.

“Mas Ganang….Mau dunk. Kasih lihat rudal kamu sama Nyai dong.”

“Apa Nyai? Ganang nggak denger. Coba ulangi lagi?” Ganang pun memancing rasa penasaran ummahat yang sudah setengah telanjang itu dengan menyodorkan daun telinga sebelah kanannya. Syahwat Nyai Lasmi pun makin berkobar melihat tingkah Ganang yang seperti mempermainkan dirinya.

Dengan birahi terbakar dan siap meledak, Nyai Lasmi meraih telinga Ganang san berbisik lembut, “Ganang sayang….kasih liat dong rudal kamu sama Nyai.

Nanti Nyai kasih liat serambi lempit Nyai deh, mau ga? Nyai Lasmi merasa begitu terhina dengan tindakannya sendiri. Ia merasa harga dirinya telah tercabik-cabik di depan ikhwan perkasa ini.

Ia langsung terkapar lemah sedangkan Ganang malah makin bersemangat mendengar bisikan luapan syahwat ustadzah alim yang telah menunjukkan kebinalannya itu telah ikhlas sepenuh hati merelakan bagian paling sensitif dan paling suci miliknya untuk dijamah Ganang.

“Iya deh Nyai Sayang. Ini Ganang buka kejantanan Ganang, habis Nyai maksa teruz sih” Tanpa butuh waktu lama, Ganang, sang suami shalih yang merupakan kepala divisi dakwah di stasiun radio tersebut, telah menelanjangi dirinya sendiri. sumber Ngocoks.com

Ia hadapkan rudalnya yang telah menegang dan mengangguk-angguk seksi itu pada wajah ummahat shalihah di depannya. Ia sorongkan seonggok daging berurat yang berdiameter 5 cm dan panjang yang lebih dari 20 cm serta berkepala kemerahan bekas sunat itu pada bibir Nyai Lasmi.

Ganang tersenyum melihat Nyai Lasmi yang terkagum-kagum melihat batang kemaluannnya. Ustazah cantik itu menelan ludah, sementara rudal Ganang menganggguk-angguk tepat di dekat wajah sang ustazah. Nyai Lasmi menjulurkan tangan menggapai batang perkasa itu…. dan….Ganang mendesis sshhhh………

Nyai, bolehkah aku menyentuh serambi lempit Nyai ?

Tangan Ganang turun ke bawah meraih bawah perut Nyai Lasmi, turun lagi, dan mengusap-usap gundukan daging yang terletak di bawah perut sang ustazah.

“Ya Allah….. Nyai Lasmi……empuk sekali serambi lempit Nyai…”

Nyai Lasmi yang masih mengenakan jilbab itu memejamkan mata menikmati usapan-usapan lembut di kemaluannya.

Cukup lama tangan Ganang bermain-main di kemaluan Nyai Lasmi. Tangan Ganang yang telah terlatih begitu lembut mengusap-usap daging empuk aurat milik sang ustazah. Dibelai-belai, dan diremas secara ritmis nan lembut, membuat Nyai Lasmi tak mampu lagi bertahan.

Pertahanannya runtuh total. Iman nya pun jebol.

Kesetiaan yang selama ini menjadi pagar dirinyapun tak lagi diingatnya.

Seratus persen Nyai Lasmi telah berniat menuntaskan perzinaan terlarang ini.

Di ruangan yang sempit itu, seorang muslimah suci telah melepaskan jubah putih sehingga telanjang di hadapan seorang lelaki yang bukan suaminya. Hanya jilbab yang masih tersisa di kepalanya.

Dan sang lelaki bernama Ganang itu terus membangkitkan birahi sang ustazah, terus mengusap dan membelai-belai daging empuk di bawah perut Nyai Lasmi.

Tangannya masuk ke dalam celana putih berenda milik sang ustazah. Dengan kelima jari yang seolah bekerja secara kompak, jari-jari itu menggelitik setiap inci daging montok itu. Sementara si Nyai cantik berjilbab itu merintih-rintih menahan nikmat.

Bersambung… Maswat Sunda itu telah menjadi maswat binal yang haus akan sex, dan sang maswat cantik jelita itu telah bertekad untuk menuntaskan perzinaan yang syahdu ini. “Oh Nyai Lasmi… oh Nyai.., serambi lempit kamu indah banget Nyai?” Ganang membisik

“Mas Ganang…oughh……..”, hanya desis lirih yang keluar dari mulut sang Ustazah cantik itu.

“Nyai Lasmi… bolehkah rudalku memenyetubuhii serambi lempitmu Nyai?”

“Ouhh…apa mas Ganang?”, nafsu birahi membuat Nyai Lasmi tak begitu jelas mendengar kata-kata Ganang.

“Bolehkah rudalku memenyetubuhii serambi lempit, Nyai?”, Ganang mengulang kalimatnya.

“Oh, iya mas Ganang, segera entoti aku…oh…mas entot serambi lempitku…oh entoti serambi lempitku ..”

Dan jilbab suci sang ustazah, menjadi saksi atas perzinaan itu. Begitu pula dengan busana muslimah yang berserakan di lantai yang sedari tadi lepas dari tubuhnya.

Andaikan saja jubah putih yang tergolek dilantai itu punya mata dan telinga, pasti bisa ikut menikmati persenggamaan dan perzinaan yang sedang dan akan dilakukan oleh pemiliknya.

Nyai Lasmi yang telah dimabuk birahi itu begitu penasaran akan sebatang rudal yang mengangguk-angguk penuh nafsu di hadapannya. Ia pun mulai mengelus-elus rudal yang telah begitu tegang itu dengan tangannya yang lembut.

Entah sadar atau tidak, tangan kanan Nyai Lasmi bergerak dari depan ke belakang berkali-kali dengan tempo sedang. Ini membuat semacam kocokan yang makin membangkitkan gairah Ganang yang sudah telanjang bulat.

Demi merasakan kocokan lembut ummahat berkacamata itu, Ganang semakin ditenggelamkan oleh birahinya sendiri. Ia letakkan lututnya di atas sofa dan memajukan rudalnya yang begitu bergejolak sehingga menyentuh bibir merah muda ustadzah shalihah itu.

Jilbab kuning panjang Nyai Lasmi terlihat sedikit basah akibat keringat yang mulai mengucur sehingga menampakkan dengan jelas body indahnya pada Ganang. “Ayo dong, Nyai sayang….Masukin rudal Ganang ke dalam mulut indah Nyai.

Ganang boleh kan menyetubuhiin mulut Nyai? Akkhhh… Ayo Nyai, gedean mana sih rudal Ganang sama punya suami Nyai?” Gesekan-gesekan pergelangan tangan Nyai Lasmi di bulu kemaluan Ganang yang hitam, keriting, dan lebat itu membuat Ganang gemetar bukan kepalang.

“Iya sayang…masukin aja rudal kamu ke mulut Nyai, Nyaii pengen banget ngemut rudal kamu. Habisnya punya kamu jauh lebih besar dan lebih panjang daripada punya suami Nyai.”

“Duh, kamu kok ngomongnya begitu sih Nyai….Kamu ustadzah dan ummahat tapi omongannya kayak pelacur. rudal aku kan bau banget.”

Ganang semakin puas menghina isteri pertama Ustadz kondang yang dipuja banyak orang itu. Kata-kata kotor terus keluar dari bibir Ganang sementara tangannya memegangi kepala Nyai Lasmi yang terbungkus jilbab bagai memegangi kepala PSk pinggir jalan.

“Nggak apa-apa Ganang sayang…Nyai suka kok rudal bau!” tanpa pikir panjang lagi, Nyai Lasmi langsng memasukkan rudal Ganang yang besar bukan main dengan gerombolan urat di batangannya yang telah membiru ke dalam mulutnya. Ia telan bulat-bulat rudal yang telah berlendir di ujungnya itu, menunjukkan betapa terangsangnya pemiliknya.

“Terus Nyai…OOhhh, ternyata kamu doyan sama rudal gede ya?” Ganang terus mendesah dan mengerang menikmati mulut dan lidah ummahat sekelas Nyai Lasmi yang sedang memanjakan kemaluannya.

Sementara itu Nyai Lasmi pun tak bisa berbuat apa-apa saking asyiknya ia mengulum kejantanan pria shalih di hadapannya. “OOhh, Nyai sayang…begini yoh rasanya menyetubuhi mulut Nyai.”

“Begitu panasnya permainan kedua insan ini, di mana Nyai Lasmi tampak begitu lihai mengoral rudal Ganang sampai Ganang terheran-heran karenanya. 10 menit kemudian, Ganang merasa gejolak nafsu di rudalnya sudah tak tertahankan lagi. “Nyai lonteku…..mana janjimu tadi, katanya mau kasih liat serambi lempit kamu!”

Seperti robot yang selalu menurut apa kata tuannya, Nyai Lasmi langsung memelorotkan celana dalamnya yang ternyata telah dibanjiri cairan cintanya akibat rangsangan-rangsangan yang dilancarkan Ganang betubi-tubi.

Tak lupa ia tanggalkan pula bra putihnya hingga bagian-bagian paling vital dan sensitif itu tersingkap sudah. “Ganang sayang, Nyai udah telanjang neh…..Entotin Nyai ya, Nyai lagi horny banget neh…”

Mendengar pengakuan jujur itu, darah Ganang langsung menggelegak. Berarti pagi ini ia akan menikmati manisnya kemaluan seorang isteri yang begitu alim ini lengkap dengan butir-butir ovum yang hangat, baru saja matang, dan pastinya siap untuk dibuahi beteteh-beteteh sperma yang begitu kental miliknya.

“Nyai, kamu mau aku hamilin…?” Bisik Ganang lembut di telinga Nyai Lasmi.

Nyai Lasmi pun menjawab tak kalah lembutnya, “Mau sayang…..entotin Nyai sampai sampai puas kagak bakaln hamil.” Ganang langsung mengambil posisi mengangkangi pinggul sang Nyai pujaannya.

Ia singkap sedikit bulu kemaluan ummahat yang cukup lebat itu karena belum sempat dicukurnya. Dibelahnya sedikit demi sedikit serambi lempit suci nan harum itu hingga ia melihat dengan jelas lapisan merah muda dengan butiran sebesar kacang menggantung di atasnya. “Akkhh…Ganang, cepet masukin rudal kamu. Entotin aja Nyai sepuasmu…”

Seperti tak ingin cepat mengmasiri kenikmatan ini begitu saja, Ganang hanya mamarkir kepala rudalnya yang menggunung itu di sela-sela rerumputan hitam yang menutupi gundukan bukit menggemaskan milik seorang ustadzah terkenal itu.

Sebagai gantinya, ia merapatkan dadanya ke payudara Nyai Lasmi dan menggesek-gesekkannya. Tak lupa payudara montok dan kencang itu walau tak begitu besar ia remas-remas sambil sesekali memelintir putingnya yang kecoklatan.

“Aakkkhhhh….Ganang sayang” Nyai Lasmi serasa menenggak anggur merah ketika diperlakukan seperti itu. Ia telah mabuk dalam kubangan nafsu kebinatangan yang terlarang akibat birahinya sendiri.

Ganang, yang sekalipun shalih dan bertubuh tegap, namun tetap saja sebenarnya ia tak boleh menikmati manis dan harum tubuh dan alat seksual ummahat itu. Namun kini, Ganang tengah menumpahkan birahi jalangnya pada tubuh indah nan seksi ummahat itu.

Gilanya lagi, Nyai Lasmi bukannya berontak atau menghindar, namun ia malah mengizinkan bahkan memaksa Ganang untuk berbuat cabul pada dirinya. Bahkan gesekan-gesekan rudal Ganang pada bibir serambi lempitnya membuatnya begitu tersiksa.

Bagai kesetanan, Nyai Lasmi langsung memeluk tubuh Ganang yang mulai basah akan keringat erat-erat dan mencakar-cakari punggung ikhwan perkasa itu, “Sialan kamu Ganang….cepet masuki rudal kamu ke serambi lempit aku. Entotinsayaaaaaaannnggg…..!”

“Duh, kok omongan Nyai kayak pelacur gini sih. Kamu kan ummahat shalihah, jilbab kamu aja panjang banget gini.”

“Iya aku pelacur sayang….aku perek jalang, aku budak seks kamu. Cepet yang…..ayo menyetubuhi sama Nyaii, genjoti serambi lempit Nyai keras-keras…”

Tak mau membiarkan bidadari berkacamata itu lebih tersiksa lagi, Ganang pun menurunkan pinggulnya perlahan. Tanpa harus diperintah lagi, kepala rudal yang cukup besar itu mulai beraksi membelah serambi lempit yang telah melahirkan beberapa orang anak itu.

“Nyai…serambi lempit Nyai kok anget banget sih. BEda sama punya isteri Ganang….Ganang suka banget serambi lempit Nyai, OOOOhhhh…telen rudal Ganang dong pake serambi lempit Nyai.”

Entah kenapa Ganang kembali memanggil Nyai Lasmi dengan sebutan Nyai. Mungkin menurutnya, kata ‘Nyai’ terdengar lebih erotis daripada kata ‘Lasmi’. Dan itu terbukti, Nyai Lasmi yang semula sedikit pasif, kini aktif kembali.

Dengan kelamin yang sudah berkedut-kedut tak karuan, dan daraf sensualnya yang terus berkontraksi, Nyai Lasmi mulai menghisap-hisap rudal Ganang yang berusaha menyeruak ke dalam rongga serambi lempit yang sebenarnya haram buatnya.

Nyai Lasmi pun kembali mendesah-desah binal seolah memberi semangat pada Ganang untuk segera menyetubuhinya. Setelah beberapa saat mengempot-negmpot kepala dan batang rudal Ganang, Nyai Lasmi pun dapat merasakan kejantanan yang lebih besar daripada yang biasa ia layani sebelimnya itu menerobos masuk ke dalam organ vitalnya.

“Akkhhh…Nyai….Ganang masuk, Nyai. Bismillahir Rahmannir Rahiiiiiiiiiiiimmmmmm.” rudal Ganang pun langsung amblas dalam hangatnya rongga kelamin Nyai Lasmi. “Nyai ikhlas kan saya entot?”

Nyai Lasmi langsung menggeletar ketika merasakan sebatang rudal dengan kehangatan dan ukuran yang jauh berbeda dari milik suaminya tercinta, memenuhi rongga serambi lempitnya.

Rasa kenikmatan itu terus menjalar ke seluruh tubuh, apalagi ketika Ganang menarik rudal yang begitu ia banggakan itu disertai hentakan keras menekan dinding kemaluan suci itu setelahnya, hingga si empunya sampai menggelinjang dan mengangkat dadanya tinggi-tinggi.

“Nyai ikhlas kok yang……Nyai ikhlas dientot sama kamu” Ganang mulai melakukan kocokan erotis pada serambi lempit mungil Nyai Lasmi itu berkali-kali hingga Nyai Lasmi tak mampu membuka matanya saking nikmatnya genjotan Ganang.

Apalagi tak henti-hentinya Ganang meremas-remas peyudaranya dan melumat bibirnya yang merah muda. “OOOhhh…ampun Ganang. Ennnaaakkkk bangeeeettt…..entoti Nyai truz sayaaaannngg….” Ummahat itu begitu histeris ketika Ganang meningkatkan tempo genjotannya.

Untungnya, teriakan binal ummahat yang begitu keras itu langsung diredam Ganang dengan bibirnya agar tak terdengar keluar.

Ternyata urat-urat di batang rudal Ganang telah benar-benar membuat Nyai Lasmi menjadi gila. Ia pun turut menaik turunkan pinggul dan pantatnya yang montok seirama dengan goyangan erotis Ganang.

Keduanya telah sama-sama bercucuran keringat saat Nyai Lasmi melingkarkan kakinya di pinggul Ganang sehingga ikhwan itu semakin mudah melesakkan rudal hitam legam nan besar miliknya ke dalam kemaluan menggemaskan milik ustadzah yang telah begitu binal itu, “OOOhhh….ooohh….yes….Nyai gila, serambi lempitnya unstadzah legit banget euy….Ganang doyan menyetubuhiin Nyai…”

Setelah sekitar 30 menit digagahi oleh Ganang dengan liarnya, gelora birahi Nyai Lasmi hampir sampai di puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya.

Ia mulai meracau dan berteriak-teraik tak karuan, nafasnya sudah begitu memburu demi menatap kemaluannya yang cantik itu dipompa tanpa ampun oleh ikhwan yang tak henti-hentinya menghembuskan nafasnya yang panas dan penuh gairah ke wajah Nyai Lasmi.

“OOhhh…Ganang. Nyai mau keluar lagi neh…..semprot serambi lempit Nyai pake peju kamu dong yang anget n lengket…..ampuni Nyai Ganang……”

Ganang pun menambah intensitas genjotannya pada serambi lempit yang masih begitu sempit dan hangat itu ia rasakan. Ia merasa nafsu iblisnya telah hampir sampai di batas maksimal.

Dan begitu Ganang merasakan derasnya gelombang yang menjalari batang kemaluannya……ia pun mendekap tubuh sang ummahat idaman dan melesakkan rudalnya sedalam mungkin. Cerita ini di publish situs Ngocoks.com

“Aaaaaaaaakkkkkkkkkkhhhhhhhhhh……rasain Nyai peju Ganang, Dasar Nyai pelacur jalang……..”

“Crrrrroooooootttt…..cccrrrooooottt…” Semburan lava panas nan lengket itu pun menghentak-hentak menghantam dinding serambi lempit Nyai Lasmi sehingga mebuat benteng birahi ustadzah berjilbab panjang itu hancur lebur.

Ia balas memeluk Ganang dan mencakar-cakari apa saja yang ia bisa raih dari tubuh Ganang. Tubuhnya berkelojotan dan menggelinjang bagai seekor anjing betina yang sedang disemprot air mani si jantan.

Dan masirnya….Nyai Lasmi pun melepaskan cairan cintanya yang paling suci dan paling penuh dengan ovum hingga ia terkulia lemas tak bertenaga.

Seiring dengan terlepasnya cairan cinta keduanya, Ganang pun langsung roboh di atas tubuh Nyai Lasmi. Dengan rudal yang masih bersarang di serambi lempit Nyai Lasmi seraya menyemprotkan kedutan kedutan kecil penghabisan.

Cerita Sex Anak Bekas Pembantu

Ganang pun menciumi wajah Nyai Lasmi sebagai ucapan terima kasih. Ia merasa sedikit bersalah karena telah merusak kehormatan dan kesucian seorang Nyai Lasmi yang tampak menggulirkan setetes air mata dari sudut matanya.

Sementara itu, pasangan zinanya itu kini telah tak sadarkan diri setelah dipuaskan sepuas-puasnya oleh kuda binal berrudal panjang itu.

Segaris senyum tersungging di bibirnya menyiratkan perasaan hatinya yang begitu bahagia.Keduanya pun terus berpelukan bagai tak mau dipisahkan hingga adzan zhuhur membangunkan keduanya.